Part 13. Ayam Geprek

1233 Kata
"Bu Sipir. Bagi kunci kamarnya Chika, dong. Saya mau ada perlu, nih. Mau nganterin makanan. Sekali-kali lah polisi baik sama tahanan. Kan Chika lagi sakit. Katanya pengen makan yang agak enak dikit." Aaron tengah merayu Bu Sipir agar memberikannya kunci kamar tahanan Chika. "Kamu benar-benar lagi jatuh cinta sama tahanan itu, Ron? Ckckck." Sipir wanita tersebut hanya geleng-geleng kepala menanggapi Aaron yang sedang kasmaran. "Nggak melanggar peraturan kepolisian kan, Bu, kalau saya suka sama tahanan? Lagian kan Chika udah terbukti nggak bersalah." "Ya jelas nggak melanggar peraturan. Itu hak kamu mau suka sama siapa. Tapi seumur-umur saya kerja di sini, baru kali ini nemu polisi yang demenan sama tahanan. Saya sih nggak mempermasalahkan, Ron. Tapi ya saran saya, jangan cuma dipacarin doang nantinya. Ajak nikah langsung malah jauh lebih bagus." Aaron belum kepikiran sampai sejauh itu. Bahkan untuk sekedar mengungkapkan perasaan pada Chika saja, ia belum cukup berani. Ia hanya takut Chika menolaknya karena terbilang masih terlalu cepat. "Doain aja, Bu, biar saya cepat nikah. Udah kepala tiga soalnya. Ngomong-ngomong, saya jadi dikasih kuncinya nggak, Bu? Kasihan Chika-nya keburu kelaparan. Dia tadi bilang, makan makanan sini katanya bawaannya pengen keluar lagi. Maklum, lagi nggak enak badan. Mungkin pengen makan yang enak, Bu. Sekali-kali lah selagi Chika belum dibebaskan." "Bilang aja kalau kamu udah ngebet pengen ketemu Chika. Nih." Sipir wanita tersebut menyerahkan kunci kamar Chika. Dan Aaron mengambilnya dengan senang hati. "Makasih banyak ya, Bu." Aaron bergegas menuju kamar tahanan Chika. Ia lalu membuka gembok yang mengunci kamar tahanan Chika, kemudian bergerak masuk. "Mas Aaron?" Chika yang sedang asyik menonton TV segera berdiri begitu Aaron mulai memasuki kamar tahanannya. "Aku bawain pesanan kamu. Ayo makan." Aaron mengajak Chika menuju sebuah meja panjang yang dilapisi taplak plastik yang di atasnya terdapat alat-alat makan dan minum. Meja ini letaknya di dekat loker. Kamar tahanan di sini sudah satu paket dengan kamar mandi, loker, dan meja makan. Kapasitas kamar tahanan ini bisa diisi oleh sepuluh orang. Namun, sewaktu Chika baru resmi menjadi penghuni kamar ini, ada tiga tahanan yang baru saja keluar. Dua di antaranya dipindah ke lapas karena sudah dijatuhi vonis hukuman. Sementara yang satu resmi dibebaskan karena terbukti tidak bersalah. Jadilah selama beberapa hari yang lalu sampai saat ini, Chika tinggal sendirian di kamar ini. Dan kebetulan kamar tahanan antar pria dan wanita terpisah. Aaron meletakkan dua plastik keresek putih yang masing-masing isinya nasi ayam geprek dan jus alpukat. Aaron lalu meraih styrofoam berisi nasi plus ayam geprek dari plastik keresek tersebut, dan juga meraih gelas cup panjang berisi jus alpukat pesanan Chika. "Ayo dimakan." Aaron meraih kursi plastik dan mempersilakan Chika untuk duduk dan mulai menyantap makanan. "Kok belinya cuma satu porsi, sih? Masa iya aku makan sendiri." Chika merasa sungkan. "Tadi aku udah makan di luar, sebelum kamu telepon. Nggak apa-apa kamu makan sendiri. Aku temenin deh. Temenin duduk maksudnya." Aaron menarik kursi kemudian duduk di kursi tersebut. Chika pun duduk di sebelah Aaron dan mulai menyantap ayam geprek yang merupakan menu favoritnya. Masa bodoh dengan rasa sungkan. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Melihat ayam geprek yang tampak menggoda ini, jelas saja membuat cacing dalam perutnya menjadi semakin demo. "Huh, pedes, enak. Nafsu makanku yang tadi ilang seketika jadi kembali lagi, Mas." Chika makan dengan lahap. Rasa pedas pada ayam itu memang nyatanya membuat lidah Chika tidak terasa pahit lagi. "Syukurlah berkat ayam geprek itu, nafsu makanmu jadi kembali. Dihabisin ya makannya. Tapi pelan-pelan, takut kamu keselek." Chika hanya nyengir kuda menanggapi perhatian Aaron. "Selama tinggal di sini, aku seperti nggak selera makan, Mas. Makanan di sini nggak enak-enak, ya, rasanya? Hambar. Nggak asin, nggak pedes. Juru masaknya kayaknya nggak bisa masak, ya? Dari dulu aku sukanya makan pedes. Kalau nggak ada pedes-pedesnya itu rasanya kurang enak, Mas." Chika bercerita sembari tetap asyik menguyah. "Mulai besok, kamu bebas mau makan yang pedes sekaligus yang enak. Karena apa? Besok kamu resmi dibebaskan, Ka." Chika refleks menatap Aaron tak terbaca. Benarkah besok ia bisa menghirup udara bebas seperti harapannya selama beberapa hari ini? "S-serius, Mas? Besok aku resmi bebas?" tanya Chika tak percaya. "Iya. Pelaku sebenarnya udah ketemu. Bahkan salah satunya udah masuk rutan," jelas Aaron. "Siapa pelaku yang sebenarnya, Mas? Apa seperti yang kamu curigakan?" Chika sangat penasaran dengan pelaku yang sebenarnya. "Memang mereka berdua pelakunya, Ka. Kamu yang sabar, ya. Aku tau, kamu pasti sangat nggak percaya dengan kebenaran ini. Tapi semuanya memang benar terjadi. Kerap kali pelaku sebenarnya adalah orang terdekat korban. Hampir semua kasus yang aku tangani, rata-rata pasti pelakunya kalau nggak saudara ya teman dekat korban." Chika tetap melanjutkan kegiatan mengunyahnya meski saat ini hatinya terasa sangat hancur ketika tahu siapa pelaku sebenarnya. Dari kemarin memang Aaron sudah memberitahu tentang kecurigaan terhadap Tyo dan Nana. Namun, Chika tak mau main menyimpulkan bahwa merekalah pelakunya kalau belum ada bukti yang kuat. Sekarang bukti serta pelaku sebenarnya telah terungkap. Tidak dipungkiri, Chika merasa sangat kecewa dengan dua orang yang selama ini ia pikir sangat baik dan bisa menerima kehadirannya. "Jadi mereka berdua udah ditangkap, Mas?" tanya Chika lesu. "Yang kami tangkap baru Tyo. Sementara Nana, kami memberi kelonggaran waktu untuk proses pemulihannya. Dia mengalami perdarahan, Ka. Dan butuh waktu beberapa hari untuk istirahat total." "Hah? Nana perdarahan, Mas? Memangnya dia hamil?" Chika cukup syok dengan kabar kehamilan Nana. "Ya, begitu sih kata Bu Triana. Aku menduga, alasan kenapa Tyo nggak rela Nana ikut-ikutan terseret masuk penjara, ya karena Nana sedang hamil anaknya. Tapi yang namanya penjahat, mau dia lagi hamil atau enggak, dia harus tetap dihukum." "Kamu nggak nanya sama mereka, alasan kenapa mereka memfitnah aku? Tega banget sih sampe niat banget buat fitnah aku." Kedua mata Chika mulai berkaca-kaca. "Nana sepertinya salah paham sama kamu. Nana tau kalau kamu mengincar hartanya Gavin. Secara nggak langsung, dia membenci kamu karena itu." Chika hanya sanggup membuang napas berat menanggapi alasan Nana sampai tega memfitnahnya. Sungguh ia tidak bermaksud memanfaatkan ketulusan Gavin. Namun, Chika jadi seperti ini karena desakan ibu tirinya. Dan sekarang Chika sadar, bakti terhadap ibu tirinya adalah pilihan yang salah. "Seandainya Nana tau, aku jadi begini karena Ibu. Aku sebenarnya dari dulu tertekan hidup sama Ibu. Tapi karena aku udah terlanjur janji sama mendiang Ayah untuk selalu berbakti sama Ibu, aku jadi nggak punya pilihan lain." Chika kembali melanjutkan makannya yang sebentar lagi akan habis. "Ka, berbakti sama orang tua itu tergantung orang tuanya juga. Ibu tiri kamu itu salah loh. Dia hanya ingin memanfaatkan kamu. Dengan kamu berbakti pada orang yang salah, kamu pikir hal itu akan membuat Ayah kamu di sana akan bahagia? Itu salah, Ka. Yang ada ayahmu jelas akan sedih dengan pengorbanan kamu selama ini." Jangankan ayah Chika, Aaron yang baru beberapa hari mengenal Chika, merasa sangat iba pada gadis itu yang selama ini hanya dimanfaatkan saja oleh ibu tirinya. Satu porsi ayam geprek telah Chika habiskan. Saat ini ia tengah menikmati segarnya jus alpukat sambil merenungkan perkataan Aaron. Memang selama ini dirinya sangat tidak bahagia hidup bersama Risti. Ia selalu dipaksa untuk mendekati dan mengencani pria-pria kaya pilihan Risti. Padahal yang enak menikmati kekayaan pria-pria kaya tersebut adalah Risti. "Pokoknya besok ketika kamu resmi dibebaskan, aku melarang keras kamu kembali tinggal serumah sama ibu tiri kamu lagi. Aku nggak mau ujungnya nanti kamu dimanfaatkan lagi, Ka." Larangan Aaron kali ini terdengar cukup posesif. "Terus, aku mau tinggal di mana, dong? Aku nggak punya keluarga lain selain Ibu." "Kamu boleh tinggal sama aku." "Uhuk!" Chika refleks tersedak ketika mendengar ajakan tinggal bersama dari Aaron. Tbc ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN