Bab 9: Antara Cinta dan Komitmen

1274 Kata
Matahari pagi menyelinap melalui tirai jendela apartemen, memantulkan cahaya lembut ke wajah Kirana yang masih terlelap. Radit sudah lebih dulu bangun, duduk di meja makan dengan laptop terbuka dan secangkir kopi hitam di tangan. Beberapa minggu terakhir terasa seperti putaran waktu yang cepat. Setelah pengakuan di gathering kantor, hubungan mereka tak lagi sembunyi-sembunyi. Namun justru sejak saat itu, tekanan datang dari segala arah baik dari internal perusahaan, maupun dari keluarga besar Radit. Kirana perlahan membuka mata. Ia mendapati Radit yang tengah memandanginya, tersenyum lembut. “Kamu ngeliatin aku tidur?” Kirana menguap kecil. “Gimana enggak. Kamu kelihatan damai banget.” “Damai sebelum ribet,” gumamnya sambil duduk dan merapikan rambut. Hari ini mereka akan menghadiri makan malam keluarga besar Pratama keluarga dari ayah Radit yang sangat jarang ditemui. Termasuk para tante dan sepupu yang cukup konservatif, dan menurut kabar, tidak semua menyetujui pernikahan mereka yang terkesan mendadak. --- Sore hari, mereka tiba di rumah besar bergaya kolonial di kawasan Menteng. Mobil-mobil mewah sudah berjejer rapi di halaman. Radit meraih tangan Kirana sebelum turun. “Kamu siap?” tanyanya pelan. Kirana menatapnya. “Entah siap atau enggak, kita tetap harus masuk, kan?” Mereka masuk beriringan, dan langsung disambut dengan tatapan penuh selidik. Seorang perempuan paruh baya dengan penampilan elegan menyambut mereka di ruang tamu. “Raditya,” sapa perempuan itu. “Akhirnya kamu bawa juga istrimu ke sini.” “Ini Tante Murni,” bisik Radit pada Kirana. Kirana tersenyum sopan dan menyalami. “Senang bertemu, Tante.” Tante Murni mengangguk, meski raut wajahnya kaku. “Kamu kerja di perusahaan juga, ya? Jadi sekretaris?” “Iya, Tante. Saya bantu Radit di bagian administrasi.” “Hm,” gumam Murni. “Mudah-mudahan kamu bisa seimbang. Jadi istri sekaligus bawahan itu nggak gampang.” Kirana tersenyum tipis. Ucapan itu bukan pujian, tapi sindiran halus. Sepanjang malam, obrolan di meja makan dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang menggali masa lalu Kirana asal usul keluarganya, latar belakang pendidikan, bahkan status ekonomi sebelum menikah. Satu per satu, pertanyaan itu datang seperti ujian tak tertulis. “Kalau kamu bukan dari keluarga pebisnis, apa yakin bisa ngerti ritme hidup Radit?” “Kalau nanti punya anak, kamu berhenti kerja atau tetap di kantor?” “Orang tuamu kerja apa, ya? Nggak pernah ketemu sebelumnya.” Radit tampak mulai gusar, tapi Kirana menepuk lututnya di bawah meja, memberi isyarat untuk tetap tenang. Ia menatap para tamu satu per satu, lalu menjawab dengan tenang. “Saya memang bukan dari keluarga kaya. Tapi saya dididik untuk tangguh. Papa saya guru. Mama saya ibu rumah tangga yang sempat bekerja paruh waktu untuk bantu keuangan keluarga. Saya belajar banyak dari mereka, terutama soal kerja keras dan integritas.” Sejenak ruangan hening. Lalu salah satu sepupu Radit tersenyum kecil. “Jawaban bagus.” Kirana menarik napas lega. Tapi jauh di dalam hatinya, ada keraguan yang muncul. Apakah cintanya cukup untuk melampaui perbedaan ini semua? --- Malam itu, setelah pulang, Kirana dan Radit duduk di balkon apartemen. Jakarta terlihat cantik dari ketinggian, tapi hati Kirana terasa berat. “Aku tahu kamu kesal tadi,” ucap Kirana pelan. Radit mendesah. “Aku marah karena mereka menilaimu dari asal usul, bukan dari siapa kamu sekarang.” “Aku nggak keberatan dinilai, Dit. Tapi kadang... aku bertanya-tanya, apakah cinta aja cukup? Aku takut kamu bakal lelah bela aku terus.” Radit menoleh. “Kirana, aku jatuh cinta sama kamu bukan karena kamu sempurna. Tapi karena kamu nyata. Dan aku tahu, menjalani hidup bareng kamu bukan keputusan sesaat.” “Tapi kalau orang-orang terus ragukan kita?” “Kita buktikan mereka salah. Kita nggak butuh semua orang setuju, cukup kita saling percaya.” Kirana menunduk. “Aku cuma nggak pengen kamu menyesal.” Radit mengangkat dagunya, menatap dalam ke matanya. “Menikah dengan kamu adalah keputusan paling benar yang pernah aku buat. Aku nggak akan mundur, bahkan kalau dunia melawan.” Dan saat angin malam menyapu rambut Kirana, ia tahu satu hal cinta mereka bukan tentang kesempurnaan atau penerimaan dunia, tapi tentang dua orang yang saling memilih... setiap hari. Dan malam itu, di bawah langit Jakarta yang dipenuhi lampu kota, Kirana dan Radit memeluk satu sama lain. Menguatkan. Menenangkan. Berjanji tanpa suara bahwa apapun ujian yang datang, mereka akan tetap berdiri bersama. Keesokan paginya, suasana di kantor terasa biasa saja. Namun Kirana tahu, sejak makan malam keluarga tadi malam, banyak hal yang berubah terutama dalam dirinya. Ia merasa harus benar-benar berdiri sendiri, bukan hanya sebagai istri Radit, tapi sebagai seorang profesional yang layak dihormati. Sepulang kerja, Kirana membuka email undangan rapat dengan tim manajemen proyek. Salah satu klien besar RAKA Group akan melakukan presentasi bersama tim sekretariat internal. Yang mengejutkan Kirana ditunjuk sebagai perwakilan dari divisi administratif. Ia membaca ulang email itu sambil berkeringat dingin. “Ini pertama kalinya aku diminta bicara langsung di depan klien besar,” gumamnya. Radit yang sedang melepaskan dasi di sofa hanya tersenyum kecil. “Dan aku tahu kamu bisa.” “Aku takut ngomongnya kacau, lidahku kaku, atau... aku nggak ngerti hal teknis.” Radit berdiri dan mendekatinya, lalu berkata pelan, “Kirana, kamu tahu apa yang paling bikin aku kagum sama kamu? Kamu selalu bilang kamu takut... tapi kamu tetap jalan.” Kirana tersenyum. “Boleh bantuin aku latihan nanti malam?” “Jam berapa pun kamu mau.” --- Malam itu, mereka mengubah ruang tamu jadi panggung kecil. Radit duduk di kursi sambil membawa catatan, dan Kirana berdiri di depannya dengan file presentasi. Meski suara Kirana sempat gemetar di awal, pelan-pelan ia menemukan ritmenya. Ia mulai percaya diri, menyampaikan poin demi poin dengan tenang. Di tengah latihan, tiba-tiba Radit berdiri dan bertepuk tangan. “Kamu keren banget, tahu nggak?” Kirana terkekeh. “Kamu serius?” “Serius. Kalau aku jadi klien, aku langsung setuju tanda tangan kontrak.” Kirana menutup file-nya, lalu mendekat. “Radit… makasih ya. Udah sabar, udah dukung aku selama ini.” Radit menggenggam tangannya. “Dan makasih juga... karena kamu nggak pernah menyerah. Kita sama-sama belajar, Na. Nikah itu bukan akhir cerita bahagia, tapi awal dari perjuangan bareng.” Kirana mengangguk. Hatinya terasa hangat. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa cintanya dan Radit benar-benar seimbang: bukan tentang siapa menyelamatkan siapa, tapi tentang dua orang yang saling menopang, bahkan saat dunia tak memberi ruang. --- Hari presentasi pun tiba. Kirana mengenakan setelan blazer biru tua dengan inner putih, rambut dikuncir rapi, dan makeup natural. Di ruang rapat lantai 12, semua tim sudah berkumpul. Beberapa eksekutif senior hadir, termasuk Radit meski ia duduk di sudut ruangan tanpa banyak bicara, membiarkan Kirana bersinar sendiri. Kirana membuka presentasi dengan salam hangat, lalu menjelaskan garis besar proyek dan bagaimana timnya telah menyiapkan segala hal dengan teliti. Beberapa klien terlihat mengangguk. Satu dua di antaranya mencatat. Bahkan salah satu direktur klien memuji: “Presentasi Anda jelas dan ringkas. Tim sekretariat Anda patut diapresiasi.” Kirana tersenyum, menahan haru. “Terima kasih, Pak. Tim kami memang kecil, tapi kami percaya pada kekuatan kerja sama.” Dan saat sesi selesai, Kirana tahu ia telah melewati satu rintangan besar. --- Sore harinya, saat berjalan keluar gedung, Kirana mendapati Radit sudah menunggunya di lobi. “Gimana rasanya jadi pusat perhatian?” goda Radit. Kirana menahan tawa. “Deg-degan! Tapi lega juga.” Radit menggenggam tangannya. “Aku bangga banget sama kamu.” “Bukan cuma sebagai istrimu?” “Sebagai dirimu sendiri. Sebagai Kirana.” Dan sore itu, di antara orang-orang berlalu-lalang, Kirana merasa hatinya semakin mantap. Cinta mereka bukan tentang pernikahan mendadak, jabatan tinggi, atau status sosial. Tapi tentang keberanian untuk tumbuh bersama. Karena pada akhirnya, cinta sejati memang bukan soal janji manis melainkan soal komitmen untuk memilih satu orang... setiap hari, bahkan di saat paling sulit sekalipun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN