Oma terbangun, dia meraba disebelahnya, tapi tak ada annalis disana. Oma mencoba bangun dan membuka matanya untuk memeriksa annalis. Tapi memang annalis sudah tak ada disampingnya.
Oma melihat jam di kamar itu. Tengah malam, annalis-nya dimana?
Oma mencoba turun. Keadaan oma sudah lebih baik. Disekitar rumah juga dia bisa berjalan. Oma pun berjalan keluar dan mencari dimana annalis. Oma menciun bau masakan. Kalau bau masakan harusnya kan di dapur.
"Apa di dapur ya jam segini." gumam oma pada dirinya sendiri.
Oma pun melangkah menuju dapur. Ketika hampir sampai disana, langkah oma terhenti. Oma melihat annalis disana dengan gio. Oma jadi ingat waktu dia hamil dulu, persis seperti annalis.
"Pasti anaknya kelaperan tengah malam." kata oma yang memutuskan berhenti dan memperhatikan mereka dari jauh.
"Mau makan apa, aku pesenin?" tanya gio pada lisa. Gio sudah memegang ponsel yang dia bawa untuk menerangi rumah yang gelal karena lampu selalu dimatikan kalau sudah larut.
Kecuali lampu di dapur yang lisa nyalakan untuk dia memasak disana.
"Boleh?" tanya lisa ragu. Gio mengangguk.
"Emm, pizza, burger, kentang goreng, sosis sama bakso bakar, fried chiken boleh."
"Banyak banget."
"Ya udahh gak usah, ini aja."
Lisa tak jadi meminta dipesankan. Lisa menunjuk roti isi telur dengan berbagai saos yang dia buat. Ada dua roti isi yang dia buat.
"Kamu laper atau laperr?" tanya gio pada lisa.
"Gak jadi. Gak usah dipesankan." lisa ngambek pada gio.
Oma yang melihatnya dari jauh gemas sendiri. Oma ingin sekali mendekati mereka. Tapi juga ingin melihat bagaimana kelanjutannya.
"Kamu tuh beneran kayak haa-"
Hamil
Gio mau bilang kalau akting lisa itu bagus, sangat mengkhayati. Dia beneran kayak orang hamil, tadi sakit kepala, ini makan banyak, tengah malam lagi.
Oma
Lisa memberitahu gio kalau ada oma yang mengawasi mereka berdua. Ketika gio akan menyelesaikan ucapannya lisa malah membungkam mulut gio dan memberitahu gio dengan berbisik kalau ada oma.
"Oma?"
Gio bingung lisa memberitahu itu. Gio ingin melihat kebelakang. Tapi dilarang oleh lisa.
"Beliin aja yo, kasian anna sama anaknya kelaperan."
Sampai akhinya oma mendekati keduanya. Lisa pun langsung melepaskan bekapan tangannya dimulut gio.
"Oma gak papa, oma udah sehat?" lisa mengalihkan pembicaraan dan langsung menghampiri oma.
"Oma ngapain kesini. Oma istirahat aja di kamar. Oma butuh sesuatu?" gio juga mendekati oma untuk menuntunnya kembali ke kamar.
"Emang ya, cucu ini sayang banget sama oma. Sampai cari istri juga bisa cari yang sayangg banget sama oma." puji oma pada keduanya.
"Oma istirahat ya di kamar. Ann anter ke kamar."
"Oma mau disini. Dari tadi udah tidur di kamar terus. Bosen. Oma mau liat kalian berduan tuh manis-manisan kayak tadi, lucu. Oma suka liatnya."
"Omaaa.." annalis mengeluh dengan nada malu.
"Kenapa mukanya malu gitu. Gak papa lah kan saling cinta, udah mau punya anak lagi. Harus mesra, jangan bertengkar. Nanti kalau oma nyusul opa-"
"Oma, jangan ngomong gitu. Ann gak suka oma ngomong gitu. Oma gak mau sama ann terus."
Gio tadinya ingin menghentikan ucapan omanya. Ingin sedikit memarahi omanya, tak boleh berbicara seperti itu. Tapi lisa malah mendahuluinya. Bahkan sampai menangis mengatakannya.
Gila! Gio gak nyangka akting lisa top.
Lisa menangis mendengar ucapan omanya gio. Oma gio yang melihat annalis menangis langsung mengusap air matanya dan memeluknya.
"Oma gak akan ninggalin ann. Oma kan mau main juga sama anak ann dan gio. Oma juga mau jagain ann dari gio yang pelit ya? Kamu minta dibeliin banyak makanan gak dikasih ya sayangg?"
Oma mengubah topik pembicaraan dan mencarikan suasan. Lisa pun seakan tau arah oma.
"Iya oma. Dia pelit banget. Yang katanya terkenal sama bapak gio pemilik perusahaan besar, ibu dari anaknya cuma minta makanan sebanyak itu gak dibolehin. Pelit bangett.."
"Ihh, siapa yang gak bolehin oma. Siapa yang pelit, kan aku tanya, sebanyak ituu. Emang habiss? Gitu maksudnya oma. Bukan gak mau beliin."
"Kan sama aja oma, masak beliin sebanyak itu pakai tanya. Kan tinggal beliin." lisa menunkuk gio dari pelukan sang oma.
Oma yang melihatnya malah tersenyum lucu melihat tinggkah mereka berdua.
"Udah ahh, beliin gio. Kasian." kata oma pada gio.
"Iya aku pesenin. Nihh." gio menunjukan beberapa nakanan yang sudah diminta oleh lisa. Dia mengacak rambut lisa kembali karena gemas dengan aktingnya.
Manis banget aktingnya. Gak habis pikir gio. Manjanya dapet.
"Ya udah ann ambil itu dulu ya oma, sebelum pesenannya datang." lisa lega dengan semua drama akhirnya dia bisa makan sepuasnya.
"Mas, ajakin oma ke ruang tengah. Buat duduk disofa, kasian kalau berdiri terus capek." kata lisa sambil menuju dapur.
"Hati-hati sayang, jalan liat kedepan." kata oma yang malah mengakhawatirkan langkah lisa.
"Iya oma." lisa pun berjalan melihat kedepan.
Sementara gio menuntun omanya untuk duduk disofa seperti perintah lisa. Gio jadi heran, kenapa dia yang nurut sama lisa. Gio tak habis pikir, dia kira lisa itu permalu. Tapi ternyata jauh dari kata pemalu.
"Oma mau minum sesuatu? Teh atau apa? Tapi yang bisa gio buat aja oma." kata gio menawarkan diri tapi minta oma gak pesen minuman yang macem-macem..
"Air putih aja yo. Sama buah ya yo, tolong ambilin."
"Iya oma."
Gio ke dapur untuk mengambilkan permintaan oma. Sementara lisa kembali dengan membawa makannya. Lisa duduk disamping sang oma dan menyalakan tv.
"Oma butuh sesuatu?" tanya lisa sambil memakan roti isi yang dia buat.
"Enggak. Oma cuma butuh kamu sama gio disamping oma."
Lisa langsung memeluk oma. Gio kembali dengan air putih dan buah untuk oma. Gio bahkan mengupaskan apel untuk oma. Sementara lisa menikmati ro isi yang dia buat.
Tak lama suara bel pintu mereka berbunyi. Gio tau itu pasti orang yang mengantar makanan. Gio pun langsung menuju keluar untuk menganbil. Dia kembali dengan beberapa bingkis makanan..
"Nih makanan yanh kamu minta. Udah dateng semua." kata gio menaruh semua makanannya diatas meja.
"Wahhhhh,"
Lisa langsung membuka satu persatu makanannya dan menikmatinya satu persatu. Gio tak habis pikir, lisa makannya banyak? Dengan keadaan tidak hamil. Mungkin kalau beneran hamik gio maklum. Tapi ini?
Tapi gio senang, dengan begini akan lebih meyakinkan.
"Oma boleh makan pizza? Sosis atau apa oma?" tanya lisa yang sejak tadi makan sendiri jadi menawari sang oma yang duduk disampingnya.
"Enggak, oma kenyang liat kamu makan. Habisin, biar cepet gede perutnya, sehat baby kamu. Oma gak sabar nunggu dia lahir."
Lisa mengangguk menjawab ucapan omanya gio. Walau didalam dirinya dia merasa bersalah karena semua ini kebohongan semata.