Give Me Time

1511 Kata
Sejalannya waktu, Rinai tidak menyangka semakin percaya diri dengan olah vokal suaranya. Meskipun tidak sebagus Ariana, seperti yang dibilang Aiden. Nyatanya pria itu selalu memberi tepuk tangan selepas mereka latihan. "Ah, rasanya sangat menyenangkan bisa belajar dari ahlinya. Untung saja kamu gak buka les privat, bayangin rasanya harus sibuk ngejob nyanyi dari kota ke kota dan masih dengan jadwal mengajar." Rinai membuka bekal makanannya. Dia memang suka berhemat meskipun Aiden sudah memberi banyak uang belakangan ini. Tapi, tidak selamanya dia harus bergantung pada makhluk yang bahkan tidak menapakkan kaki di tanah. Sambil melihat perempuan yang sepertinya kecapean setelah berlatih, Aiden mengedipkan mata dan membuat sebagian korden jendela membuka dengan sendirinya. Lalu diikuti dengan pintu yang menunjukkan bagian taman belakang. Agak heran karena dulu saat pertama kali melihat tempat ini, banyak sekali tumbuhan yang mungkin tidak terawat. Nyatanya sekarang tumbuhan itu sudah mulai sepi dan beberapa bunga mulai menampakkan kuncupnya. "Indah sekali. Bagaimana bisa?" "Hmm, sebenarnya aku mau jujur sama kamu. Jadi, beberapa hari yang lalu aku memakai jasa sewa dari tukang kebun profesional memakai nama kamu, seperti yang kamu lihat sekarang, aku lega mereka tidak bernasib sama denganku." Rinai merasa khawatir tanggapannya akan melukai perasaan Aiden. Bahkan berkali-kali membasuh muka pun, Rinai tetap saja tidak percaya bisa bertatap muka dengan idolanya sendiri. Meskipun mereka sekarang bisa dikatakan teman. "Kita latihan, lagi." "Ha? Ayolah, Aiden. Kamu kan tahu tenggorokanku tidak se-istimewa dirimu. Aku bahkan heran, sebenarnya apa yang ada di tenggorokanmu. Kenapa bisa suaramu bisa seindah dan seluwes itu." Sudah kebal dengan pujian, Aiden tetap memaksakan Rinai berlatih. Bukankah mereka harus mencapai misi? Akhirnya Rinai kembali duduk di depan piano, menunduk ke arah Aiden selayaknya memberi hormat pada sang senior. Lalu, menit berikutnya dia bisa mengalunkan lagu-lagu basic dengan khas Aiden. Saat-saat seperti inilah Rinai merasa damai dan tak terkatakan. Saat dunia terasa baik-baik saja, dan tanpa sadar dia mulai menganggap Aiden lebih dari seorang pengajar baginya. "Namamu tadi salah. Bagian kedua seharusnya lebih rendah, tapi kamu malah langsung ke dasar. Jadi kurasa kamu belum sepenuhnya mendengarkan penjelasanku kemarin." Menghela napas sebentar. Meskipun villa tersembunyi Aiden ber-AC, tapi siapa pun orangnya bakalan lelah harus berkutat dengan alat yang tidak benar-benar Rinai kuasai. Dia mengetuk tuts dengan asal, membuat Aiden hanya geleng-geleng kepala. "Gak ada yang bekerja sekeras ini saat weekend, Aiden. Aku bahkan harus merelakan tidak menonton drama Korea kesukaanku demi bisa ke sini." "Kamu menyesal?" "Aku hanya," Rinai melipat bibir, runyam. Terasa pahit tapi tidak bisa diutarakan. Lalu dia pun bangkit dan meminum jus yang sudah tidak dingin lagi. Seandainya Aiden tahu seberapa menyebalkannya harus bangun di saat weekend, juga memaksakan diri mandi dengan otak yang ingin istirahat. Tapi bagaimana pun juga, Aiden juga butuh bantuannya. Rinai bisa mendapatkan upahnya. Mereka saling menguntungkan satu sama lain, mutualan. Akhirnya Rinai kembali bersemangat kembali. Kadang ada rasa lelah setiap Aiden masuk ke tubuhnya. Namun perasaannya akan menghangat setelah pria itu menyanyikan sebuah lagu. Ini memang belum sebulan Rinai berlatih. Minimal dia harus rutin-rutin memperbaiki permainan piano juga dasar-dasar menyanyi. Bukankah dari dulu cita-citanya bisa unjuk gigi di layar televisi dan namanya tersebar di beberapa surat kabar. Meskipun tidak sehebat Aiden, sudah pasti Rinai akan sangat bersyukur punya penghasilan dari sekedar hobi. "Ah, akhirnya. Gak nyangka juga aku bisa pulang sekarang. Aku lupa memberi tahu Rose, dia ulang tahun hari ini. Menurutmu, kado apa yang paling cocok untuk," "Apa katamu? Pulang?" Mata Aiden membelalak sempurna. Dia tahu Rinai juga punya batas kemampuan yang tidak bisa menyamainya, tapi dia hanya ingin Rinai terus bekerja keras sampai dilirik oleh agensinya setelah audisi online nanti. Menyuruh berlatih lagi, Rinai menolak mentah-mentah. Bahkan wanita itu menyebut Aiden gila. Mana ada orang yang berlatih olah vokal selama 6 jam penuh? "Aku harus pulang. Aku juga punya kehidupan, Aiden. Kamu pikir, yang punya masalah di sini cuma kamu aja, hah? Bukan cuma kamu satu-satunya orang yang pernah menderita di dunia ini! Sudahlah, aku capek. Byee." Lalu, Aiden dengan sengaja membuat pintu susah untuk dibuka. Sifat paling buruknya adalah dia tidak suka menunggu dan dia suka orang yang selalu meminta diskon saat bekerja. Bukankah Rinai adalah pekerjanya sekarang? "Aku masih butuh kamu di sini. Aku gak bilang aku yang paling menderita di sini. Tapi, bukankah kamu berjanji akan menyelesaikan semua misi dengan cepat. Setelah itu aku berjanji gak bakalan lagi ganggu kamu, terlepas nanti apakah aku bakalan bangun lagi atau enggak. Setidaknya aku bisa tidur selamanya dengan tenang." Hanya menelan ludah. Tapi Rinai sangat malas melihat raut melas Aiden. Pria itu tidak cocok mengeluh, dia menatap Aiden dengan sangat tajam lalu tetap melenggang pergi dari studio rahasianya. (Bagian Kedua) Yang paling dibenci Rinai setiap minggu adalah hari senin. Kenapa harus ada hari senin dalam hidup? "Udah bangun, princess? Gila ya. Lu dapat uang dari mana bisa beliin aku tas ini? Harganya kan sama kayak gaji lu sebulan?" Rinai mengucek matanya. Dia lupa kalau semalam Rose sedang menghabiskan malam dengan Billar di sebuah pantai, tidak tahu pantai mana. Sedangkan Rinai malas menunggu, jadinya dia hanya meletakkan kado di atas ranjang milik Rose lalu kembali ke tempat tidurnya. Uang dari Aiden masih ada sisanya, bahkan lebih. Dia bisa menggunakan uang itu untuk hal-hal yang berguna. Tidak semuanya bisa diceritakan pada Rose, karena Rinai yakin pasti wanita itu akan membawanya ke paranormal atau psikiater setelah menceritakan semua yang terjadi padanya. "Intinya lu seneng kan sama hadiahnya?" "Iya dong. Apalagi gratis, tapi sebenarnya gue ngerasa akhir-akhir ini lu aneh deh, Nai." Alis Rinai saling bertautan tanda bertanya dengan ekspresi, "dalam hal?" "Lu lebih sibuk daripada biasanya. Tapi gue sendiri gak tahu apa kesibukan lu. Kadang pergi tiba-tiba, kadang lu gak aktif. Hmmm, Nai, lu gak open BO kan?" Plak! Akhirnya Rinai bisa sepenuhnya menjitak kepala Rosaline. Sahabatnya memang selalu ngasal saat memberi komentar. Apalagi Rinai pernah memberi tahu tentang jam tangan mahal, sekarang hadiah ulang tahun berupa tas mahal. Padahal biasanya hanya makan kue yang harganya ratusan ribu doang dan pesta sampai subuh. "Lu gila ya! Bisa-bisa otak gue geser gara-gara lu jitaknya kekencengen. Terus apa dong, Kakak. Lu jadi simpenan sugar daddy? Atau pejabat?" Tambah gila! Sebusuk-busuknya dunia, Rinai akan tetap mempertahankan kewarasannya lantaran dia tahu rasanya dipandang sebagai orang busuk itu seperti apa. Hidup dari seorang ibu yang single parent mengajarkan Rinai selalu menjungjung tinggi soal harga diri. Meskipun di luar sana banyak yang terjun bebas dalam dunia gelap dengan menemani p****************g di ranjang. "Intinya gue kerja, kayak asisten gitu. Tempatnya adem tapi rahasia, gue gak bisa ngasih tahu sekarang. Tapi santai, gue bakalan baik-baik aja kok." "Bukan perdagangan manusia kan?" Rinai tertawa, sialan memang. Rose selalu bermasalah semisal dirinya punya uang lebih di tabungan rekeningnya. Daripada pusing memikirkan tuduhan Rose, Rinai lebih memilih mandi. Dia menyesal menangis semalaman saat Rose tidak ada di apart. Ini semua karena Aiden yang baginya cukup keterlaluan. Bisa-bisanya pria itu memaksakan kehendak. Tapi Rinai tahu kalau Aiden juga sering sedih dengan isi kepalanya sendiri. "Nyesel semalem gak pakai sheet mask." Kampus terasa berbeda, jauh lebih berdebu karena banyak yang datang di hari senin. Entah benar-benar kuliah atau hanya nitip absen saja. Sedang mode berhemat, Rinai iseng membuka kotak makanannya. Dia berterima kasih pada Rose karena membuatkannya roti bakar dengan banyak selai. "Kayaknya kamu ada masalah, Nai." ucap seseorang. Rinai mendongak, Ajun, pria yang kadang muncul di sekitaran kampus dan memang mereka satu angkatan. Bagi Rinai, Ajun sedikit bisa dianggap teman karena mereka memang sering sekali berkolaborasi dalam tugas kuliah. Harus diakui, pria itu cukup punya vibes yang menggoda. Baik, supel, tidak pernah meremehkan gender dan yang paling penting adalah sopan. Sayang banget, saking sempitnya dunia, Ajun adalah mantan pacar Wintang, wanita yang selalu mencari gara-gara dengannya. "Enggak juga sih, Jun. Kok nebak gitu? Kamu ada kelas pagi ya?" Pria dengan jaket tebal itu pun duduk dekat Rinai, hanya berjarak beberapa jengkal tangan. "Hmmm, kadang kalau orang makannya terburu-buru biasanya sebagian dari mereka lagi gak baik-baik saja sih. Iya, kelas pagi, kamu juga kan? Sayang, aku bosan sama dosen Kesya, dia agak caper sama anak-anak pria yang punya tampang di atas standar, makanya aku gak ngambil kelas itu." "Kebanyakan nonton sinetron kamu makanya suka mengada-ngada. Ah, jadi kamu ngira kamu salah satu pria yang berwajah di atas standar, Jun?" Rinai tertawa lepas. Pagi-pagi sudah mendapatkan siraman kebucinan, bahkan syahdunya bisa sampai menembus sukma dalam d**a. Mereka saling tertawa, lumayan untuk mengisi amunisi pikiran yang sedang ribut sejak semalam. Apalagi memikirkan perkataan Aiden tentang nasibnya. Apakah Rinai terlalu enteng menganggap permasalahan pria itu? Dari kejauhan, Aiden menatap dua orang yang sedang haha-hihi gak jelas. Marah? Tentu saja! Bisa-bisanya Rinai bersenang-senang sepagi ini? Padahal dari semalam Aiden kebingungan untuk sekadar meminta maaf sudah membentak wanita itu. Lalu, siapa pria itu? Kenapa terlalu banyak pria di hidup Rinai? "Kenapa aku mempermasalahkan itu? Kenapa memangnya kalau dia dekat pria lain? Toh aku sudah punya Anya." Lalu, sosoknya menghilang dalam sekejap dan muncul di kamar Anya. Wanita itu tengah merungkuk lemas di ranjangnya sambil menatap foto Aiden. Foto di mana mereka dulu merayakan liburan usai acara fashion Show di Paris. Ah, betapa rindunya. "Tunggu aku kembali, Anya. Dan aku pastikan kita akan liburan ke banyak tempat lebih dari yang kamu bayangkan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN