Bab 8: Luka Lama Terbuka Kembali

1218 Kata
Langit Jakarta tampak kelabu sejak pagi. Angin berembus pelan membawa hawa dingin yang aneh. Kirana berdiri di balkon kantor lantai 15, memandangi jalanan yang padat di bawah sana. Tangannya memegang cangkir kopi yang sejak tadi tak disentuh. Hari ini bukan hari biasa. Di kalender pribadinya, tanggal itu diberi tanda kecil, tak mencolok, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak. Hari ini adalah... hari meninggalnya ayah Kirana. Enam tahun yang lalu. Saat itulah semuanya berubah kehidupan keluarganya jungkir balik, ibunya jatuh sakit, adik-adiknya harus putus sekolah sementara waktu. Dan Kirana... dipaksa dewasa terlalu cepat. Radit masuk ke ruangannya perlahan. “Kamu belum mulai kerja, ya?” tanyanya lembut. Kirana menoleh pelan. “Nggak bisa fokus. Hari ini... hari meninggalnya Papa.” Radit mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Kirana. “Kenapa nggak bilang? Kita bisa ambil cuti hari ini, kalau kamu mau.” Kirana menggeleng. “Justru karena hari ini aku harus tetap kuat. Aku janji sama Papa dulu, aku bakal jaga Mama dan adik-adik. Nggak boleh kelihatan lemah.” Radit diam sejenak, lalu berkata, “Kamu juga boleh sedih, Kirana. Kuat itu bukan berarti harus selalu tersenyum.” Air mata perlahan mengalir di pipi Kirana. Ia tak bicara, hanya memeluk Radit erat. Di pelukannya, ia merasa aman. Seolah seluruh beban yang selama ini dipikul bisa sejenak ia lepaskan. --- Setelah pulang kantor, Kirana memutuskan menengok rumah ibunya. Ia membawa bunga kesukaan almarhum ayahnya lili putih dan mawar merah. Rumah kecil itu masih terasa hangat, meski penuh kenangan pilu. “Kir, kamu datang juga,” sambut sang ibu, Bu Laila, dengan senyum lelah. “Iya, Bu. Kirana kangen Papa,” jawabnya sambil mencium tangan ibunya. Mereka duduk di ruang tengah, membaca doa bersama, mengenang almarhum. Tapi suasana berubah saat sang adik, Vina, menyebut satu nama: “Kak, tadi siang aku lihat Pak Seno di pasar. Dia nanyain kamu, lho.” Kirana membeku. Nama itu... nama yang ingin sekali ia hapus dari memori. Pak Seno adalah mantan pemilik tempat kerja ibunya dulu, pria beristri yang pernah menyebarkan fitnah terhadap keluarganya, menuduh ibunya mencuri, hingga akhirnya memecatnya tanpa bukti. Peristiwa itu membuat keluarga Kirana jatuh miskin dan terasing. “Dia masih berani sebut nama aku?” desis Kirana. “Iya, Kak. Tapi dia kayaknya... sakit sekarang. Jalan pun udah pincang.” Kirana menggenggam erat lengan kursi. Ia benci perasaan itu perasaan campur aduk antara marah, iba, dan luka yang belum sembuh. “Kalau kamu nggak siap, kamu nggak harus ketemu dia,” ucap sang ibu pelan. Kirana mengangguk, tapi pikirannya kacau. Malam itu, ia tidur di kamar lamanya. Tapi tidak benar-benar terlelap. --- Esok harinya, Kirana kembali ke kantor, berusaha tampil normal. Tapi pikirannya jauh. Ia membuka laci meja kerja dan menatap bingkai foto kecil: dirinya bersama sang ayah. Sebuah pesan masuk ke w******p dari nomor tak dikenal: “Maafkan saya, Kirana. Kalau bisa, saya ingin bicara. Sekali saja. — Seno” Kirana membeku. Entah dari mana pria itu mendapatkan nomor ponselnya. Ia membaca ulang pesan itu berkali-kali. Jari-jarinya gemetar. Tanpa sadar, Radit masuk ke ruangannya dan melihat wajah tegang istrinya. “Kirana? Ada apa?” Ia menyerahkan ponselnya tanpa berkata apa-apa. Radit membaca pesan itu dan langsung menghela napas dalam. “Kalau kamu nggak mau, aku bisa bantu urus semuanya.” Tapi Kirana menggeleng. “Aku harus hadapi ini. Aku nggak mau hidupku dikendalikan rasa benci.” Radit menatap Kirana lama. “Aku ikut kamu.” --- Mereka bertemu di sebuah taman kecil di pinggir kota. Seno datang dengan tubuh lebih kurus, rambut memutih, dan tongkat di tangan. Wajahnya penuh penyesalan. “Saya... cuma mau minta maaf,” katanya, terbata. “Kenapa sekarang?” tanya Kirana dingin. “Saya dulu... bodoh. Iri karena ayahmu jujur dan disukai semua orang. Saya bikin cerita biar dia jatuh. Tapi akhirnya... saya yang dihukum. Anak saya nggak mau ketemu saya. Istri saya... cerai.” Kirana diam. Hatanya bergolak. Tapi ia tahu, amarah tak akan membawa ketenangan. “Saya nggak bisa ngubah masa lalu, Kirana. Tapi saya harap kamu bisa bahagia.” Setelah pria itu pergi, Kirana duduk lama di bangku taman. Radit menggenggam tangannya. “Kamu hebat,” bisik Radit. “Bisa mengampuni orang yang menghancurkan keluargamu.” “Bukan karena dia layak dimaafkan. Tapi karena aku pantas bebas dari luka lama,” jawab Kirana pelan. Dan sore itu, langit yang tadinya kelabu perlahan cerah. Seolah semesta ikut menyaksikan satu luka yang akhirnya ditutup dengan keteguhan dan kedewasaan. Beberapa hari setelah pertemuan dengan Pak Seno, suasana hati Kirana perlahan membaik. Meskipun luka lama itu belum sepenuhnya sembuh, tapi langkah pertamanya untuk berdamai dengan masa lalu sudah ia tempuh. Di kantor, Kirana kembali fokus bekerja. Namun satu hal berbeda ia kini lebih dihargai. Beberapa rekan kerja mulai melihatnya bukan sekadar istri bos, melainkan sebagai sosok yang mampu bersikap profesional, bahkan saat menghadapi tekanan besar. Di tengah kesibukannya, Kirana menerima email dari HRD: RAKA Group membuka program pelatihan internal untuk pengembangan karyawan. Salah satu programnya adalah “Leadership for Future Executives” dan Kirana direkomendasikan oleh tim manajemen untuk ikut serta. Awalnya ia ragu. "Aku? Ikut pelatihan kepemimpinan?" Radit menatapnya dari balik meja makan malam mereka. “Kamu cocok. Kamu punya empati, punya ketegasan, dan tahu cara bertahan.” “Tapi aku masih belajar. Masih sering gugup.” “Itu justru alasan kenapa kamu harus ikut. Supaya kamu makin kuat.” Kirana mengangguk pelan. Dalam hatinya, ia merasa bangga bukan karena direkomendasikan, tapi karena semua perjuangannya perlahan terlihat. --- Hari Sabtu, Kirana menyempatkan diri berkunjung ke makam almarhum ayahnya. Ia datang sendiri, membawa bunga seperti biasa, dan berdiri lama di depan batu nisan yang sederhana tapi terawat. “Pa, Kirana udah ketemu orang yang baik. Dia selalu dukung aku, kayak Papa dulu dukung Mama.” Angin berembus pelan, seperti membisikkan restu dari alam lain. “Aku juga udah ketemu orang yang pernah nyakitin kita. Tapi aku nggak mau hidup terus dalam dendam. Papa pasti nggak suka lihat Kirana marah terus, kan?” Ia tersenyum kecil sambil meletakkan bunga. Hatinya terasa lebih ringan. “Terima kasih udah ngajarin aku jadi orang kuat. Sekarang aku ngerti, kuat itu bukan berarti nggak pernah sedih... tapi bisa tetap berdiri walau sempat jatuh.” Di kejauhan, langit biru perlahan merekah. Awan-awan kelabu perlahan tersibak. Dan Kirana tahu, hari ini bukan hanya tentang mengingat kesedihan tapi tentang merayakan kekuatan untuk terus berjalan. --- Malamnya, Kirana dan Radit duduk di ruang tamu. Lampu-lampu temaram, suasana tenang. “Boleh aku tanya sesuatu yang jujur banget?” tanya Kirana sambil bersandar di bahu Radit. “Apa pun,” jawab Radit lembut. “Kalau suatu hari aku memutuskan buat berhenti kerja, terus fokus jadi istrimu aja... kamu kecewa nggak?” Radit terdiam sejenak. Lalu berkata, “Kirana, yang aku cintai itu kamu, bukan posisi kamu.” “Tapi sekarang aku mulai suka kerja. Aku merasa... hidup. Aku merasa bisa bantu orang.” Radit tersenyum. “Maka lanjutkan. Karena kamu bukan cuma istriku, kamu juga perempuan dengan potensi besar. Dan aku akan selalu dukung, apapun yang kamu pilih.” Kirana terdiam, lalu tersenyum. Perasaannya terhadap Radit tak lagi hanya rasa kagum atau syukur... tapi cinta. Cinta yang tumbuh karena mereka saling memahami, bukan karena perjanjian atau jabatan. Dan malam itu, Kirana tahu luka lama mungkin tak akan benar-benar hilang, tapi ia tak lagi jadi tawanan dari masa lalu. Kini, ia adalah perempuan yang berani melihat ke depan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN