Part 9. Polisi Gendeng bin Sableng

1376 Kata
"Ma. Mama mau ngapain pegang pisau, Ma? Itu bahaya, Ma." Dari layar ponsel, terlihat jelas wajah panik Tyo. Triana tiba-tiba menghubungi putranya via panggilan video call. Hari ini ada yang tidak beres dengan wanita paruh baya itu. Ia menghubungi anaknya dengan kondisi tengah meletakkan sebuah pisau tajam di dekat lehernya. Jelas saja hal ini membuat Tyo menjadi panik. "Ma, tolong singkirin pisau itu dari leher Mama. Jangan bikin Tyo nggak tenang di sini, Ma." "Cepat pulang sekarang. Kalau enggak, mama akan bunuh diri," ancam Triana dengan suara dan tatapan yang sama-sama dingin. "Astaga, Ma. Mama ini kenapa, sih? Mama punya masalah apa sih sampai nekat mau bunuh diri? Kerjaan Tyo di sini belum kelar, Ma. Nggak mungkin Tyo pulang sekarang." "Kamu janji ke mama cuma pergi tiga hari. Tapi ini sudah lima hari, kamu belum pulang juga? Kamu memang pembohong." "Ma, Tyo sedang ada urusan mendesak. Tyo nggak bisa pulang dalam waktu dekat ini. Tolong pengertian sama Tyo sedikit dong, Ma." "Pulang sekarang, atau mama akan congkel mata mama sekarang." Triana mulai mendekatkan pisau itu ke matanya. "Eh, Ma. Stop, Ma. Stop. Jangan lakukan hal bodoh itu, Ma. Oke, Tyo akan pulang sekarang. Mama tolong tunggu kepulangan Tyo, ya. Tyo mau siap-siap dulu." "Baiklah. Mama tunggu kepulanganmu paling telat nanti sore. Kalau sampai sore kamu belum menampakkan batang hidungmu di rumah ini, mama akan nekat bunuh diri. Dan kamu hanya sanggup mendapati jasad mamamu." Triana segera memutuskan sambungan video call dengan putranya setelah berpesan demikian. Ia lalu meletakkan ponsel beserta pisau di atas meja ruang tamu. Kemudian menatap seorang pria di depannya dengan tatapan kosong. "Bu Triana bekerja dengan sangat bagus. Tugas ibu sudah selesai. Sekarang, Ibu sepertinya cukup lelah. Maka sebaiknya Ibu tidur saja. Namun, sebelum Ibu tidur, saya ingin menyampaikan sesuatu hal penting terlebih dahulu pada Ibu. Nanti ketika anak Ibu sudah sampai rumah, bujuk dia agar tetap berada di rumah. Jangan sekali pun Ibu memberitahukan kalau ada polisi yang datang mencarinya, selagi saya belum datang. Ingat pesan saya ya, Bu, bujuk Tyo agar tetap berada di rumah, bagaimana pun caranya. Ibu paham dengan perintah dari saya?" Triana hanya sanggup mengangguk seperti robot. "Oke, dalam hitungan ketiga, Ibu akan tertidur dengan pulas. Anggap saja semalam Ibu habis begadang. Jadi saat ini yang Ibu inginkan hanyalah tidur yang nyenyak. Saya mulai berhitung ya, Bu. Satu, dua, dan tiga." Aaron menjentikkan jarinya. Saat itu juga tubuh Triana ambruk ke sofa. Kedua mata wanita paruh baya itu terpejam rapat. Triana tengah tertidur nyenyak dengan mudahnya. "Tidur yang nyenyak ya, Bu. Saya permisi dulu." Aaron pun pamit undur diri. Ia memutuskan untuk menjenguk Chika di ruang tahanan selagi menunggu kepulangan Tyo. Diperkirakan Tyo sampai rumah nanti sore. Sementara saat ini baru pukul sembilan pagi. Aaron masih memiliki banyak waktu untuk ngobrol-ngobrol dulu dengan Chika. *** "Saudari Chika. Ada keluarga