Bab 2: Hari Pertama sebagai Sekretaris Suami Sendiri

1326 Kata
Pagi itu, Kirana terbangun lebih awal dari biasanya. Alarm ponselnya bahkan belum berbunyi. Ia membuka mata perlahan dan menatap langit-langit kamar yang asing. Bukan kamar kos kecil yang biasa ia tinggali, melainkan kamar luas dengan ranjang empuk, tirai tebal, dan perabot mewah yang membuatnya merasa seperti orang lain. Ia duduk di tepi ranjang, menyentuh dahinya yang sedikit berkeringat. Semalam, ia resmi menikah. Dengan pria asing. Radit. Dan kini, ia tinggal di apartemen mewah milik pria itu, meski masih belum paham benar siapa sebenarnya sosok suaminya itu. Ia berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin, lalu menatap cermin. Wajahnya terlihat sama tapi pikirannya tidak. Hatinya tidak. “Hari ini aku kembali kerja… dan berpura-pura semuanya normal,” batinnya getir. Setelah bersiap, Kirana turun ke lobi apartemen. Radit sudah menunggunya di depan mobil hitam elegan. “Pagi,” sapa pria itu singkat. Kirana mengangguk. “Pagi…” Mereka berkendara dalam diam. Tak ada obrolan basa-basi. Hanya suara radio pelan dan lalu lintas Jakarta yang mulai padat. Kirana memandangi jendela sepanjang perjalanan, pikirannya penuh pertanyaan. Apa yang akan terjadi di kantor hari ini? Apakah semuanya akan tetap sama? Namun, kenyataannya justru mengejutkan. Begitu ia tiba di kantor dan naik ke lantai tempat divisinya biasa bekerja, seorang staf HR menghampirinya dengan senyum formal. “Kirana, pagi. Hari ini kamu langsung ke lantai tujuh, ya. Mulai sekarang kamu jadi sekretaris CEO.” “CEO?” Kirana nyaris tersedak. “Iya. Pak Radit. Beliau yang tunjuk kamu langsung,” ucap staf itu ramah. Dunia Kirana seakan berputar. “Radit… CEO?” Ia melangkah pelan menuju lift, tubuhnya nyaris limbung. Jantungnya berdetak keras saat tiba di depan pintu bertuliskan “CEO Office Radit Pratama”. Kakinya seperti tak mau melangkah. Ia mengetuk pintu dengan tangan gemetar. “Masuk,” suara di balik pintu terdengar tenang. Kirana membuka pintu perlahan, dan di hadapannya duduk seorang pria dengan jas rapi dan aura kepemimpinan yang kuat. Radit. Suaminya. “Selamat pagi, Pak…” sapanya kaku. Radit menatapnya datar. “Duduklah.” Kirana duduk, kaku dan canggung. Rasanya seperti sedang wawancara ulang. “Mulai hari ini, kamu akan bertugas sebagai sekretarisku. Aku butuh seseorang yang bisa dipercaya,” ucap Radit singkat. Kirana ingin bertanya, ingin protes, tapi semua kata-kata menguap. Ia hanya bisa mengangguk dan menerima dokumen kerja yang disodorkan padanya. Hari itu berjalan dengan penuh tekanan. Kirana duduk di luar ruangan Radit, mencatat jadwal meeting, menjawab panggilan, dan menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru. Semua orang melihatnya dengan tatapan penasaran. Beberapa bahkan membicarakannya pelan-pelan. Di tengah kesibukan, salah satu rekan lamanya mengirim pesan: > “Kirana? Gila ya kamu, langsung jadi sekretaris bos besar! Ajarin dong caranya dapet hoki.” Kirana hanya bisa membalas dengan emoji tertawa, walau dalam hati kacau. Sore harinya, kantor mulai sepi. Kirana duduk termenung sambil memandangi catatan di laptopnya. Pintu ruangan CEO terbuka. “Kamu sudah selesai?” tanya Radit. “Sudah… sebagian.” “Aku antar pulang,” ucapnya sambil mengambil kunci mobil. “Gak usah… aku bisa naik ojek online.” “Kirana,” Radit menatapnya. “Kamu istriku. Setidaknya, pulang bareng denganku malam ini.” --- Sesampainya di apartemen, Kirana masuk ke kamarnya, menutup pintu, dan duduk di ranjang dengan tubuh lunglai. Sepatu ia lempar begitu saja. Ia menatap ke sekeliling kamar luas itu dan merasa kesepian. “Aku ini apa sekarang? Istri pura-pura? Pegawai yang harus diam?” Ia menangis pelan. Tapi air mata itu cepat ia seka. Setelah berganti pakaian, ia berjalan ke dapur untuk minum. Di sana, Radit sudah menata dua piring makanan. “Kamu belum makan, kan?” tanyanya. “Belum…” “Makan dulu. Aku pesenin dari restoran langgananku.” Mereka makan berdua dalam diam. Sesekali mata mereka bertemu, tapi segera berpaling. Suasana canggung, tapi ada sedikit kehangatan. “Terima kasih untuk hari ini,” ucap Kirana setelah menelan suapan terakhir. Radit menatapnya. “Aku tahu ini nggak mudah.” “Kenapa kamu pilih aku?” tanya Kirana akhirnya. “Butuh waktu panjang buat jawab itu. Tapi kamu bukan orang biasa. Aku lihat kamu kerja keras, jujur, dan… kamu peduli keluargamu.” Kirana terdiam. Setelah makan, mereka duduk berdua di balkon, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. “Kamu suka teh melati, kan?” tanya Radit sambil menyodorkan cangkir hangat. Kirana terkesiap. “Kok tahu?” “Aku memperhatikanmu. Bahkan sebelum kamu sadar.” Angin malam berhembus pelan. Kirana memegang cangkir teh itu dengan dua tangan. Hangatnya perlahan menenangkan hatinya yang kacau. Di antara keheningan malam itu, Kirana menyadari satu hal hidupnya takkan pernah sama lagi. Dan mungkin… itu tidak selalu berarti buruk. Kirana belum juga memejamkan mata malam itu. Meski tubuhnya lelah, pikirannya tetap berputar. Penuh tanya dan rasa ragu. Ia bangkit dari ranjang dan berjalan pelan ke dapur untuk mengambil air putih. Hening menyelimuti ruangan, namun suara langkah kaki terdengar mendekat. Radit muncul dari balik lorong menuju dapur, mengenakan kaos putih dan celana tidur. Wajahnya pun terlihat lelah, tapi tetap teduh. “Kamu belum tidur juga?” tanyanya. Kirana mengangguk singkat. “Belum ngantuk.” Radit membuka kulkas, mengambil air mineral, lalu menatap Kirana sejenak. “Hari pertamamu cukup berat, ya?” Kirana tersenyum pahit. “Lumayan... rasanya seperti hidup dobel. Di kantor aku sekretaris, di luar... aku istrimu.” Radit mendekat, bersandar di meja dapur. “Maaf karena membuat kamu harus menjalani itu semua sendirian hari ini.” “Kenapa sih harus dirahasiakan?” tanya Kirana pelan, tapi matanya serius. Radit terdiam sejenak. “Karena aku nggak ingin orang menilaimu cuma dari statusmu sebagai istriku. Aku ingin mereka tahu kemampuanmu dulu.” Kirana menatapnya lurus. “Tapi kamu sadar nggak sih? Aku kayak boneka yang diseret ke permainan yang aku bahkan nggak ngerti.” Radit menghela napas. “Aku ngerti. Tapi aku janji, aku akan buka semuanya satu per satu. Kamu cuma perlu percaya.” Suasana kembali hening. Namun, kali ini hening yang penuh dengan ketegangan emosional yang belum terurai. Akhirnya, Kirana memilih mundur pelan. “Aku tidur duluan, ya. Besok kita kerja lagi.” Radit hanya mengangguk, membiarkannya pergi. --- Esok paginya, suasana kantor masih sama sibuknya. Tapi bisik-bisik soal Kirana sebagai sekretaris baru CEO makin ramai. Ada yang terang-terangan mengomentari, ada pula yang hanya melirik dari jauh. Di ruangannya, Kirana sibuk mengatur jadwal meeting, mengonfirmasi undangan makan siang, dan menyusun berkas-berkas untuk tanda tangan. Pekerjaan itu sebenarnya tak asing baginya, tapi kali ini berbeda. Semua terasa lebih diawasi, lebih penuh tekanan. Menjelang siang, Radit mengintip dari balik pintu ruangan. “Kirana, ikut aku rapat di luar. Ada presentasi dengan mitra Jepang.” “Baik, Pak.” Selama perjalanan menuju lokasi rapat, mereka duduk berdampingan di dalam mobil, namun tak banyak bicara. Hanya sesekali Kirana menjelaskan dokumen yang dibawa. Radit mendengarkan dengan tenang. Di ruang rapat, Kirana terpesona melihat Radit yang begitu profesional. Gaya bicaranya, kepercayaan dirinya, cara ia menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris dengan lancar semuanya membuat Kirana melihat sisi lain dari pria itu. “Aku menikah sama orang kayak gini?” batinnya. Setelah rapat selesai, salah satu klien sempat bertanya pada Kirana, “Kamu sudah lama kerja dengan Pak Radit?” Kirana nyaris terdiam, lalu cepat menjawab, “Baru mulai minggu ini, Pak.” “Hmm... saya lihat kalian cukup akrab,” ujar pria itu, menyipitkan mata. Kirana hanya tertawa kecil, “Namanya juga kerja bareng, Pak. Harus cepat menyesuaikan diri.” --- Sore hari, mereka kembali ke kantor. Kali ini Radit menatap Kirana lama sebelum masuk ruangannya. “Kamu makin mahir,” katanya. Kirana mengangguk, sedikit kaku. “Terima kasih… Pak.” Radit tertawa pelan. “Panggil aku Radit aja, kalau kita lagi berdua. Tapi di luar tetap formal, ya?” Kirana ikut tersenyum. “Siap, Pak Suami.” Radit melirik, lalu masuk ruangan sambil menggeleng kecil. Kirana kembali ke meja kerjanya, tersenyum sendiri. Walau masih banyak hal yang belum jelas, satu hal yang ia tahu: hatinya mulai menerima kehadiran Radit, perlahan… tapi pasti. Dan mungkin, peran sebagai “sekretaris suami sendiri” ini akan jadi kisah yang jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN