Go ahead

1415 Kata
Ini sudah hari ketiga wanita itu tidak datang. Apakah Aiden terlalu keras? Tapi, latihan beberapa hari yang lalu sama sekali tak ada apa-apanya dibandingkan latihannya dulu. Pun Aiden merasa Rinai seakan memperlambat misinya, dia tidak ingin egois. Sangat tahu kalau wanita itu punya kehidupan yang tidak melulu mengurusi permasalahannya yang entah harus bagaimana lagi menyelesaikannya. "Jangan-jangan dia kencan buta dengan pria kemarin. Bukankah dia bilang sendiri kalau dia suka pria yang rapi?" Bertanya sendiri, menjawab sendiri. Aiden menerka-nerka kemungkinan. Setiap orang punya ruang masing-masing setiap jatuh cinta. Kadang saja, saat jatuh cinta kita akan menerima sisi terburuk sekalipun asalkan bisa bersama dengan orang yang dicintai. Bingung harus melakukan apa dan juga bosan, akhirnya Aiden menghilang dan mengunjungi bar tempat mereka pertama bertemu. Mungkin saja Rinai membawa pria yang bernama Ajun ke sana. Hanya melihat dari luar, matanya memindai ke kiri dan kanan. Nihil tiada hasil, Rinai tidak ditemukan. Bahkan Aiden sempat melihat sahabat wanita itu yang sepertinya sedang mabuk berat. "Dia di mana sih!" Frustasi sambil mengacak-ngacak rambut, Aiden akhirnya melalang buana dengan bebas. Satu-satunya momen yang bisa dia nikmati adalah terbang tanpa beban. Seakan tubuh pria itu seringan kapas, dulu Aiden memang ingin bisa sejenak saja istirahat dari rutinitas. Tapi, bukan semacam ini yang dia inginkan. Matanya tertuju ke arah toserba yang hanya terdapat sedikit pelanggan. Ada wanita yang sangat dia kenali. Ya, Aiden sangat yakin itu adalah Rinai. Jadi, di sini Rinai bersembunyi dan menghindar. "Ehem!" Ya ampun! Rinai kaget saat berusaha menata dus di gudang belakang. Matanya membulat sempurna saat bertatapan dengan Aiden. Ah, pria itu selalu menemukannya. Belakangan ini Rinai memang sengaja menghindar lantaran kesal dengan pria itu yang suka semena-mena dengan waktu. "Sepertinya ada yang marah." sindir Aiden. Tidak ada jawaban. Aiden merasa Rinai sedingin es batu, padahal dia hanya ingin Rinai meningkatkan latihannya. Hanya itu, tidak lebih dan tidak kurang. "Aku tahu, kamu pasti kesal sama aku. Dan mungkin, rasanya kamu enggak mau ketemu sama aku untuk sekarang. Tapi, Nai, kamu harus tahu hidupku ke depannya tergantung sama semangat kamu. Aku minta maaf ya, sadar kok kalau aku udah keterlaluan." Ternyata Aiden bisa merasa bersalah juga. Rinai pikir, idola yang selalu dipuja-puja sampai kejayaannya layaknya piramida tak akan pernah mau meluruhkan ego hanya demi mengakui kesalahan. Tapi tidak dengan Aiden, dia merasa sangat bersalah sudah memaksakan Rinai berlatih begitu keras. Semua orang pasti punya batas untuk mampu mengimbanginya. "Hey, jangan diam aja dong. Kamu bikin aku panik." "Nggak lihat? Aku sedang kerja dan sibuk. Jangan membuat aku merasa aneh karena ada rekan kerja di sini. Gak mau dikira gila karena ngomong sendiri di gudang, nanti aku bakalan dianggap indigo." Ah, Aiden lupa kalau nggak semua orang punya kemampuan seperti Rinai. Pun akhirnya dia hanya melihat-lihat tempat kerja Rinai. Mengabsen satu persatu bagian rak mulai dari makanan ringan, cepat saji, sabun dan lainnya. Untungnya adalah Aiden sama sekali tidak pernah merasa lapar semenjak berubah wujud. Dulu dia sering terpaksa membeli makanan di toserba dan asal memakan kimbap ataupun pop mie. Aiden iri kepada orang-orang yang bisa lapar, makan, buang air besar. Siklus manusia yang anehnya dia rindukan. "Nai, bentar lagi lu pulang kan? Sekalian bawa payung tuh, ramalan cuaca hari ini kayaknya bakalan hujan," tutur Azkia, salah satu pegawai toserba yang berjaga malam dengan Rinai. Sibuk menata ulang, Rinai hanya mengangguk. Uang dari Aiden memang banyak, tapi sayang sekali dia merasa bosan tidak bekerja. "Thanks, Az. Gue gak pernah tuh baca-baca ramalan, kayak gak percaya aja gitu sama hal begituan. Terlalu ambigu." "Nyenyenye. Intinya gue udah ngingetin ya, mumpung ada dua tuh payungnya." Bagi Rinai sendiri, segala sesuatu memang tidak mudah ditebak. Baik perihal kerja, rezki, jodoh dan kematian. Toh suatu saat nanti Rinai akan melewati semua siklus tanpa harus menyandingkan dengan ramalan-ramalan aneh. Sebentar lagi Rinai akan pulang, dia menahan tawa melihat Aiden yang masih stay di depan dan hanya duduk-duduk. Pasti pria itu benar-benar merasa bersalah. Mendadak suara gemuruh dari langit membuat Azkia bersorak. Dia kesenangan karena tebakannya benar. "Tuh kan, apa gue bilang!" "Iya-iya, hamaste!" Pun akhirnya Rinai melepas rompi khas toserba setelah pegawai lain datang. Dia baru bisa pulang setelah Azkia dapat teman. Malam-malam begini tetap harus waspada dan jangan sendirian bekerja. Sudah membuka payung, akhirnya Rinai menyapa Aiden, "gak pulang?" "Nunggu kamu." "Haha. Rose aja gak sesetia itu deh kayaknya." "Beda dong. I'll be there for you, ladies. So yeah, aku hanya merasa punya hutang saja sama kamu. Mau pulang kan? Aku temani." Baiklah, tawaran kali ini tidak dia tolak. Lumayan punya teman mengobrol sampai di halte bus. Mungkin sebentar lagi bus pun sampai karena sudah sangat terbiasa hafal dengan jadwal pulang-pergi. "Kemarin aku menemui Anya dan dia masih bersedih atasku." "Oh, begitu. Aku pun akan merasakan hal yang sama kalau jadi dia." Tidak ada percakapan lagi, Rinai mulai menikmati tetesan air hujan yang jatuh ke bumi dan payungnya. Kebersamaan yang mereka lalui mungkin suatu hari nanti tidak akan berarti apa-apa bagi Aiden. Tapi, saat itu juga Rinai percaya kalau ada sesuatu yang lebih besar menunggu mereka. (Bagian kedua) Semangat kembali, Rinai menepuk-nepuk pipinya dan menambahkan sedikit blush on. Jarang sekali dia berdandan meskipun tipis dan look no make up-make up club. Nyatanya, sebagai kodrat wanita memang harus berpenampilan menarik. "Oh, jadi kerjaan lu yang katanya rahasia itu ternyata benar. Gue gak pernah lihat tuh lu bedakan pas kerja. Kuliah aja jarang pakai. Penasaran gue sama bosnya." "Gak usah penasaran. Untuk saat ini cuma gue yang bisa ketemu sama dia." Masa bodoh! Rose hanya bosan dengan rutinitasnya. Apalagi banyak kerjaan endorse yang menumpuk ditambah masalah dengan Billar, pria itu sedang mengikuti study tour di Lombok dan mungkin pulang minggu depan. Hanya merasa kesepian, Rose lebih sering rebahan. Berharap Rinai akan ikut serta sambil mencomoti cemilan dan menonton film romance kesukaan mereka. "Berangkat dulu ya. Jadi anak baik lu, kasihan Jo harus angkat beban." "Sialan." Semalam memang Rose mabuk parah. Dia merindukan Billar, tapi hanya bisa menunggu sampai pria itu pulang. Pekerjaannya memang sebagai pemandu wisata para turis asing. Kadang ada yang membuat Rose cemas semisal pacarnya kepincut dengan bule-bule berkulit putih. Sudah mulai melangkah keluar, Rinai menatap langit hari ini, cerah. Semoga saja Aiden tidak semenyebalkan beberapa hari yang lalu. Setelah mendapatkan bus, Rinai hanya menyandarkan kepalanya ke jendela, lalu memutar lagu Aiden untuk bisa seimbang dengan pria itu. Tanpa sadar, Rinai menitikkan air mata. Sudah lama sekali dia tidak menangisi seseorang. Siapa Aiden baginya? Kenapa menangisi pria yang bahkan bukan siapa-siapa baginya? Sampai di villa studio milik Aiden, Rinai meletakkan tote bagnya dan melihat sekeliling. Tempat yang teduh sekali, tapi sayang, pemiliknya masih koma dan sekarang malah menghantuinya. "Aku lega kamu mau datang. So, aku akan memberi kamu waktu agar lebih rileks menikmati lagu-laguku. Audisinya tidak terlalu mepet, kamu masih punya kesempatan. Aku percaya itu." "Terima kasih. Aku boleh tanya?" "Boleh, mau tanya apa?" "Hmm, kamu pernah ngantuk setelah berubah wujud?" Kalau dipikir-pikir, tubuh Aiden seakan dilapisi banyak tameng kokoh. Saat lelah sekali Aiden tentu akan tidur di sembarang tempat. Tapi dia lebih sering ke sini sembari mengingat banyak kenangan. "Kadang. Tapi gak sering." "Oh. Oke, kita mulai aja latihannya. Kamu bilang kemarin ada yang salah pada bagian lagu yang nada rendah kan? Aku sudah memperbaikinya meksipun gak sebaik kamu. Mau dengar?" Aiden mengangguk. Pun Rinai mulai mengalunkan suara yang sebenarnya merdu. Mereka tidak melulu bertukar jiwa. Karena Aiden percaya suatu hari nanti Rinai akan jadi orang hebat di masa depan. Menikmati suara Rinai, Aiden mengangguk-angguk dan paham. "Ah, lumayan. Perkembangan yang meningkat pesat. Aku percaya kamu bakalan diterima di agensi." "Terima kasih. Mari kita lanjutkan sampai selesai." Aiden mengiyakan dan mulai memasuki tubuh Rinai. Sedikit tegang, lama-lama Rinai terbiasa dengan rasa kaget saat menerima tubuh lain harus merajainya. Akhirnya dengan sangat pelan sekali jemarinya mulai menciptakan harmoni yang indah. Before you go menjadi lagu favorit yang selalu didengarkan Rinai. Bahkan Aiden sempat mengaku kepada publik kalau lagu itu tercipta untuk menghormati kepergian neneknya yang meninggal karena sakit parah. "Kapan audisinya?" "Aku lupa. Tapi kurasa masih ada waktu. Aku tidak bisa mencari info karena tidak bisa menyentuh ponsel. You know, lah." Rinai paham. Dia mencari ponselnya sendiri dan mengetikkan sesuatu yang berkaitan dengan audisi. Rasanya tidak percaya harus ikut lagi setelah gagal berkali-kali. Apakah kali ini Tuhan akan merestui keinginannya untuk tampil? "Berapa banyak penyanyi hebat yang ada di agensimu?" "Entahlah. Kalau penyanyi itu merasa rendah hati, mereka gak bakalan merasa bagus. Aku mengagumi Rei, dia memiliki suara yang unik dan matang. Meskipun muda, tapi dia tidak pernah membantah perkataan coach." Yang ditakutkan Rinai adalah semisal nanti dia bertemu penyanyi muda yang sombongnya selangit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN