Bab 6: Godaan dari Masa Lalu

1243 Kata
Hujan turun pelan di luar jendela kantor saat Kirana duduk di ruang kerjanya yang baru. Posisinya kini sebagai Koordinator Komunikasi Internal memang belum seberapa tinggi, tapi cukup untuk membuatnya disibukkan dengan berbagai laporan, proposal kegiatan, dan koordinasi antar divisi. Ia menatap layar laptop, mengetik dengan cepat. Tangannya lincah, matanya fokus. Tapi tiba-tiba, notifikasi email masuk mengalihkan perhatiannya. Subject: Reuni Kampus – Undangan Khusus From: alumni@unikom.ac.id Kirana mengernyit. Ia membuka email itu. > Kepada Kirana Prameswari, Kami mengundang Anda sebagai salah satu alumni inspiratif untuk hadir dalam acara Reuni Fakultas Teknik dan Informatika – UNIKOM. Acara akan digelar pada hari Sabtu, pukul 16.00, bertempat di Aula Besar Kampus. P.S. Salah satu pembicara dalam sesi Talkshow adalah Bapak Gilang Putra. Gilang. Nama itu membuat jantung Kirana berdetak sedikit lebih cepat. Gilang bukan nama asing. Ia adalah cinta pertama Kirana saat masih kuliah. Lelaki yang dulu sempat membuatnya yakin tentang masa depan, sebelum akhirnya menghilang tanpa kabar, memilih mengejar mimpi ke luar negeri. Kirana menggulir email itu hingga selesai, lalu menutupnya perlahan. Dadanya terasa aneh. Bukan karena masih mencintai Gilang, tapi karena rasa penasaran yang dulu belum pernah terjawab. --- Dua hari kemudian, Kirana memutuskan untuk hadir ke reuni. Ia tidak bilang ke Radit soal Gilang. Bukan karena ingin menyembunyikan, tapi karena… ia sendiri belum tahu bagaimana menjelaskannya. Acara reuni berlangsung meriah. Musik kampus, stand makanan ringan, dekorasi penuh nostalgia. Banyak wajah familiar menyapa Kirana. Tapi pikirannya masih dipenuhi satu nama. Dan akhirnya, dia datang. Gilang muncul di pintu aula dengan blazer biru tua dan senyum hangat. Wajahnya lebih dewasa, tapi tatapannya masih sama tajam dan penuh percaya diri. “Kirana?” sapanya ketika melihatnya berdiri di dekat meja makanan ringan. Kirana tersenyum. “Lama nggak ketemu.” “Makin cantik sekarang,” ucap Gilang ringan. “Dan... aku denger-denger kamu kerja di perusahaan besar sekarang?” “RAKA Group,” jawab Kirana singkat. “Oh, yang CEO-nya Raditya Pratama? Gila… kamu kerja sama orang sekeren itu. Kamu sekretaris pribadinya, ya?” Kirana tersenyum tipis. “Nggak lagi. Sekarang aku pindah ke divisi lain.” Gilang menatapnya agak dalam. “Aku kaget waktu denger kamu nikah. Tapi... belum sempat ngucapin langsung. Selamat, ya.” “Terima kasih,” jawab Kirana, tetap menjaga jarak. Tapi Gilang tidak berhenti di situ. “Tapi jujur aja, aku agak nyesel ninggalin kamu dulu. Mungkin kalau aku nggak ke luar negeri waktu itu… kita nggak akan pisah.” Ucapan itu membuat Kirana terdiam. Bukan karena terpesona, tapi karena luka lama yang sempat mengendap… kini teraduk kembali. --- Malam itu, Kirana pulang lebih malam dari biasanya. Radit sudah di rumah lebih dulu. “Kamu habis dari mana?” tanya Radit, sambil melirik jam dinding. “Ada reuni kampus,” jawab Kirana sambil membuka heels-nya. “Baru selesai agak malam.” “Ketemu siapa aja?” tanya Radit, datarnya berbeda dari biasanya. Kirana diam sejenak. Lalu berkata, “Gilang juga datang.” Radit menatap Kirana tajam. “Gilang yang dulu sempat kamu...?” Kirana mengangguk. “Iya.” “Kamu masih simpan rasa?” Pertanyaan itu menusuk. Kirana menatap suaminya. “Nggak. Tapi aku nggak bisa bohong, aku sempat kaget lihat dia lagi.” Radit berdiri dari sofa, menghampiri Kirana. “Aku nggak bisa larang kamu untuk ketemu orang masa lalu. Tapi aku juga punya hak buat tahu kalau kamu mulai ragu sama kita.” Kirana menggeleng. “Bukan ragu, Radit. Aku cuma… lagi belajar berdamai sama bagian hidupku yang belum sempat aku tutup.” Radit menatap istrinya dalam. “Kalau dia datang lagi dan bilang mau kamu balik ke hidupnya… kamu masih pilih aku?” Tanpa ragu, Kirana menjawab, “Aku udah milih kamu dari awal. Meskipun dulu kita menikah karena perjanjian, sekarang aku tetap pilih kamu karena hati.” Radit menghela napas, lalu memeluk Kirana erat. “Maaf. Aku juga masih belajar untuk nggak takut kehilangan kamu.” --- Tapi ternyata, Gilang belum selesai. Beberapa hari kemudian, Kirana menerima chat di LinkedIn. > “Kir, boleh kita ketemu sekali lagi? Aku cuma pengen ngobrol… nggak lebih.” - Gilang Kirana menatap pesan itu lama. Ia tidak langsung menjawab. Sore harinya, ia berdiri di dapur, memutar-mutar sendok di gelas tehnya. Radit masuk dan duduk di kursi bar dapur. “Ada sesuatu?” tanyanya. Kirana menyerahkan ponselnya. “Dia ngajak ketemu.” Radit membaca pesan itu, lalu mengembalikannya. “Kamu mau pergi?” Kirana menggeleng. “Aku nggak butuh penjelasan apa-apa lagi dari dia. Aku cuma butuh kamu percaya sama aku.” Radit tersenyum. “Aku percaya. Dan makasih karena kamu memilih jujur.” Kirana mengambil ponselnya kembali, mengetik balasan cepat. > “Maaf, Gilang. Aku sudah menemukan rumahku yang sebenarnya.” Dan dengan satu kalimat itu, masa lalu pun ia tutup rapat-rapat. Malam itu, setelah membalas pesan Gilang, Kirana menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa ruang tamu. Lampu redup menyinari ruangan dengan kehangatan yang lembut. Ia menatap layar ponselnya beberapa saat, memastikan tak ada balasan. Tapi meski hening, pikirannya tidak. Bukan tentang Gilang. Tapi tentang dirinya sendiri. Beberapa tahun lalu, ia mungkin akan bimbang. Akan mempertanyakan keputusannya. Tapi sekarang, Kirana tahu: kedewasaan bukan soal seberapa kuat kita menahan rasa, tapi seberapa berani kita menutup pintu yang seharusnya sudah tertutup. Radit datang dari dapur, membawa dua cangkir teh. Salah satunya ia sodorkan ke Kirana. “Aku buat teh melati, buat kita berdua.” “Terima kasih,” jawab Kirana sambil menerima. Ia menatap Radit dalam-dalam. “Aku senang kamu nggak marah atau bereaksi berlebihan.” “Aku percaya kamu. Aku tahu kamu bukan perempuan yang gampang goyah,” ujar Radit pelan. Kirana tersenyum. “Aku juga percaya sama kamu. Dan sejujurnya... kemunculan Gilang malah bikin aku sadar, betapa aku nggak ingin kembali ke masa lalu.” Radit memiringkan kepala. “Kamu yakin?” “Aku yakin. Karena meskipun dulu dia pernah jadi orang penting buat aku, tapi dia juga yang ninggalin aku tanpa kabar. Dan kamu... kamu tetap di sini. Bahkan saat kita menikah tanpa cinta sekalipun.” Radit diam sejenak. Lalu berkata, “Mungkin dulu aku juga bukan orang paling jujur. Tapi sekarang, aku mau semuanya jelas. Aku mau kita saling jaga.” Kirana mengangguk. “Mulai sekarang, kita jalanin ini bukan karena perjanjian. Tapi karena kita mau. Sama-sama.” Mereka saling menggenggam tangan. Tak ada kata-kata tambahan, hanya keheningan hangat yang berbicara lebih dalam dari sekadar ucapan. --- Keesokan harinya, Kirana menghapus semua foto lama Gilang di galeri cloud-nya. Bukan karena marah. Tapi karena ia ingin memulai hidup barunya tanpa bayangan. Di kantor, ia juga mulai bisa tersenyum lebih lepas. Rekan kerja yang dulu bergosip pun perlahan mulai berhenti. Kirana menunjukkan bahwa ia bisa bekerja secara profesional, tanpa membawa status pernikahannya sebagai ‘perisai’. Dan malam-malam berikutnya, Kirana dan Radit mulai menghabiskan waktu seperti pasangan pada umumnya. Kadang menonton film di sofa, saling menyuapi makan malam, atau sekadar duduk di balkon sambil mendengarkan suara kota. Di satu malam, Radit menatap Kirana dan berkata, “Aku tahu hubungan kita dimulai dengan cara yang nggak biasa. Tapi kalau kamu izinkan... aku ingin kita mulai ulang. Bukan sebagai CEO dan sekretaris, bukan suami istri kontrak. Tapi kamu dan aku. Kirana dan Radit.” Kirana menahan napas sejenak, lalu tersenyum. “Kalau begitu, salam kenal… saya Kirana.” Radit tertawa pelan dan menjabat tangannya. “Saya Radit. Dan saya jatuh cinta sama Kirana.” Untuk pertama kalinya, Kirana tidak merasa ragu menjawab, “Dan saya juga jatuh cinta sama Radit.” Dan malam itu, semua rasa ragu, semua bayang-bayang masa lalu, benar-benar hilang dari hati Kirana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN