"Selamat datang di ruang interogasi. Ruang di mana kebohongan dan kebenaran akan terungkap semuanya."
Detik ini, Aaron dan Tyo tengah duduk berhadapan di ruang interogasi. Sebelumnya Tyo langsung diringkus ke kantor polisi setelah pria itu mengakui semua perbuatannya.
Bagaimana kabar Triana sekarang? Wanita paruh baya itu hanya sanggup menangisi kepergian sang putra. Triana tidak mungkin menghalangi polisi ketika mulai membawa anak semata wayangnya itu ke kantor polisi. Sungguh, Triana tidak menyangka kalau Tyo berani berbuat sekeji itu.
Tyo tengah menatap Aaron dengan datar. Ia tidak mengerti kenapa polisi tersebut membawanya ke ruangan ini. Bukankah semua pengakuannya sewaktu di rumah tadi sudah jelas? Tyo telah mengaku kalau ia yang sudah menembak Gavin. Maka dirinya memang pantas dihukum, atau lebih jelasnya dimasukkan ke penjara. Dirinya merasa malas kalau harus ditanya banyak hal seputar tindakan jahatnya. Apalagi kalau harus menyeret nama kekasihnya. Sungguh Tyo tidak ingin gadis yang dicintainya itu ikut-ikutan terseret ke dalam kasusnya.
"Saya sudah mengaku. Lalu untuk apa saya dibawa ke ruangan ini? Kenapa saya tidak langsung dijebloskan ke penjara saja?" tanya Tyo datar.
"Sabar, Bung. Setelah ini pastinya Anda akan kami bawa ke rutan. Tapi menurut prosedur, masuk ruang interogasi dulu, baru masuk ruang tahanan. Anda paham?"
"Saya hanya ingin lekas masuk penjara, tanpa adanya banyak pertanyaan dari kalian," desak Tyo.
"Kalau Anda lekas ingin masuk penjara, kenapa Anda kemarin pakai acara kabur keluar kota, hem?"
Wajah Tyo berubah gugup. Sebenarnya Tyo tidak berniat untuk kabur. Yang sebenarnya terjadi, Tyo pergi ke Surabaya untuk urusan pekerjaan. Ia tidak ada rencana untuk kabur setelah melakukan suatu tindakan kejahatan. Pikirnya, ia dan Nana telah berhasil menjebak Chika dan membuat gadis itu masuk penjara. Perkiraannya, polisi tidak akan mencari bukti-bukti lagi karena pelakunya sudah berhasil mereka tangkap.
Tyo tetap berada di Surabaya meski urusan pekerjaannya telah selesai itu semua karena perintah Nana. Gadis itu memberitahu bahwa pihak polisi sudah mencurigainya. Nana memaksanya untuk tetap berada di Surabaya saja demi menyelamatkan diri. Mau tidak mau Tyo tetap stay di Surabaya sesuai perintah kekasihnya.
"Saya pergi keluar kota karena urusan pekerjaan. Bukan semata-mata untuk kabur." Tyo berusaha menyangkal.
"Ya, apa pun alasan Anda, yang jelas dengan perginya Anda keluar kota setelah melakukan suatu kejahatan, itu pertanda Anda berusaha untuk melarikan diri. Sekarang saya ingin tanya satu hal pada Anda. Apa alasan Saudari Nana mendesak Anda untuk menyingkirkan korban? Apakah kekasih Anda memiliki hubungan yang tidak baik dengan korban?" tanya Aaron selidik.
"Jangan seret Nana ke dalam kasus ini. Dia hanya cemburu sosial dengan kakak angkatnya. Yang bersalah di sini adalah saya. Saya iri karena penghasilan Gavin di youtube jauh lebih besar dari saya. Saya yang menginginkan Gavin lenyap, bukan Nana. Jangan sekali pun kalian berani menyeret Nana ke dalam kasus saya."
Aaron dapat menangkap ada hal yang tidak beres dengan Tyo. Terlihat Tyo seperti membela habis-habisan kekasihnya. Atau bisa saja Tyo berusaha untuk menutupi kesalahan Nana dengan mengarang cerita seperti itu.
"Saya agak mencium bau-bau cinta gila di sini, ya? Saya berpikir, Anda terlalu mencintai Saudari Nana, sampai-sampai disuruh membunuh pun mau-mau saja. Dan juga, Anda sepertinya sedang berusaha menutupi kesalahan kekasih Anda. Biar bagaimanapun, meski Anda yang telah melakukan tindak kejahatan itu, tapi kalau posisi kekasih Anda adalah otak di balik rencana pembunuhan ini, maka kekasih Anda juga layak ditangkap dan dipenjara seperti Anda nantinya."
"Saya bilang jangan berani-beraninya menangkap Nana apalagi berniat untuk memenjarakannya. Kalian bisa memenjarakan saya seumur hidup. Tapi jangan sekali pun kalian mencoba menyentuh Nana! Kalian paham?!"
Aaron cukup kaget dengan bentakan Tyo. Ia semakin yakin kalau Tyo ini telah termakan cinta buta. Saking cintanya dengan Nana, Tyo rela-rela saja dipenjara seumur hidup, asalkan Nana tidak terseret apalagi sampai ikut-ikutan dipenjara.
"Sepertinya Anda tipikal orang yang keras kepala. Mau Anda melarang atau tidak, kami akan tetap menangkap Saudari Nana dan meminta banyak keterangan darinya. Saya dan tim saya punya prinsip kuat. Yang bersalah, harus bertanggung jawab atas kesalahannya. Itulah prinsip kami. Yang artinya, Saudari Nana akan kami tangkap, dan akan kami buat dia menceritakan semua yang sebenarnya." Itulah janji Aaron pada Tyo. Ia akan tetap menangkap Nana, karena ia cukup mencurigai bahwa Nana-lah otak di balik rencana pembunuhan ini.
***
"Mas Tyo katanya udah balik? Kenapa aku telepon nggak diangkat-angkat, sih? Duh, aku takutnya polisi nyariin dia, dan tau-tau nangkep dia. Bandel sih dibilangin. Udah dikasih tau jangan pulang dulu. Malah dia ngotot pengen pulang." Nana merasa sangat gelisah memikirkan kabar Tyo saat ini. Berkali-kali ia menghubungi nomor ponsel kekasihnya itu, tapi tak kunjung diangkat. Pikiran buruknya sudah ke mana-mana. Ia sangat takut kalau benar Tyo telah ditangkap polisi, dan detik ini Tyo telah membeberkan semua rahasianya.
Tok ... tok ... tok ...
Nana yang sedari tadi mondar-mandir di ruang tamu, refleks menoleh ke arah pintu rumahnya ketika terdengar ada yang mengetuknya dari luar. Ia sempat menduga kalau yang datang adalah Mirna, yang kemarin sempat berjanji akan datang bekerja kembali. Padahal fakta yang ada, Mirna telah memutuskan untuk kabur dan tidak akan kembali bekerja di rumah ini lagi.
"Itu kayaknya Mba Mir, deh. Atau mungkin Mas Tyo, ya?" Nana mulai menebak-nebak.
Daripada penasaran, Nana putuskan untuk segera membuka pintu rumahnya. Rupanya yang datang bukanlah Tyo atau pun Mirna, melainkan ibunda dari kekasihnya.
"Eh, Tante Triana. Tumben ke sini, Tan? Ayo masuk," ajak Nana.
Triana memang bergerak masuk. Namun, ia tiba-tiba saja mendorong Nana sampai membuat gadis itu terjatuh ke lantai. Nana lantas mengaduh kesakitan. Ia mulai merasakan rasa sakit yang tidak beres di bagian perutnya.
Triana segera menutup pintu dan tak lupa mengunci pintu tersebut. Ia segera menghampiri Nana yang detik ini tengah berusaha untuk bangun. Dengan cepat, tamparan keras itu Triana daratkan pada salah satu pipi Nana.
Plak!
"Akh ...!" Nana kembali mengaduh kesakitan sembari memegangi pipinya yang kelihatan memerah itu. Ia lalu menatap ibu pacarnya dengan bingung. Nana sama sekali tidak mengerti kenapa Triana tiba-tiba menyerangnya.
"Kamu berani-beraninya ya mendesak anak saya untuk menghabisi nyawa Gavin?! Kalau kamu punya masalah sama Gavin, selesaikan dengan tanganmu sendiri. Jangan seenaknya nyuruh-nyuruh anak saya buat jadi pembunuh! Dasar, perempuan gila!"
Plak!
Triana kembali melayangkan tamparan. Tetapi kali ini yang menjadi sasaran adalah pipi Nana yang satu lagi.
"Tante ini ngomong apa, sih? Nana bener-bener nggak ngerti sama omongan Tante?" Nana masih mempertahankan sikap polosnya di depan Triana.
"Nggak usah berlagak bodoh kamu, Na. Tadi sore Tyo ditangkap polisi karena dia terbukti telah menembak Gavin. Dan menurut pengakuan asisten rumah tangga kamu, Tyo berani melakukan hal keji itu karena desakan kamu. Berani-beraninya kamu memperalat anak saya, ya?! Kamu masih mau mengelak lagi, hah?!"
Sungguh. Nana benar-benar terkejut mendengar penuturan Triana. Apalagi berita tentang pengakuan Mirna. Ia sama sekali tidak percaya kalau asisten rumah tangganya itu berani mengkhianatinya.
"Tante sepertinya salah paham. Nana nggak pernah mendesak Mas Tyo, Tante. Semua yang dikatakan sama Mba Mirna itu nggak benar. Itu semua fitnah, Tan. Nah, Nana tau sekarang. Mba Mirna pasti disuruh sama Chika untuk mengarang cerita seperti itu. Udah jelas-jelas yang membunuh Mas Gavin itu Chika, Tan. Bukan Mas Tyo."
"Cukup, Nana! Percuma kamu mengelak. Semua bukti sudah kuat. Tyo juga sudah mengakui perbuatannya. Tante yakin, Tyo jadi nekat begini karena hasutan kamu. Kamu yang sudah mencuci otak anak saya. Saya nggak mau tau, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu. Kamu harus saya seret ke kantor polisi sekarang!"
Tak sekedar mengancam, Triana memang sudah mantap untuk memasukkan Nana ke penjara. Setidaknya, orang yang telah menghancurkan putranya itu harus dihukum seberat-beratnya. Ia tidak rela kalau Tyo sengsara di penjara sendiri, sementara orang yang sudah membuat Tyo jadi seperti ini malah bisa hidup bebas di luar.
"Akh, sakit, Tante. Lepasin Nana!"
Triana dengan kasar menyeret tangan Nana. Wanita paruh baya itu berniat membawa Nana ke kantor polisi, tak peduli Nana mau atau tidak.
"Kalau sakit, makanya berdiri. Kamu harus ikut saya ke kantor polisi. Ayo?!"
Sembari menahan rasa sakit, Nana memaksakan diri untuk berdiri. Ia lalu dipaksa oleh Triana untuk berjalan. Namun, baru beberapa langkah, Nana menghentikan langkahnya. Ia merasakan rasa sakit yang hebat pada bagian perutnya.
"Akh ... perut Nana sakit banget, Tan. Aduh ...." Salah satu tangannya ia gunakan untuk mengusap-usap perutnya.
"Alasan saja kamu, ya?!" Triana mulai memerhatikan Nana. Ia tidak sengaja melihat darah segar mengalir di salah satu paha Nana. Kebetulan sekali gadis itu memakai rok pendek.
"Nana, kamu kenapa? Kenapa ada darah mengalir di paha kamu?" tanya Triana cemas.
Sambil menahan rasa sakit, Nana memeriksa bagian pahanya. Ia cukup terkejut mendapati ada darah mengalir di sana.
'Apa ada dengan bayiku?' batin Nana tak kalah cemas.
Tbc ...