"Gilakk, manis banget sih om."
"Mau?"
Jaya dan marimar yang melihat keduanya dari belakang langsung specless liat sikap mereka berubah drastis. Manis abiss. Tapi kalau disuruh hamil, ngerusak badan, jadi gendut, apalagi tau dari cerita-cerita, kalau bakalan sakit. Marimar menggeleng keras untuk menerima tawaran jaya.
"Ya udah."
"Aku anter kamu pulang ya. Aku gak enak sama mereka. Lagian kan kita juga gak ada urusan sama mereka." kata jaya pada marimar.
"Kamu gak mau ngenalin aku ke mereka, sebagai istri sirih kamu mungkin?" canda marimar pada jaya.
"Waktunya gak tepat sayangg."
Iya sih. Marimar juga tau kalau waktunya tidak tepat. Marimar pun tak ikut masuk, dia malah kembali ke mobil jaya yang berhenti didepan gerbang rumah itu.
"Aku pamit sama lisanya gimana?" tanya marimar pada jaya.
"Nanti aku yang bilangin ke lisanya ya."
"Iya deh. Lagian pakaian kamu terlalu seksi juga. Gak enakan dilihat dateng ke rumah duka."
"Iya sih."
Marimat melihat pakaiannya yang tak sempat ganti baju. Lisa juga, tapi pakainnya setidaknya tidak terlalu mencolok mata, warnanya masih soft. Punya marimar gaun seksi merah dengan bibir merah merona dan dengan riasan seksi.
Jaya menghentikan taxi untuk marimar. Jaya harus kembali untuk membantu pemakaman dan lain-lain mungkin. Mungkin dia akan dibutuhkan nanti.
"Daa sayang, aku tunggu di hotel ya nanti." kata marimar melambaikan tangan dari dalam taxi.
"Iya. Emmuachhh.."
Jaya memberikan sun jauh ke marimar. Marimar menyuruh supirnya untuk menjalankan taxi dan menuju ke hotelnya. Jaya kembali masuk ke rumah oma. Jaya membantu menyapa para tamu yang datang untuk berbela sungkawa.
"Silakan.."
Jaya ada diluar dengan menyambut bebetapa tamu dan mempersilakannya masuk. Sementara didalam lisa tak henti menggandeng tangan gio dengan erat. Antara dia gugup dan gugup saja. Gio memberikan jasnya untuk menutupi dress terang lisa yang dia kenakan.
"Itu papa aku, sama mama tiri aku." bisik gio yang menarik lisa untuk berjalan lebih dekat dengannya.
"Itu oma dan ada bibik di rumah ini. Ann.." kata gio berbisik lagi pada lisa. Ann? Lisa tau, dia harus mengganti namanya dan terbiasa dengan nama itu.
Annalis.
"Ma, paa.."
Gio menyapa papanya dan mama tirinya. Mereka juga sedang sibuk menyambut beberapa tamu penting yang datang.
"Kenalin, annalis. Ini kekasih gio." gio tak henti melepaskan tangannya dari pinggang lisa.
"Anna, mama, papa?" lisa melirik gio, benarkan dia menyebutnya seperti itu.
"Iya. Mama dan papanya gio." mama tiri gio menjabat tangan lisa dan menarik lisa kedalam pelukannya.
"Kamu beneran sedang hamil?" tanya mama tiri gio pada lisa. Dia bahkan mengusap perut rata lisa.
Lisa melirik gio dibelakangnya. Gio mengedipkan mata. Gip meyakinkan lisa untuk memulai melakukan kebohongannya.
"Iya, maaa." jawab lisa dengan lemah lembut.
"Berapa bulan?" tanya mama tiri gio lagi.
"Jalan dua bulan." kata lisa pada mama tirinya gio.
"Selamat ya. Jaga baik-baik kandungannya. Kamu sama gio kapan mau nikah? Kan kamu udah hamil."
"Nanti ma, setelah mengurus pemakaman opa mungkin." kata gio menjawabnya.
Setelah itu Lisa pun bergantian menjabat tangan papa gio. Gio tersenyum, kali ini berhasil. Tutur kata dan cara bicara yang manis.
"Oma?" gio mencari omanya.
"Oma ada disana. Oma gak bisa lihat jasad opa." kata papa gio menunjukan kalau oma ada didekat jendel dan menatap langit luar. Ditemani bibik yang setia disampingnya.
Bibik tau rasanya, dia juga dulu pernah kehilangan suaminya dan sampai detik ini memilih setia menunggu ajal agar dia bisa kembali bersatu dengan mendiang suaminya di surga.
"Kita ke oma dulu ya ma, pa."
"Iya. Hibur oma. Kasian oma."
"Iya pa."
Gio kembali menggandeng lisa untuk menemui omanya. Ketika sampai dibelakang sang oma. Gio melirik bibik yang ada didepan sang oma yang duduk di kursi roda. Oma menunduk, dia menangis. Tapi tak mau semua tamu melihatnya jadi oma meminta bibik untuk berdiri didepannya.
"Nangis lagi bik?" tanya gio tanpa mengeluarkan suara. Hanya gerakan bibir yang diperjelas.
Bibk hanya mengangguk pada gio. Bibik melihat wanita disebelah gio. Bibik yakin dia wanita yang gio maksud. Gio meminta bibik untuk menyingkir, memberi ruang pada lisa untuk berdiri didepan omanya dan menghibur omanya.
"Iya den."
Bibik pun mengerti maskud gio. Bibik bergeser dari depan oma. Berganti dengan lisa, dengan dress dan kaki cantik dan mulus lisa setelah perawatan tadi. Lisa memakai gaun dibawah lutut dan memperlihatkan kaki indah yang baru perawatan.
Lisa melirik gio. Gio memberikan kode untuk mulai menghibur omanya. Oma gio tak melihat siapa yang ada didepannya. Dia terlalu sedih sampai menangis dan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Omaaaa.."
Lisa menurunkan badannya. Dia berlutut didepan oma gio. Oma gio mendengar suara yang tak pernah dia dengar selama ini. Ketika dia membuka mata, oma sudah melihat pemandangan yang asing, lisa.
Oma menatap lisa dengan mata penuh bekas air mata dan kelopak mata yang masih terlihat berkaca-kaca. Lisa mengusap air mata omanya gio dari pipi keriput sang oma.
"Ini annalis oma." katanya pada sang oma.
Oma hanya diam dan menatap annalis. Oma dengar nama itu dari gio. Oma hanya belum bisa mengontrol emosinya dan berbicara dengan lisa.
"Ini annalis oma. Kekasihnya gio. Oma mau sentuh perut ann?" tanya lisa pada oma dengan lembut.
"Dia tau oma sedang sedih. Tapi dia juga ingin menghibur oma. Oma mau menyentuhnya?" tanya lisa lagi pada oma. Lisa kini benar-benar berlutut didepan kursi roda omanya gio.
Gio takjub. Lisa jauhh berubah. Dia bahkan tak kelihatan grogi. Kerja yang bagus.
Lisa meraih tangan omanya gio. Dia mengarahkannya keperutnya yang rata dan berisi kebohongan. Tak ada janin yang tumbuh disana. Tapi lisa juga ingin menghibur oma. Sebatas senyum kecil dari oma, lisa juga akan merasa lega melihat wanita tua didepannya itu menangis.
"Oma bagi kesedihannya sama ann ya. Sama bayi ann juga. Kita sayang oma."
Oma menangis sejadinya setelah lisa mengusap-ngusapkan tangan oma keperutnya. Lisa langsung memeluk omanya gio dengan erat.
"Ann tau oma pasti sedih. Tapi ann percaya kakek, opa bakalan lebih sedih kalau liat oma nangis seperti ini." kata lisa memeluk omanya gio.
Gio benar-benar tak salah pilih. Lisa benar-benar bagus dalam memerankan perannya.
"Oma gak mau lihat opa yang terakhir kalinya. Ann temani." kata lisa pada omanya gio.
"Kita temui opa bertiga. Ann, oma sama bayinya ann ya oma.. Biar bayi ann juga bisa lihat opa." kata lisa lagi.
Oma mengangguk. Dia melepaskan pelukannya pada lisa.