Two Stage

1156 Kata
Babak kedua ternyata jauh lebih ketat. Ketat di sini adalah Rinai harus memainkan lagu sesuai dengan permintaan para juri. Lumayan menegangkan karena selama latihan dengan Aiden, perempuan itu selalu saja mengeluh terlalu pusing memikirkan banyaknya nada-nada yang dia hafalkan di luar kepala. Serasa mau pecah, Rinai berusaha untuk tidak gugup. Wajah sang mama menjadi pacuan pertama untuk bersemangat. Apalagi dia tahu, Rose akan mengajaknya keliling kota sebagai liburan weekend nanti sebagai salam perpisahan semisal Rinai akan pindah dari apartemennya. "Ternyata, kabar yang kudengar benar juga. Orang seperti kamu bisa lolos juga, mengherankan. Sungguh, aku terkesan sekali." Tidak ingin menanggapi, terlampaui malas mendengarkan khotbah tak penting dari rival bebuyutan. Siapa lagi kalau bukan Wintang? Perempuan yang dari SMA selalu mencari gara-gara setiap mereka bertemu. Wintang juga ikut audisi, tentu saja kemampuannya bisa dibilang setara dengan Rinai. Tapi, dengan memakai embel-embel orang dalam, jangkauannya lebih terjamin dan jelas. Kalah dan menang tak akan jadi prioritas dalam pertarungan audisi. Mau bagaimana lagi? Rinai bersyukur bisa sampai tahap kedua. Itu tandanya, usahanya jauh lebih keras dari Wintang yang hanya memakai bantuan orang lain. "Bukan urusan kamu juga. Lagian, terserah. Agensi ini memberi peluang untuk orang-orang yang gigih, bukan cuma modal membalikkan telapak tangan." "Dasar tukang dendam." "Ngaca ya, kayaknya otak kamu yang harus dikasih cermin, biar bisa bedain mana yang suka tebar dendam di segala pertemuan." Wintang berlalu, menuju ruangan lain. Entah menemui siapa, mungkin kerabatnya yang masih punya peran penting di sini. Rinai sempat ragu dan panik semisal perempuan itu nekat menyuruh bantuan untuk mencoret dan menggaris bawahi Rinai agar tidak lolos audisi. Tapi, Aiden bilang, juri di sini selalu adil. Memperlakukan semua peserta sesuai kemampuan dan skill mereka, tanpa pandang bulu. Kalau soal Wintang, Aiden jujur sekali, tidak tahu apa-apa. Mungkin semisal nanti diberi kesempatan untuk bernapas normal kembali, ingin rasanya dia mengadu pada pada pak Erick, CEO utama untuk meluruskan hal-hal tak patut seperti ini. "Kamu yang menang lewat media online itu ya?" Rinai menoleh, mengedipkan mata sebagai jawaban. Barang kali mengenal peserta lain, karena iseng dia sering mengingat nama peserta. Ada yang menarik perhatian, Nana namanya. Suara yang begitu unik, bahkan hampir mirip manja-manja dengan Ariana Grande. "Iya, aku Rinai. Kamu?" "Tantri, aku ngefans sama suara kamu dan permainan piano kamu. Bahkan, aku berani taruhan kalau kamu berlatih lebih keras dan dibimbing di sini, kamu bisa menyamai kak Anya. Kamu tahu, dia sekarang mulai meredup. Mungkin lantaran kasus kak Aiden yang hilang bagai ditelan bumi. Penyanyi terkenal selalu menghilang dengan misterius ya? Aku khawatir ini kasus pembunuhan berencana." Gadis bernama Tantri itu terlihat mengangkat bahu, ketakutan membayangkan bila nanti akan bersaing ketat di sini. Membayangkan harus berani maju dan saling menyingkirkan. Apalagi, semua penyanyi selalu merasa harus menjadi nomer satu dalam segala kompetisi dan setiap konsernya bukan? "Aku gak tahu apa-apa. Tapi, terima kasih ya atas pujian kamu. Masih banyak belajar." Rasanya, aneh membicarakan tentang yang terjadi pada Aiden. Pria itu masih luntang lantung menjadi arwah, ke sana kemari mencari kejelasan. Sampai sekarang pun masih sama-sama soal kasus kecelakaannya. Serasa ada misteri yang belum terpecahkan. Karena hanya tinggal beberapa peserta pilihan termasuk dirinya, Rinai mempersiapkan diri dan mengambil napas. Tatapannya tertuju pada pria yang ikut duduk, persis di dekat Anya. Pria yang sama dengan pria yang dilihatnya beberapa hari yang lalu, mereka sepertinya cukup akrab. Apakah pria itu juga mengenal Aiden? Ngomong-ngomong soal Aiden, hantu menyebalkan itu sekarang jarang sekali nongol. Hanya datang sesempatnya saja saat menyuruh Rinai untuk latihan, sekaligus membicarakan rencana selanjutnya. "Nai, berikutnya kamu. Jangan melamun." tegur Gena, salah satu peserta yang bisa dibilang menjadi salah satu teman Rinai. Gena juga punya permainan yang unik, Rinai berharap bisa satu unit kamar dengan perempuan itu karena terlihat jinak dan tidak merepotkan. Sebelum menyiapkan diri, Rinai memejamkan mata dan berharap Aiden datang. Serasa punya ikatan batin, pria itu tak lama langsung muncul di hadapannya. Tersenyum penuh arti, bahkan tidak melirik ke arah Anya sama sekali. "Butuh bantuan, Lady?" "Tentu saja. Aku gak mau membuat malu, sebentar lagi aku akan masuk ke dalam. Bisa kamu lihat, siapa juri kali ini? Karena setiap sesi selalu ganti-ganti." Sekejap, pria itu menghilang lagi. Memeriksa keadaan di dalam lalu memberitahu siapa saja yang akan memberinya seleksi. "Lumayan berat. Ada coach Ziao, dia guruku juga. Lulusan Beijing, tapi dia sangat teliti, kamu jangan gugup. Setelah ini, aku akan masuk ke dalam tubuhmu. Jadi, bersiaplah." Karena sudah terbiasa dengan rasa aneh yang menjalar ke tubuhnya, Rinai mulai mengatur detak jantung dan juga tatapan anehnya. Menit berikutnya, Rinai sudah kembali dengan pembawaan yang mirip sekali dengan Aiden. Begitu namanya terpanggil, Rinai memasuki ruangan. Hanya ada dua orang di sana, dan seperti yang dibilang Aiden, ada salah seorang juri yang berwajah ala-ala orang Jepang. "Rinai Asmara, 22 Tahun. Cukup pandai memainkan piano. Berkuliah dan bekerja paruh waktu. Menarik, aku suka dengan orang yang bekerja keras. Jadi, kamu bukan peserta daring online yang melejit sampai satu juta viewers itu?" Coach berambut sedikit kecoklatan itu bernama Max, lugas, tidak ada basa-basi dan berekspresi datar. Baginya, Rinai adalah peserta dengan keberuntungan luar biasa. Dia selalu ragu akan kemampuan orang-orang yang hanya mengandalkan media sebagai umpan terbaik memancing pemikat. Karena melihat adanya keraguan, Rinai mematuhi aturan. Yaitu akan menyanyikan lagu apa saja sesuai permintaan mereka. Begitu mendengar lagu yang disebutkan, Rinai agak tergugah. Sepertinya mereka memang sengaja, bagaimana bisa kompetisi besar seperti ini memilih lagu khas Jakarta sebagai penentu? Tapi, kompetisi tetaplah kompetesi. Dia tetap menyanyikan lagu itu, ada baiknya karena Rinai sering mendengarkan sang mama yang memutar radio setiap pagi sambil bernyanyi lagu keroncong Kemayoran. Suaranya mulai terdengar, dengan ciri khas Aiden yang melekat. Di dalam sana, tentu saja Aiden lumayan kewalahan. Tapi, karena Rinai ternyata jauh lebih berani dari yang dia kira, Aiden mulai nyaman dan mengikuti nada unik yang keluar dari suara Rinai. "Dia unik juga, belum pernah aku mendengar peserta menyanyikan lagu klasik bisa sesantai ini. Serasa lebih muda saja. Iya kan, Ziao?" Max meminta pendapat, tapi Ziao tetap terdiam cukup lama. Dia sungguh mengenali banyak suara, seperti yang dibilang Aiden, coach satu itu selalu profesional dan bermata awas saat menggali bakat dari seseorang. "Lumayan. Siapa tadi namanya?" "Rinai, Rinai Asmara. Perempuan beruntung, dulu dia gagal hampir setiap audisi kecil. Tapi, nyatanya hari ini dia membawa lagu yang jarang kudengar. Kamu tahu, Ziao, beberapa orang kadang berkompensasi denganku saat hendak maju ke tahap selanjutnya, meminta lagu yang tidak sulit dan mudah diingat. Tapi, Rinai malah menuruti perintahku. Dia tipe orang yang sepertinya mudah dibimbing. So, bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan dengan anak unik ini?" Bersamaan dengan itu, Rinai baru saja selesai dengan ujian dadakannya. Lagu yang membuat otaknya terperas hebat. Dia membungkuk sebagai tanda sudah selesai. Tepuk tangan dan bahkan standing applause dia dapatkan dari Max dan Ziao, pemandangan yang langka. "Boleh aku minta kamu bermain piano? Aku ingin mendengar seorang youtuber dengan penonton fantastis memainkan lagu orisinil." "Baik. Jadi, lagu apa yang bisa saya mainkan untuk anda, Coach?" Ziao melipat kedua tangannya. Membatin tentang Rinai, perempuan ini tidak sepenakut yang dia kira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN