Part 12. Pengakuan Nana

1535 Kata
Triana gagal membawa Nana ke kantor polisi. Ia justru membawa gadis tersebut ke rumah sakit karena Nana mengalami perdarahan. Setelah ditangani oleh dokter, sekarang Triana tahu kalau rupanya pacar Tyo itu sedang mengandung. Dan Nana nyaris saja mengalami keguguran akibat jatuh karena tadi Triana sempat mendorongnya sampai jatuh ke lantai. Berhubung Nana cepat ditangani, maka bayi dalam kandungannya masih bisa diselamatkan. Namun, dokter berpesan Nana harus istirahat total setelah ini. Triana baru saja membuka pintu ruang perawatan Nana. Di atas bed pasien sana, terbaring lemah seorang gadis yang dulunya sempat Triana anggap seperti putri sendiri, tetapi lain halnya dengan sekarang. Mendengar berita kehamilan Nana, jelas Triana sangat terkejut. Ia yakin seratus persen kalau jabang bayi dalam rahim Nana adalah darah daging Tyo. Triana bingung harus bagaimana menyikapi keadaan ini. Haruskah ia memaafkan kesalahan Nana begitu saja, dikarenakan saat ini Nana sedang mengandung cucunya? "Tante," sapa Nana lirih ketika ibu pacarnya tersebut bergerak menghampiri. "Kamu hamil dengan Tyo?" tanya Triana memastikan. Terlihat Nana mengangguk lemah sebagai jawaban. "Saya benar-benar nggak mengerti dengan jalan pikiran kamu, Nana. Sudah tau kamu sedang mengandung darah daging Tyo, tapi kenapa kamu justru mempersulit hidupnya? Kenapa kamu harus memaksa Tyo untuk menjadi seorang pembunuh? Apa kalian nggak memikirkan dampak buruknya seperti apa? Anak nggak berdosa itu yang jelas akan menjadi korbannya, Nana." "Tante, boleh Nana cerita sebentar? Nana nggak bermaksud memaksa Mas Tyo untuk membunuh Mas Gavin. Awalnya Nana hanya merasa capek dengan sikap pilih kasih kedua orang tua angkat Nana. Untuk apa mereka mengangkat Nana sebagai anak, tapi faktanya mereka nggak bisa memperlakukan Nana dengan adil? Nana hanya ingin Mas Gavin lenyap. Waktu itu Mas Tyo melamar Nana, dan meminta izin untuk segera menikahi Nana. Tapi Nana merasa belum siap. Mas Tyo lalu janji akan melakukan apa pun keinginan Nana, asalkan Nana bersedia jadi istrinya. Nana refleks meminta Mas Tyo untuk melenyapkan Mas Gavin. Dan Nana nggak menyangka kalau Mas Tyo bersedia melakukannya. Kami benar-benar udah dikuasai oleh ambisi, sehingga rencana pembunuhan itu berjalan dengan lancar." Tanpa ada perasaan ragu, Nana mulai bercerita yang sebenarnya. Awalnya memang ia hanya iseng mengetes Tyo saja. Kira-kira Tyo bersedia atau tidak untuk melenyapkan Gavin. Tanpa disangka, Tyo mau-mau saja ia kuasai. Keduanya sudah terlanjur terlena dengan bujuk rayuan setan. Tanpa terlalu memikirkan dampak buruknya, akhirnya Nana dan Tyo mantap untuk merancang rencana menyingkirkan Gavin. "Kamu benar-benar nggak ada otak, Nana! Bisa-bisanya kamu menyuruh Tyo untuk membunuh orang, dengan imbalan kamu akan bersedia menikah dengannya?! Seandainya saya tau rencana kamu dari awal, saya pasti akan mati-matian memisahkan kalian. Tyo tadinya anak baik-baik. Selama ini saya mendidik anak saya dengan baik. Tapi seketika dia berubah menjadi monster hanya karena ingin membuktikan cintanya ke kamu?! Dan kenapa harus Chika yang kalian jadikan korban atas kekejaman kalian?!" Emosi Triana sudah di ubun-ubun. Jika saja Nana tidak sedang lemah, mungkin Triana bisa kelepasan menampar Nana lagi. Hati ibu mana yang tidak sakit saat tahu anak yang selama ini ia didik dan ia besarkan dengan susah payah, nyatanya akhlak dan moralnya menjadi rusak dalam sekejap hanya gara-gara diperalat oleh wanita. "Nana tau Chika bukan orang baik. Chika dan ibunya mendekati Mas Gavin bukan karena tulus, Tante. Melainkan mereka hanya menginginkan hartanya Mas Gavin aja. Nana hanya ingin memberi pelajaran pada Chika." Dengan polos Nana memberitahu alasan mengapa ia membenci mantan pacar kakak angkatnya. "Kamu ingin memberi pelajaran pada orang yang kamu benci, tapi di sini kamu justru menghancurkan orang yang selama ini menyayangi kamu dengan tulus, Nana. Apa kamu tau, selama ini saya sudah menganggap kamu seperti anak kandung. Tapi pada kenyataannya, kamu tega menaruh racun pada jus segar yang telah saya buat dengan sepenuh hati. Kamu telah menghancurkan kepercayaan serta kebahagiaan saya, Nana." Triana melampiaskan segala rasa kecewanya dalam kondisi menahan air mata. Jangan pikir, dengan Nana mengakui semuanya, Triana akan menjadi luluh dan mau menerima Nana seperti dulu lagi. Nasi sudah terlanjur berubah menjadi bubur. Hatinya sudah terlanjur sakit bercampur kecewa. Sulit baginya untuk memaafkan kesalahan Nana yang sangat fatal ini. *** Triana keluar dari kamar inap Nana, dan menemui Aaron yang sedari tadi telah menunggunya di kursi tunggu yang terletak di depan ruang inap tersebut. Sewaktu Nana tengah ditangani oleh dokter, Triana sempatkan waktu untuk menghubungi Aaron dan menceritakan apa yang terjadi pada Nana. Wanita paruh baya itu terlihat meraih ponsel dari dalam tasnya. Ia lalu mencari-cari rekaman pembicaraannya dengan Nana di dalam tadi. Kemudian memutar rekaman suara tersebut dan mempersilakan Aaron untuk mendengarkan semua pengakuan Nana. Dari pengakuan yang Aaron dengar, ia bisa menyimpulkan kalau Nana sebenarnya adalah orang baik. Namun, karena cemburu sosial, dan tidak bisa mengontrol emosi serta nafsu dunianya, Nana pun nekat menghabisi nyawa kakak angkatnya, meski tidak menggunakan tangannya langsung. Tetap saja, orang yang paling bersalah di sini adalah Nana. Coba saja ia tidak meminta Tyo untuk melenyapkan Gavin, pasti situasinya tidak akan serumit sekarang. Dan Aaron menyimpulkan, penyebab Nana sampai bisa membenci Chika karena terjadi kesalahpahaman. Yang Nana tahu, tujuan Chika mendekati Gavin karena ingin mengincar harta saja. Tanpa Nana tahu, bahwa Chika melakukan semua ini atas desakan Risti. "Jadi gimana, Mas? Nana sudah mengakui kesalahannya. Tapi apakah dia akan tetap dihukum meski kondisinya saat ini sedang mengandung?" Triana tengah dirundung perasaan bimbang. Satu sisi, ia merasa tidak tega membiarkan orang yang sedang mengandung, menghabiskan waktunya di penjara. Dan di satu sisi lagi, ia sangat ingin Nana dihukum seberat-beratnya supaya gadis itu jera. "Apa pun kondisi tersangka, yang namanya prosedur hukum tetap harus dijalankan, Bu. Tapi Ibu tenang saja, tahanan yang sedang mengandung, nantinya akan mendapatkan hak khusus dari pihak rutan. Mulai dari didatangkan dokter kandungan atau bidan untuk memeriksa kondisi perkembangan si janin, dan juga mendapatkan vitamin untuk ibu hamil dari pihak medis. Kalau untuk proses melahirkannya, nanti pihak rutan akan memberikan cuti juga, Bu. Misal tahanan harus melahirkan secara caesar, nanti pihak rutan juga akan memberi cuti yang cukup untuk proses pemulihan," jelas Aaron panjang lebar. "Tapi tadi kata dokter, untuk beberapa hari ke depan, Nana harus istirahat total. Karena tadi dia sempat mengalami perdarahan. Apa harus langsung ditahan saat ini juga, Mas?" "Kalau kata dokter memang harus istirahat total, kami akan memberi kelonggaran waktu sampai Mba Nana benar-benar pulih, Bu. Yang jelas, kami akan selalu memantau. Jaga-jaga takut Mba Nana berniat untuk kabur. Ibu juga kami mintai tolong untuk mendampingi Mba Nana, ya. Kalau ada hal-hal yang mencurigakan, segera hubungi saya ya, Bu." Triana sebenarnya merasa malas kalau harus mendampingi Nana. Yang ada, ia bawaannya ingin memarahi gadis itu terus. Dirinya sudah terlanjur kecewa dengan kecerobohan yang telah dilakukan Nana. Ia sudah tidak bisa bersikap baik lagi pada Nana. "Saya minta tolong kirimi rekaman suara ini ke hp saya ya, Bu. Buat barang bukti nantinya." "Silakan, Mas. Saya memang sengaja merekam pengakuan Nana untuk dijadikan barang bukti. Soalnya tadinya Nana sempat mengelak nggak mau ngaku. Takutnya nanti pas diinterogasi sama polisi, Nana lagi-lagi nggak mau ngaku. Kalau sudah ada bukti rekaman itu kan mas-nya jadi nggak perlu capek-capek mendesak Nana." Kali ini Aaron cukup beruntung bertemu dengan warga negara yang baik hati seperti Triana. Bersedia meringankan beban kerjanya tanpa perlu diminta. "Makasih banyak ya, Bu. Saya mau kirim lewat bluetooth saja, soalnya hp saya jadul. Ini juga hp kantor, Bu." Aaron lalu meminta Triana untuk menyalakan bluetooth di ponsel milik wanita tersebut. Ketika Aaron berniat menyalakan bluetooth di ponsel miliknya, tiba-tiba ada panggilan telepon masuk. Di lihat dari nomornya, ini adalah nomor telepon rutan. "Sebentar ya, Bu, ada telepon dari rutan." Aaron meminta izin untuk menerima telepon tersebut. "Ya. Ini Aaron. Ada kendala apa?" "Mas Aaron." Dahi Aaron lantas mengernyit. Ia cukup familier dengan suara ini. Sepertinya yang menelepon bukanlah petugas sipir. Kalau pun petugas, tidak ada ceritanya mereka memanggilnya dengan sebutan 'Mas' seperti tadi. "Eum ... Ika? Kamu tumben telepon aku? Pakai telepon rutan lagi? Nanti dimarahin Bu Sipir loh." "Ya kan di rutan aku nggak boleh pegang hp. Kalau nggak pake telepon rutan, terus pake telepon apalagi?" "Ada perlu apa? Kangen?" Aaron sempatkan melirik Triana. Ia sebenarnya lumayan malu berbicara cukup pribadi di depan Triana. Namun, semua sudah terlanjur. Hatinya mendadak jadi ge-er ketika Chika tiba-tiba meneleponnya. "Dih, pede banget. Aku pengen cerita. Kan aku lagi sakit. Buat makan tuh rasanya nggak enak banget. Bawaannya pengen keluar lagi. Sedangkan aku kan harus minum obat biar cepat sembuh. Tapi aku nggak bisa kemasukan makanan. Gimana mau minum obat? Kan aturannya makan dulu baru minum obat." "Kamu mau makan apa? Nanti aku beliin." Aaron sudah cukup paham dengan maksud Chika bercerita seperti itu. Sebenarnya Chika ingin dibelikan makanan luar, tapi karena tidak enak memintanya langsung, alhasil Chika hanya sanggup bercerita seolah-olah tengah memberi kode. "Aku pengen ayam geprek, Mas." "Ya. Nanti aku beliin, ya. Terus apalagi?" "Eum, jus alpukat deh." "Terus?" "Udah, cukup gitu aja. Aku nggak rakus-rakus amat kok kalau makan." "Ya udah. Tunggu aku datang, ya?" "Oke. Ssttt ... udah dulu, ya. Aku takut ketahuan Bu Sipir kalau kelamaan. Bye." Panggilan telepon seketika terputus. Aaron sempatkan menatap layar ponselnya dengan senyam-senyum tak jelas. "Mas Polisi, jadi kirim rekaman nggak nih?" "Astaga, Bu. Maaf, saya keasyikan telepon. Jadinya lupa kalau mau minta rekaman suara dari hp Ibu." Aaron merasa sangat sungkan karena telah membuat Triana lama menunggu. "Nggak apa-apa, Mas. Saya maklum kok sama anak muda. Dulunya saya juga pernah muda," imbuh Triana memaklumi. Tbc ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN