Bab.16 Oma sakit 3

1009 Kata
  Hari sudah malah, bahkan larut. Mungkin hampir jam sepuluh. Gio sendiri juha baru makan malam. Sampai akhirnya ada tamu yang tadi pagi diundang, tapi ini baru sampai.   "Yo, oma mana?"   Mamanya kandung gio yang dari luar kota baru sampai dengan suami barunya.   "Lagi di kamar ma." kata gio santai pada mamanya.   "Mama mau liat dulu." kata sang mama.   "Iya ma. Ada di kamar tamu, soalnya tadi oma pingsan."   "Oma pingsan?"   Mama kandung gio langsung lari ke kamar tamu yang ada dibawah. Sementara gio berbicara dengan papa tirinya.   "Om, mau minum apa?" tanya gio pada suami mamanya.   "Gak usah yo."   "Gak papa om. Kan dari jauh, pasti haus. Udah makan belum? Aku minta bibik siapin ya."   "Minum aja deh, nanti om pesen pizza aja biar gak ngerepotin bibik."   "Ya udah."   Gio menemui bibik dan meminta bibik untuk membuatkan minuman untuk suami mamanya. Gio melirik rak dimana dia meletakan s**u hamil yang sudah dia beli tadi.   "Tidur kebo banget sih, belum bangun-bangun sejak tadi sore." kata gio melirik s**u hamilnya sambil menunggu minuman untuk omnya selesai.   "Den gio. Orang hamil itu badannya gampang capek. Apalagi ini hamil pertama baru dua bulan lagi. Pasti capek banget tadi jagaian oma." kata bibik sambil membuatkan teh.   "Orang cuma nemenin apa, diri aja bik. Disisih oma."   "Ya gitu aja capek den. Den gio sih gak ngerasain."   "Kalau gio ngerasain, gio gak butuh cewek buat bikin anak."   "Apaan sih den. Ini minumnya. Dibawa kesana."   "Iya bik. Makasih ya. Aku cuma khawatir aja, belum makan apa-apa sama minum. Udah tidur berapa jam coba." kata gio tak mau bibik salah paham kalau dia tak mencintai annalis mungkin.   "Iya bibik tau. Gak papa, biasanya wanita hamil lebih sering makan malam. Nanti tengah malam juga bangun kelaparan."   "Gitu ya bik."   Gio pun kembali ke ruang tengah dan membasakan dua gelas teh untuk dirinya satu dan untuk suami mamanya satu. Mereka sama-sama nonton bola dan ternyata pizzanya sudah datang.   "Pizza yo?" kata papa tiri gio pada gio.   "Iya pa."   Papa tiri gio akhirnya tersenyum mendengar gio memanggil dirinya papa. Terkadang begitu sama memanggil om dan kadang begitu saja memanggil papa. Asal gio suka dan nyaman aja.   "Kamu dukunh tim mana?"   Mereka asik bercanda tentang bola. Saling taruhan. Gio asik di ruang tengah sementara mama gio, ketika masuk ke kamar malah melihat ada seorang wanita muda, mungkin sesusia gio tidur dengan mama mertuanya dulu.   "Ma, dia siapa?"   Oma baru saja makam malam didalam kamar dengan dibantu bibik. Makannya oma belum tidur lagi. Oma duduk bersandar dipunggung ranjang, disamping annalis yang tertidur. Sejak tadi juga oma mengusap perut annalis dengan lembut. Tapi sepertinya lisa tak terganggu, dia malah nyaman dan memeluk oma sejak tadi.   Lisa sendiri yatim piatu.   "Mama, ini siapa kok tidur sama mama?" tanya mama gio melihat lisa yang tidur dengan mamanya.   "Pacar gio. Lagi hamil. Bentar lagi mereka mau nikah." kata oma pada mama kandung gio.   "Kok, tuh anak gak ada ngomong apa-apa sih sama mamanya. Bener-bener ya tuh anak. Baik gak ma anaknya, asal usulnya gimana?"   Belum juga oma menjawab mama gio sudah keluar dan menuju ruang tengah lagi. Mama gio langsung menggebrak meja didepan gio.   "Apaan sih ma. Kayak preman tau gak? Gak malu sama suaminya?" tanya gio kaget.   "Itu wanita didalem, sama oma siapa? Kata oma pacar kamu, lagi hamil lagi? Kamu tau asal usulnya, bebet bobotnya?"   "Tau ma. Aku kenal dia dari luar kok, waktu ada pekerjaan. Lagian juga oma suka sama ann. Gak papa lah."   "Ann?" tanya mama gio tak mengerti maksud gio.   "Annalis. Nanti mama bakalan tau semuanya juga kok kalau aku bikin konferensi buat pernikahan kita."   "Mama sama om mau nginep atauu?"   "Nginep aja, besok baru kita balik ke luar kota."   "Oh, aku bilang bibik buat siapin kamarnya ya."   Gio pergi untuk menemui bibik. Gio minta ke bibik untuk membereskan satu kamar untuk mama dan suami keduanya.   "Yo, jangan bekas kamar mama sama papa kamu ya." teriak mama gio pada gio.   "Itu dipakai gio ma. Mau bekas kamar gio aja?"   "Boleh."   "Beresin ya bik, tolong."   "Iya den."   Bibik ke lantai atas, menuju ke kamar bekas gio muda dulu. Tapi kalau dia rindu dengan kebersamaan mama dan papanya, dia ke kamar mereka. Jadi gio memilih tidur di kamar itu.   -   Jam sudah menunjukan waktu tengah malam. Mama dan papa tirinya gio bahkan sudah tidur di kamar yang sudah bibik bersihkan. Sementara gio malah memilih tidur disofa ruang tengah untuk menjaga omanya, takut tiba-tiba omanya butuh sesuatu. Walau sebenarnya ini tak pernah dia lakukan, tidur disofa.   Ditengah malam lisa malah terbangun. Perutnya kroncongan. Lisa melirik oma yang sudah tertidur pulas, dia mencari tas dan ponselnya, ada didekat meja sebelah tempat tidur. Lisa melihat jam di ponselnya.   "Jam 12 malam.."   Lisa kaget melihatnya, terakhir dia ingat dia tidur sore, menjelang sore malah. Sampai bangun tengah malam. Lisa keluar kamar dengan perlahan, dia pun melangkah dengan perlahan agar tidak membangunkan oma dan menggagu tidurnya.   Lisa menuju ke dapur. Dia mencari sesuatu untuk dimakan.   "Duh, laper bangetttt. Biasanya kan ada cemilan kalau di kontrakan. Atau keluar cari makan. Ini gak tau didepan ada apa."   Lisa mencari beberapa bahan makanan untuk dia masak. Lisa hanya melihat telur dan roti. Sisanya sayuran dan beberapa bumbu dapur.   "Bikin masakan, berisik gak ya?" lisa melirik kanan kiri, takut menggangu orang tidur.   Tapi lisa tak tahan, dia sangat kelapatan. Lisa pun akhirnya memasak dengan bahan yang ada, roti dengan telur, dengan sedikit saos yang ada disana, mayonise dan sayuran.   Gio yang tidur di ruang tengah, tak jauh dari sana mendengar suara berisik dari dapur. Bahkan gio mencium bau masakan. Gio terbangun, dia melihat jam dinding yang ada ditengah antara ruang tengah.   "Jam berapa?"   "Siapa yang masak jam segini?"   Gio mencoba membuka mamanya lebar dan melihat jam raksasa disana. Jam 12 malam.   Siapa yang masak?   Hantu? Atau maling?   Gak mungkin maling masak? Maling kan tugasnya mengambil barang.   Pikiran gio kemana-mana. Karena penasaran gio pun akhirnya memutuskan untuk melihat langsung ke dapur. Ketika dia lihat, ternyataaa...   "Ngapain?" tanya gio dengan tangan bersedekap dan menatap lisa masak tengah malam.   "Maaf, aku laper. Jadi masak, mau beli online. Gak ada uang." kata lisa merasa salah didepan gio.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN