BAB 1 - Pesanan yang Salah
POV Raka
Jakarta pukul 17.23.
Di luar jendela kedai, arus manusia mengalir tanpa henti di trotoar Sudirman — para pekerja kantoran dengan kemeja yang mulai kusut, pengendara motor yang menyalip dengan sabar di antara barisan mobil, pedagang es teh yang mendorong gerobaknya pelan-pelan melawan arah keramaian. Langit di atas gedung-gedung kaca itu berwarna kemerahan pucat, seperti seseorang yang menahan napas terlalu lama.
Raka berdiri di balik mesin espresso, menatap antrian yang baru saja mulai menyusut.
Shift sore adalah bagian yang paling ia sukai sekaligus paling ia benci. Sukai, karena cahaya matahari yang masuk miring lewat kaca depan selalu jatuh dengan cara yang bagus — kadang ia ingin memotretnya, tapi tangannya selalu penuh. Benci, karena jam-jam ini adalah jam pulang kantor, dan semua orang yang masuk ke kedai ini membawa energi yang sama: lelah, terburu-buru, dan sedikit tidak sabaran.
"Ka, oat latte meja empat!"
Raka mengangkat cangkir, meletakkannya di meja pengambilan, lalu kembali ke posisinya. Otomatis. Tangannya sudah hafal ritme ini bahkan sebelum kepalanya sepenuhnya sadar.
Ia sudah bekerja di Paragraph Coffee selama tiga bulan — kedai kecil dua lantai di ruko pojok, terjepit antara minimarket dan toko fotokopi. Tidak terkenal, tidak punya estetika yang cukup instagramable untuk viral, tapi entah kenapa selalu ramai pada jam-jam tertentu. Mungkin karena harganya masuk akal. Mungkin karena kursi-kursinya nyaman. Atau mungkin karena orang-orang di kawasan ini butuh tempat untuk duduk dan berpura-pura bekerja sebelum benar-benar pulang ke rumah.
Raka tidak terlalu memikirkan alasannya. Yang ia tahu, upah paruh waktu di sini cukup untuk biaya fotokopi modul dan sesekali beli cat akrilik yang harganya tidak masuk akal.
***
Ia sedang mengelap permukaan meja bar ketika pintu masuk terbuka.
Bukan hal yang istimewa — pintu itu sudah terbuka dan tertutup puluhan kali sejak jam tiga tadi. Tapi kali ini Raka mengangkat kepala, dan ia tidak sepenuhnya tahu kenapa.
Laki-laki yang masuk itu berusia pertengahan dua puluhan, perkiraan Raka. Kemeja putih lengan panjang yang sudah digulung sampai siku, dasi yang sudah dilonggarkan hingga tombol teratas kemejanya terbuka satu. Rambutnya rapi di pagi hari — Raka bisa membayangkannya — tapi sekarang ada beberapa helai yang jatuh ke dahi. Ia membawa tas kerja hitam di satu tangan dan menatap layar ponselnya dengan ekspresi seseorang yang baru saja membaca email yang tidak menyenangkan.
Ia masuk, berdiri sebentar di depan pintu seperti sedang mengkalibrasi ulang dirinya, lalu melangkah menuju kasir.
"Satu americano, ukuran besar. Takeaway."
Suaranya datar. Bukan kasar — hanya datar, seperti seseorang yang sudah mengucapkan kalimat itu berkali-kali hari ini dan energinya untuk intonasi sudah lama habis.
"Nama?" tanya Raka, jari sudah di atas layar kasir.
Laki-laki itu mengangkat mata dari ponselnya. Matanya gelap, sedikit lelah di ujungnya. "Dimas."
Raka mengetiknya, mencetak struk, menyebutkan harga. Dimas membayar dengan QRIS tanpa berkata apa-apa lagi, lalu bergeser ke sisi kanan bar untuk menunggu — tapi matanya langsung kembali ke ponsel, ibu jarinya bergerak cepat, seperti sedang membalas sesuatu yang mendesak.
Raka mulai menyiapkan pesanan. Americano besar, tanpa gula. Ia tidak perlu bertanya soal gula — Dimas tidak menyebutnya, dan tipe orang seperti ini biasanya memang tidak pakai.
Empat menit kemudian, gelas plastik besar dengan penutup hitam sudah siap di meja pengambilan.
"Dina!" panggilnya.
Yang terjadi selanjutnya berlangsung dalam waktu sekitar delapan detik, tapi terasa lebih lama.
Seorang perempuan — pelanggan lain yang juga sedang menunggu di sisi bar — bergerak mengambil pesanannya di saat yang nyaris bersamaan. Nama di cup-nya: Dina. Tapi Dimas, yang masih setengah fokus ke ponselnya, melangkah maju dan mengambil gelas itu duluan.
Ia sudah hampir berbalik ketika perempuan itu bersuara, "Eh, maaf, Mas — itu punya saya kayaknya."
Dimas berhenti. Ia melihat gelas di tangannya, lalu ke meja pengambilan, lalu ke perempuan itu. Ada jeda singkat di wajahnya — bukan panik, lebih ke ekspresi seseorang yang sedang memproses situasi dengan cepat dan agak kesal pada dirinya sendiri.
"Oh." Ia meletakkan gelas itu kembali. "Maaf."
"Tidak apa-apa, Mas."
Raka, yang menyaksikan semua ini dari balik mesin espresso, berbalik cepat untuk menyembunyikan ekspresinya. Ia tidak tersenyum — atau mungkin tersenyum sedikit, tapi ia tidak mengakuinya.
"Mas Dimas," panggilnya lagi, kali ini sambil mengangkat cup yang benar — sudah ia siapkan sejak tadi. "Yang ini."
Dimas menoleh. Ia menatap cup di tangan Raka, lalu menatap Raka. Ada sesuatu di matanya — bukan malu persis, lebih ke lelah yang sudah melampaui titik di mana rasa malu masih terasa relevan.
"Terima kasih," katanya, mengambil cup-nya.
"Hati-hati," balas Raka, tanpa berpikir.
Dimas sudah setengah berbalik. Ia berhenti satu detik — mungkin mempertimbangkan apakah kalimat itu perlu direspons — lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Pintu kedai terbuka, lalu tertutup.
***
Raka melanjutkan pekerjaannya.
Pesanan berikutnya masuk. Matcha latte, satu. Hazelnut cappuccino, satu. Ia bergerak, mengukur, menuang, tidak berpikir tentang apa pun yang tidak relevan dengan pekerjaan.
Tapi di sela-sela itu, di bagian kecil di belakang kepalanya yang tidak pernah benar-benar bisa ia matikan, ada sesuatu yang mencatat: americano besar, tanpa gula, nama Dimas, kemeja putih lengan digulung, mata yang lelah.
Ia tidak tahu untuk apa catatan itu. Mungkin tidak untuk apa-apa.
Mungkin memang begitu cara kepalanya bekerja — menyimpan hal-hal kecil yang tidak diminta, lalu melupakannya setelah beberapa hari.
***
Pukul delapan malam, Raka mengakhiri shift-nya.
Ia melepas apron hitamnya, menggantungnya di belakang pintu ruang staf, lalu meraih tas ranselnya dari loker kecil. Di dalam tas itu ada laptop yang baterainya sudah lama bermasalah, dua pulpen yang salah satunya sudah hampir habis, dan sebuah buku sketsa berukuran A5 dengan sampul cokelat tua yang sudutnya mulai lecek.
Di luar kedai, udara Jakarta malam terasa lebih berat dari biasanya — ada bau asap kendaraan yang bercampur dengan uap air dari got yang tadi sempat meluap karena hujan sore. Raka berdiri sebentar di depan pintu, memasang earphone, memilih playlist yang tidak perlu ia pikirkan, lalu mulai berjalan menuju halte.
KRL jam segini masih penuh. Ia sudah hafal caranya — masuk, cari pegangan, berdiri dengan posisi yang paling tidak mengganggu orang lain, tatap layar ponsel atau pejamkan mata, jangan kepikiran berapa lama lagi.
Di perjalanan pulang ke kos-nya di Bekasi, di gerbong yang penuh orang dan berbau campuran parfum dan keringat, Raka membuka buku sketsanya.
Ini kebiasaannya — menggambar di perjalanan. Bukan menggambar yang serius, bukan yang seperti di tugas kampus dengan grid dan referensi dan brief yang harus diikuti. Hanya menggambar. Tangan bergerak mengikuti apa yang ada di kepala, dan biasanya yang ada di kepala adalah hal-hal yang tidak cukup penting untuk dipikirkan tapi terlalu kuat untuk diabaikan.
Hari ini, tangannya mulai dengan menggambar meja bar. Lalu gelas-gelas yang berjajar. Lalu tangan seseorang yang memegang cup plastik besar.
Ia berhenti.
Menatap halaman itu.
Lalu membaliknya, membuka halaman baru, dan mulai menggambar hal lain — gedung-gedung yang ia lihat dari jendela gerbong, siluet orang-orang yang berdiri berdesakan, anak kecil yang tertidur di pangkuan ibunya tiga bangku dari tempat ia berdiri.
Buku sketsa itu tertutup sebelum ia sampai di stasiun tujuan.
***
Malam itu, di kamar kos ukuran tiga kali empat meter yang ia sewa dengan harga yang cukup terjangkau asal tidak dibandingkan dengan standar layak huni manusia pada umumnya, Raka berbaring di kasur tipis dan menatap langit-langit yang ada noda rembes di pojok kanannya.
Besok ada kelas Tipografi pukul delapan pagi. Ia belum mengerjakan latihan yang diminta dosen minggu lalu. Di kulkas kos yang dipakai bersama ada sisa nasi dan tempe goreng miliknya yang umurnya sudah masuk zona meragukan. Uang di dompetnya cukup untuk seminggu ke depan kalau ia tidak jajan sembarangan.
Hidupnya, dengan kata lain, adalah kumpulan hal-hal kecil yang perlu diurus dan selalu ada satu atau dua yang terlupakan.
Ia menutup mata.
Yang muncul bukan tugas tipografi, bukan tempe goreng yang sudah dua hari, bukan saldo dompet.
Yang muncul adalah ekspresi seseorang yang berdiri di depan meja pengambilan pesanan — bukan malu, tapi juga tidak tidak-malu. Lelah yang sudah melampaui titik di mana rasa malu masih terasa relevan.
Americano besar. Tanpa gula.
Raka membuka mata, menatap langit-langit, lalu menghela napas pendek yang tidak ia mengerti sendiri artinya.
Besok kelas jam delapan, ia mengingatkan dirinya. Tidur.
Ia memejamkan mata lagi.
Bekasi di luar jendela kamarnya tidak berhenti — motor lewat, seseorang di lantai atas menyetel musik terlalu keras, jauh di kejauhan ada klakson yang berbunyi sekali lalu sepi lagi.
Kota ini tidak pernah benar-benar tidur.
Raka akhirnya tidur juga, suatu waktu setelah tengah malam, dengan kepala yang masih menyimpan hal-hal yang tidak ia minta untuk disimpan.
***
Di suatu tempat di Menteng, seseorang baru selesai membalas email terakhirnya untuk malam itu, meletakkan ponsel di atas meja, dan menatap segelas americano yang sudah dingin yang tidak sempat ia habiskan.
Ia tidak memikirkan kedai kopi itu.
Atau mungkin ia memilih untuk tidak.