"Gak harus dirawat atau diinfus dokter?"
Gio dan jaya mengantar dokternya keluar. Gio masih bertanya pada dokter yang biasa memeriksa oma.
"Gak apa-apa. Gak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya oma drop karena sepertinya dia terlu sedih. Saya turut berduka cita juga atas meninggalnya opa ya."
"Iya dok. Terimakasih."
Gio dan jaya mengantar dokternya sampai keluar. Hingga ke tempat parkir mobilnya. Gio bahkan membantu membukakan pintu untuk dokternya.
"Saya permisi yaa.." kata sang dokter yang akan pergi.
"Terimakasih sekali lagi dokter."
"Sudah jadi tugas saya."
Setelah mobil dokter itu pergi dari halaman rumah oma gio untuk kembali ke rumah sakit. Gio akan kembali kedalam, ke kamar oma. Tapi jaya malah pamit karena dirasa sudah cukup lama dan hari sudah cukup sore untuk dia tetap disana.
"Yo, gue balik ya. Gak papa kan gur tinggal. Kasian sayangnya gue di hotel sendirian."
"Iya gak papa kok jay. Thanks ya udah bantuin repot ngurus makam opa."
"Santai. Nanti kalau ada apa-apa, telpon aja."
"Ok sip."
"Ya udah, gue duluan ya."
"Iya."
Gio mengantar jaya sampai mobilnya. Jaya pun pamit pada gio. Setelah melihat sahabatnya itu pergi, gio kembali masuk ke rumah. Ketika dia melirik ruang makam. Bibik dan mama tirinya sedang menyiapkan makanan.
"Yo, ann suruh kesini. Makan dulu dikit, kan lagi hamil muda. Takutnya sakit dari siang belum makan kan?" kata mama tiri gio padanya.
"Iya ma. Gio panggil dulu."
Sementara papa gio juga sudah makan dan duduk di meja makan menikmati makanannya. Gio masuk ke kamar oma untuk mengatakannya pada lisa.
"Sayangg, makan dulu. Laper gak, kasian adeknya kalau gak makan. Kamu belum makan dari siang kan nemenin oma."
Gio mendekati lisa, dia berdiri tepat dihadapan lisa dan mengusap kepala lisa untuk menyuruhnya makan.
"Tapi omaa?" lisa tak tega meninggalkan oma.
"Iya makan dulu ya sayang. Kasian baby kamu. Oma biar ditemani gio."
"Iya oma. Anna makan dulu ya oma."
"Oma mau ann bawain makanan nanti. Oma juga harus banyak makan supaya cepet sehat."
"Boleh.."
Oma mengangguk menerima tawaran lisa yang akan membawakan makan siang. Lisa pun pergi ke ruang makan sementara gio menemani oma. Duduk disamping omanya yang masih berbaring.
"Gio udah suruh supir nebus vitamin oma. Nanti diminun dengan rutin loh oma." kata gio pada omanya.
"Iya."
"Gio kapan mau resmiin hubungannya sama annalis. Oma suka banget sama annalis. Oma setuju. Walau dia udah lama tinggal diluat, tapi dia sopan banget. Lembut banget."
"Nanti kalau oma sembuh. Makannya oma cepet sembuh, cepet sehat. Biar gio dan anne bisa cepet gelar pesta pernikahan."
"Oma udah sembuh. Oma gak apa-apa. Sekarang juga bisa kamu menikah sama ann. Atau besok?" kata omanya dengan nada bicara yang sudah normal. Tak terlalu lemah seperti tadi.
"Iya. Kalau oma besok sembuh, gio nanti atur pesta pernikahannya ya oma."
"Janji ya. Jangan bertengkar dan putus lagi kayak sama athala."
"Oma, apaam sih bahas lagi."
"Iya maaff.. Ann mirip ya sifatnya kayak athala, penampilannya juga."
"Kan dibahas lagi. Entar aku suruh ann gak boleh nemuin oma gimana?"
"Enggak, oma cuma kebetulan inget aja. Penampilannya mirip sekilas, makannya kamu suka ya sama dia."
"Beda oma. Ini gio cinta sama ann karena sifat ann jauh lebih baik dari athala. Buktinya gio sampai hamilin dia, karena gio gak mau kehilangan dia. Beda oma, rasanya gio sama athala sama anna, jauh beda banget."
"Iya-iya, oma yakin. Kamu lebih cinta sama anna."
"Iya lah."
Gio dan omanya asik ngobrol dan berbicara dengan tentang semua hal hampir membicarakan soal annalis yang tak lain adalah karakter yang gio buat dengan sesempurna mungkin yang juga harus sempurna dimainkan oleh lisa. Lisa sendiri sedang menikmati makanannya.
"Sayang, banyakin makan sayur. Biar baby kamu sehat."
Ada mama tiri gio yang mengambilkan beberapa makanan dipiringnya lisa.
"Iya mama, makasih."
Lisa pun menikmati makanannya dengan mama tiri dan juga papa kandung gio.
"Kamu udah di indonesia berapa tahun? Kok gio baru ngenalin ke kita sih." kata mama tiri gio yang hanya sekedar ngobrol dengan lisa, yang sedikit masih asing untuk mereka.
"Emm.."
"Ma, lagi makan. Jangan diajak bicara dulu. Kasian kan." gio datang dan menghampiri lisa. Dia duduk disamping lisa.
"Oma gimana? Oma kamu tinggal?"
"Oma udah tidur. Gak apa-apa. Aku laper, aku mau makan juga."
Kata gio dengan manisnya. Kenala gio melakukan itu, ada mama tiri dan papanya.
"Mau makan pakai lauk apa? Aku ambilin?" tanya lisa yang akan berdiri mengambil piring dan mengambilkan nasi juga lauknya.
"Punya kamu aja, aku mau disuapin kamu." kata gio pada lisa. Lisa nengerutkan kening.
Gilak sih sikapnya manja banget, manis banget. Lisa suka.
Lisa pun menyuapi gio makan, sebaliknya gio menyuapi lisa juga. Mama tiri dan papa gio hanya melihat kemesraan keduanya. Selesai makan gio bahkan mengelap bibir lisa.
"Yo, mama kamu kapan datang?" tanya papa gio setelah melihat anaknya selesai makan.
"Malam mungkin papa. Papa mau pulang sama mama, pulang aja. Biasanya juga oma sama aku kan."
Gio yang dingin keluar. Entah papa atau mama kandungnya kan juga suka sibuk dengan keluarga mereka masing-masing. Selesai makan bibik membereskan meja makan. Mama tiri gio jug ikut membantu. Setelah ini mereka akan pulang tapi pamit kepada oma lebih dulu. Lisa yang ingin membantu bibik dan mama tiri gio untuk membereskan meja makan malah dilarang gio.
"Gak usah. Kamu bukan pembantu." gio menahan tangan lisa dan nenaruh piring yanh lisa amibil kembali ke meja.
"Liat oma aja."
Lisa menatap bibik dan mama tirinya gio untuk meminta maaf karena tak bisa membantu. Gio menggandeng lisa kembali ke kamar omanya. Ternyata omanya masih tidur.
"Kamu kok gitu sih sama mama sama papa kamu." kata lisa membahas soal tadi.
Maksudnya awalnya itu gio sikapnya baik dan manis didepan papa sama mama tirinya. Tapi jadi makin dingin.
"Mereka itu gak perlu dipentingin atau dibaikin, mereka juga seenaknya. Gak mikirin perasaan aku, kenapa papa sama aku cerai dan kenapa mereka pada nikah lagi."
"Tapi kan mereka orang tua kamu. Jangan gitu, ucapan kamu itu tadi dingin sama mama sama papa kamu."
"Jangan ikut campur soal ini, saa.."
"Sayangg, anna.."
Oma terbangun. Mereka berdebat dikamar oma. Tadinya gio hampir kelepasan akan menyebut nama lisa. Sa, lisa? Tapi ketika omanya bangun dan melihat mereka bertengkar. Gio langsung menghentikannya.