Struggle

1053 Kata
Untung saja, Rinai tidak pernah merasa punya hutang budi dengan seseorang. Meskipun dia sering sekali merepotkan Rose, nyatanya sampai hari ini hanya sahabatnya itulah yang sekarang selalu ada dalam suka dan duka. Merasa minder untuk melihat para peserta yang ikut bersuara dalam barusan kolom komentar, Rinai mencoba percaya bahwa latihan olah vokalnya akan segera membaik. Toh dia sudah berlatih serius dengan sang idola. "Kamu kan tahu, kalau sampai hari ini cuma kamu sendiri yang kalah dengan ketakutanmu, Nai." Jo baru saja menuangkan minuman yang tidak akan membuat Rinai mabuk berat. Sudah kapok melayani perempuan yang sering sekali menyusahkannya. Tapi, kali ini Jo heran lantaran Rinai tidak menunjukkan senyum pasrahnya. Bahkan sejak masuk ke snow club, Rinai tak henti-hentinya menertawakan diri sendiri. Kalau boleh jujur, Jo merasa merinding. "Sepertinya kamu mulai gila. Butuh psikiater?" "Ngawur! Aku cuma merasa semangat aja untuk ikut audisi selanjutnya. Tidak harus datang langsung ke agensi. Aku akan mengikuti audisi secara online. Seperti seorang youtuber misalnya." Mendengar pengajuan Rinai, Jo hampir menumpahkan minumannya. Bahkan sempat membuat beberapa pengunjung fokus ke arahnya. Dia meminta maaf dan kembali fokus ke Rinai lagi. Apa tadi? Audisi? Lagi? Entahlah, Jo harus berterima kasih pada siapa lantaran sampai sekarang Rinai tidak pernah menyerah pada keinginannya untuk jadi penyanyi. Tapi, bisa saja Rinai memang tidak ditakdirkan menjadi seorang bintang. "Terserah. Akan aku buktikan untuk kali ini kepercayaanku meningkat pesan. Jo, aku pulang dulu ya! Nanti Rose akan ke sini dengan Billar, dia yang bakalan bayarin bonku. See you, kamu juga jangan lupa tidur. Mata kamu bisa buat lapangan golf." Jo hanya menatap Rinai sendu. Seandainya dia kaya, sudah pasti dia akan mengajak perempuan itu menikah. Meskipun tidak benar-benar menyukai, tapi bagi Jo, Rinai adalah perempuan yang unik. Sambil jalan ke arah apartemennya, Rinai mendongak ke langit. Malas untuk memesan taksi, lebih memilih menikmati langkah kaki yang nanti akan sampai sendiri di kamar apartemennya. Baru saja sampai ke persimpangan jalan, sentuhan tangan meraba bahunya. Dia tidak terlalu mabuk dan sadar betul siapa pria yang mendadak muncul di hadapannya. "Hai." Aiden memamerkan gigi putihnya, lengkap dengan lesung pipi yang dari dulu menjadi daya tarik semua kaum hawa. Rinai hanya mengangkat sudut bibirnya, celingukan mencari bangku untuk memulihkan kesadaran. Ini memang belum terlalu malam. Apalagi Rinai tahu apartemennya pasti sepi. Rose sudah terbuai akan asmara dengan Billar. Sedangkan Rinai hanya bisa meratapi nasibnya yang belum berubah. "Kamu sedang sedih, sepertinya." "Tidak juga. Hanya bosan miskin. Siklus yang kualami selama beberapa tahun terakhir. Kamu gak akan paham siklus-siklus seperti ini Aiden." "Tapi, bukankah kamu sendiri yang akan membuat dirimu sukses, dalam artian punya banyak uang nantinya." Rinai kembali tersenyum, tidak segetir tadi. Mungkin efek orang tampan memang beda vibesnya. Dia mulai jujur jika uang dari penjualan jam mahal Aiden sudah dibayarkan untuk biaya kuliah dan apartemen selama beberapa bulan. Mungkin sisanya untuk biaya sewa ruko di mana mamanya berjualan. "Besok jangan lupa di tempat yang sama. Kamu harus konsisten latihan, Rinai. Ingat?" "Baiklah. Tapi aku ada kelas dan shift siang, gak apa-apa kan? Kamu gak sibuk?" "Mana ada hantu sibuk? Aku hanya terbang ke sana kemari tak tentu arah. So, sepertinya aku harus pergi karena sejak tadi banyak yang melihatmu. Maybe, kelihatan aneh saja kamu ngobrol sendirian. Mereka kan gak bisa lihat aku. See you!" Bayangan Aiden semakin memudar, mungkin terbang entah ke mana. Enak kali ya bisa leluasa mencari kebebasan, meskipun Rinai tahu, kecelakaan Aiden pasti ada rahasia di baliknya. Tidak saling kenal, tapi Rinai berjanji akan membuat pria itu menemukan kejanggalan insiden di Hongkong. Keesokan harinya, Rinai sadar Rose sudah ada di sampingnya. Semalaman dia menunggu siapa tahu Rose akan pulang, nyatanya sampai pukul 2 malam tidak ada tanda-tanda Rose kembali ke apartemen. "Masih ngantuk? Lu diapain sih sama Billar sampai seloyo ini, heran." Sedangkan Rosaline hanya tertawa sumbang. Kesadarannya masih di atas awang-awang. Baginya, Jakarta benar-benar bebas. Dia tidak sekolot Rinai dan memang seranjang dengan pacar bukanlah hal yang baru lagi baginya. "Nai, ini Jakarta. Jangankan gue, orang-orang di luar sana aja gak pada kenal bisa bobok bareng. Kalau gak percaya, lu bisa tanya sama Jo. Berapa orang yang tiap malem check in sama simpenan mereka. Tapi gue bangga, masih ada orang sebaik lu di bumi ini. Dahlah, gue masih ngantuk. Ini rabu kan? Lu ada kelas pagi." Mengeluh pelan. Seakan napasnya berat untuk terangkat ke permukaan, Rinai terpaksa bangun dan membuat sarapan sendirian. Untungnya masih ada banyak stok makanan di kulkas. Rinai memang sempat menjejali isi kulkas dengan junkfood. Dia ingat hari ini ada sesi latihan mandiri dengan Aiden. Ya, rasanya ada euforia tersendiri saat mengobrol dengan sang bintang. (Bagian Dua) Villa yang penuh dengan tanaman hias itu terasa damai sekali, ini sudah ke tiga kalinya Rinai ke sini. Sayang sekali, ada beberapa tanaman yang kayu lantaran sudah lama tak terawat. "Kasihan ya mereka, tidak ada yang peduli. Padahal, dulu Anya sering sekali ke sini meskipun hanya menyirami tanaman-tanaman itu." Aiden berdiri di pojokan. Kalau dulu Rinai akan menjerit, tapi tidak sekarang. Dia sudah terbiasa dan lama-lama akan biasa saja. "Kamu, kenapa tidak menyewa pengurus rumah." "Tidak percaya." "Ha? Maksudnya kamu tidak percaya dengan mereka? Kenapa?" Aiden masuk melewati kaca, makhluk yang mungkin masih terlihat bagi Rinai itu dengan mudahnya menembus kaca, mengajak Rinai untuk langsung ke ruangan di mana mereka akan latihan. Pria yang sudah lama tidak pernah terdengar suara emasnya itu pun bercerita. Sering sekali ada pengurus rumah yang ternyata punya niat jahat seperti memasang CCTV, memotret atau melapor. Sayang sekali, sampai sekarang Aiden sama sekali tak tahu siapa musuh dalam selimutnya. Sambil membuka-buka dan mempraktekkan satu persatu nada rendah, Rinai mulai mengingatnya untuk bisa dipelajari nanti di apartemen. "Sekarang kamu bisa gunakan suara paling rendah kamu. Jangan terlalu paksakan sampai tenggorokan kamu sakit. Ini tahap awal." "Ah, baiklah. Boleh kucoba?" "Iya. Kamu hafal lagu mereka kan?" Rinai mengangguk, lagu Paramore memang termasuk kesukaannya. Dia sendiri heran, meskipun Aiden sering sekali bernyanyi lagi melow dan accoustic, nyatanya pria itu pun menyukai lagu-lagu power. Dan Rinai merasakan suaranya lebih terangkat dan penuh, nyaman untuk didengarkan meskipun hanya untuk dirinya sendiri. "Stop! Jangan terlalu tinggi. Jangan terlalu dipaksa, Rinai. Kamu tipe suara manja seperti Ariana. So, pelan-pelan saja. Oke?" Rinai mengangguk. Biasanya saat berguru dengan seseorang, mereka suka sekali membentak, mengata-ngatai dan banyak hal buruk yang seolah-olah tidak bisa diperbaiki. Tapi dengan Aiden, pria itu tegas dan profesional. Ah, rasanya seperti membayar mahal private kelas ternama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN