Believe?

1065 Kata
Setidaknya, Rinai masih berusaha untuk tidak percaya 100 % pada ucapan Aiden. Dia masih menganggap kedatangan pria itu hanyalah halusinasinya, tapi kenapa terasa nyata? "Lu kan kerja part time. Tapi kenapa akhir-akhir ini jadwalnya ngadat sih, Nai?" Rose berusaha tidak memadukan pertanyaan dengan tuduhan. Biasanya, dia sangat hafal gerak gerik dari Rinai yang sok sibuk dengan pekerjaannya yang sebenarnya tidak terlalu menyita waktu. Kadang, Rosaline hanya ingin Rinai bekerja dengan gaji yang lumayan. Terlepas mimpi terbesar Rinai adalah menjadi seorang penyanyi. "Gue cuma lagi pingin me time sih. Tapi tenang, gue bakalan jaga diri gue. Cuma lagi gak mau ditemani aja sih, nanti kalau udah agak mendingan gue bakalan balik kok. Santai." Paham benar kalau hidup Rinai memang lebih miris dari kehidupannya, menjadi sok kuat sendirian dan pada akhirnya berusaha bangkit pun sendirian. Rinai benar-benar keluar dari apartememnya dengan pikiran serba acak. Di mana dia akan mencari keberadaan Aiden? Atau lebih tepatnya menemukan pria itu. Bukankah hantu memang tidak suka waktu di pagi hari? Masa bodoh, yang penting tetap melangkah saja. Rinai bahkan sudah memesan ojek online kesayangan, memilih tempat yang tidak begitu ramai dari orang-orang. Pilihannya adalah taman di mana dia pernah dikagetkan oleh suara-suara di balik semak-semak. Disitulah Rinai melihat Aiden dan baru percaya kalau pria itu bukan lagi satu spesies dengannya. 15 menit menunggu, Rinai mulai bosan. Apakah ini akal-akalan Aiden? Dan bodohnya, Rinai masih mau menunggu. "Akhirnya kamu datang juga." ucap seseorang. 'Akhirnya suara itu terdengar juga.' balas Rinai dalam hati. Dia mendongak ke arah pria yang begitu pucat, mungkin semua makhluk tak kasat mata memang begitu. Aiden masih berdiri, menatap Rinai yang hanya diam dan meremas tangan. Dia tahu kalau wanita yang tengah ada di hadapannya adalah harapan besar untuk bisa membuat Aiden pergi dengan tenang. Dia hanya butuh kebenaran. Ya, hanya itu saja. "Kita akan ke tempatku. Dan ini," Aiden merogoh sesuatu dari saku mantel. Mengambil jam dan menyerahkannya pada Rinai. "itu harganya lumayan, mungkin sekarang sudah berkurang. Hanya saja kamu bisa menjualnya sebagai traktiranku lantaran kamu mau menemaniku ke tempat itu." "Tempat apa?" "Kamu punya uang?" "Punya. Meskipun tidak sebanyak punyamu. Why?" Aiden mengajak Rinai untuk ke tempat di mana hanya ada dia di sana, tempat di mana Aiden selama ini menyendiri dan berusaha mencari cara agar bisa pergi dengan damai. Ya, sebuah villa tertutup yang khusus untuk melatih kemampuannya. Tidak banyak yang tahu tempat itu, hanya Aiden, Anya, juga Rinai. "Untuk pesan taksi. Aku sih bisa langsung ke sana, tapi kan kamu nggak tahu tempatnya. Makanya aku nyuruh kamu naik taksi dan aku akan menemanimu." Rinai melipat bibir, agak ragu dan bimbang. Apakah dia akan mengikuti semua perintah Aiden? Sungguh, sampai sekarang saja Rinai masih tak percaya dengan kemampuan melihat hantu. Baiklah, dia hanya mengangguk pasrah. Toh, jam yang diberikan sebagai pengganti ongkos harganya pasti lumayan. Biasanya kan para penyanyi dan orang-orang yang punya nama selalu punya barang yang harganya tidak masuk di akal. Di dalam taksi, Rinai hanya terdiam. Mereka duduk berdua, dan mungkin bagi supir taksi hanya ada Rinai sebagai penumpangnya. Dunia memang lucu bukan? Setengah jam kemudian, Rinai benar-benar sampai di mana tempat itu sangat asing dan damai. Usai membayar ongkos taksi, Rinai mengikuti derap langkah Aiden. Mengambil kunci yang tersimpan pada pot bunga dengan bunga palsu. Masuk, matanya mengedarkan pandangan. Menilai. Ini sangat nyaman dan teduh, sepertinya sebuah tempat yang akan membuat pemiliknya jarang keluar rumah karena menenangkan. "Ini sebenarnya studioku. Aku membelinya dari seseorang yang kukenal baik. Sayang sekali, dia harus pindah ke luar negri dan tempat ini tidak terurus. Jadi yeah, aku membelinya dengan harga yang tidak tinggi." Mulut Rinai meng-oh pelan. Berjalan dari ruangan ke ruangan, villa memanjang. Tidak ada anak tangga, ruangan yang sangat membuatnya tidak perlu bersusah payah bikin kaki capek. Salah satu impian Rinai dari dulu adalah membuat rumah dengan model begini. "Lalu, tujuanmu mengajakku kemari untuk apa?" "Bagus kamu bertanya. Baiklah, aku akan menunjukkan sesuatu padamu." Lagi dan lagi, entahlah. Ini sudah ke berapa Rinai selalu saja patuh terhadap Aiden. Apa sih yang dipunya oleh pria itu? Apakah lantaran dulu Aiden adalah salah satu pria yang mampu menghipnotis banyak wanita dengan sejuta pesonanya? Mereka sampai di ruangan yang dipenuhi dengan alat-alat musik. Mulai gitar, drum, piano, biola dan lain sebagainya. Aiden duduk di depan biola yang usianya sepertinya sudah usang. Namun tetap bermakna. "Aku tidak bisa bermain piano lagi. Itu adalah masalahnya." "Ah, aku paham perasaanmu. Yah, mau bagaimana lagi." katanya berusaha sok peduli. "Dan satu-satunya cara untuk membuat piano ini tetap terdengar adalah melalui kamu." "Aku?" tanya Rinai tak mengerti. Maksdunya apa? "Aku sudah tahu nama kamu, Rinai kan? Nama yang unik. Kamu sedang digeluti rasa gelisah lantaran memikirkan biaya apartemen meskipun aku tahu teman satu unitmu tidak akan menawarkan harga tinggi. Aku juga tahu kamu dibesarkan oleh ibu yang luar biasa, sekarang sedang sibuk dengan dagangannya." "Cukup untuk mengintrogasi kehidupanku. Langsung saja pada intinya, Tuan Aiden." Aiden menghembuskan napas, ya walaupun sebenarnya untuk saat ini jantungnya sudah tak berfungsi lagi. Tapi raganya masih bisa terasa. "Aku bisa masuk melalui tubuh kamu, Rinai. Bekerja samalah denganku, karena melalui kamu, aku akan tetap ada. Kamu bisa ikut audisi dan aku yakin kamu akan bisa mewujudkan semua yang kamu inginkan." "Maksudnya kamu mau merasukiku?" "Maybe. Itu terlalu kasar untuk diucapkan. Boleh kucoba?" "Apanya!" panik Rinai. Meskipun Aiden adalah hantu dan Rinai bisa kabur sekarang, tapi Rinai harus waspada karena pada dasarnya semua pria itu selalu sama saja. Dengan penjelasan yang lebih terinci, akhirnya Rinai menerima tubuhnya di pinjam. Beberapa saat kemudian, seluruh tubuhnya kaku. Namun, detik berikutnya tangannya sudah keasyikan menyentuh tuts piano. Padahal, dari dulu Rinai tidak pernah benar-benar menyelesaikan satu lagu pun dengan nada seindah ini. Ed sheeran - perfect menjadi lagu favoritnya. Untung saja Aiden hanya meminjam tubuhnya, bukan isi otaknya. "Indah." Ucapnya setelah menyelesaikan lagu yang selama ini ingin sekali dia selesaikan dengan alat musik. "Yah, itulah salah satu bakatku." sombong Aiden. Pria itu duduk di atas pembatas piano. Menyilangkan tangan di depan dadanya yang bidang. "Kamu bisa ikut audisi melalui tubuhku dan perjanjian berikutnya akan kujelaskan nanti setelah kamu setuju dengan hal yang pertama ini. Kamu tahu kan gaji dari anggota orchesta? Dan aku yakin sekali kamu bisa masuk ke tim mereka. Entah sebagai apa yang kamu mau, aku bisa membantumu. Membantu keunganmu. Juga membantu harapanmu yang selalu tertunda lantaran ada masalah pada tingkat kepercayaan diri kamu, Rinai." Sudut bibir atas Rinai tergigit. Ingin rasanya dia mengiyakan langsung tanpa pikir panjang. Haruskah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN