Tanpa sadar, banyak sekali tempat-tempat yang mereka datangi. Meskipun awalnya Rinai merasa tak adil lantaran hanya dirinya saja yang memesan kopi, sedangkan Aiden hanya duduk dan memandanginya menghabiskan minuman penuh aroma itu.
Aiden mengaku tidak punya rasa lapar dan harus, indra penciumannya tidak setajam saat menjadi manusia biasa. Untungnya, penglihatan dan pendengarannya berfungsi normal.
"Lagu-lagu kamu bagus. Apalagi yang judulnya tak kan terganti, apakah itu lagu yang menggambarkan perasaanmu untuk seseorang?"
Lama sekali berpikir, jujur jawabannya adalah iya. Lagu yang dia buat saat ada tour ke Moskow, lalu tiba-tiba saja Aiden mengingat sosok Anya Gwen, kekasihnya. Apakah Anya sekarang masih memikirkannya?
Entahlah. Ada ketakutan tersendiri yang menyelinap masuk ke pikiran Aiden, bahkan untuk mengunjungi perempuan itu saja tak sanggup.
"Baiklah, aku tidak akan menutupi apa pun dari kamu. Lagu itu teruntuk Anya, kamu pasti tahu kan?"
Tentu saja. Kabar Aiden bahkan sampai tembus ke negara Jiran, pun mengenai sosok perempuan yang sangat disukai Aiden. Mereka begitu mesra dan serasi. Banyak sekali yang mengumpamakan mereka adalah Rama dan Sinta dari Jakarta.
Jakarta begitu keras, luas dan cerdas. Kota di mana Aiden mendapatkan banyak penghargaan dari sesepuh musisi dan kejuaraan. Dia merindukan kehidupannya yang cemerlang dan dipuji banyak orang.
"Aku sudah lama tidak melihat permainan Anya. Sepertinya dia sangat terpukul atas peristiwa yang menimpa kamu, dia pasti sangat mencintai kamu."
Aiden terdiam lama. Memilih untuk tidak mengatakan apa-apa lagi. Akhirnya dia pun hanya melihat ke sekeliling. Banyak sekali pengunjung yang datang, Aiden merasa terganggu. Dia tidak suka keramaian.
Namun, sudah terlanjur memesan tempat, akhirnya dia harus melanjutkan semua yang ada di otaknya sekarang.
"Kamu pasti tahu laguku yang judulnya Romansa kan? Nah, aku ingin membuatmu menguasai teknik dan rasa yang akan timbul dari lagu yang nanti kamu nyanyikan. Ku biarkan kamu menghafal lebih dahulu lagu itu."
Rinai tentu saja sangat hafal. Dia mengagumi sosok Aiden dari kepala sampai pangkal kaki, semuanya begitu mengagumkan. Lagu-lagu Aiden bahkan menjadi list favorit di ponselnya sampai sekarang. Namun, Rinai tidak ingin mengakui kalau dirinya mengagumi Aiden. Bila-bila penyanyi tampan itu gede rasa.
Tidak ada pilihan lain selain menuruti semua perintah yang ada, Rinai hanya mengangguk pasrah. Hari ini ada kelas kuliah, dia tidak mengambil jadwal kuliah setiap hari lantaran harus sibuk mencari pundi-pundi rupiah.
"Sebenarnya ini terkesan tidak sopan. Tapi aku sangat penasaran, boleh aku ungkapkan?"
Aiden mengangguk, menatap intens perempuan yang sedang bersiap-siap untuk mengatakan sesuatu kepadanya. "silakan, kita mulai sekarang kan adalah teman, jadi tidak usah sungkan untuk mengatakan sesuatu tentang diriku."
Mimpi apa Rinai selama ini? Jangankan membayangkan bisa bertatap muka dengan Aiden setiap hari adalah hal yang paling tidak masuk akal di dunia ini. Dia bahkan sering tidak menyangka kalau sosok penyanyi itu ternyata masih hidup dan sekarang pun berusaha mempertanggungjawabkan Apa yang sebenarnya terjadi di London.
Baginya, pria itu hanya sedang mendapatkan kesempatan untuk melihat orang-orang yang sebenarnya berbahaya untuk hidupnya melalui keadaan seperti ini.
"Kamu mendapatkan uang dari mana? Maksudku, apakah kamu akan memberikan seluruh barang-barang kamu sebagai bayaran di awal perjanjian kita?"
Aiden hanya tersenyum, sangat tahu ketakutan yang dialami oleh perempuan itu. Apalagi sekarang dia bukanlah seorang pria yang bisa mendapatkan uang dengan cuma-cuma. Tapi, Aiden tetap mendapatkan hak kontrak dari agensinya, meskipun wujudnya sudah tidak ada tetapi Aiden tetap mendapatkan upahnya.
"Tenang aja, aku sangat tahu apa yang kamu maksud. So, kamu pasti tahu kan aku tidak akan membual tentang bayaran kamu. Juga, aku masih belum bisa mengambil seluruh uang tunaiku karena keadaanku di London sangat memprihatinkan. Aku yakin kamu pasti sudah mendengar tentang kabar kecelakaanku di sana, juga di mana aku berbaring lemah sekarang."
Rinai tak sanggup melanjutkan. Nyeri sekali harus membayangkan keadaan Aiden sekarang. Tidak ada anggota keluarga yang datang, bahkan Anya saja sampai sekarang belum berani bertindak apa-apa.
Atau mungkin, kabar keadaan Aiden dipalsukan meninggal agar media tidak ribut mencari keberadaannya hingga sekarang.
"Apa pun yang terjadi, aku harap kamu tidak pernah mundur dari perjanjian kita karena jalan hidupku tergantung dari seberapa besar usaha kamu, Rinai. Untuk sekarang, kamu adalah orang yang sangat aku percayai di dunia ini. Aku harap, aku bisa mengandalkan kamu dalam keadaan apa pun."
Senyum Aiden merekah. Begitu sempurna dan membuat jantung Rinai berdetak tak seperti biasanya. Ya Tuhan, betapa beruntungnya sosok Anya bagi Aiden karena dicintai pria yang begitu sempurna sepertinya.
***
Latihan olah vokal nyatanya membuat Rinai sedikit kelelahan. Tapi, dia sangat menikmati semua itu karena bisa mendapatkan ilmu dan teknik dari melagu.
Dari dulu, ingin sekali Rinai mendapatkan guru yang bisa melatih bakat terpendamnya. Suaranya memang tidak sebagus Aiden, tapi untungnya sampai sekarang Rinai tidak bisa menemukan guru yang dapat membantunya karena kendala biaya.
Mana ada sih guru gratis sekarang? Dia yakin kalau Aiden pasti juga punya guru dan master yang membuat namanya bisa sebesar sekarang.
"Sepertinya kamu sedang bahagia? Aku dengar dari Rose, audisi kemarin kamu gagal lagi. Yeah, kegagalan yang sama bukan? Seperti yang sudah-sudah."
Kening Rinai mengkerut. Begitu muak dengan kata kegagalan sekarang, dan juga kenapa Rosaline ember sekali membicarakan tentang kegagalannya? Pasti Wintang sedang membual. Dari dulu mereka memang selalu bersaing, meskipun Rinai tahu, mengalahkan anak seorang penguasa seperti Wintang tak akan ada ujungnya.
"Aku juga heran, kenapa perempuan seperti kamu, setenar dan katanya hebat, memilih jadwal kuliah tak menentu sepertiku. Ayah kamu pejabat negara, masa iya kamu memilih sekolah di swasta? Lucu bukan? Kamu pasti sengaja kan ke sini hanya untuk meledekku sampai puas?"
Bukannya merasa bersalah sudah mencomooh orang yang lebih rendah darinya, Wintang merasa bosan saja harus bertemu dengan orang yang bisa saja lebih hebat darinya. Makanya dia iseng mengambil kuliah dan jadwal yang sama dengan Rinai.
Perempuan yang sangat membuatnya kesal dari sejak masih SMA. Perempuan yang pernah merebut cinta pertamanya dan mengalahkan kejuaraan dulu saat masih di bangku sekolah.
"Senang saja melihat kamu kalah. Toh, kita punya bakat untuk menyanyi, meskipun aku sadar sih, bakat aja gak cukup. Kamu pasti sangat tahu kan?"
Ya, benar. Bakat saja tidak cukup untuk jaman sekarang di kota metropolitan. Jakarta kadang bersikap jahat pada penghuninya, meminta upah sebagai penyedia mereka. Ya, jahat dan egois sekali.
"Lihat saja, entah kapan aku akan buktikan kalau aku bisa lebih baik dari kamu, Wintang."
Rina berjalan melewati perempuan itu, mendorong bahu sampai membuat Wintang hampir terpental di tembok. Untung saja perempuan itu tidak memilih membalas lantaran isi kelas sudah mulai ramai.
Baru saja mendapatkan tempat duduk, Rinai kaget melihat Aiden tiba-tiba muncul dan ikut berbisik, "keren, Rinai. Kamu pasti bisa mengalahkan perempuan mulut bon cabe itu."