Tiga minggu setelah kunjungan ke Yogyakarta, Dimas resmi tinggal bersama Kirana dan Radit di apartemen mereka. Bocah sepuluh tahun itu tampak gugup di hari pertama pindah, tapi juga penuh rasa ingin tahu. "Ini... kamar aku?" tanya Dimas, menunjuk ke kamar bercat biru dengan poster mobil-mobil sport di dinding. Kirana tersenyum. "Iya. Kakak yang hiasin. Kamu suka?" Dimas mengangguk semangat, matanya berbinar. Ia langsung masuk, membuka lemari, melihat isi rak buku, bahkan mencoba duduk di kursi belajar. Radit berdiri di pintu, menyaksikan pemandangan itu dengan senyum hangat. "Kita resmi jadi orang tua ya?" bisiknya ke Kirana. Kirana melirik suaminya dengan alis terangkat. "Belum segitunya juga, Om Radit." Mereka tertawa kecil. Tapi jauh di dalam hati, Kirana tahu: hidupnya benar-ben

