Tidak ingin berekspektasi tinggi, Rinai harap-harap cemas. Giginya sejak tadi menggigit-gigit kuku, menunggu apakah dirinya akan lolos audisi dan bergabung dengan agensi yang menaungi Aiden.
Pengumumannya sekitar 5 menit lagi, Rinai melihat Rose yang sejak tadi tidak berkedip sama sekali. Ini adalah pengalaman pertama ikut audisi melalui daring, dan kabar baiknya adalah berhasil.
Viewers tembus sampai 1 juta penonton, Rinai langsung berteriak histeris dan memberitahu ibunya tentang kabar baik. Tentu saja, wanita yang sudah susah payah melahirkan dan merawat Rinai sampai dewasa hanya bisa bersyukur.
"Gue yakin lu pasti ikut. Dari 25 peserta, rating lu yang paling tinggi."
Rinai hanya mengangguk, matanya membulat sempurna setelah melihat sebaris namanya akhirnya tercetak secara nyata. Kini dia telah resmi lolos audisi, harapan makin di depan nyata. Ia yakin sekali Aiden pun turut bangga.
"Kan, apa gue bilang. Gimana kalau kita ngerayain atas keberhasilan lu di snow Club. Jo harus tahu, dia pasti bakalan nraktir kita, lumayan kan gratis?"
Ide bagus. Sudah lama Rinai tidak memanjakan diri sendiri, meksipun setelah menenggak minuman menyehatkan itu dia akan langsung tumbang dan merepotkan banyak pihak.
Ah, jadi begini rasanya lolos audisi. Ada perasaan yang meluap sampai ke permukaan, mulai menjalar ke mana-mana dan Rinai sangat menikmati setiap euforianya.
Malamnya, seperti janji tadi pagi. Rose benar-benar mengajak Rinai ke snow club, memamerkan video yang sudah ditonton ribuan kali. Jo takjub dan bertepuk tangan, tidak menyangka mimpi wanita itu akan terwujud juga.
"Baiklah, gue bakalan traktir lu berdua. Silakan nikmati pesta kecil kalian, nanti nyusul. Masih banyak pengunjung yang harus gue datangi, sekali lagi congrats ya, Nai!"
Tepukan ringan membuat Rinai menganggukkan kepala, lalu mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Besok dia tidak ada jadwal kerja maupun kuliah, bahkan Rose mengajaknya belanja baju-baju mewah demi mengangkat sedikit harga diri.
Karena, siapa pun pasti tahu kalau agensi tempat Aiden memang bukan kalangan orang-orang sembarangan. Mereka pasti orang-orang besar yang sudah punya nama dan tentunya fashionable. Jangan sampai Rinai bikin malu.
Tatapannya sedikit meredup saat matanya tak salah mengenali seseorang. Pria yang sejak tadi berdiri di depan snow club, bahkan tidak terganggu dengan orang-orang yang menabrak bayangannya. Ya, Aiden hanya terdiam dan tersenyum ke arahnya.
Lalu, blush. Pria itu menghilang dan muncul kembali. Duduk di salah satu kursi yang memang dekat dengan Rinai. Mengucapkan terima kasih karena sudah bertahan sampai sejauh ini.
"Sama-sama. Aku juga gak nyangka bisa melewati tahap ini, semua berkat kamu."
"Bicara sama siapa, Nai? Lu ngigau?" Rose mengecek jidat temannya, enggak panas. Mungkin efek teler membuat wanita itu jadi bertingkah semaunya.
Sedangkan Aiden terus memperhatikan wajah polos Rinai. Satu hal yang baru disadari oleh pria itu adalah Rinai punya lesung pipi meskipun tidak kentara sekali.
(Bagian Kedua)
Ini adalah harinya, Rinai sungguh capek. Dia paling anti dengan yang namanya belanja. Tapi lihatlah? Rose begitu semangat pantang menyerah sampai memasuki semua toko pakaian, membuat kaki Rinai kesemutan.
"Udah dong. Ini tuh udah banyak banget, Rose. Emangnya kita mau jualan baju di sana?!"
"Eits, gak bisa. Seenggaknya, lu punya dua puluh stel pakaian baru dan branded. Jaman sekarang mulut tuh selalu banyak bumbunya, gak semua orang-orang terkenal punya tata krama. Mau lu dikatain gembel oleh siklus mereka?"
Merinding membayangkannya. Rose masih memilih mana dress yang serasi dengan kulit kuning langsat Rinai. Bagi Rose sendiri, temannya memang cocok memakai warna-warna kalem, lebih menimbulkan feminisme.
Baru beberapa langkah keluar, Rinai melihat sosok wanita yang dikenalnya. Bukan kenal secara langsung, hanya tahu. Ya, wanita bernama Anya, kekasih Aiden. Penampilannya yang anggun dan kalem menimbulkan aura sempurna.
Lihat? Dibandingkan dengan Rinai, tentu saja tidak ada apa-apanya. "ah, ngapain coba! Memangnya kenapa aku harus menirunya?"
Titik fokusnya teralihkan saat mengebor ke mana perginya sosok Anya. Ya, wanita itu duduk sendirian di tempat makan, lalu datang lagi seorang pria. Mereka bersalaman dan sama-sama memesan makanan.
"Ngelihatin apaan sih?" kepo Rose.
"Enggak. Pulang yuk, badan gue remuk tau gak!"
Tapi Rose juga ikut melihat pemandangan yang langka. Buru-buru mengambil ponsel dan membidik beberapa gambar yang mengarah ke arah Anya dan pria yang tak dikenal.
"Lu mau kena pasal? Ada larangan memotret orang tanpa izin, Rose."
"Dih, gak bakalan gue sebarin ke mana-mana kok. Gue cuma heran aja, dia gak ada gitu rasa sedih-sedihnya? Pacarnya kan masih gak tahu kabar. Apakah baik-baik aja di London atau gak bisa diselamatkan. Lihat? Dengan wajah sok polosnya dia malah haha hihi sama pria lain. Poor banget Aiden."
Rinai menelan ludahnya sendri, tidak tahu harus menanggapi apa. Memilih diam dan memaksa Rose untuk tidak ikut campur. Dia yakin itu hanya teman Anya, tidak lebih. Bukankah terlalu jahat untuk memulai hubungan baru padahal kekasih sedang koma dan memperjuangkan hidupnya?
Membiarkan Rose pulang sendiri, Rinai memilih untuk ke studio Aiden. Dia ingin melihat bagaimana reaksi pria itu tentang kabar lolosnya audisi. Sampai di sana, Rinai cukup heran karena sepertinya baru ada tamu. Tapi siapa?
"Masuklah."
"Ah iya. Tadi ada yang ke sini ya?"
"Hmmm, Anya. Dia mengambil beberapa barang-barang miliknya lalu pergi. Entahlah, aku merasa dia banyak berubah."
Haruskah Rinai menceritakan semua yang tadi dia lihat di mall? Tapi, untuk apa? Rinai tahu batas, dan rasanya tidak akan ada pengaruh apa-apa dengan kondisi Aiden yang sekarang.
"Ah iya, aku sudah melihat tadi. Namamu lolos lima besar, selamat ya, Nai. Akhirnya mimpi kamu berhasil, aku turut senang."
"Terima kasih, Coach." Rinai membungkuk, seolah-olah menghormati Aiden seperti guru lesnya.
Tidak ada yang perlu dibicarakan, apalagi memang Aiden sengaja meliburkan jadwal latihan. Tentu saja Rinai pasti ingin merasakan hari tenang sebelum maju dan bertempur dengan banyak pesaing.
Kadang, membayangkannya saja tak sanggup. Bagaimana nanti kalau ada orang yang membuatnya tak semangat? Apakah akan ada yang mengangkat tentang latar belakang?
"Kamu mikirin apa?"
"Apakah orang-orang di agensi menyeramkan?"
Aiden menggeleng. Kebanyakan mereka lebih menjaga sikap saat di agensi, beda saat performance atau latihan. Kadang ada banyak salah paham. Aiden adalah tipe senior yang tidak banyak punya musuh.
Padahal, andaikan matanya jeli, dia pasti tahu kenapa sekarang tubuhnya mengalami koma.
"Terlepas apa yang akan terjadi di sana, kamu harus percaya dengan kemampuan kamu, Nai. Aku selalu berada di belakangmu. Kamu tahu? Bahkan ada yang berkata kalau kamu adalah Aiden versi perempuan karena memiliki permainan yang mirip denganku. Ah, rasanya sangat senang mendengarnya."
Rinai pun ikut tersenyum. Tapi, apakah benar kalau wanita itu adalah bagian yang disusun rapi untuk menjadi pelengkap hidup bagi Aiden?