Hari pertama di Tokyo dimulai dengan suasana hening yang asing. Kirana terbangun lebih awal dari biasanya. Udara musim gugur terasa lebih dingin dari perkiraannya, meskipun matahari sudah mulai muncul perlahan dari balik tirai. Ia mengenakan sweater tebal dan masuk ke dapur kecil untuk menyiapkan sarapan. Onigiri, telur dadar ala Jepang, dan sup miso instan. Bukan menu yang rumit, tapi cukup untuk pagi pertama mereka di negeri orang. Radit muncul tak lama kemudian, rambutnya masih acak-acakan. “Pagi,” ucapnya, menyender di kusen dapur. Kirana tersenyum. “Pagi. Mau teh atau kopi?” “Kopi, biar semangat. Hari ini mulai sibuk.” Kirana menyodorkan mug kopi hangat. “Dimas masih tidur?” “Kayaknya udah bangun, tapi masih mager di tempat tidur.” Seolah mendengar namanya disebut, Dimas munc

