Try Again

1082 Kata
Mencoba menerima kenyataan, Rinai akhirnya harus ikut serta dalam audisi secara terbuka dan langsung. Ada beberapa peserta yang andil, apalagi dari mereka memang asli lolos dalam audisi berhadapan langsung dengan juri. Rasa nervous membuat Rinai tidak bisa berbohong menyembunyikan kepanikannya. Ditemani Rose, Rinai berharap tidak akan mengecewakan. Selama ini, penampilannya membaik lantaran adanya peran Aiden dalam tubuhnya. "Haruskah gue beliin lu obat penenang? Muka lu ngeselin banget, santai kenapa sih? Rileks, tarik napas. Jangan tegang, Baby!" Ya gimana? Namanya audisi si agensi terkenal. Bukan sembarang orang yang terpilih bisa masuk ke sini. Tatapannya terfokuskan pada sosok Anya. Wanita itu terlihat membungkuk dan memberi hormat pada salah satu juri yang terlihat seperti senior, lalu Anya berlalu setelah beberapa saat melihat ke arah banyaknya kursi peserta yang terisi. Anya begitu santai dan anggun. Wanita yang sangat cocok bersanding dengan Aiden. Pasangan yang serasi, bahkan ada julukan untuk mereka sebagai couple goals di tahun ini. "Tadi kak Anya kan? Aku suka permainan pianonya. Tapi, sekarang teknik jari-jarinya sedikit berdebu. Mungkin dia masih berduka atas kejadian yang menimpa sang kekasih." "Iya-ya. Belum ada konfirmasi dari agensi soal kabar terkini Aiden. Aku juga turut prihatin dengan keadaan kak Anya. Dia pasti sangatlah depresi." Mendengar beberapa orang membicarakan kisah cinta orang lain, Rinai hanya bisa diam seribu bahasa. Selama ini, tanpa sepengetahuan Aiden, Rinai sangat tahu pria itu pun merindukan Anya. Merindukan di mana mereka selalu manggung dan tampil bersama sebagai bintang besar. Kenangan dan kesuksesan yang tidak akan dilupakan begitu saja. Juri menyambut dengan kata-kata khasnya. Memandu acara dan menyebut apa saja yang tidak boleh dilakukan selama audisi berlangsung. Setiap peserta bisa menyanyikan maksimal tiga lagu sebagai penentu apakah bisa lanjut ke babak selanjutnya. Yang paling menguntungkan tinggal di homestay yang sudah disediakan oleh pihak agensi adalah mereka tetap bisa melanjutkan hidup seperti kuliah ataupun berhobi. Syukurlah, Rinai masih harus melanjutkan jadwal kuliahnya semisal nanti dia diterima menjadi salah satu bagian dari agensi di sini. Mungkin hanya tinggal setahun lagi, Rinai akan lulus dari kuliahnya. "Gue do'ain yang terbaik buat lu, Nai. Yeah, meskipun gue bakalan kayak orang d***u karena sering galau sendirian di apart semisal nanti lu beneran tinggal di agensi." "Santai, gue bakalan sering nginep." "Awas aja lu lupain gue setelah jadi famous." Lalu, beberapa nama yang dipanggil langsung masuk ruangan. Sosok Aiden muncul di pojok ruangan, bertepuk tangan ringan dan melambaikan tangan pada Rinai. Berharap perempuan itu akan menunjukkan kemampuan dari latihannya selama ini. Pandangan sedikit kabur setelah Aiden tiba-tiba menghilang. Apakah pria itu sengaja mampir ke sini hanya untuk melihatnya atau ingin mengunjungi sang pacar? Entahlah, apakah hubungan mereka masih berstatus pacar padahal Aiden sudah lama tidak bersama dengan Anya. Pun wanita itu tidak pernah punya niatan ke London. Atau mungkin demi menjaga kabar tidak enak yang mempengaruhi agensi. Begitu namanya terpanggil, Rinai berdiri. Berharap akan melihat sosok Aiden, sengaja ingin dipuji sebelum tampil audisi. Ah, mungkin pria itu sedang melihat apa yang dilakukan Anya di sini. (Bagian Kedua) Lega rasanya setelah keluar dari ruangan yang menyesakkan. Rinai lega bukan main karena baru kali ini tingkat rasa percaya dirinya bertambah pesat. Apa-apaan ini? Hanya dengan mengingat Aiden, suaranya menjadi lebih matang dan berkarakter. Bahkan, beberapa juri dari agensi dan beberapa senior memuji permainan dan olah vocalnya. Lagu yang dibawa Rinai benar-benar membius mereka. "Kata Erika, suara kamu khas banget. Aku salut, dan juga bangga. Terima kasih, Nai, sekali lagi aku yakin kamu bakalan segera punya fans sendiri." Aiden muncul lagi di dekatnya. Tepatnya di toilet wanita. Rinai memang berusaha untuk menghilangkan kegugupannya lantaran memang tidak tahu caranya menghilangkan rasa paniknya tadi. "Seandainya kamu bisa kuajak makan, aku bakalan traktir kamu. Sayang sekali, para hantu gak punya rasa lapar, menyebalkan bukan? Frustasi rasanya karena tidak tahu caranya membalas kebaikanmu, Aiden." Terlihat aneh bicara sendiri di depan cermin toilet, Rinai memilih keluar. Rose sudah pamit duluan karena ada jadwal pemotretan. Temannya memang sering mendapatkan job, apalagi Billar adalah seorang fotografer. Pacar dan sekaligus partner yang menguntungkan. Daripada pusing memikirkan bagaimana cara berbaik hati pada coach pribadi, Rinai lebih memilih bertemu mamanya. Ada kabar baik yang harus dia bagi pada orang yang sudah punya jasa penting di hidupnya. Tanpa sepengetahuannya, Aiden ikut di belakangnya karena penasaran ke mana perempuan itu pergi. Beberapa jam di perjalanan, Rinai turun dari bus dan mengejutkan seorang wanita yang tengah sibuk berkutat di dapur. Tubuh yang selalu berusaha terlihat tidak ringkih, jarang mengeluh, murah senyum dan jarang melihatkan rasa lelahnya. Ya, itulah sang mama, bidadari tanpa sayap dengan sejuta ketulusannya. "Kamu ngagetin mama aja. Nggak kerja, sayang?" "Hehehe. Rinai kan sekarang sibuk audisi, Ma. Rinai lolos babak satu loh, kasih ucapan selamat dong, Ma." Satu pelukan membuat Rinai merasa jauh lebih baik. Dia memang sangat nyaman berada dalam dekapan sang mama. Seribu semangat seakan ditancapkan otomatis ke dalam tubuhnya. Hanya mamanya saja yang dia punya di dunia. Kabar papanya, sudah bagai ditelan bumi dan Rinai tidak pernah bertanya ataupun penasaran dengan pria yang sudah meninggalkannya sejak masih kecil. "Mama selalu bangga sama kamu, Rinai. Akhirnya apa yang kamu inginkan segera terwujud. Semua berjalan dengan lancar kan?" Sambil menyiapkan beberapa sajian pesanan untuk pengunjung warung makan, Rinai ikut membantu. Dia tidak suka melihat mamanya bekerja sendirian. "It's okey, Ma. Anak mama sekarang jadi jagoan dan lebih berani. Semua kan berkat mama. Sepertinya kedai ini makin ramai ya, Ma?" Harus diakui, tempat sewa memang terasa kurang luas. Rinai sempat berpikir untuk mencarikan tempat yang bisa dimiliki secara pribadi, bukan sewa tahunan karena akan memakan biaya pertahunnya. Melihat interaksi antara Rinai dan mama kandung perempuan itu, Aiden ikut tersenyum. Apalagi dari awal perkenalan mereka, Rinai selalu melayangkan tatapan ceria, tidak sesendu seperti sekarang. Mungkin ada rasa bersalah yang luar biasa setiap melihat keadaan mamanya. Apalagi menjadi single parent tidak semudah yang dibayangkan bukan? "Jadi nanti kamu bakalan fokus pada karir kamu? Dan sesekali masuk kuliah, Sayang? Wah, tidak menyangka, kamu bisa sampai tahap ini." Hampir menangis, mereka berpelukan lagi. Ada bayangan di mana Rinai akan melihat dirinya sukses dengan kemampuannya sendiri. Aiden pun ikut serta mengaminkan. "Rinai berjanji, cuma Rinai yang wajib membahagiakan mama. Rinai gak akan menyakiti mama, seperti orang itu, Ma." Saling menguatkan satu sama lain. Aiden kembali tersenyum, pasti berat harus hidup tanpa peran seorang papa. Bagi Aiden sendiri, Rinai cukup tangguh bertahan hidup dengan pas-pasan meskipun banyak keluhannya. Ah, perempuan yang hebat. "Rinai pulang dulu, Ma. Tadi ke sini cuma mau ngasih tahu soal itu aja sih, pokoknya do'ain yang terbaik buat aku ya." Tanpa diminta pun, doa dan seluruh kebaikan akan selalu mengalir dari seorang mama ke anak kandungnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN