Suasana kantor hari itu lebih santai dari biasanya. Radit mengizinkan sebagian karyawan pulang lebih awal karena esok harinya adalah hari libur nasional. Namun Kirana tetap bertahan di meja kerjanya, menyelesaikan laporan keuangan yang harus direkap sebelum minggu depan.
Ia memeriksa dokumen satu per satu, fokus meski suasana kantor mulai sepi.
Di ruangannya, Radit sedang berbincang dengan seseorang dan suara wanita terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Kirana tak sengaja mendengar tawa kecil dari suara itu. Bukan tawa basa-basi… tapi tawa akrab.
Ia melirik jam di laptop. Sudah pukul 17.00. Seharusnya semua tamu luar sudah pulang.
Perlahan, Kirana berdiri dan pura-pura ingin mengambil dokumen ke lemari dekat ruang CEO. Ia berhenti sebentar di depan pintu yang tak sepenuhnya tertutup.
“Masih sama seperti dulu ya, kamu masih suka kopi hitam tanpa gula.”
“Kebiasaan nggak gampang hilang, Fel.”
“Termasuk kebiasaan milih perempuan unik?” suara si wanita tertawa kecil.
Kirana berhenti di tempat. Fel? Nama itu tidak asing. Felicia. Mantan pacar Radit semasa kuliah. Mereka sempat viral karena hubungan mereka lama dan harmonis sampai akhirnya tiba-tiba putus.
Kirana menelan ludah. Ia tahu ini bukan waktunya mendengarkan, tapi tubuhnya tak bisa bergerak.
“Jadi,” suara Felicia melunak, “apa kamu benar-benar serius dengan dia?”
“Kalau nggak serius, aku nggak akan menikahinya, Fel,” jawab Radit tenang.
Kirana merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ia cepat-cepat menjauh sebelum keberadaannya ketahuan.
---
Malam itu, suasana di apartemen sedikit berbeda. Radit terlihat biasa saja, sibuk dengan laptopnya, sesekali menjawab email.
Tapi Kirana tak bisa menahan rasa tak nyaman di dadanya.
“Kamu ketemu Felicia tadi ya?” tanyanya saat mereka makan malam.
Radit mengangkat wajahnya, sedikit terkejut. “Kamu dengar?”
Kirana mengangguk. “Sedikit.”
Radit meletakkan sendoknya. “Dia datang untuk bahas kerja sama di proyek lama. Nggak ada yang spesial.”
“Tapi kamu dulu pernah sayang banget sama dia, kan?” suara Kirana terdengar pelan, tapi tajam.
Radit menatapnya dalam. “Iya. Tapi dulu. Sekarang aku menikah sama kamu. Bukan karena terpaksa. Tapi karena aku memilih kamu.”
Kirana diam. Di satu sisi ia percaya, tapi bayang-bayang masa lalu Felicia tetap mengusik pikirannya.
---
Keesokan harinya, Kirana memutuskan pergi ke salon bersama sahabatnya, Dita. Mereka sudah lama tidak bertemu, dan Kirana butuh seseorang untuk curhat.
“Dia mantan pacar, Dit. Cantik, pintar, mapan. Aku… ngerasa kayak nggak sebanding,” ucap Kirana sambil menatap bayangannya di cermin.
Dita mengangkat alis. “Kir, kamu tuh bukan cewek biasa. Kamu juga kerja, kamu mandiri, kamu punya hati. Cowok kayak Radit nggak bakal asal pilih.”
“Tapi aku cuma sekretarisnya.”
“Kamu juga istrinya. Jangan lupakan itu.”
Kirana mengangguk kecil. Tapi rasa cemburu itu masih ada. Muncul pelan, menyelinap seperti bayangan yang tak bisa diusir begitu saja.
---
Senin pagi, suasana kantor kembali sibuk. Kirana fokus pada pekerjaannya. Namun saat membuka email kantor, ia menemukan satu email masuk dari nama yang tak asing.
Subject: Tetap Hati-hati
From: felicia@raka-corp.id
> “Sekadar mengingatkan. Di dunia bisnis, kadang yang tampak tenang belum tentu stabil. Hati-hati dengan yang kamu pegang sekarang.”
Kirana menatap layar, terdiam. Matanya perlahan menyipit. Ia tahu… ini bukan sekadar peringatan. Tapi ancaman halus.
Ia berdiri, menutup laptopnya, dan berjalan menuju ruangan Radit.
Tanpa mengetuk, ia membuka pintu.
“Kita perlu bicara.”
Radit terkejut. “Ada apa?”
“Felicia ngirimin aku email.”
Wajah Radit berubah. “Dia apa?”
“Dia bilang aku harus hati-hati. Kayak seolah aku itu cuma numpang duduk di samping kamu. Aku nggak suka, Radit. Aku bukan cadangan.”
Radit langsung berdiri. “Kirana, kamu bukan siapa-siapa di mata dia, tapi kamu segalanya buat aku. Dan aku nggak akan biarin dia bikin kamu ngerasa kayak gini.”
Suara Radit tegas. Kali ini, tidak main-main.
Dan Kirana… untuk pertama kalinya, merasa cemburunya bukan kelemahan. Tapi tanda bahwa ia mulai benar-benar mencintai suaminya. Meski dulu mereka menikah karena perjanjian, sekarang hatinya sudah melangkah lebih jauh.
Dan ia akan berjuang… bukan cuma sebagai sekretaris, tapi sebagai istri yang sebenarnya.
Setelah perbincangan panas itu, suasana di ruangan Radit menjadi hening. Kirana menunduk, mencoba menenangkan napasnya. Ia tidak terbiasa marah. Tapi kali ini, ia tak bisa menahan rasa terancam yang tumbuh sejak kemunculan Felicia.
Radit mendekat, duduk di hadapan Kirana. “Aku tahu kamu takut dibandingkan, Kirana. Tapi aku nggak pernah membandingkan kamu dengan siapa pun.”
Kirana menatapnya. “Aku bukan takut dibandingkan, Radit. Aku takut kalau kamu sendiri belum selesai dengan masa lalumu.”
Radit terdiam sejenak. “Mungkin benar. Aku dan Felicia punya sejarah panjang. Tapi kalau aku masih hidup di masa lalu, aku nggak akan menikah sama kamu.”
“Lalu kenapa dia bisa seenaknya kirim email seperti itu ke aku? Seolah-olah dia masih punya ruang untuk ikut campur?” suara Kirana meninggi.
“Aku akan bicara langsung ke dia. Aku akan tegas.”
Kirana mengangguk pelan. Dalam hatinya, ada sedikit rasa lega, meski belum sepenuhnya hilang.
---
Beberapa hari kemudian, Felicia kembali datang ke kantor, kali ini untuk presentasi proyek. Kirana sengaja menghindari tatapan mata wanita itu. Namun saat Felicia selesai presentasi dan keluar dari ruang rapat, ia menyempatkan mendekat ke meja Kirana.
“Kerja bagus hari ini,” ucap Felicia, senyum manis tapi tajam.
“Terima kasih, Bu Felicia,” jawab Kirana sopan.
Felicia mendekat sedikit, suaranya lebih pelan. “Kamu pasti tahu, dunia ini keras. Dan yang bertahan, bukan yang paling manis… tapi yang paling licik.”
Kirana menatapnya lurus. “Saya mungkin bukan yang paling licik, tapi saya tahu mana yang tulus dan mana yang hanya berusaha mengambil kembali sesuatu yang sudah bukan miliknya.”
Seketika senyum Felicia memudar. Ia melirik sebentar sebelum melenggang pergi.
Kirana menghela napas panjang. Tangannya sedikit gemetar, tapi hatinya lebih tenang dari sebelumnya. Ia tahu, ia harus melawan, bukan lari.
---
Malam harinya, Kirana dan Radit duduk di balkon apartemen. Angin malam menyapu lembut rambut mereka. Kota Jakarta bersinar dengan lampu-lampu kuning yang berkelap-kelip seperti bintang jatuh.
“Dia masih mencoba ganggu kamu?” tanya Radit.
“Sudah nggak secara langsung. Tapi aku rasa, dia belum selesai.” Kirana menyeruput teh hangatnya.
Radit mengangguk. “Felicia terbiasa mengatur segalanya. Tapi kamu bukan sesuatu yang bisa dia kendalikan.”
Kirana menoleh. “Dan kamu yakin pilihanku tetap jadi yang kamu mau?”
Radit menatap Kirana, lalu menggenggam tangannya. “Kirana, aku menikah dengan kamu karena kamu nyata. Karena kamu nggak peduli sama statusku, dan karena kamu punya hati yang jujur. Kamu bukan pilihan darurat. Kamu adalah keputusan terbaikku.”
Kirana tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini, senyum itu terasa ringan. Tulus.
Dan malam itu, di bawah langit yang mulai mendung, ia tahu... rasa cemburu bukan kelemahan. Ia hanyalah cermin dari cinta yang tumbuh perlahan, dalam, dan nyata.
Tiga hari setelah kejadian dengan Felicia, suasana di kantor masih belum stabil. Kirana mulai terbiasa dengan pekerjaannya sebagai sekretaris, namun tatapan rekan-rekan kantor masih tajam, seolah menunggu ia melakukan kesalahan sekecil apa pun.
Di rumah, hubungan Kirana dan Radit pun tak banyak berubah. Mereka seperti dua orang asing yang terikat kontrak, tinggal dalam satu atap, tapi hati mereka belum benar-benar saling mengenal.
Namun semua itu berubah di suatu malam ketika Kirana tak sengaja menemukan sesuatu.
---
Hari itu, Kirana pulang lebih dulu karena Radit masih ada dinner meeting dengan klien. Di apartemen, ia merasa bosan dan memilih mengambil buku dari rak ruang kerja kecil Radit.
Tapi saat mengambil buku, salah satu laci terbuka sedikit. Tanpa sadar, Kirana menariknya dan menemukan beberapa dokumen tersusun rapi di dalam map.
Salah satunya adalah akte pendirian PT RAKA Group. Nama pendiri: Raditya Pranata Kusuma.
Kirana menatap nama itu. “Raditya Pranata Kusuma?” gumamnya.
Bukan Radit Pratama, seperti yang ia tahu.
Tiba-tiba semuanya terasa aneh.
Kirana membuka dokumen lain. Ada foto Radit bersama seorang pria tua tampaknya ayahnya dan beberapa berita lama yang menyebutkan nama lengkap Radit, hubungannya dengan jaringan bisnis besar, dan… rumor skandal keluarga yang melibatkan warisan perusahaan.
"Jadi dia menyembunyikan nama aslinya? Kenapa?" pikir Kirana.
Tak lama kemudian, suara pintu apartemen terbuka. Kirana buru-buru menutup laci dan kembali duduk di sofa, berpura-pura menonton televisi.
Radit masuk dengan jas masih melekat di tubuhnya, wajah lelah, tapi tetap memancarkan wibawa.
“Kamu belum tidur?” tanyanya sambil melepaskan dasi.
Kirana menatapnya. Kali ini, ada sesuatu yang ingin ia tanyakan, tapi lidahnya kelu.
“Nama lengkap kamu… Raditya Pranata Kusuma, ya?” ucapnya akhirnya, pelan namun jelas.
Langkah Radit terhenti.
Beberapa detik, keheningan mengisi ruangan.
“Dari mana kamu tahu?” tanyanya dengan nada rendah.
“Aku nggak sengaja lihat di map di ruang kerja…”
Radit duduk di sofa seberang Kirana. Matanya menatap lurus, tapi bukan marah. Lebih seperti… bersiap untuk jujur.
“Nama lengkapku memang itu. Tapi sejak konflik keluarga, aku nggak pernah pakai nama Kusuma lagi.”
“Konflik?”
Radit menarik napas. “Ayahku pemilik awal PT RAKA Group. Tapi saat beliau meninggal, ada perebutan kekuasaan dari paman-pamanku. Aku dituduh memanipulasi saham, padahal aku cuma ingin menyelamatkan perusahaan. Akhirnya aku keluar, mendirikan cabang sendiri, dan pakai nama ‘Radit Pratama’ supaya tak terus dikaitkan dengan keluarga.”
Kirana terdiam, mencoba mencerna informasi itu.
“Kamu menyembunyikannya… bahkan dariku,” ucapnya akhirnya.
“Aku nggak ingin kamu menikahiku karena nama besar atau uang. Aku ingin tahu, kalau pun kamu bertahan… itu karena kamu kuat menghadapi semuanya.”
Kirana menunduk. “Tapi tetap saja, kamu menyimpan banyak hal.”
“Aku janji, mulai sekarang aku nggak akan menyembunyikan apa pun lagi darimu.”
Ia berdiri, lalu berjalan pelan ke arah Kirana. Kali ini, tidak ada kesan formal. Tatapannya lebih lembut. Ia duduk di sebelah Kirana dan berkata, “Mulai sekarang, kita bangun kepercayaan itu sama-sama.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Kirana merasa bahwa mungkin… mereka tidak hanya sebatas suami-istri dalam kontrak.
Mungkin, ada ruang bagi keduanya untuk saling memahami. Mungkin, ikatan mereka akan tumbuh jadi sesuatu yang lebih dari sekadar kesepakatan.