Part 14. Naik Moge Bareng

1659 Kata
"Selamat hari pembebasan," ucap Chika penuh semangat. Pagi ini ia telah resmi dibebaskan. Chika bisa mengenakan pakaian bebas, tanpa harus malu bertemu dengan orang-orang nantinya. Namun, Chika tetap saja kepikiran dengan dampak buruk yang akan ia dapatkan setelah keluar dari penjara. Dikucilkan teman-teman sekantor, dan dipecat dari tempatnya bekerja. Chika harus tegar menghadapi itu semua. "Nggak apa-apa lah. Bisa keluar dari tempat ini aja, aku udah bersyukur banget." Posisi gadis yang mengenakan t-shirt hitam serta celana jeans panjang itu tengah berada di halaman depan rutan. Sebelumnya ia sudah pamitan dengan para petugas sipir sewaktu di dalam rutan tadi. Chika niatnya akan langsung pulang ke rumah ibu tirinya. Biar bagaimanapun, baju serta barang-barang Chika masih ada di sana. Mau tidak mau ia harus datang ke rumah ibunya untuk mengambil barang-barangnya. Setelah ini, Chika berencana tinggal untuk sementara waktu di markas Cogan Sleman, selagi ia belum mendapatkan pekerjaan apalagi uang. Chika tidak mungkin datang ke tempat kerjanya yang dulu. Meski tidak ada konfirmasi apa-apa dari atasannya, tapi Chika sudah sangat yakin dirinya pasti tidak akan diterima bekerja di sana lagi. Pastinya beberapa dari rekan kerjanya sudah pada tahu dengan kabar kasus pembunuhan yang sempat menyeret namanya itu. Bicara soal markas Cogan Sleman, markas tersebut berupa sebuah rumah yang ditinggali oleh Aaron dan dan teman-temannya. Sebenarnya tidak tinggal menetap di sana. Hanya sebatas sebagai tempat untuk kumpul-kumpul saja. Namun, Aaron lebih sering menginap di sana ketimbang pulang ke rumah orang tuanya. Di markas pun ada seorang asisten rumah tangga sekaligus tukang kebun. Tadinya Chika sempat menolak tawaran Aaron untuk tinggal sementara di markas. Niatnya gadis itu ingin numpang tinggal di rumah Luna. Namun, setelah dipikir-pikir, Chika merasa tidak enak dengan ayah Luna. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, Chika bersedia untuk tinggal sementara waktu di markas. Chika mulai berjalan menuju gerbang rutan. Ia refleks menghentikan langkahnya ketika ada moge yang tiba-tiba memasuki halaman rutan. Lebih tepatnya moge Honda CMX 500 Rebel berwarna hitam itu berhenti tepat di hadapannya. Si pengendara moge tersebut mematikan mesin dan mulai melepas helmnya. Senyum tipis ia suguhkan untuk menyambut tatapan hangat Chika. "Aku mau pulang ke rumah Ibu dulu, Mas. Mau ambil baju-bajuku," kata Chika membuka obrolan. "Ya udah, aku anterin." Aaron lalu memberikan helm satunya lagi pada Chika. Tak lupa ia membantu Chika untuk memakai helm tersebut. Sebelum Chika membonceng di belakang, Aaron sempatkan dulu melepas jaketnya, dan memakaikannya pada Chika. Kebetulan ia memakai kaus lengan panjang. Jadi ia merasa tidak masalah kalau jaket miliknya ia pinjamkan pada Chika. "Ini masih pagi. Akhir-akhir ini udaranya cukup dingin. Aku biasanya suka ngebut kalau naik motor. Takutnya kamu nanti kedinginan, jadi mending pake jaketku aja." Chika mulai merasa ada getaran-getaran aneh pada hatinya ketika mendengar Aaron lagi-lagi mengumbar perhatian padanya. "Lah terus nanti kamunya nggak kedinginan kalau jaketnya aku pake?" "Nggak masalah. Aku kan laki. Polisi lagi. Aku udah biasa kedinginan. Ayo, naik. Nanti siang aku mulai bertugas. Jadi sebelum jam dua belas siang, kamu harus udah ada di markas. Seenggaknya aku nanti kerja kan nggak terlalu cemas mikirin kamu. Kalau kamu udah ada tempat tinggal kan aku berasa tenang." "Perhatian banget sih jadi orang? Nanti naksir loh," celetuk Chika. Ia lalu membonceng di belakang. Chika cukup kaget ketika Aaron tiba-tiba menarik kedua tangannya untuk memeluk pinggang lelaki itu. "Kan tadi aku udah bilang. Aku biasa ngebut. Kalau nggak pegangan, nantinya kamu jatuh, gimana?" Aaron mulai menyalakan mesin motornya kembali. Sementara Chika sedang beradaptasi dengan rasa deg-degan tak biasanya. Sewaktu pacaran dengan Gavin, Chika tidak pernah merasa gugup seperti ini, meski beberapa kali ia sempat melakukan kontak fisik dengan Gavin. Namun, lain lainnya dengan Aaron. Baru memeluk pinggang pria itu saja, Chika sudah merasa sangat gugup. Rasanya ia ingin buru-buru sampai supaya bisa membebaskan tangannya. *** Motor Aaron telah sampai di depan pagar rumah Chika. Lantas Chika pun turun kemudian melepas helm. "Kamu nggak mau ikutan masuk?" tawar Chika. "Menurutku sih nggak perlu. Ibumu pasti nggak suka kalau kamu deket-deket aku." Chika tak cukup paham dengan maksud dari ucapan Aaron tersebut. "Kenapa kamu bisa tau kalau Ibu nanti nggak suka?" "Logikanya ya, dari dulu ibumu kan selalu menjodoh-jodohkan kamu dengan pria kaya. Aku bukan termasuk dari golongan orang kaya kali, Ka. Jelas ibumu nggak suka nantinya." "Tapi mulai sekarang, aku nggak akan nurut apa kata Ibu lagi. Kamu sendiri kan yang minta aku untuk keluar dari rumah Ibu? Udah cukup capek, aku dijodoh-jodohkan sama orang yang menurutku belum tentu aku suka. Jadi untuk sekarang, aku akan mengikuti kata hatiku." Chika sudah mantap ingin lepas dari kekangan ibu tirinya. Meski ia yakin nantinya Risti tidak akan mudah melepasnya. Namun, dengan adanya Aaron di pihaknya, setidaknya membuat Chika merasa cukup aman karena ada yang melindungi. "Aku dukung keputusan kamu. Buruan masuk, beres-beres, terus pamitan, ngomong apa adanya. Kalau ibumu berbuat yang enggak-enggak sama kamu, jangan lupa teriak yang kenceng. Supaya aku bisa segera nolongin kamu." "Siap, Bos." Chika menyanggupi perintah Aaron sembari hormat. Ia lalu bergegas membuka pintu pagar dan bergerak memasuki halaman rumahnya. Chika membuka pintu rumahnya yang kebetulan tidak terkunci. Ketika dirinya mulai mendarat di ruang tamu, tak sengaja ia berpapasan dengan Risti yang sepertinya akan pergi. "Loh, kamu kok ada di sini? Jangan-jangan kamu kabur dari penjara, ya?!" tuduh Risti. "Ibu mau ke mana? Akh, apa jangan-jangan Ibu mau ke rutan lagi untuk jengukin anak Ibu? Bukannya kemarin Ibu ke sana, ya?" Bukannya menjawab pertanyaan ibu tirinya, Chika malah melontarkan pertanyaan balik. "Kemarin memang ibu iseng ke sana. Tapi kata sipirnya, kamu lagi dibawa ke rumah sakit karena demam. Sekarang kenapa tiba-tiba kamu ada di sini? Jangan bilang kalau kamu benar kabur, ya? Jangan cari masalah, deh, Chik. Udah, mendekam aja di penjara. Nikmati proses hukuman kamu, karena memang kamu bersalah, Chika." "Aku penasaran kenapa Ibu tau-tau nengokin aku di rutan. Seperti ada hal yang mencurigakan." Chika memilih duduk di salah satu sofa ruang tamu. Dan Risti pun ikut-ikutan duduk di sofa satunya lagi. "Ibu penasaran aja sama harta warisan keluarga Gavin, kira-kira jatuhnya ke tangan siapa nanti. Ya, siapa tau aja sebelum Gavin meninggal, kamu dikasih bocoran sama Gavin atau mungkin sama pengacaranya." Chika hanya sanggup mengelus d**a. Ia sempat memiliki harapan kalau tujuan Risti berniat menjenguknya di rutan karena khawatir akan kondisinya. Namun, ternyata sampai detik ini yang Risti pikirkan hanyalah persoalan warisan. Membuat Chika muak, dan ia makin mantap untuk hengkang dari rumah ini. "Kalau Ibu penasaran sama warisannya, kenapa Ibu nggak tanya langsung sama pengacaranya? Percuma lah datang jauh-jauh ke rutan, taunya cuma pengen nanya hal itu ke Chika. Lagian Chika nggak tau apa-apa soal nanti warisan itu jatuhnya ke tangan siapa. Chika sih pengennya mending disumbangin ke panti asuhan aja. Daripada jatuh ke tangan orang-orang yang serakah. Salah satunya ya orang seperti Ibu ini." Blak-blakan Chika mulai berani menyinggung ibu tirinya. Ini adalah kali pertama ia bicara seberani ini pada Risti. "Heh, kamu habis keluar dari penjara malah mulutnya jadi pedes gitu, ya?! Di sana kamu diajari sama polisi untuk melawan orang tua, hah?!" bentak Risti. "Iya, Bu. Ibu bener. Semalam Chika diajarin sama salah satu polisi di sana, untuk melawan orang tua yang hobinya menjerumuskan anaknya. Orang tua seperti Ibu ini cuma mikirin diri sendiri aja. Chika capek, Bu, dimanfaatin terus selama ini. Kerjaannya dijodoh-jodohin sama pria kaya sesuai keinginan Ibu. Chika pengen hidup bebas. Chika ingin punya pacar yang sesuai sama pilihan Chika. Dan tentunya Chika suka sama orang itu." Gadis tersebut dengan penuh keberanian mencoba berontak. Ia ingin diperlakukan adil meski statusnya hanyalah anak tiri. "Heh, Chika! Tujuan ibu hobi menjodohkan kamu sama pria-pria kaya ya biar hidup kita terjamin. Setelah ayahmu meninggal, ekonomi keluarga kita kan jadi morat-marit nggak jelas. Selama ini kita hidup cuma mengandalkan uang pensiunan ayah kamu. Itu rasanya nyesek banget, Chik. Kalau kamu nanti nikah sama laki-laki kaya, otomatis hidup kita akan terjamin, dan nggak akan kekurangan uang lagi tentunya." Chika tidak sependapat dengan rencana ibunya. Baginya, materi tidak bisa mengukur takaran sebuah kebahagiaan. Untuk apa nanti dirinya menikah dengan pria kaya, tapi untuk memberikan cinta saja, Chika tidak yakin akan bisa. Memang ia percaya kalau cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Namun, Chika ingin memiliki jodoh yang dari awal dirinya sudah menyukai dan mantap untuk dinikahi. "Maaf, Bu. Chika nggak sependapat sama Ibu. Bagi Chika, hidup kekurangan materi nggak apa-apa. Yang penting Chika bahagia hidup sama orang yang Chika cintai, Bu. Kedatangan Chika ke sini, Chika ingin pamitan sekaligus ingin ngambil barang-barang Chika. Chika ingin pergi dari rumah ini. Chika ingin hidup mandiri dan bebas. Tolong jangan halangi keputusan Chika, Bu." Gadis itu beranjak berdiri, kemudian berniat melangkah menuju kamarnya untuk beres-beres. Namun, belum apa-apa ia sudah lebih dulu mendapat amukan dari ibu tirinya. Risti lantas menjambak rambut Chika ketika anak tirinya itu berniat pergi. Ia menarik kasar rambut Chika dan memaksa gadis itu untuk duduk kembali. "Bu, sakit, Bu ...," rengek Chika. "Kamu tadi belum jawab pertanyaan ibu. Kamu udah bebas atau gimana?! Kalau kamu udah bebas, jangan seenaknya pergi dari rumah ini. Kamu paham?! Kamu tetap harus cari laki-laki kaya untuk kita kuras hartanya, Chika!" "Bu, Chika udah nggak mau kayak gitu lagi. Tolong bebaskan Chika, Bu ...." "Nggak akan. Mendingan kamu ibu kurung di kamar, supaya kamu nggak bisa pergi ke mana-mana." Risti memaksa Chika untuk berdiri. Tangannya masih senantiasa menjambak rambut anak tirinya itu. Bahkan, jambakannya semakin menjadi ketika Chika tidak mau berjalan menuju kamar. "Bu, sakit, Bu ...." Chika merengek dalam keadaan nyaris menangis. Ia mendadak teringat dengan pesan Aaron. Lelaki itu memintanya untuk berteriak ketika dirinya disakiti lagi oleh Risti. "Aaaaaaa ...!" Chika berteriak sekencang-kencangnya. Hal ini membuat Risti menjadi sakit telinga karena jeritannya benar-benar terdengar melengking di telinga. "Hih, ngapain sih pakai acara teriak-teriak?! Berisik tau!" omel Risti. Brak! Baik Risti dan Chika sama-sama kaget ketika pintu rumah tiba-tiba dibuka dengan kasar. Aaron buru-buru turun dari motor dan bergegas memasuki rumah Risti ketika terdengar suara jeritan Chika. "K-kamu kan polisi yang waktu itu di--" "Saya memang polisi. Dan Ibu bisa saja saya tangkap hari ini juga atas tuduhan penganiayaan pada anak Ibu," ancam Aaron tak main-main. Tbc ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN