Bab.15 Oma Sakit 2

1009 Kata
  "Gio jangan bertengkar sama anna, inget dia lagi hamil."   Oma terbangun karena mendengar pertengkaran gio dan lisa, oma bahkan sudah terduduk, bersandar dipunggung ranjang. Oma meminta gio untuk tidak melanjutkan perdebatannya dengan annalis, lisa yang dia tau, karena itu tidak baik untuk kehamilan annalis.   "Sini sayang, deket oma."   Oma memanggil lisa untuk menjauh dari gio dan duduk disamping oma. Lisa pun melirik gio sebelum dia pergi dari hadapannya. Lisa duduk disamping omanya gio.   "Kamu gak apa-apa kan sayangg?" tanya sang oma mengusap punggung tangan lisa yang dia genggam.   "Enggak apa-apa oma."   Oma menatap kearah gio dengan kesal. Sedikit marah.   "Gio, jangan pernah bicara dengan anna seperti itu lagi. Anna lagi hamil, dia gak boleh dibentak, kamu jangan debat sama dia, jaga perasaan dia. Nanti berpengaruh kejaninnya. Kalau ann kenapa-napa sama janinnya gimana?"   "Iya oma maaf. Ann itu terlalu ikut campur oma. Dia gak tau aja mama tiri gio seperti apa dulu, papa juga sama aja kan oma."   "Tapi gak usah pakai bentak dan bicara dengan nada keras ke anna."   "Iya oma. Gio minta maaf."   "Bukan minta maaf ke oma. Tapi minta maaf ke ann, gio."   "Iyaah, gio minta maaf ke ann."   Gio mendekati lisa, dia berdiri tepat didepan lisa. Lisa menunduk sedikit gugup. Gio mengusap kepala lisa dengan lembut.   "Aku minta maaf, harusnya aku gak debat atau bentak kamu tadi. Aku minta maaf ya sayang."   Cup..   Satu kecupan gio layangkan ke puncak kepala lisa yang menunduk. Lisa gak nyangka bisa dapat kecupan itu dari gio.   "Minta maaf ke anak kamu juga gio." kata oma yang melihat keduanya.   "Papa minta maaf ya sayangg.."   Kali ini gio menunduk, berjongkok didepan lisa. Gio bahkan mengusap perut lisa dengan lembut.   "Papa janji gak akan ngulanginnya lagi. Papa gak akan bentak kamu atau mama."   Satu kecupan lagi gio berikan diperut lisa. Lisa sangat terkejut dan kaget, serasa ada kupu-kupu yang terbang-terbang dalam perut bahkan hatinya. Lisa terus menyakinkan diri, gak akan ada perasaan cinta seperti yang gio minta.   Tapi bagaimana tidak perlahan mencintai gio kalau sikap gio semanis itu.   Lisa bisa jatuh cinta.   "Aku gak apa-apa kok oma.." bukannya menatap gio dan membalas ucapannya, lisa yang malu, tak mau menatap gio.   Dia juga tak mau kelihatan terpesona dan salah tingkah. Lisa pun mengatakannya pada sang oma.   "Oma, kepala ann sakit. Ann boleh tidur disamping oma gak. Ann pengen istirahat." bisik annalis pada oma.   "Tuh kan. Gara-gara kamu sih gio."   "Ya sudah tidur sayang disini."   Oma bergeser untuk memberikan tempat agar annalis bisa tidur disebelahnya. Tapi oma baru ingat, oma kan juga sedang sakit. Annalis yang hamil tak boleh dekat-dekat dengan dia, apalagi tidur disampingnya.   "Sayang, ann tidur di kamar gio aja ya. Kalau ann tidur dekat oma, oma kan lagi sakit. Takut nularin ann. Ann kan masih rentan karena hamil muda."   "Omaa, oma kan gak demam. Gak akan nular ke ann omaa. Ann tidur disini ya. Kepala an sakit."   "Oma jangan lupa minum vitaminnya."   Lisa tak perduli. Dia tidur dan berbaring disamping omanya. Oma gio juga baru sadar, badannya tidak demam. Jadi aman untuk ann. Oma menarik selimut untuk menyelimuti lisa.   Lisa yang sebatangkara langsung tidur dengan memeluk oma yang duduk disamping.   "Gantian deh cucu oma yang tidur peluk oma."   Lisa hanya diam dan tak bergerak. Dia sudah nyaman bahkan sudah memejamkan mata. Oma menyibakan rambut panjang annalis yang menutupi wajah ann.   "Udah tidur. Kasian banget pasti kelelahan. Kamu tuhh, jangan diajak berantem. Sakit kepala kan cucu menantu oma."   "Lagi hamil muda harus dimanja. Kasian dibentak-bentak."   Oma mengusap-ngusap kepala annalis yang sudah tertidur pulas.   "Oma, jangan lupa minum vitamin. Tanya ke mas ya vitaminnya udah dibeli atau belum."   Annalis mengigau, oma lihat dia tidur sambil bicara. Oma tersenyum mendengarnya, dia persis seperti anak kecil. Gio juga, betapa gemasnya dengan sikap lisa yang mengigau.   "Panas gak badannya? Biasanya kalau ngigau itu panas. Kalau panas kasian ann sama bayinya." oma menempelkan punggung tangannya ke kening annalis untuk mengecek suhu tubuh annalis.   "Gimana oma?" tanya gio pada omanya.   Gio takjub, akting lisa yang tadinga kaku jadi kayak natural banget. Omanya menggeleng.   "Untung gak panas suhu tubuhnya. Kamu ada s**u hamilnya anna kan?"   "Belum ada oma. Baru aja kita tau dua hari lalu. Belum ada s**u hamilnya."   "Kamu beli deh. Buat nanti kalau anna udah bangun."   "Gio gak papa ninggalin oma?" tanya gio pada omanya.   "Gak papa lah. Ada bibik kan di rumah."   "Iya. Ya udah, gio pamit ya oma."   Gio pamit pada omanya. Dia mencium punggung tangan omanya. Tapi oma malah meminta gio untuk mencium kening annalis dulu sebelum pergi, katanya untuk menambah rasa cinta. Kalau mau pergi, pamit, harus cium kening istrinya. Gio pun mencium kening lisa yang tertidur pulas.   -   "Yo, papa sama mama mau pamit pulang. Oma udah bangunkan?" tanya papa gio yang akan ke kamar oma. Dia melihat gio keluar dari sana.   "Gak usah pamit pa. Langsung pulang aja." kata gio yang akhirnya pergi.   "Kalau butuh aja baik. Udah gak butuh, gitu tuh dasar anak durhaka." dumel papa gio setelah anaknya pergi.   "Udah ahh mas. Pamit dulu sama oma, biar dapet kesan baik dari oma. Kalau oma mati, kita dapet warisannya deh."   "Iyaa harus itu."   Papa gio pun menggandeng istrinya masuk ke kamar oma. Mereka malah melihat oma yang sedang menemani annalis tidur dan mengusap-ngusap kepalanya.   "Oma, ann tidur disini?" tanya mama tiri gio. Dia sejak dulu ingin sekali dekat dengan mamanya sang suami. Tapi tak pernah direstui hubungan mereka. Walau akhirnya oma kini bersikap lebih baik.   "Iya. Tadi dia sakit kepala, kasian. Ya udah dia tidur sama oma. Kalian sudah mau pulang?" tanya oma pada keduanya.   "Iya oma, maaf ya oma kita harus pulang. Aku ada beberapa kerjaan." kata papa gio.   "Hendra juga pasti butuh aku oma." imbuh mama tiri gio.   "Iya gak papa. Oma tau, lagian udah ada annalis yang nemenim oma."   "Nanti kita pasti sering-sering jengukin oma kesini."   Mama tiri gio dan papanya gio pun pamit pada oma. Mereka langsung keluar karena diminta oma untuk tidak berlama-lama didalam kamarnya, takut mengganggu tidurnya annalis.   "Resekk.. Oma jadi lebih sayang sama kekasihnya gio."   "Apa kita harus menyingkirkannya sayang?"   Mereka diluar rumah dan membicarakan itu. Mama tiri gio mengangguk. Itu ide yang bagus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN