Part 10. Nasib Seorang Tahanan

1441 Kata
Chika telah ditangani oleh pihak medis. Dokter pun mengatakan, Chika hanya terkena demam biasa. Dan tidak perlu rawat inap. Saat ini Chika tengah duduk di kursi tunggu yang terletak di depan apotek rumah sakit. Di apotek sana, ada Aaron yang sedang menebus obat untuknya. Sedari tadi Chika merasa risih ketika beberapa orang mulai berjalan melewatinya. Kebanyakan dari mereka berbisik-bisik membicarakan penampilannya. Chika memang masih mengenakan baju tahanan. Jelas saja hal ini membuat orang-orang yang melewatinya menjadi berpikir yang aneh-aneh. "Bisa-bisanya ada penjahat di rumah sakit ini. Apa pihak rumah sakit nggak takut penjahatnya akan berulah?" "Dih, ngeri banget. Ada napi di sini." "Astaga ... dia pake baju tahanan karena lagi nge-prank orang atau memang beneran tahanan? Bisa-bisa sebentar lagi akan ada tragedi pembunuhan di rumah sakit ini." Kurang lebih begitu komentar tak enak dari orang-orang yang melewati Chika. Hal ini membuat Chika merasa risih sekaligus malu jadi bahan perbincangan orang. "Chika, ayo kita kembali ke rutan. Ini obatnya udah kutebus," ajak Aaron. Namun, gadis itu masih saja duduk dalam posisi menunduk. "Chik? Ekhem, maksudku, Ika. Ayo kita pulang. Kok kamu diem aja, sih?" Chika lantas mendongakkan kepala dan menatap Aaron tak terbaca. Ika adalah nama kecilnya. Dan yang biasa memanggilnya dengan nama tersebut adalah sang ayah. "Sejak kapan namaku berubah jadi Ika?" tanya Chika polos. "Sejak tadi. Kamu nggak inget ya kalau tadi kamu ngigo dan nyebut dirimu sendiri dengan nama Ika? Jadi nggak salah dong kalau mulai sekarang kamu aku panggil Ika? Ayo sekarang kita kembali ke rutan. Kita nggak boleh lama-lama di luar, Ka. Yang ada, para petugas sipir akan marah besar karena aku terlalu lama bawa kamu pergi." Bukannya menyetujui ajakan Aaron untuk segera kembali ke rutan, Chika malah memilih membuang muka ketika lagi-lagi ia teringat dengan komentar tak enak orang-orang tadi. Aaron yang paham dengan perubahan raut wajah Chika, langsung memposisikan dirinya untuk bersimpuh di hadapan Chika. Perlahan lelaki itu mulai menyentuh salah satu pipi Chika. Refleks tatapan mereka pun bertemu. "Kenapa wajahmu berubah jadi sedih? Kamu kangen ayahmu?" Tebakan Aaron yang satu ini mendapat respons biasa dari Chika. Ia menduga kalau sedihnya Chika bukan karena merindukan sang ayah. Melainkan ada masalah lain yang belum Aaron ketahui. "Aku malu pake baju ini. Tadi orang-orang yang ngelewatin aku, pada sibuk komentar yang nggak baik tentang aku," adu Chika dengan kondisi kedua mata telah berkaca-kaca. Aaron cukup paham dengan tekanan mental yang dialami Chika. "Maafin aku, ya, karena udah nekat bawa kamu ke sini. Aku bener-bener nggak kepikiran sama tanggapan orang-orang tentang kamu. Gimana kalau kita tukeran baju? Seenggaknya, kalau aku yang pake baju tahanan, aku akan menanggapi dengan cuek kalau nanti orang-orang melihat penampilanku." "Nggak perlu. Udah telat. Lagian orang-orang udah lihat dari tadi kok. Ngapain juga pakai acara tukeran baju sekarang?!" tolak Chika mentah-mentah. Aaron menghela napas berat. Bantuan yang ia tawarkan rupanya sudah terlambat bagi Chika. Lelaki itu lalu berdiri dan melepas jaket kulitnya. Ia pun memakaikan jaket tersebut pada Chika. Setidaknya, tulisan 'Tahanan' di baju yang dikenakan oleh Chika jadi tidak kelihatan. "Ayo kembali ke rutan sekarang," ajak pria itu lembut. *** "Ma. Tyo pulang, Ma." Tyo baru saja membuka pintu rumahnya kemudian bergerak masuk sambil menyeret koper. "Eh, anak mama sudah pulang." Triana datang dari arah dapur. Ia langsung menyambut hangat kepulangan putranya. "Syukurlah Mama nggak kenapa-kenapa. Tadi Tyo khawatir banget, takut Mama kenapa-kenapa." Lelaki itu lantas memeluk sang ibu. Sewaktu di perjalanan pulang tadi, pikiran Tyo sudah ke mana-mana. Ia takutnya saat sampai rumah, ibunya benar nekat melakukan percobaan bunuh diri. Namun, Tyo merasa cukup lega karena sang ibu tidak kenapa-kenapa. "Kamu khawatir kenapa, Nak? Mama baik-baik saja kok." Triana melepas pelukan putranya dan menatap anak semata wayangnya itu dengan heran. "Ya gimana nggak khawatir, sih. Mama tau-tau VC dan ngasih lihat pisau ada di dekat leher Mama. Mama juga mengancam akan bunuh diri kalau Tyo nggak segera pulang. Gimana Tyo nggak khawatir kalau Mama tau-tau polah begitu." Dahi Triana terlihat mengernyit. Ia sama sekali tidak paham dengan apa yang dibicarakan oleh putranya itu. Pun seingat Triana, hari ini ia belum melakukan video call dengan Tyo, apalagi sampai mengancam akan bunuh diri kalau Tyo tidak segera pulang. "Kamu ngomong apa sih, Nak? Mama nggak paham." Tok ... tok ... tok ... Seketika terdengar bunyi ketukan pintu dari luar. Triana segera mengambil alih untuk membukakan pintu. "Selamat sore, Ibu," sapa Aaron ramah. "Eh, selamat sore. Anak saya baru saja pulang, Mas. Mari masuk." Triana mempersilakan Aaron dan kedua rekannya untuk masuk. "Tamu siapa, Ma?" Tyo bergerak menghampiri. Ia sama sekali tidak tahu kalau tamu tersebut adalah pihak kepolisian yang dari kemarin gencar mencarinya. "Ini loh, Nak. Polisi yang menangani kasus kematiannya Gavin. Katanya mereka mau minta keterangan dari kamu." Raut wajah Tyo mendadak berubah menjadi pucat. Dan Aaron sangat paham dengan gelagat aneh Tyo. Ia pun memberi kode pada kedua rekannya untuk siap siaga berjaga-jaga takutnya Tyo tiba-tiba kabur. "Selamat sore, Mas Tyo. Boleh minta waktunya sebentar? Kami hanya sebatas ingin meminta keterangan saja, dari Mas Tyo," kata Aaron memberitahukan maksud tujuannya datang ke sini. "B-boleh. Tapi kalau bisa jangan sekarang. Saya baru saja pulang. Masih lelah." Tyo memberi alasan klasik. "Hanya sebentar saja kok, Mas Tyo. Mas Tyo hanya cukup duduk dan menjawab pertanyaan dari saya. Itu saja." "Iya, Tyo. Cuma jawab pertanyaan saja apa susahnya sih, Nak? Ayo duduk dulu, Nak. Mas-Mas polisi juga silakan duduk, ya." Triana meminta putranya dan juga ketiga anggota kepolisian itu untuk duduk di sofa ruang tamu. Pun dirinya yang mengambil alih untuk duduk terlebih dahulu. Mau tidak mau, Tyo pun menuruti perintah ibunya dengan memilih duduk ketimbang berdiri dengan perasaan tak menentu. Tyo pun duduk di sebelah Triana dengan menyimpan perasaan gelisah luar biasa. Aaron lalu mengeluarkan dua plastik bening yang masing-masing isinya adalah peluru dan kalung perak berliontin huruf T. Ekspresi wajah Tyo terlihat biasa saja ketika melihat kalung yang sama persis seperti dengan miliknya. Bisa jadi beberapa hari yang lalu Nana sudah mengadu padanya kalau pihak kepolisian tak sengaja menemukan kalung tersebut di kamar Gavin. "Mas Tyo tau sendiri kan dengan kasus kematian Saudara Gavin? Yang mana, dia meninggal karena ditembak oleh Saudari Chika. Dengan tuduhan, Chika menyimpan sebuah pistol di tasnya. Namun, setelah pelurunya kami cek, rupanya peluru yang melukai kepala korban, tidak cocok dengan pistol milik Saudari Chika. Lalu barang bukti yang kedua, kami menemukan kalung yang sama persis seperti punya Anda, Mas Tyo. Kalung tersebut kami temukan di dekat jendela kamar korban. Setelah kami cek sidik jarinya, rupanya di bagian liontinnya, ada sidik jari Anda. Dan, kami punya bukti satu lagi." Aaron meraih ponsel Nokia jadul dari saku jaketnya. Kemarin, ia sempat merekam kesaksian dari Mirna. Ia lalu memutar rekaman suara Mirna tersebut dengan volume yang cukup keras. 'Gini loh, Mas Polisi. Saya mau bilang kalau bukan Mba Chika pelakunya. Saya yakin seratus persen, Mas. Alasannya kenapa saya begitu yakin, karena beberapa hari sebelum Mas Gavin meninggal, saya nggak sengaja menguping pembicaraan Mba Nana sama Mas Tyo lewat telepon. Yang saya dengar, Mba Nana mendesak Mas Tyo untuk segera menyingkirkan Mas Gavin. Dan waktu saya disuruh belanja ke supermarket sebelum mendapat kabar bahwa Mas Gavin telah meninggal, saya nggak sengaja lihat mobil punyanya Mas Tyo parkir di depan rumah tetangga. Nggak tau kenapa saya yakin banget itu mobil punyanya Mas Tyo. Udah hafal saya, Mas. Tapi anehnya, kenapa Mas Tyo markir mobilnya di depan rumah tetangga? Bukan malah di depan rumah Mas Gavin? Itu yang bikin saya aneh, Mas.' Triana sangat terkejut mendengar kesaksian Mirna dalam rekaman suara yang baru saja Aaron putar itu. Hati kecilnya menyimpulkan bahwa putra semata wayangnya itu terlibat dalam kasus pembunuhan Gavin. Terlihat Tyo menunduk karena ia bingung harus bagaimana menyangkal kebenaran ini. "Dan saya menemukan saksi lagi. Tetangga yang depan rumahnya menjadi tempat parkir mobil Anda waktu itu, sebelumnya sempat menyapa Anda sewaktu Anda buru-buru memasuki mobil. Kalau Anda mau, orangnya akan saya panggil ke sini untuk memberi keterangan. Bahkan orangnya mengaku sempat berbincang-bincang dengan Anda, sebelum Anda memutuskan untuk masuk mobil dan buru-buru melajukan roda empat Anda," imbuh Aaron. "Tyo. Benar apa yang dikatakan oleh mereka? Kalung itu punya kamu, kan? Itu bukannya kalung pemberian dari mendiang Papa?" Triana mulai meyakini kalau kalung tersebut adalah milik putranya. Buktinya detik ini ia tidak melihat sang putra memakai kalung itu. "Dan tentang pengakuan asisten rumah tangga Gavin, apakah itu semua benar? Kamu didesak Nana untuk segera menyingkirkan Gavin? Benar kamu yang sudah membunuh Gavin, Nak?" desak Triana dengan perasaan tak terbaca. Meski sulit menerima kenyataan ini, tetapi Triana belum benar-benar percaya kalau sang putra belum mengakui sebagaimana mestinya. "Maaf, Ma. Tyo memang pelakunya." Tyo adalah pribadi yang sangat lemah jika berhadapan dengan sang ibu. Ia paling sulit untuk berbohong apalagi menyakiti hati ibu tercinta. Tbc ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN