Graduate

1109 Kata
Melihat bagaimana kemampuan Rinai tadi, rasanya Max tidak bisa sekedar menganggap kemampuan perempuan yang masih 22 tahun itu berlalu begitu saja. Bahkan, Ziao mengakui permainan Rinai alami meskipun masih begitu kaku. "Jadi, bagaimana? Dia sepertinya mudah diarahkan. Hari ini, banyak peserta yang kurang cocok dengan karakterku. Kau tahulah, aku paling benci junior yang pembangkang." Sangat kentara. Dari dulu, Max hanya tahu strata sosial memang dibawa ke mana-mana. Toh, dia bukan tipe manusia yang menggunakan jabatan demi meraup kekuasaan. Hanya membuat para juniornya sedikit memiliki rasa hormat. "Agree. Loloskan perempuan tadi, Rinai Asmara. Aku bahkan merasakan Hawa Aiden bersamanya, semacam bakat turun menurun. Meskipun, aku tidak tahu pasti ada ikatan apa di antara keduanya." Dari arah samping, Aiden rasanya ingin menangis Ziao masih belum berubah. Meskipun terkenal dingin, pria itu selalu profesional dan setia kawan. Tidak ada pilih kasih, selalu totalitas. Terbesit harapan kecil seandainya Tuhan mengizinkan Aiden untuk bisa bernapas normal kembali. Bisa saja dia memeluk Ziao karena sudah meloloskan Rinai dengan mudah. Terlepas bagaimana kemampuan Rinai, ini sudah menjadi tanggung jawabnya bukan? Rinai juga punya bakat yang akan segera membaik setelah dibimbing. Ada puluhan penyanyi, pemusik latar, komposer dan masih banyak orang-orang hebat di agensi. Jadi, sepertinya Aiden harus membuat mental Rinai lebih tangguh lagi. Star Management selalu hitung banding adil saat seleksi begini. Rinai yakin usahanya tidak akan menghianati hasil. "Sukses?" tanya Wintang. Dia baru saja keluar dari ruangan yang sama dengan Rinai beberapa menit yang lalu. Penampilan yang sepertinya memuaskan. Meskipun punya tangan ajaib yang bisa meloloskan namanya, Wintang tetap diseleksi ketat. "Sepertinya iya. Dan, kurasa aku bakalan melihatmu setiap hari di sini. Bukankah aku terlalu baik? Masih mendoakan kamu lolos?" Mencebik kesal. Dari dulu, kemarahannya tidak pernah benar-benar menyakiti Rinai. Tapi, Wintang memang tidak sejahat itu. Hanya menjadi manusia iseng yang suka mencari gara-gara secara random. Karena merasa tidak ada keperluan lagi di agensi, Rinai memilih cabut. Dia harus menagih Rose untuk mentraktirnya makan, setidaknya bisa menceritakan segala yang terjadi di sini. Ya, hanya Rose yang mau mendengarkan keluh kesah hidupnya selama bertahun-tahun. Melihat perempuan itu pergi, Wintang berbalik badan. Padahal, ingin sekali saja melihat Rinai membalas ocehannya. Ah, sangat tidak seru. Rinai jauh lebih kaku dari yang dia kira. "Rose, sibuk gak?" "Hampir selesai. Aku udah ganti baju selepas tadi pemotretan indoor. Kamu udah perjalanan pulang kan? Nanti nunggu di halte, aku nyusul." "Oke. Billar gak apa-apa ditinggal?" Terdiam. Sepertinya pasangan yang masih berbicara sendiri itu tengah berdiskusi, rasanya tidak enak menganggu kemesraan orang. Berniat memutuskan panggilan, suara Rose kembali terdengar. "Dia masih ada jadwal lagi, bahkan sore nanti dia bakalan ke Bandung. Job dadakan, gantiin temen." "Santai aja, Nai. Gue serahin Rose ke lu ya! Awas, kalau dia mabuk berlebihan lapor ke gue nanti gue kasih bonus." Billar ikut menimpali. Rinai hanya tertawa. Dia tahu Rose jauh lebih baik darinya, apalagi saat mabuk berat. Rinai jauh lebih merepotkan, tapi karena peristiwa itulah dia bisa kenal bahkan dekat dengan Aiden. Anehnya, apakah pria itu juga menganggapnya demikian? Melihat perempuan itu sendirian, Aiden mengira-ngira, apa yang sedang dipikirkan Rinai? Apakah ada masalah? Berniat mendekat, Aiden tidak bisa apa-apa lantaran beberapa orang ikut mengantri di halte bus. Aiden tak mau membuat Rinai dianggap gila karena mengobrol sendirian. Akhirnya, ada kesempatan juga bagi Aiden. Rinai memilih duduk di belakang sendirian, membuka sedikit jendela dan melihat betapa panasnya kota Jakarta. "Sepertinya sedang galau?" Rinai menoleh. Sudah ada pria yang duduk di sampingnya, lalu tersenyum. Aiden tetap tampan meskipun pucat dan mungkin saja tidak pernah mandi sejak kecelakaan itu terjadi. "Tidak juga. Hanya agak bosan saja. Tadi ke mana?" "Nguping. Kabar baiknya, kamu gak perlu khawatir untuk babak selanjutnya, babak ketiga hanya akan melihat kemampuan kamu, dengan insting mereka. Dan ketika Ziao sudah memberikan standing applause, itu artinya kamu berdiri di zona nyaman, Rinai. Good job, anak baik." Rasanya, ingin sekali Aiden mengelus rambut Rinai sebentar saja sebagai ungkapan senang. Tapi, Lagi-lagi tangannya hanya bisa tembus badan. Anehnya lagi adalah saat Aiden mencoba menerobos tubuh Rinai selalu berhasil, tapi saat seperti ini tak pernah ada hasilnya. Aneh bukan? "Gugup aja. Banyak orang hebat di sana." "Kamu juga hebat, Rinai. Asalkan kamu tahu." Tidak. Rinai tidak akan jadi apa-apa tanpa adanya peran Aiden. Lalu, di manakah kehebatan itu? "Meskipun kamu memang punya kemampuan dariku, tapi kamu tetap punya nilai sendiri bagi dirimu sendiri. So, percaya diri saja ya?" Rasanya begitu tenang diandalkan oleh seseorang. Rasanya, begitu indah bisa dianggap penting bagi orang lain. Ah, Rinai menggeleng pelan, Aiden hanya menggunakan jasanya untuk memecahkan kasus, tidak kurang tidak lebih bukan? (Bagian Kedua) Snow club adalah rumah kedua bagi Rose. Saksi segala keluh kesahnya, kisah putusnya dengan banyak mantan, masalah pekerjaan, pribadi dan macam-macam adu nasib lainnya. Sedangkan Rinai menganggap tempat ini hanya sebagai pelipur lara dengan cara meneguk botol sepuas-puasnya. Masalahnya, Rose sedang baik-baik saja. Tapi karena terlalu sering ke sini, Rose tidak punya tujuan tempat lain. Bisa mengobrol dengan Flo, Jo, dan juga Rinai bisa membuat kewarasannya bertahan di atas rata-rata. "Jadi, Rinai sudah masuk babak kedua?" "Bahkan sudah menyelesaikannya tadi siang. Keren banget kan temen gue satu ini." racau Rose. Tangannya sudah mengambil minuman beraroma menyengat itu, hanya karena bosan lantaran ditinggal Billar ke luar kota. Bosan, bosan dan bosan. Itu juga yang dirasakan Rinai. Perasaannya campur aduk memikirkan Aiden dan juga Anya. Apakah mereka masih terikat hubungan asmara? "Nai, mikirin apa sih?" Berulang kali namanya dipanggil tanpa jawaban, Jo mengipaskan telapak tangannya berkali-kali dan menjetakkan jari, barulah Rinai buyar dalam lamunannya. "Sorry, lagi gak fokus. Tadi lu bilang apa?" "Makanya, kalau ke sini jangan lupa otaknya di bawa, Nai. Tadi gue nanya, lu lagi mikirin apa sih sampai bengong gitu. Yang satu galau ditinggal pacarnya, satunya galau gara-gara gak punya pacar." Rinai kali ini berhasil tertawa, bukan tawa yang dibuat-buat. Hubungan keduanya memang sedekat itu, tapi Jo sadar akan kemampuannya yang memang tidak kaya dan hanya pas-pasan. Dia sangat tahu mimpi Rinai ingin punya pasangan yang suskes secara finansial. Baginya, menjadi teman Rinai serasa sudah lebih dari cukup. Baginya, Rinai bahagia begitu pun dengan Jo. "Nothing, Jo. Hanya memikirkan tentang agensi saja. Takut di sana menyeramkan. Ini pertama kalinya gue berhadapan dengan orang-orang hebat. Dari segala bidang dan aspek dalam dunia musik. Sedangkan gue gak punya value apa-apa." Menepuk bahu Rinai pelan. Memberi kata-kata sihir yang membuat sahabatnya bisa tenang, meskipun tidak tahu bagaimana keadaan di sana, tapi setidaknya Jo yakin Rinai bisa melewatinya. Sedangkan sejak tadi, Aiden hanya berdiam diri. Dulu sekali, Aiden melupakan fakta bahwa Rinai adalah tipe orang yang pendiam dan penutup. Pasti rasanya canggung harus berkompetensi secara utuh seperti ini. Aiden memikirkan cara agar perasaan Rinai sedikit melunak. Tapi, bagaimana? Aha, satu ide jahil muncul. Dan Aiden harap, Rinai menyukai usaha menghiburnya kali ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN