Suasana kantor RAKA Group di pagi hari tampak seperti biasa. Karyawan berlalu-lalang dengan kertas, laptop, dan kopi di tangan. Tapi bagi Kirana, hari ini terasa berbeda. Ia menata meja kerjanya sambil berusaha mengabaikan bisik-bisik di sekitarnya.
“Aku denger-denger, Radit bakal kerja bareng lagi sama Felicia, mantan partner proyek luar negeri itu, lho…” bisik salah satu staf di belakang Kirana.
“Yang dulu katanya deket banget itu, ya? Cantik banget, katanya kayak model.”
“Makanya, Kirana harus hati-hati tuh. Jangan sampe kecolongan.”
Kirana pura-pura tak mendengar. Tapi hati kecilnya mencatat semuanya.
Tak lama, Radit muncul dari lift. Penampilannya seperti biasa rapi, tenang, dan fokus. Namun kali ini, di sampingnya berdiri seorang wanita dengan penampilan elegan. Rambut hitam lurus, tinggi semampai, dan percaya diri luar biasa.
Felicia.
Wanita itu tersenyum pada para karyawan, termasuk Kirana, lalu menyapa, “Hai, Kirana. Lama nggak ketemu.”
Kirana berusaha membalas dengan ramah. “Hai, Felicia. Selamat datang kembali.”
“Aku cuma akan di sini seminggu bantuin proyek klien dari Korea. Tapi senang bisa kerja bareng lagi.”
Radit hanya tersenyum kecil, lalu melanjutkan ke ruangannya. Tapi Kirana merasa sesuatu dalam dirinya mulai berubah.
Ada ketegangan halus. Ada cemburu yang tidak bisa ia tolak.
---
Siang harinya, saat Kirana masuk membawa laporan ke ruang CEO, ia menemukan Felicia dan Radit sedang tertawa bersama di depan layar presentasi.
“Oh, maaf ganggu,” ucap Kirana cepat.
Felicia menoleh. “Nggak, nggak ganggu. Kita baru bahas dokumen tender kemarin.”
Kirana meletakkan laporan di meja, lalu berbalik hendak keluar, tapi Radit memanggil.
“Kirana, nanti sore bisa bantu atur meeting internal jam 3 ya.”
“Baik, Pak,” jawab Kirana - dingin.
Setelah pintu tertutup, Felicia melirik Radit. “Kirana berubah ya. Lebih formal sekarang.”
Radit hanya menjawab datar, “Dia profesional.”
Felicia tersenyum samar, tapi tidak membalas apa-apa.
---
Sore harinya, sepulang kerja, Radit dan Kirana berada di dalam mobil. Awalnya mereka hanya diam. Suara hujan menjadi latar yang tak nyaman.
“Kamu capek?” tanya Radit pelan.
“Nggak juga.”
“Kenapa kelihatan beda?”
Kirana menoleh. “Kamu seneng ya kerja bareng Felicia lagi?”
Radit menatap jalan. “Kenapa kamu tanya begitu?”
“Cuma penasaran.”
“Kirana…” Radit menarik napas. “Aku nggak pernah ada apa-apa sama Felicia. Kami cuma rekan kerja. Dulu dan sekarang.”
“Tapi kalian kelihatan dekat.”
“Karena kami pernah kerja bareng bertahun-tahun. Tapi kalau kamu ngerasa nggak nyaman, kamu bisa bilang. Aku bisa jaga jarak.”
Kirana terdiam sesaat, lalu berkata, “Aku bukan takut kamu selingkuh. Aku takut kamu merasa... lebih cocok sama dia. Dia pintar, cantik, percaya diri…”
Radit menghentikan mobil di pinggir jalan. Ia menatap Kirana serius.
“Kirana, denger baik-baik. Aku pilih kamu. Bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu satu-satunya orang yang bisa aku percaya penuh. Felicia itu masa lalu. Kamu masa depan.”
Mata Kirana mulai berkaca-kaca. Ia menunduk.
“Aku cuma… takut kehilangan kamu.”
Radit mengusap kepalanya lembut. “Kamu nggak akan ke mana-mana, karena aku juga nggak akan ke mana-mana. Kita jalanin ini bareng, oke?”
Kirana mengangguk pelan. Di dalam pelukan Radit, semua kecemasan mulai mencair.
---
Malamnya, Kirana berdiri di dapur, menyiapkan teh. Saat Radit menghampirinya, ia bertanya pelan, “Kamu beneran bisa jaga jarak sama Felicia?”
“Bukan cuma bisa, tapi memang sudah. Sejak lama.”
Kirana menatap mata suaminya. “Aku cuma butuh diyakinkan. Bukan karena aku posesif, tapi karena aku cinta.”
Radit tersenyum. “Kalau itu masalahnya, aku akan yakinkan kamu setiap hari.”
Dan malam itu, mereka menyesap teh bersama dalam diam yang tenang bukan karena tak ada kata, tapi karena sudah saling memahami.
Beberapa hari kemudian, suasana kantor makin ramai karena proyek kerja sama dengan klien Korea terus berjalan. Felicia terlihat semakin aktif terlibat, bahkan beberapa kali terlihat masuk ke ruang Radit tanpa menjadwalkan terlebih dahulu.
Kirana menyadari bahwa sorotan mata beberapa rekan kerja kini mengarah padanya. Beberapa bahkan seolah menunggu reaksinya—akankah ia marah? Akan bersikap dingin? Atau tetap seperti sekretaris biasa?
Namun Kirana memutuskan untuk tidak menunjukkan kegelisahannya. Ia memilih sibuk, mengatur jadwal meeting, merapikan dokumen proyek, dan memastikan semua kebutuhan tim berjalan tanpa celah.
Hingga suatu sore, saat hampir semua karyawan telah pulang, Kirana masuk ke ruang kerja Radit untuk memberikan file presentasi tambahan.
Ia mengetuk dan membuka pintu, hanya untuk menemukan Radit dan Felicia duduk terlalu dekat di sofa diskusi.
Kirana terpaku sejenak.
“Oh, maaf. Aku nggak tahu kalian masih di sini,” ucapnya buru-buru.
Felicia menoleh dan tersenyum. “Nggak apa-apa. Kita lagi diskusi kecil aja soal strategi.”
Radit bangkit dari sofa. “Ada apa, Na?”
Kirana mendekat dan menyerahkan map cokelat itu. “Ini revisi terakhir dari proposal.”
Saat tangan mereka bersentuhan, Radit bisa merasakan dinginnya jemari Kirana.
“Terima kasih,” ucapnya.
“Kalau nggak ada lagi, aku pamit dulu. Mau lanjut kerja remote dari rumah.” Kirana cepat-cepat keluar sebelum air matanya turun.
---
Di apartemen, Kirana duduk sendirian di balkon. Hujan turun rintik-rintik, dan lampu kota berpendar samar. Ia memeluk lututnya sendiri, mencoba menenangkan pikirannya.
“Aku nggak boleh kayak gini… aku harus percaya…” bisiknya.
Tapi rasa tidak aman tetap menyelimuti.
Kenapa Radit nggak pernah membatasi interaksi dengan Felicia?
Kenapa ia seolah nyaman saja?
Ponselnya bergetar.
Radit: “Kamu udah di rumah? Mau aku bawain makan?”
Kirana mengetik balasan singkat.
Kirana: “Aku nggak lapar.”
Beberapa menit kemudian, pintu apartemen diketuk. Kirana tidak membuka. Tapi Radit tahu kode digital pintunya. Ia masuk, membawa kantong plastik berisi makanan.
“Kamu nggak bisa terus menghindar kayak gini, Na.”
Kirana berdiri, menatap Radit. “Aku cuma butuh waktu.”
“Untuk apa? Buat mikir aku selingkuh?”
“Bukan itu, Radit. Tapi aku nggak ngerti kenapa kamu bisa segitu nyamannya sama Felicia. Seolah… aku nggak ada.”
Radit meletakkan kantong makanan di meja, lalu berjalan mendekat.
“Kirana, kamu tahu nggak, kenapa aku masih tahan kerja bareng Felicia? Karena aku percaya padamu. Aku percaya hubungan kita kuat.”
“Tapi kamu lupa... aku ini manusia biasa. Aku juga bisa cemburu.”
Radit menatap Kirana dalam-dalam. “Kalau aku jadi kamu, aku juga pasti cemburu. Tapi aku berharap kamu mau percaya… bahwa perasaan aku cuma buat kamu. Felicia mungkin dekat secara pekerjaan, tapi kamu yang dekat di hati.”
Kirana menghela napas. Perlahan ia mendekat, dan Radit memeluknya erat.
“Aku takut kehilanganmu, Dit. Aku takut kamu berubah pikiran.”
“Aku nggak akan berubah pikiran, Na. Justru rasa takut itu yang bikin kita harus terus jujur satu sama lain.”
---
Keesokan harinya, Radit membuat keputusan mengejutkan di depan tim.
“Mulai minggu depan, proyek Korea akan diambil alih oleh tim ekspansi Asia. Saya akan fokus pada rencana internal.”
Felicia menatap Radit dengan alis terangkat. “Kenapa? Kita udah hampir selesai.”
Radit menjawab tegas. “Sudah waktunya tim lama istirahat. Kita beri kesempatan tim lain berkembang.”
Felicia hanya mengangguk, tapi ia tahu—keputusan itu bukan soal proyek. Ada sesuatu yang lebih pribadi di baliknya.
Dan Kirana, yang mendengar pengumuman itu dari balik layar sistem, tersenyum kecil. Mungkin ini bukan soal siapa menang atau kalah. Tapi ini adalah soal menjaga kepercayaan… dan membuktikan bahwa cinta bukan sekadar ucapan.
Malam harinya, Kirana menyiapkan makan malam sendiri untuk pertama kalinya sejak mereka menikah. Menu sederhana: sup ayam, telur dadar, dan teh manis.
Saat Radit pulang, aroma masakan langsung menyambutnya.
“Wah, masak sendiri?”
Kirana tersenyum. “Nggak cuma bisa jadi sekretaris dan istri rahasia, aku juga bisa masak.”
Radit mendekat, mencium keningnya lembut. “Kamu nggak perlu buktiin apa pun ke siapa pun, Na. Aku udah tahu kamu luar biasa.”
Dan malam itu, mereka makan malam berdua dengan tawa ringan dan percakapan hangat. Mungkin masalah belum selesai, mungkin tantangan lain menanti. Tapi malam itu, mereka tahu satu hal:
Cinta mereka layak diperjuangkan.