Akhirnya setelah latihan panjang selama dua bulan terakhir membuahkan hasil. Kini suara Rinai tidak kaku-kaku amat. Apalagi dengan adanya bantuan hebat dari tubuh Aiden, dia yakin kali ini akan ada jalan untuk impiannya.
Berkali-kali memutar badan dan memastikan kalau stylenya hari ini cocok untuk dikenakan. Ya, Rinai memang berencana mengikuti audisi melalui unggahan online.
Sedemikian rupa mengubah ruangan latihan milik Aiden, takutnya nanti akan ada orang yang paham di mana Rinai berada. "Aku udah gak kelihatan gugup kan?"
"Sama sekali. Beda dengan audisi-audisi sebelumnya. So, bersiaplah, Rinai."
Pelan tapi pasti, Aiden mulai memasuki tubuh Rinai dan berusaha menetralkan perasaan wanita itu. Menunggu saling bertukar pikiran, kini Aiden sudah merajai tubuh yang akan membantunya keluar dari masalahnya selama ini.
Lama kelamaan, Rinai sudah menggerakkan jemarinya dengan indah dan bernada merdu. Suaranya pun mulai keluar, lagu-lagu lawas pun terdengar berkarakter dan punya makna.
Ini adalah pengalaman pertamanya audisi secara online. Semoga benar-benar beruntung kali ini. Ya, semoga saja.
Hanya sekitar enam menit, Rinai berhasil membawa lagu dengan iringan piano. Tidak sembarangan orang bisa melakukannya, semua berkat adanya ikut campur tangan antara Aiden.
"Benar-benar indah. Aku bahkan merinding mendengarkan suaraku sendiri. Nada-nada yang sedih. Menyayat dan penuh misteri. Sekarang aku tahu kenapa banyak sekali orang-orang yang mengidolakan kamu, Aiden."
"Kenapa?"
"Maybe, selain tampan kamu memang benar-benar menarik."
Sialnya, setelah mengatakan itu Rinai jadi menyesal sekaligus malu. Dia jarang memuji pria manapun tampan, Jo saja tidak. Tapi sekarang malah menggunungkan seorang Aiden.
Sudah tidak asing dengan pujian seperti itu, Aiden lebih fokus pada video yang mungkin akan diunggah nanti sekitar jam 12 siang. Tidak butuh diedit atau apa pun, biarkan orisinil karena akan dinilai dari seberapa kuat suara Rinai dalam video tersebut.
"Semua berkat kerja kerasmu, Nai. Terima kasih ya, aku bakalan kasih kamu bonus sesuai yang kujanjikan. Ini belum apa-apa, jalan kita masih panjang. Tetaplah di sisiku."
Rinai tidak sanggup berkata-kata lagi. Dia kadang sering merasa terpaku sendiri dengan ucapan Aiden yang kelewat romantis. Tapi Rinai meyakinkan diri kalau di antara mereka hanya terhubung sebagai rekan kerja.
Karena lapar setelah performance dadakan, Rinai memesan beberapa makanan dan dialamatkan di dekat daerah studio rahasia milik Aiden.
Pria itu sudah mengingatkan untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang tempat ini dan Rinai akan selalu mengingatnya.
"Aku ambil paketku bentar," ungkapnya lalu keluar.
Aiden mengangguk dan memilih masuk ke ruangan satu ke ruangan lainnya. Dia rindu masuk ke kamarnya yang bahkan belum berubah sama sekali. Meksipun hanya terdapat satu kamar saja, tapi Aiden sangat nyaman bisa leluasa di ruangan pribadinya.
Di sinilah dia bisa menatap betapa indahnya hidup tanpa ada suara-suara tuntutan soal pekerjaan. Tagihan tentang lagu-lagu baru, latihan, tour ke negara-negara dan banyak hal menyebalkan lainnya.
"Di ke mana?" Rinai celingukan mencari sosok Aiden. Tapi masa bodoh, sekarang dia harus menghabiskan beberapa porsi makanan lengkap dengan minumannya.
"Laper banget ya? Banyak juga pesanan kamu."
"Mumpung gajian. Aku jarang makan enak gini."
Aiden manggut-manggut. Dia sadar beban Rinai juga banyak yang harus dipikul. Biaya kuliah, apartemen patungan, ruko tempat ibunya berjualan dan sewa tanah.
Pria itu harus mengakui dengan kegigihan Rinai. Benar-benar mandiri dan tipe wanita yang tidak suka merepotkan orang lain.
Melihat Rinai makan begitu lahap membuatnya ikut lega. Untung saja dia tidak mudah lapar, toh bagaimana cara makan? Menyentuh makanan saja susahnya minta ampun.
"Kamu gak kangen makan?"
"Tunggu, itu pertanyaan?"
Rinai mengangkat bahu, "entahlah. Aku hanya penasaran bagaimana hantu bertahan."
"Dengan cara gentayangan mungkin."
"Sial. Pantas saja kamu gentayangin aku terus ya? Oh iya, videonya bisa diunggah sekarang kan?"
Aiden melirik jam di atas meja, masih berfungsi normal meskipun sudah lama tidak ganti baterai. Beberapa barang di sini Aiden menyuruh pengurus rumah menyimpan di tempat aman dan hanya memajang barang-barang yang penting saja.
"Bisa kok. Semoga nanjak deh, aku sangat yakin sekali."
Lalu, Rinai mulai memberi keterangan pada videonya dan tekan ok. Woila, akhirnya video pertamanya sudah terpublish ke media, tinggal tunggu beberapa menit.
Ada beberapa yang memberikan vote dan love. Rinai berteriak histeris karena baru kali ini mendapatkannya. "Cepat juga naiknya. Mereka bilang permainan pianoku bagus, bahkan ada yang bilang mirip sama cara kamu main. Sepertinya mereka salah satu fansmu."
Sejak tadi, Aiden malah fokus pada cara Rinai menanggapi satu persatu komentator. Ada juga yang menawari collab. "Mungkin sih, bisa jadi."
Karena sudah makin siang, Rinai pamit pulang dan izin akan ke sini agak sore karena harus mengikuti jadwal kuliah pagi. Ya, dia akan bertemu dengan Wintang. Rinai penasaran, seperti apa reaksi wanita menyebalkan itu yang tahu kalau Rinai ikut audisi dengan cara online.
"Hati-hati. Kamu tahu kan nomer telepon studio ini? Kalau sudah sampai kamu bisa menelponnya, itu tandanya kamu sudah sampai di apartemenmu. Aku sedang bosan ke mana-mana."
"Ah, baiklah."
Rinai tidak bisa bertanya lebih banyak lagi. Padahal dia merasa heran, sebenarnya kenapa Aiden malah jadi tak semangat begini? Ada apa dengan pria itu? Apakah ada sesuatu yang besar sudah terjadi? Tapi, apa?
(Bagian Kedua)
Sudah puas dengan viewers pada video unggahannya, Rinai pede berangkat kuliah hari ini. Bahkan sebagai ucapan congrats, Rose menyiapkan sarapan spesial.
"Intinya, gue cuma mau yang terbaik buat lu aja. Dari semua peserta online, cuma lu yang paling banyak viewers dan komennya. Jarang lagi yang dislike, temen gue emang the best banget dah!"
Rinai menyibakkan rambut, menyombong dengan elegan. "Terima kasih doanya, juga sarapannya. Akhirnya bisa makan juga sebelum kuliah. Lumayan bisa irit uang jajan. Berangkat dulu ya!"
Rose ikut melambaikan tangan, masih berusaha mempertahankan rasa kantuknya sampai sahabat satu unitnya benar-benar pergi lalu melanjutkan tidur lagi.
Hanya menunggu bisa datang, Rinai sungguh puas dengan jumlah penonton. Bagaimana bisa video yang baru diunggah belum ada sehari sudah ditonton lebih dari 100 rb kali? Ini pencapaian. Ah, pokoknya harus bisa sampai satu juta penonton.
Sampai kampus, beberapa orang berbisik kepada teman-teman yang lain dan melirik ke arah Rinai. Mungkin sudah ada yang melihat video tersebut.
"Nai, ini beneran lu? Gila! Penontonnya udah 300 rb orang."
"Sumpah? Cepat banget nanjaknya."
Rinai mengecek sendiri dan mulutnya menganga lebar, "gue aja gak nyangka. Do'ain ya menang audisi. Soalnya gue pakai bakat, bukan pakai orang dalem."
Berasa tersindir, Wintang langsung membuang muka tak suka. Dia kesal bukan main. Dari mana Rinai bisa menguasai teknik bermain piano seindah itu? Ternyata wanita itu tak bisa diremehkan.
Beberapa teman yang lain ikut mengucapkan selamat atas pencapaian Rinai. Padahal ini belum apa-apa, masih ada jalan panjang yang harus dia tempuh dan hadapi.
"Fighting! Rinai!" semangatnya dalam hati.
Apakah Aiden juga tahu kalau video kolaborasi mereka melejit drastis? Ah, pasti bagi pria itu, hal seperti ini adalah hal-hal lumrah. Bahkan mungkin Aiden merasa kalau popularitas memang sudah dia dapatkan dari dulu.
Jangan sampai Rinai berkepala besar dengan menganggap Aiden akan bangga kepadanya. Harus bersikap biasa saja nanti saat bertemu dengan pria itu.