Bab 7: Ujian dari Luar dan Dalam

1184 Kata
Pagi itu, Kirana datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Setelah kejadian reuni dan obrolan jujurnya dengan Radit, ia merasa lebih ringan menjalani hari. Tapi hari ini terasa berbeda. Saat ia menyalakan komputer dan membuka email, satu pesan dengan subject mencolok masuk: “URGENT: Audit Internal & Proyek CSR Bermasalah” Kirana membaca isinya perlahan, matanya melebar. Nama timnya disebut. Dan lebih parah lagi, salah satu kegiatan yang baru saja mereka kerjakan program pelatihan UMKM terindikasi mengalami kesalahan pelaporan dana. Jantungnya berdegup cepat. Ia segera mencetak dokumen lampiran dan bergegas menuju ruang meeting. Radit sudah ada di sana bersama beberapa manajer dan tim auditor internal. Begitu Kirana masuk, suasana tegang langsung terasa. “Kirana, duduklah,” ucap Radit singkat. Ia duduk. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia mencoba tenang. Salah satu auditor mulai menjelaskan, “Dalam laporan akhir kegiatan UMKM bulan lalu, ada perbedaan antara nominal dana yang keluar dan yang tercatat di sistem. Kami menemukan indikasi bahwa laporan final dimanipulasi.” Kirana menatap grafik di layar. “Tunggu. Saya yang mengawasi program itu, tapi semua laporan keuangan dipegang staf finance, bukan saya.” Radit menatapnya. “Kami nggak menuduh kamu, Kirana. Tapi karena kamu PIC program itu, kamu perlu bantu kami selesaikan ini.” Kirana mengangguk cepat. “Saya akan bantu telusuri sampai tuntas. Saya juga merasa ini ada yang janggal.” --- Sepulang kantor, Kirana duduk di ruang tamu apartemen dengan laptop terbuka dan kertas-kertas berserakan. Radit menghampiri dengan dua gelas kopi hangat. “Kamu yakin nggak capek?” tanyanya. “Sedikit… tapi aku lebih capek kalau nggak segera nemu titik terang,” jawab Kirana. Radit duduk di sebelahnya. “Kamu nggak sendiri. Aku bantu juga.” Selama dua jam mereka menelaah satu per satu invoice, nota, dan bukti transfer. Sampai akhirnya Kirana menemukan kejanggalan: ada satu dokumen yang ditandatangani menggunakan format tanda tangan digital yang berbeda dari biasanya. “Ini bukan tanda tangan staf keuangan kita,” gumamnya. Radit mengambil dokumen itu. “Kita perlu selidiki lebih dalam. Dan kalau terbukti ada yang curang, aku janji nggak akan lindungi siapa pun. Termasuk orang-orang lama di perusahaan.” Kirana menatap suaminya kagum. Dalam diam, ia tahu... integritas Radit bukan sekadar kata-kata. --- Di sisi lain, sebuah kabar lain mulai berhembus dari luar kantor. Ibu Radit, Ny. Prameswari wanita elegan dengan aura aristokrat datang ke kantor tanpa pemberitahuan dan langsung menemui Radit di ruangannya. “Kamu serius menjadikan perempuan biasa itu sebagai istrimu di depan publik?” tanya ibunya tanpa basa-basi. Radit menghela napas. “Ibu tahu aku bukan tipe yang main-main.” “Dia bukan dari kalangan kita. Dia tidak tahu bagaimana menjaga reputasi keluarga,” desis Ny. Prameswari. “Dia mungkin bukan dari keluarga terpandang, tapi dia punya harga diri, pendidikan, dan kerja keras. Itu lebih dari cukup buatku.” Ibunya diam sejenak. Lalu menatap tajam. “Kamu tahu kan, saham keluarga bisa ditarik kalau kamu mempermalukan nama besar Pratama?” “Aku nggak mempermalukan siapa pun. Justru kalau aku melepaskan istri yang setia dan tulus, itu yang memalukan.” Kirana yang diam-diam mendengar dari balik pintu ruang kerja, menahan napas. Setelah sang ibu keluar dengan wajah dingin, Kirana masuk perlahan. “Kamu nggak perlu membelaku,” ucapnya pelan. “Aku bisa pergi kalau itu bisa menyelamatkan reputasi dan perusahaanmu.” Radit menatapnya tajam. “Jangan pernah bilang begitu lagi. Aku milih kamu bukan untuk dilepas saat badai datang.” --- Hari berikutnya, audit internal menunjukkan bahwa staf finance bernama Aldi memalsukan beberapa dokumen untuk mengalihkan dana ke rekening pribadinya. Bukti cukup kuat, dan Radit memutuskan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum. Kirana hadir dalam rapat dewan direksi sebagai saksi dan pelapor. Ia menjelaskan kronologi dengan tegas, meski sempat ditanyai dengan nada meremehkan oleh salah satu senior manajer. “Apakah kamu yakin kamu tidak menutup-nutupi karena hubunganmu dengan CEO?” tanya manajer tersebut. Kirana menatapnya lurus. “Saya bertanggung jawab sebagai karyawan, bukan sebagai istri CEO. Integritas saya nggak tergantung dari status saya.” Pernyataan itu membuat ruangan hening sejenak, sebelum salah satu direksi berkata, “Baik. Kami percaya dengan profesionalismemu, Kirana.” --- Malam harinya, Kirana duduk di balkon, menatap bintang. Radit datang membawakan selimut kecil. “Hebat kamu hari ini,” ucap Radit sambil duduk di sampingnya. “Aku cuma melakukan apa yang harus dilakukan,” jawab Kirana pelan. Radit menggenggam tangan Kirana. “Aku tahu sekarang, kalau cinta bukan soal ucapan. Tapi soal berdiri berdampingan di saat semuanya berat.” Kirana menoleh padanya, lalu berbisik, “Terima kasih karena nggak nyerah sama aku… bahkan saat semua orang mempertanyakan keberadaanku.” Radit tersenyum. “Kamu bukan sekadar hadir. Kamu sudah jadi bagian terpenting dalam hidupku.” Dan malam itu, meski badai belum sepenuhnya reda, Kirana tahu satu hal: mereka tidak akan mudah tumbang, selama mereka tetap saling menggenggam erat di tengah ujian, baik dari luar… maupun dari dalam. Keesokan harinya, kantor mulai kembali beraktivitas seperti biasa. Tapi tidak untuk Kirana. Meski masalah audit sudah terselesaikan dan pelaku utamanya sudah ditindak, ia tetap merasakan perubahan suasana dari sebagian rekan kerja. Beberapa karyawan mulai bersikap lebih hati-hati di sekitarnya. Ada yang tiba-tiba menghindari obrolan, ada juga yang berbicara dengan bisik-bisik saat ia lewat. Di pantry, saat Kirana sedang menuang teh, ia mendengar dua orang staf HR berbicara. “Dia kuat juga, ya... bisa tahan ditanyain di rapat direksi.” “Iya. Tapi ya gitu, kalau bukan karena jadi istri CEO, mana mungkin bisa tahan tekanan segitu...” Kirana tidak menanggapi. Ia hanya menghela napas dan kembali ke mejanya. Di dalam hati, ia ingin sekali berkata bahwa keberhasilannya bukan karena status, tapi karena usaha yang terus-menerus. Siang harinya, Dita, sahabatnya, datang ke ruangannya dengan membawa dua kotak makan siang. “Aku tahu kamu pasti lupa makan,” kata Dita sambil duduk di kursi tamu. Kirana tertawa kecil. “Aku lagi malas makan di pantry. Banyak yang mulai jaga jarak, Dit.” Dita mengangguk, matanya penuh empati. “Kamu udah tahu, jadi pasangan bos itu nggak gampang. Banyak yang akan meragukan kamu, bahkan saat kamu bener.” “Aku cuma pengen mereka lihat aku sebagai rekan kerja, bukan sekadar 'istrinya Pak CEO',” ucap Kirana lirih. Dita menepuk tangan Kirana. “Tenang, kamu bakal buktiin semuanya pelan-pelan. Nggak perlu langsung semua orang percaya. Satu-satu aja.” Kirana mengangguk. Perkataannya masuk ke hati. --- Malam harinya, Kirana dan Radit mengobrol ringan di dapur sambil menyiapkan makan malam. Kali ini mereka sepakat memasak sendiri—tanpa bantuan katering, tanpa suasana formal. “Sebenarnya kamu pernah nyesel nikahin aku diam-diam dulu?” tanya Kirana tiba-tiba, sambil memotong bawang bombay. Radit menoleh dari kompor. “Pernah. Tapi bukan nyesel karena nikahin kamu. Aku nyesel karena caranya nggak pantas buat kamu.” Kirana tersenyum kecil. “Aku juga pernah nyesel. Tapi sekarang, aku nggak mau lihat ke belakang terus.” “Kalau gitu, ayo kita mulai lembaran baru,” jawab Radit sambil menaruh ayam ke dalam wajan. “Tanpa kontrak. Tanpa keraguan.” Kirana menatap Radit lama. “Deal.” Dan malam itu, di antara wangi tumisan bawang dan tawa kecil di dapur, keduanya tahu: cinta mereka sedang tumbuh, bukan karena janji hukum… tapi karena kepercayaan yang teruji.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN