Pagi itu, kantor sudah mulai ramai saat Kirana tiba. Ia menyapa satpam dan beberapa rekan kerja dengan senyum tipis, lalu melangkah cepat menuju lantai tujuh. Meski ia mulai terbiasa dengan ritme baru sebagai sekretaris CEO, rasa gugup tetap belum pergi dari dadanya. Apalagi, hari ini akan ada kunjungan dari salah satu investor penting perusahaan.
Begitu tiba di meja kerjanya, Kirana langsung membuka laptop dan mulai mengecek ulang agenda Radit. Tangannya lincah mengetik email balasan, mengatur ulang jadwal rapat, dan memeriksa berkas yang harus ditandatangani.
Tak lama, pintu ruangan Radit terbuka. Pria itu muncul dengan setelan jas navy yang rapi, rambut klimis, dan aroma parfum maskulin yang selalu sama.
“Pagi,” ucapnya pelan.
“Pagi, Pak,” balas Kirana dengan nada profesional.
Radit melirik tumpukan dokumen di meja kecil sebelahnya. “Sudah siap semua?”
“Sudah. File untuk investor Jepang, undangan rapat minggu depan, dan laporan keuangan kuartal kedua,” jelas Kirana.
Radit mengangguk. “Bagus. Siapkan ruang rapat, jam sepuluh mereka datang.”
Kirana mengangguk. “Siap, Pak.”
---
Dua jam kemudian, ruang rapat lantai delapan dipenuhi suasana tegang. Tiga orang perwakilan dari mitra Jepang duduk berjajar di sisi kanan, sementara Radit memimpin dari sisi kiri. Kirana duduk di ujung meja dengan laptop terbuka, mencatat jalannya pembicaraan.
Semua berjalan lancar hingga salah satu investor menanyakan hal pribadi.
“Maaf, saya dengar kabar dari staf bahwa CEO RAKA Group kini sudah menikah?” tanya Takuya, perwakilan Jepang, dengan senyum ramah.
Radit yang semula fokus pada angka-angka, terdiam sejenak. Ia menoleh pada Kirana sekilas—dan Kirana seketika menahan napas.
“Benar,” jawab Radit pelan tapi tegas.
“Oh? Kami belum dapat undangan resminya,” Takuya tertawa kecil. “Siapa yang beruntung jadi istri Anda?”
Suasana hening sejenak.
Radit tersenyum tipis. “Dia orang biasa. Sederhana. Dan aku lebih suka menjaga privasi.”
Takuya mengangguk mengerti. Tapi beberapa staf perusahaan yang hadir di ruangan itu mulai saling melirik dan Kirana bisa merasakan tatapan aneh mengarah padanya.
Saat rapat berakhir, dan semua orang keluar satu per satu, salah satu staf admin, Siska, menyenggol Kirana saat lewat.
“Kir, kamu tahu nggak ya, siapa istrinya Pak Radit? Katanya sih anak orang dalam.”
Kirana hanya tertawa hambar. “Wah, aku nggak tahu.”
Namun, dalam hati ia gelisah. Rahasia mereka… mulai terendus.
---
Sore harinya, saat suasana kantor mulai sepi, Kirana masih duduk di ruangannya. Tangan kirinya menopang dagu, sementara mata fokus pada layar.
Pintu ruangan terbuka. Radit masuk dan duduk di hadapannya.
“Mulai ada yang curiga, ya?” tanyanya langsung.
Kirana mengangguk pelan. “Tadi ada yang nanya soal istri kamu. Terus aku… cuma bisa diam.”
Radit menghela napas. “Kita nggak bisa sembunyikan ini terus.”
“Kamu siap?” tanya Kirana pelan, menatapnya lurus.
Radit terdiam lama sebelum akhirnya berkata, “Nggak hari ini. Tapi… aku akan bicarakan ini ke direksi dalam waktu dekat. Aku gak mau kamu jadi sasaran gosip.”
Kirana mengangguk. “Aku ikut keputusan kamu. Tapi aku juga butuh kepastian. Kita sampai kapan begini?”
Suasana hening. Udara di ruangan itu terasa lebih berat dari biasanya.
“Beberapa minggu lagi ada gathering kantor. Aku akan perkenalkan kamu… sebagai istriku,” kata Radit akhirnya.
Kirana menelan ludah. “Serius?”
Radit mengangguk. “Tapi sampai saat itu, tolong tetap jaga semuanya. Aku tahu ini nggak adil, tapi aku nggak mau kamu kena tekanan besar dari rekan kerja.”
Kirana mengangguk, walau dalam hati masih berat.
---
Malam harinya, di apartemen, Kirana duduk sendirian di ruang tamu. Radit masih di kantor, katanya ada laporan yang harus diselesaikan. Kirana membuka galeri ponsel, melihat kembali foto pernikahan mereka yang hanya dihadiri petugas KUA dan dua saksi.
“Ini bukan pernikahan biasa…” batinnya.
Lalu ponselnya berbunyi. Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.
> “Kamu istri Pak Radit, kan? Hati-hati main rahasia. Kantor itu kecil, cepat nyebar.”
Jantung Kirana seakan berhenti berdetak. Siapa yang kirim pesan ini?
Dengan tangan gemetar, ia screenshot pesan itu lalu mengirimkan ke Radit.
> Kirana: “Ini… apa maksudnya?”
Beberapa menit kemudian, balasan dari Radit masuk.
> Radit: “Tenang. Aku yang akan urus ini. Jangan panik.”
Kirana menarik napas panjang. Ia tahu, mulai malam ini… rahasia mereka tak lagi sepenuhnya aman.
Dan badai… sebentar lagi mungkin akan datang.
Kirana menatap layar ponsel cukup lama. Pesan itu hanya satu kalimat, tapi dampaknya seperti palu godam menghantam dadanya.
Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu, tangannya tak henti memainkan layar ponsel, membuka pesan dari Radit lalu menutupnya kembali.
“Aku nggak panik, aku cuma... bingung harus gimana,” gumamnya.
Kepalanya penuh tanya: siapa yang tahu? Sejauh mana mereka tahu? Apa maksud dari pesan itu? Ancaman? Sindiran? Atau hanya tebak-tebakan iseng dari orang kantor?
Tak berselang lama, pintu apartemen terbuka. Radit masuk dengan langkah tergesa. Wajahnya tampak lelah tapi juga tegas.
“Kirana,” panggilnya, langsung menghampiri.
Kirana menunjukkan ponsel. “Kamu tahu siapa yang kirim ini?”
Radit membaca ulang pesannya. “Belum. Tapi aku sudah minta anak IT untuk cek log sistem. Siapa pun itu, kalau pakai nomor pribadi, bisa dilacak.”
“Gimana kalau mereka nyebarin ke orang kantor?” suara Kirana hampir bergetar.
Radit mendekat, meletakkan kedua tangannya di pundak Kirana. “Dengar, aku janji, kamu nggak akan sendirian. Kalau semuanya terlanjur tersebar, aku yang akan bicara. Aku akan lindungi kamu.”
Kirana menatap mata Radit. Sekilas, ia bisa lihat ketulusan di balik pandangan itu. Tapi hatinya belum sepenuhnya tenang.
“Aku bukan takut orang tahu, Radit... Aku takut disalahpahami. Mereka bisa saja bilang aku cuma numpang nama, cari jalan pintas, atau... apa pun itu.”
Radit menatapnya lama sebelum akhirnya menarik Kirana ke dalam pelukannya. “Kamu lebih kuat dari yang kamu kira, Kirana. Dan kamu bukan cuma istriku, kamu perempuan yang aku percaya.”
Pelukan itu hangat. Untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan mereka, Kirana merasa benar-benar dilindungi. Ditenangkan.
Tapi ia tahu, pelukan saja tak cukup untuk menghentikan gosip. Dunia kantor bukan tempat untuk kelembutan seperti ini.
---
Keesokan harinya, Kirana datang lebih awal dari biasanya. Ia ingin menunjukkan profesionalisme, meski hatinya masih tak tenang.
Namun langkahnya terhenti saat di pantry ia mendengar dua orang staf bergosip.
“…katanya sih sekretaris baru itu punya hubungan sama Pak Radit.”
“Iya, aku juga denger. Tapi masa iya? Cantik sih, tapi nggak kelihatan kaya anak orang dalam.”
“Atau justru karena itu dia naik cepet?”
Kirana berdiri membeku di balik pintu. Telinganya panas, matanya mulai memanas. Tapi ia menahan diri. Menelan semua kata-kata itu bulat-bulat.
Ia masuk ke pantry seolah tak terjadi apa-apa. Dua staf itu langsung gugup, menyapa basa-basi lalu buru-buru keluar.
Kirana mengambil segelas air, menatap bayangan wajahnya di permukaan cairan bening itu.
“Sampai kapan aku harus begini?”
---
Sore harinya, Radit mengirim pesan.
> “Besok sore kamu ikut aku ke pertemuan informal sama direksi. Kita mulai buka pelan-pelan soal hubungan kita.”
Kirana menatap pesan itu lama. Jemarinya akhirnya membalas:
> “Baik. Tapi aku ingin pastikan satu hal dulu.”
> “Apa?”
> “Kalau nanti semuanya tahu… kamu masih akan tetap memperjuangkan aku?”
Balasan datang hanya dalam hitungan detik.
> “Selalu.”
Dan di saat itu juga, Kirana merasa sedikit lebih kuat dari sebelumnya.
Meski badai belum datang, ia sudah siap berdiri di sisinya.
Bersama.