yang datang membesuk," kata petugas sipir wanita. Chika yang sejak tadi hanya tidur-tiduran di atas kasur tipisnya, perlahan mulai bangun meski kepalanya terasa sangat pening. Sejak semalam, Chika mengalami demam beserta sakit kepala. Namun, ia tidak memberi tahu sipir tentang kondisi fisiknya. "Keluarga siapa ya, Bu? Saya perasaan nggak punya keluarga," sahut Chika sambil sesekali meringis kesakitan. "Seorang wanita. Ya umurnya sekitar empat puluh tahunan." Chika mendadak teringat dengan ibu tirinya. Apa mungkin Risti benar ada di sini dan berniat menjenguknya? "Oh, itu mungkin ibu tiri saya. Sebentar, Bu." Chika memaksakan diri untuk berdiri dan berniat menemui ibu tirinya. Ketika ia telah keluar dari sel, pandangannya terlihat kabur. Jalannya pun sempoyongan. "Bu Sipir. Tolong ...," rintih Chika sambil memegangi kepalanya. "Loh, Chika. Kamu kenapa?" Sipir wanita yang posisinya berada di depan Chika, sesaat terlihat panik ketika mendapati gelagat aneh salah satu tahanannya ini. "Badanmu panas sekali, Chika? Kamu demam?" tanya sipir wanita dengan panik. Chika tak mampu menjawab. Kepalanya nyaris mau pecah saja. Bahkan kedua kakinya pun terasa sangat lemas untuk melanjutkan langkah. "Chika. Kamu masih kuat untuk jalan kan, Chika?!" Sipir wanita itu mulai memapah tubuh lemah Chika. "Chika?" Dari jauh Aaron melihat Chika tengah dipapah oleh petugas sipir. Segera Aaron berlari menghampiri. "Chika kenapa, Bu?" tanya Aaron panik. Ia langsung mengambil alih untuk memapah tubuh Chika. Aaron dapat merasakan betapa panasnya suhu tubuh Chika. "Badanmu panas, Chik? Kamu demam? Kita ke rumah sakit sekarang, ya?" Aaron segera membopong Chika dan berniat segera melarikan Chika ke rumah sakit. "Ron, jangan gegabah kamu. Chika ini tahanan loh. Nggak bisa seenaknya main kamu bawa keluar ke rumah sakit. Nanti kalau di sana dia berusaha untuk kabur, gimana?" Sipir wanita itu melarang keras Aaron membawa Chika pergi. "Bu, Chika lagi sakit begini. Dia nggak mungkin berencana untuk kabur. Lagian, saya seratus persen yakin Chika nggak akan berani kabur." "Tapi, Ron, di rutan ini ada ruang kesehatan. Cukup kita obati saja di sana. Nggak perlu lah pakai acara bawa tahanan ke rumah sakit. Kalau kepala rutan sampai tau, kamu bisa dapat masalah besar, Ron." "Bu, ini keadaan darurat. Saya yakin nanti kepala rutan pasti akan memaklumi. Di ruang kesehatan cuma tersedia obat-obatan saja kan, Bu? Kita nggak punya dokter, kan? Yang Chika butuhin sekarang nggak cuma obat, tapi juga tenaga medis yang harus segera menangani Chika." "Yah ... Ika kangen Ayah. Ika nggak betah di sini, Yah. Tolongin Ika ...." Chika terdengar mengigau. Dan Aaron yakin kalau sakitnya Chika ini diakibatkan oleh kondisi psikisnya yang terganggu. Diduga Chika mengalami stres berat karena dipenjara. Dan imbasnya fisik gadis tersebut yang menjadi sasaran. "Saya akan tetap bawa Chika ke rumah sakit terdekat, Bu. Saya janji, kalau Chika sudah enakan, saya akan langsung bawa dia kembali ke sini." Aaron bergerak membawa Chika untuk keluar, meski sipir wanita tersebut berkali-kali meneriakinya. "Kamu lagi kena demam jatuh cinta ya, Ron?! Tingkahmu seenak jidat!" "Ron. Kembali saya bilang!" "Aaron ...!" Polisi muda itu tak peduli dengan teriakan petugas sipir wanita yang terdengar begitu berisik di telinga. Ia tetap melangkah keluar sembari membopong Chika. Beberapa petugas sipir lain yang berpapasan dengannya pun mulai menatapnya aneh. "Mau dibawa ke mana itu, Ron?" "Ciye ... cinlok sama tahanan, ciye." "Jangan berani bawa kabur tahanan, Ron. Habis riwayatmu sebagai polisi nanti." Langkah Aaron lantas terhenti ketika ada seorang sipir pria yang berucap seenaknya. Main menuduh dirinya berniat membawa kabur seorang tahanan, tanpa bertanya terlebih dahulu situasi yang sebenarnya seperti apa. Aaron lalu berbalik badan menatap tajam petugas sipir pria tersebut. "Tatapanmu iku medeni tenan, Ron? Aku ojo dihipnotis to yo? Oke, oke. Kita pilih jalan damai. Mau kamu bawa ke mana itu awewe? Saya tadi nggak bermaksud nuduh kok." Sipir pria tersebut tampak takut karena telah seenaknya menuduh. Ia hanya tidak mau Aaron berakhir dengan menghipnotis dirinya. Dan memerintahnya melakukan hal yang aneh-aneh. "Dia sedang sakit. Saya hanya ingin membawa dia ke rumah sakit. Apa itu salah?" Aaron meminta pendapat. "Yo nggak salah sih. Tapi kan dia ini tahanan. Jadi agak gimana lah kalau tahanan main dibawa pergi begitu saja. Takut di sana kamunya lalai, Ron." "Nah, bener, Ron. Jangan asal main bawa pergi begitu saja, Ron. Bisa saja kan dia pura-pura sakit, supaya bisa dikasihi sama polisi berhati malaikat seperti kamu," imbuh sipir yang lain. Aaron tidak memiliki waktu banyak untuk meladeni para sipir yang terkesan tidak memiliki hati nurani itu. Ia tiba-tiba saja tersenyum penuh arti kepada para sipir di depannya. Ia lalu menatap petugas sipir di hadapannya satu per satu dengan tatapan yang sulit diartikan. Lantas dirinya berbalik badan dan berniat melanjutkan langkahnya kembali. Namun, sebelum pergi, Aaron sempatkan meninggalkan pesan untuk para petugas sipir yang detik ini tengah berdiri mematung dengan tatapan kosong. "Push up seratus kali," perintahnya dingin. "Siap, laksanakan!" jawab mereka serempak. Para petugas sipir yang sudah terkena pengaruh hipnotisnya Aaron itu mulai melaksanakan perintah dari Aaron untuk push up sampai seratus kali. Sedangkan Aaron dapat pergi dengan leluasa tanpa adanya gangguan lagi. Aaron lalu membawa Chika ke salah satu mobil polisi yang terparkir di halaman rutan. Ia lalu meletakkan Chika di jok sebelah, dan tak lupa memasang sabung pengaman untuk Chika. Sebelum memasuki mobil, Aaron sempatkan dulu melambaikan tangan ke arah petugas sipir wanita yang tadi sempat berdebat dengannya. Sipir wanita tersebut detik ini tengah di berdiri sembari berkacak pinggang di halaman depan rutan. Ia sangat marah karena Aaron berani-beraninya menghipnotis beberapa petugas sipir yang lain untuk push up sampai seratus kali. "Dasar Aaron, polisi gendeng! Sableng tenanan kowe, Ron!" makinya dengan kesal. Tbc ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN