Bab.13 Pemakaman Kakek 6

1018 Kata
  Lisa berdiri dan akan ke ruang tengah. Dia ingin mendorong kuris roda oma, tapi gio menahannya. Gio mendekati mereka dan menggantikan lisa untuk mendorongnya.   "Biar aku, kamu kan lagi hamil." kata gio dengan lembut pada lisa.   "Iya, maaf."   Lisa hanya merespon begitu saja. Merasa bersalah. Gio pun mendorong kursi roda oma. Lisa berjalan disamping oma, tangannya tak henti dipegang oleh oma. Bibik berjalan disamping lisa.   Bibik senang melihat lisa yang bisa membuat oma sedikit bahagia.   Gio mendorong kursi roda oma untuk mendekati jasad opa. Oma mengusap paras tua suaminya yang akan dia lihat untuk terakhir kalinya. Oma mencium pipi sang suami yang kini sudah meninggal.   "Tolong lihat kami dari atas. Liat anak gio nanti. Ini calon istri dan anak gio, ada disini." kata oma menarik lisa untuk lebih dekat.   Lisa kembali berlutut mendekati oma dan jasad opa. Oma mengusap perut rata lisa seakan ingin menunjukan kepada sang suami, permintaannya sekian lama akhirnya akan terwujud. Walau semuanya sudah terlambat. Oma kembali tak bisa menahan air matanya. Lisa langsung mengusap air mata oma.   "Yo, mau dimakamkan kapan?" tanya jaya pada gio. Jaya ditanya beberapa pelayat yang datang.   "Mau nunggu mama atau gimana pa?" tanya gio pada papanya.   "Mama kamu sampai jam berapa emang. Paling besok. Mau nunggu besok."   "Terserah oma sih?" gio melirik omanya. Gio meminta lisa untuk menanyakannya pada oma.   "Omaa, oma mau opa dimakamkan sekarang atau besok nunggu mamanya mas gio datang?"   "Sekarang aja. Kasian opa kalau nunggu lama-lama."   Jawab oma. Lisa melirik gio dan yang lain. Mereka juga mendengarnya. Gio dan jaya juga mendengarnya. Mereka pun bersiap untuk membawa jasad opa. Jasadnya dibawa dengan mobil. Lisa satu mobil dengan oma dan bibik. Supir yang menyetirnya. Sementara gio dan jaya ada di mobil dengan jasad opanya yang sudah ada didalam peti.   Sepanjang jalan lisa tak henti memeluk dan sesekali mengusap air mata omanya. Oma duduk bersandat dibahu lisa.   "Oma yang tabah ya. Ada ann yang bakalan nemenin oma selalu." kata lisa pada omanya.   Bibik sangat senang sekali mendengar interaksi keduanya. Bibik setuju, sangat setuju dengan pilihan gio.   Mereka sudah sampai ditempat pemakaman. Gio dan jaya menggotong turun peti mati opanya, juga dengan papa gio yang naik mobilnya sendiri. Dia mendekati mobil ambulance untuk membantu membawa peti matinya.   "Hati-hati oma."   Sementara mama tiri gio mendekati mobil oma. Dia membantu oma untuk turun dan naik ke kursi roda. Oma bisa jalan cuma untuk jalan jauh kadang suka sakit kakinya. Jadi dia pakai kursi roda. Bibik dan lisa pun membantu oma turun dari mobil dan duduk dikursi rodanya.   "Bair saya ya sayangg.." kata mama tiri gio yang menahan lisa untuk mendorong kursi roda oma. Bibik juga ikut membantu.   "Iya non. Non kan lagi hamil muda, gak boleh angkat beban yang berat-berat. Termasuk dorong kursi roda oma." imbuh bibik pada lisa.   "Iya bibik. Mama, ann cuma mau bantu oma aja kok. Gak papa juga."   "Gak boleh lah, kan ada kita ya bik." kata mama tirinya gio.   Mereka berdua pun mendorong kursi roda oma ke liang lahat yang sudah digali. Gio dan papanya turun keliang lahat untuk menguburkan jasad opa. Setelah diletakan ditempat yang benar, menghadap kearah yang benar, gio dibantu jaya naik kembali keatas. Begitu juga dengan papanya gio. Gio berdiri disamping omanya dan lisa. Sementara papanya berdiri didekat sanh istri.   Beberapa orang pekerja dari tempat pemakaman itu datang. Mereka yang bertugas untuk menutuo liat lahat opa gio. Perlahan liang lahat itu pun tertutup. Oma tak lagi bisa melihat badan sang suami.   "Omaa.."   Ketika liang lahatnya tertutupi penuh. Lisa yang disamping omanya, yang sejak tadi menggenggam tangan oma menyadari kalau tangan oma lemas. Ketika lisa lihat, oma sudah pingsan.   "Omaa.."   Lisa mencoba menahan kepala oma, menopang kepala oma. Gio langsun mendekati omanya dan menggantikan lisa untuk menopang omanya.   "Bawa ke mobil aja yo." kata mama tiri gio.   "Iya ma.."   Gio dibantu jaya untuk membawa oma kedalam mobil. Oma dibaringkan dibelakang. Lisa masuk kedalam mobil dan memangku kepala oma. Mama tiri gio memangku kaki oma dan menahan tubuh oma agar tak jatuh ketika mobilnya jalan.   "Pelan-pelan pa bawa mobilnya." kata mama tiri gio pada papa gio yang menyetir.   Gio disamping papanya, dia tak henti melihat kebelakang untuk mengecek keadaan omanya.   "Kita bawa ke rumah sakit atau ke rumah aja yo?" tanya papa gio.   "Ke rumah aja pa. Nanti aku telpon dokternya oma."   "Ok."   Papa gio menyetir mobil dengan kecepatan normal menuju rumah omanya. Sesampainya disana jaya, gio dan papanya kembali menggotong oma masuk.   Bibik membantu membukakan pintu rumah agar mereka leluasan masuk.   "Ke mamar bawah aja pa."   "Iya."   Oma dibawa ke kamar tamu yang ada dibawah. Bibik menelponkan dokter yang biasa menangani oma. Sejak tadi lisa selalu disamping oma, mencoba membangunkan oma dengan wangi-wangian.   "Omaa.."   Lisa menggunakan minyak wangi untuk dia hirupkan didekat hidung oma. Gio yang melihat itu makin suka dengan sikap lisa yang terlihat sangat perhatian.   "Mas, olesin ke kaki oma sama tolong."   Lisa memberikan minyak wanginya pada gio. Gio pun mengoleskan minya wanginya ke kaki oma. Lalu lisa menarik selimut untuk menyelimuti oma.   "Opaa.."   "Oma.. Oma sudah sadar."   Oma terbangun dan mengigau. Lisa langsung mengusap pipi oma dengan sayang.   "Oma, ini ann. Oma gak apa-apa?" tanya lisa pada oma.   "Oma mau minum teh anget dulu?" tanya lisa lagi.   Lisa melirik bibik untuk membuatkan teh hangat. Bibik pun ke dapur dan langsung membuatkan teh hangat.   "Dikit aja oma."   Lisa membantu oma untuk meminum teh hangatnya dengan sendok. Oma pun sudah benar-benar sadar. Oma hanya menangis dan memeluk lisa yang duduk disampingnya.   Diluar ada jaya dan papanya gio, juga mamanya gio. Mereka sedang menunggu dokter. Tak lama dokter pun datang.   "Dokter, kesini.."   Jaya membantu dokter ke kamar dimana oma berada. Lisa berdiri agar dokter bisa berada disisinya untuk memeriksa oma. Seorang dokter perempuan mungkin sesuasi mama tirinya gio. Dia memeriksa oma.   "Gimana dokter? Oma gak kenapa-napa kan?" tanya gio yang ada dibelakang dokternya.   "Gak papa. Karena mungkin oma terlalu sedih dan syok. Nanti saya kasih vitamin saja untuk oma." kata sang dokter.   "Syukurlah."   "Sayangg.." oma memanggil lisa.   "Iya oma." lisa langsung mendekati oma.   "Jangan tinggalin oma yaa.." pinta oma pada lisa.   "Iya oma. Ann gak akan ninggalin oma." lisa duduk kembali disamping omanya gio. Dia tak pernah pergi dari sisi omanya gio.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN