Sabtu sore, cuaca mendung menggantung di langit Jakarta. Meski begitu, suasana ballroom hotel bintang lima di pusat kota justru semarak. Karyawan RAKA Group berdatangan mengenakan dress code semi-formal. Tawa, musik, dan kilatan kamera memenuhi ruangan.
Kirana berdiri di depan cermin di kamar hotel tempat para karyawan bersiap. Ia mengenakan gaun simpel berwarna hijau tua dengan blazer hitam tipis. Rambutnya dibiarkan terurai dengan sedikit gelombang alami. Ia menarik napas panjang.
Gathering kantor ini... akan menjadi panggung besar.
Radit sudah mengatakan niatnya akan memperkenalkan Kirana sebagai istrinya. Tapi tetap saja, ada rasa gugup yang tak bisa ditepis.
Pintu diketuk. Dita masuk, tersenyum lebar. “Gila, Kirana… kamu cantik banget hari ini!”
Kirana tertawa gugup. “Makasih, Dit. Aku deg-degan banget.”
“Deg-degan karena mau tampil bareng suami rahasia kamu?” Dita menggoda.
Kirana memukul pelan tangan sahabatnya. “Ssst! Belum semua orang tahu!”
Dita mengangguk. “Tapi serius, kamu harus percaya diri. Kamu pantas berdiri di samping Radit. Kamu bukan sekadar istri diam-diam, Kirana. Kamu bagian dari hidup dia.”
---
Acara dimulai dengan sambutan dari Direktur Utama. Lalu sesi penghargaan karyawan berprestasi, games, dan makan malam. Semua berjalan meriah dan hangat.
Tapi Kirana tak benar-benar menikmati semuanya. Pikirannya terus terfokus pada satu momen yang belum juga datang saat Radit akan membuka identitas mereka.
Sampai akhirnya, MC memanggil nama Radit.
“Dan sekarang, mari kita dengar sepatah dua patah kata dari CEO kita, Bapak Raditya Pratama!”
Tepuk tangan menggema. Radit melangkah ke podium dengan percaya diri. Mengenakan setelan jas abu gelap, dasi navy, dan ekspresi tenang khasnya.
“Terima kasih untuk semua kerja keras kalian. RAKA Group tidak akan sampai sejauh ini tanpa tim yang luar biasa,” ucapnya memulai.
Beberapa detik kemudian, ia diam. Menatap hadirin sejenak.
“Ada satu hal pribadi yang ingin saya bagikan malam ini,” katanya, suaranya sedikit lebih pelan, namun tetap tegas.
Kirana menahan napas.
“Beberapa dari kalian mungkin sudah mendengar kabar… bahwa saya sudah menikah.”
Geger kecil terjadi di antara hadirin. Beberapa saling berbisik.
Radit melanjutkan, “Dan saya rasa, sudah waktunya saya memperkenalkan sosok yang selama ini berdiri diam di balik layar. Seorang perempuan yang bukan hanya luar biasa dalam pekerjaannya… tapi juga luar biasa dalam mendampingi hidup saya.”
Ia menoleh ke arah meja Kirana. Matanya mencari dan menemukan.
“Kirana,” ucapnya.
Semua mata kini beralih ke satu titik.
Kirana, dengan lutut sedikit gemetar, berdiri.
Langkahnya terasa berat, tapi penuh tekad. Ia melangkah perlahan ke panggung, naik beberapa anak tangga, hingga berdiri di samping Radit.
Radit meraih tangannya. “Inilah istri saya. Sekretaris pribadi saya. Dan mulai hari ini, saya tak akan lagi menyembunyikan hal itu dari siapa pun.”
Tepuk tangan agak ragu di awal, tapi lama-lama membesar. Beberapa orang tampak terkejut, yang lain justru tersenyum hangat.
Kirana memandang kerumunan itu, lalu berbisik pada Radit, “Kamu yakin?”
Radit menoleh dan berkata pelan, “Lebih dari yakin.”
---
Setelah acara selesai, suasana berubah. Beberapa rekan kerja mulai menghampiri Kirana. Ada yang bertanya penasaran, ada yang sekadar memberi selamat. Tapi tidak sedikit juga yang memandang dengan ekspresi ambigu antara iri dan tak percaya.
Namun Kirana tak terlalu ambil pusing. Ia memilih fokus pada hal yang paling penting: hari ini, ia tak lagi berdiri dalam bayang-bayang.
Ia dan Radit berjalan beriringan keluar ballroom.
Felicia, yang juga hadir sebagai tamu undangan proyek kerja sama, berdiri di dekat pintu keluar. Ia memandang Kirana dari ujung kepala hingga kaki. Tapi kali ini, tidak berkata apa-apa. Hanya menatap, lalu pergi.
Setelah keluar dari ballroom, Radit dan Kirana memilih naik ke rooftop hotel. Hanya mereka berdua. Angin malam menyentuh wajah mereka pelan. Langit mendung kini telah berganti bintang-bintang yang malu-malu menampakkan diri di antara awan.
“Gimana rasanya?” tanya Radit, menatap Kirana.
Kirana menghela napas panjang. “Aneh… tapi juga lega.”
“Aku tahu kamu takut,” kata Radit. “Tapi kamu tetap berdiri di sampingku. Aku bangga sama kamu, Kirana.”
Kirana tersenyum, lalu menatap jauh ke bawah. Mobil-mobil berlalu lalang, terlihat kecil seperti mainan.
“Dulu aku nggak pernah kebayang bisa berdiri di samping CEO di acara mewah kayak tadi,” katanya pelan. “Apalagi sebagai istri.”
“Tapi kamu melakukannya. Dengan sangat baik.”
Kirana menggigit bibir bawahnya sejenak, lalu menoleh ke Radit. “Kamu yakin kita siap menghadapi konsekuensi dari semuanya?”
Radit meraih tangan Kirana dan menggenggam erat. “Aku nggak pernah sesiap ini. Dunia luar boleh menilai, tapi selama kita solid, mereka nggak akan bisa merobohkan kita.”
Kirana mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti benar-benar punya sandaran.
---
Hari-hari setelah pengakuan publik itu tak semudah yang dibayangkan.
Keesokan paginya, grup w******p kantor penuh dengan tangkapan layar dan komentar tentang pengakuan Radit. Sebagian besar rekan kerja bersikap netral, ada yang mendukung, ada yang diam dan ada pula yang menyindir dengan halus.
Tapi Kirana tetap profesional. Ia datang ke kantor seperti biasa, menyapa siapa pun dengan ramah, dan tetap fokus pada pekerjaannya.
Namun bukan berarti semuanya mudah.
Di pantry, ia mendengar beberapa staf HR berbicara setengah berbisik.
“Pantesan cepet banget jadi sekretaris pribadi CEO…”
“Gila, berani banget sih umumin gitu aja.”
“Ya udahlah, jodoh kan siapa yang tahu.”
Kirana tak menanggapi. Ia hanya menegakkan bahu dan keluar dari pantry sambil membawa cangkir tehnya.
Sore harinya, ia menerima undangan rapat dari Radit. Tapi bukan rapat biasa judul undangannya bertuliskan: Proposal Penyesuaian Posisi dan Tugas Kirana A.
Saat tiba di ruang rapat, hanya ada Radit dan dua orang direksi lainnya.
“Kirana,” ucap salah satu direksi. “Kami ingin membicarakan peran kamu ke depan, setelah pengumuman publik dari Pak Radit.”
Kirana menatap mereka tenang. “Silakan, Pak.”
Radit menjelaskan, “Aku sudah pertimbangkan matang-matang. Kirana akan tetap menjadi bagian dari manajemen, tapi bukan lagi sekretarisku. Dia akan ditugaskan di divisi Komunikasi Internal.”
Kirana sempat terdiam. Ia tidak tahu soal ini sebelumnya.
“Kenapa kamu nggak bilang dulu?” bisiknya pada Radit setelah rapat selesai.
Radit menatapnya lembut. “Aku tahu kamu bisa lebih dari sekadar sekretarisku. Dan aku ingin semua orang tahu kalau kamu bukan ada di posisi itu cuma karena status kita.”
Kirana tak bisa membalas. Ia hanya tersenyum kecil, meski hatinya terharu.
---
Beberapa minggu berlalu.
Kirana kini memimpin tim kecil di divisi barunya. Tugasnya lebih menantang, tanggung jawabnya lebih besar. Tapi ia menikmatinya.
Suatu hari, saat berjalan di lorong kantor, ia melewati Felicia yang sedang duduk bersama klien. Felicia menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis.
Kirana membalas dengan senyum yang lebih mantap. Kali ini, tak ada rasa takut. Tak ada rasa minder. Hanya rasa bangga karena ia telah melewati badai dan tetap berdiri tegak.
Kirana tersenyum tipis. Ia tahu… babak baru telah dimulai.
Dan mulai malam ini, tak ada lagi rahasia.