Baru saja merebahkan punggungnya di ranjang kesayangan, Rinai ingat kalau ada sesuatu yang memang tertinggal di sling bagnya. Ya, sebuah jam tangan yang kelihatannya bernilai mahal.
Tangannya merogoh dengan cepat, mengangkat tinggi-tinggi dan mencari di website. Apakah semahal seperti koleksi jam orang-orang kaya. Banyak orang yang kadang memang tidak ingin menunjukkan kekayaannya tetapi sudah dapat ditebak dari apa yang dikenakan dan juga tertempel pada tubuh mereka.
Longines Heritage 1945. Ya, Rinai sempat tanya pada Jo lantaran banyak orang yang datang silih berganti ke snow Club. Dan memang, kalangan mereka bukan orang biasa.
"Rose, apakah ini ori?"
Mendekat, mengucek-ngucek mata. Meskipun dia bukanlah wanita yang terlahir dari darah biru tetap saja semua wanita pasti tahu barang-barang yang berharga jutaan bahkan puluhan juta.
"Nai, kamu nggak ubah haluan jadi tukang rampok kan? Dari mana kamu mendapatkan barang semewah ini."
Sial, baru saja Rosaline menyebutkan angka jual jam tersebut dan membuat Rinai tak sanggup mengatupkan mulut lantaran tak percaya.
Ya, seharga motor baru. Bahkan mungkin bisa lebih, Rinai sempat tidak ingin mempercayainya. Tetapi dia tidak heran karena sangat tahu kalau Aiden memang sangat kaya.
Tapi tanahnya adalah kenapa pria itu dengan mudahnya mempercayai Rinai dan mempercayakan barang-barang yang dia punya untuk diperjualbelikan sebagai barang jaminan pertama.
Otaknya memutar, bahkan dia merasa sangat bimbang sendiri. Aiden sudah membicarakan sebagian rencananya, hanya tinggal menunggu persetujuan dari Rinai saja.
"Yeah, ini aku nemu di jalan." jawab Rinai asal.
Ayolah, Rose tidak mungkin sebodoh itu. Tapi tidak mungkin juga kan kalau Rinai menceritakan yang sebenarnya. Bisa-bisa dia akan di masukkan ke rumah sakit jiwa.
"Nai, lu gak sakit kan? Ini tuh gak cuma satu - dua juta. So, lu gak boleh mencuri atau apa pun yang bersangkutan dengan tindakan kriminal."
Wajah Rose jarang sekali bisa seserius ini. Meskipun seandainya dia diberi uang ataupun durian runtuh berupa harta karun dan tidak akan menolak, tapi tetap saja sangat tak percaya kalau sahabatnya menemukan jam mahal itu di jalan.
"Intinya, gue gak melakukan hal jahat, Rose. Demi apa pun yang menjanjikan di dunia ini. Demi mama. So, anterin gue untuk jual ini. Bisa?"
Menghela napas. Mereka sudah sama-sama besar dan bukan batas Rose menggurui jalan hidup Rinai. Apa pun itu asalkan temannya bahagia, dia akan berbaik hati mendukung sebisa mungkin.
Dari kejauhan, saat sudah keluar dari apartemennya, Rinai melihat sosok pria yang sering menghilang dan datang dadakan. Melambaikan tangan, dari postur wajahnya sih sepertinya sangat ikhlas kalau jam mahalnya dijual.
Meskipun tidak akan sama dengan harga aslinya apalagi memang tidak ada surat-suratnya, Rinai bisa menjual jam itu dengan harga yang sebanding. Bahkan, suatu hari nanti jika dia punya uang, Rinai akan menebusnya.
Apalagi Aiden memang menjanjikan kesuksesan yang gemilang di depan mata.
"Uang itu akan lu apain?"
"Hmm, mungkin bayar cicilan sewa apartemen. Juga hutang kuliah, bayar ruko mama. Banyak sih, lu gak mungkin gak terima uang ini kan?"
Rose mengangkat bahu, awalnya sih ragu-ragu tapi lama kelamaan akhirnya mau. Kalau urusan duit mah, seluruh makhluk bernama manusia di dunia selalu tak pernah pandang mata.
***
Malam-malam begini, setelah selesai pulang dari pekerjaan sambilannya, Rinai menghitung sisa uang di dompet. Uang dari penjualan jam kemarin memang masih sisa banyak. Tapi langsung ditabungkan ke rekeningnya.
"Ah, besok adalah janji temu dengan pria itu. Rasanya aneh, seperti menunggu seseorang saja." keluhnya dalam hati.
Ia melirik ke kiri dan kanan. Banyak sekali pasang mata yang menatapnya kasihan. Ya, hanya Rinai yang tak punya gandengan. Sialnya, malam ini adalah malam minggu dan Rinai tetap permanen dengan status jomblo ngenesnya.
Dia memang tak begitu mudah dekat banyak pria, hanya Jo. Bahkan satu-satunya sahabat terbaik adalah Rosaline dan juga Flora. Lainnya mah cuma numpang nama saja.
"Sepertinya kamu juga introvert." ucap seseorang.
Deg! Hampir saja jantung Rinai melompat dari tubuhnya. Dia baru saja melamunkan seorang pria yang datang dengan membawa bunga kesukaannya, berjongkok dan mengajaknya menikah.
"Akan terlihat aneh kalau kamu bicara sendirian, Nai. So, mau kuajak pergi?"
"Ke mana?" tanya Rinai, tidak menoleh meskipun Aiden kini tengah duduk di sampingnya.
Ya, malam ini memang begitu damai dan menghanyutkan. Mungkin awalnya dia masih ketar-ketir dengan status Aiden yang bukan lagi satu dunia dengannya. Tapi pria itu tak pernah berbuat jahat selain bikin spot jantung serasa copot. Selebihnya malah membantu banyak.
"Ikut saja. Di sana tempat biasanya aku terinspirasi menciptakan sebuah lagu sih."
Ah, jadi begitu. Rinai pikir, selama ini Aiden memang selalu bahagia dengan kehidupan juga kepopulerannya. Apalagi memang nama Aiden selalu menjadi sorotan semua media. Tapi nyatanya di balik semua kesuksesan sang idola, tersimpan kesepian yang mendera.
Sampai sekarang Aiden masih sangat penasaran siapa orang yang gak punya otak sehingga membuatnya koma. Sepengetahuannya, dia tidak punya musuh apalagi lawan.
Hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam, ini belum terlalu malam untuk mabuk. Jadi, Rinai hanya memesan kopi saja. Aneh bukan harus memesan dua cangkir kopi sedangkan Aiden saja tidak terlihat.
Pemandangan rooftop juga kerlipan lampu dari rumah penduduk membuat perasaan Rinai menghangat. Di sini sepi, apalagi dari kursi satu ke kursi lainnya sangat berjauhan.
"So, aku mau bilang makasih untuk jam itu. Aku gak nyangka harga jualnya lebih dari gajiku dua tahun."
"Hanya salah satu koleksi jamku. Toh aku tidak terlalu sering memakainya, penampilanku juga tidak terlalu penting sekarang karena yang melihatku hanya kamu bukan?"
"Baiklah. Tapi kamu rela kan?"
"Masalah jam itu?"
Rinai mengangguk, bagaimanapun juga mereka memang baru saja kenal belum ada sebulan dan sangat aneh kalau Rinai sudah meminta yang macam-macam.
Dia bukan tipe orang yang memerintahkan sesuatu demi keinginan dan kebutuhan hidupnya. "meskipun aku juga tidak tahu kenapa mau terjun ke dalam kehidupanmu juga drama yang nanti akan aku perankan."
"Tidak masalah. Karena jalan hidupku ini bergantung padamu, Rinai. Aku tidak tahu kapan akan sadar karena keadaan tubuhku sekarang sangat tidak memungkinkan. Bagian tubuhku banyak yang terluka dan aku mengalami gegar otak ringan yang membuat aku sangat sulit untuk sadarkan diri."
"Kenapa kamu percaya padaku? Maksudnya dari semua orang yang mungkin secara acak memiliki kemampuan seperti ku kenapa kamu memilih aku yang jelas jelas sama sekali tidak pernah tahu siapa sosok Kamu sebenarnya."
Kopi pesanan Rinai sudah datang, tercium aroma yang sangat dirindukan Aiden. Meskipun sekarang sudah tidak bisa merasakan lapar ataupun kehausan tetap saja dia masih ingat betul aroma yang biasa dia nikmati saat berada di tempat ini.
Anehnya, pilihan kopi yang dipilih oleh Rinnai sama persis dengan kopi yang dia sukai.
"Aku hanya punya feeling yang kuat untuk seseorang seperti kamu. Dan aku berharap feelingku benar-benar baik."
Ya Tuhan, baru kali ini ada seseorang yang begitu percaya meskipun belum mengenal Rinai secara lahir dan batin.