Part 8. Pengakuan Mirna

1538 Kata
"Permisi, Bu Polisi," sapa Mirna pada seorang polisi wanita yang tengah berjaga di meja informasi. Mirna telah sampai di polres Sleman. Ia niatnya ingin menanyakan keberadaan Aaron pada polisi wanita tersebut. "Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Polisi wanita itu pun berdiri dan menanyai Mirna dengan ramah. "Begini, Bu Polisi. Saya ada perlu sama salah satu polisi di sini. Tapi jan, saya malah nggak tau namanya." "Loh, Ibu ada perlu dengan salah satu polisi yang ada di sini, tapi Ibu tidak tahu nama polisinya siapa? Nah, sekarang coba Ibu kasih tahu ciri-cirinya seperti apa?" pinta polwan tersebut. "Ciri-cirinya, dia itu laki-laki, Bu Polisi. Terus ganteng, tinggi, putih, masih muda pokoknya. Dia ini lagi menangani kasus pembunuhan majikan saya. Namanya Gavin Bumantara. Coba Bu Polisi cek di data, kira-kira siapa nama polisi yang lagi menangani kasus kematian majikan saya." "Owh, jadi polisi yang sedang Ibu cari ini merupakan reserse kriminal ya, Bu? Di polres kami, ada tiga tim reserse kriminal, Bu. Tim Perisai Hitam, tim Macan Putih, dan tim Garuda Emas. Masing-masing tim terdiri dari tiga orang, Bu. Kalau Tim Perisai Hitam, ada Aaron, Bagas, dan Dani. Tim Macan Putih, ada Lukas, Bian, dan Ken. Kalau Tim Garuda Emas, ada Diky, Roni, dan Fatah. Kira-kira yang Ibu cari, yang mana, ya? Kalau soal ganteng, tinggi, putih, dan muda, jelas semuanya masuk kriteria, Bu." "Aduh, saya nggak tau yang saya cari itu yang namanya siapa. Pokoknya saya ada perlu sama orang itu." Mirna benar-benar tidak ingat dengan nama orang yang sedang ia cari. Pun sebelumnya ia belum pernah berkenalan dengan polisi yang dimaksud. "Lebih baik Ibu duduk saja dulu di sana ya, Bu. Saya akan mencoba menghubungi ketua tim mereka untuk menghadap Ibu. Sebelumnya pasti Ibu pernah bertemu dengan ketua timnya. Atau bisa jadi, ketua timnya adalah orang yang sedang Ibu cari." "Akh, bener, bener. Lebih baik kayak begitu aja, Bu Polisi. Mereka mending suruh nemuin saya sekaligus. Soalnya apa yang akan saya sampaikan ke mereka nanti, masih ada hubungannya dengan kasus kematian majikan saya yang kebetulan sedang ditangani oleh mereka. Yo wes, saya mending nunggunya sambil duduk aja ya, Bu Polisi." Mirna pun pamit menuju kursi tunggu yang ada di dekat pintu masuk. Namun, ketika berniat akan duduk, ia tak sengaja melihat seorang pria memakai jaket kulit hitam serta celana jeans, baru saja memasuki kantor polisi. Mirna merasa familier dengan wajah pria tersebut. "Pucuk dicinta, orangnya nongol juga. Mas! Mas Polisi!" panggil Mirna. Ia pun bergerak menghampiri polisi tersebut. Aaron yang sedang berjalan pun mendadak menghentikan langkahnya. Ia langsung menoleh ke belakang. Dirinya cukup terkejut mendapati ada Mirna di sini. "Loh, Mba ini kan ART di rumahnya Mba Nana, kan?" tebak Aaron. "Ho oh, betul sekali, Mas. Owalah, akhirnya ketemu juga, Mas. Bu Polisi, ini orang yang sedang saya cari loh." Mirna memberitahu polwan yang berjaga di meja informasi itu bahwa orang yang sedari tadi ia cari adalah Aaron. "Oh, sudah ketemu, ya. Syukurlah. Ibu ini mencari kamu, Ron. Katanya ada hal penting yang ingin beliau sampaikan," kata polwan tersebut. "Mba ada perlu apa ya nyari saya? Akh, saya harus panggil Mba atau Ibu, nih?" Aaron merasa bingung pantasnya Mirna ini dipanggil Mba atau Ibu. "Panggil Mba Mir wae, Mas. Saya sering dipanggil begitu sama Mas Gavin. Gini loh, ada hal penting yang ingin saya sampaikan ke Mas Polisi. Ini masih ada sangkut pautnya sama kasus pembunuhan Mas Gavin." "Kayaknya hal yang ingin Mba Mir sampaikan cukup penting. Lebih baik, kita bicarakan di ruang kerja saya saja, ya. Mari Mba Mir, ikut saya ke lantai atas." Aaron bergerak terlebih dahulu menaiki anak tangga menuju ruang kerjanya. Disusul dengan Mirna yang mengikutinya dari belakang. Aaron menuju divisi kriminal yang merupakan ruang kerjanya bersama dengan timnya. Lelaki tersebut bergegas membuka pintu dan mengajak Mirna untuk masuk. Di ruang divisi ini, ada Bagas dan enam rekan polisi lain yang sedang sibuk mengecek data-data penting di layar komputer yang berada di meja mereka masing-masing. Divisi kriminal ini terdiri dari lima belas orang anggota kepolisian. Ada sembilan polisi yang memiliki tanggung jawab bekerja di lapangan dengan membentuk tiga tim reserse. Sementara sisanya memiliki tugas bekerja di dalam kantor. "Eh, udah balik, Ron? Weh, barengan sama Mba-nya? Kamu habis dari rumahnya si korban lagi?" tanya Bagas sembari bergerak menghampiri Aaron dan Mirna. "Tadi aku ketemu Mba Mir di depan. Katanya beliau ingin menyampaikan sesuatu yang penting sama kita. Ayo, Mba Mir, silakan duduk." Aaron mempersilakan Mirna untuk duduk di sebuah sofa hitam nan empuk yang telah tersedia di sana. "Duh, iki kok kantor polisi dalemannya bagus tenan yo? Kupikir yang namanya kantor polisi itu serem. Isinya penjahat sama polisi berbadan gendut. Tapi iki, ruangannya ya bagus. Polisinya pada ganteng-ganteng dan cantik-cantik," puji Mirna. "Akh, Mba Mir iso wae to. Polisi di sini memang good looking semua, Mba. Apalagi saya. Dulunya saya pernah masuk nominasi sekaligus menyabet penghargaan sebagai pemenang dalam kategori Polisi Tertampan se-Jogjakarta loh." Bagas mulai menyombongkan diri sekaligus mengarang cerita. Hal ini lantas membuat Aaron ingin sekali menertawakannya. "Oh ya? Wah, pantesan. Kenapa nggak daftar jadi model aja, Mas? Wajah Mas ini menjual banget loh untuk jadi model." Mirna pun percaya-percaya saja dengan cerita yang dikarang oleh Bagas. Ia justru menanggapi dengan antusias. "Kadang ya sebenarnya saya ingin pindah profesi jadi model, Bu. Tapi karena kalau saya keluar dari tim, Aaron pastinya akan sedih kehilangan rekan yang jenius seperti saya. Jadi rasanya saya cukup keberatan kalau harus berhenti jadi polisi dan beralih profesi menjadi model, Bu." "Kalau mau berhenti ya berhenti aja kali, Gas. Masih ada Bagas Bagas yang lain. Nggak bingung akunya." Aaron justru iklas-ikhlas saja kalau Bagas lebih memilih untuk menjadi model daripada tetap bertahan sebagai seorang polisi. "Roman-romannya ada ngambek. Aku bercanda kali, Ron. Cita-citaku dari dulu memang pengen jadi polisi. Sekarang udah kesampaian, masa iya mau aku sia-siain gitu aja? Oh iya, Mba Mir, saya buatkan minuman dulu, ya. Silakan ngobrol-ngobrol dulu sama Aaron." Bagas pamit menuju dapur yang berada di lantai bawah guna membuatkan minuman untuk Mirna. "Duh, pakai repot-repot buatin saya minum, Mas Polisi. Padahal sewaktu di rumah majikan saya, sayanya mau buatin minum malah nggak jadi." Mirna merasa sungkan karena kedua polisi itu memperlakukannya dengan sangat baik dan sopan. "Nggak apa-apa, Mba Mir. Hanya sekedar minum. Ngomong-ngomong, Mba Mir mau menyampaikan hal penting apa ya pada kami? Apa Mba Mir menemukan ada hal mencurigakan yang terjadi di rumah korban? Atau mungkin Mba Mir menemukan adanya barang bukti lagi?" tanya Aaron serius. "Gini loh, Mas Polisi. Saya mau bilang kalau bukan Mba Chika pelakunya. Saya yakin seratus persen, Mas. Alasannya kenapa saya begitu yakin, karena beberapa hari sebelum Mas Gavin meninggal, saya nggak sengaja menguping pembicaraan Mba Nana sama Mas Tyo lewat telepon. Yang saya dengar, Mba Nana mendesak Mas Tyo untuk segera menyingkirkan Mas Gavin. Dan waktu saya disuruh belanja ke supermarket sebelum mendapat kabar bahwa Mas Gavin telah meninggal, saya nggak sengaja lihat mobil punyanya Mas Tyo parkir di depan rumah tetangga. Nggak tau kenapa saya yakin banget itu mobil punyanya Mas Tyo. Udah hafal saya, Mas. Tapi anehnya, kenapa Mas Tyo markir mobilnya di depan rumah tetangga? Bukan malah di depan rumah Mas Gavin? Itu yang bikin saya aneh, Mas." Panjang lebar Mirna bercerita. Ia menceritakan semua hal yang ia tahu dan ia curigai. "Mba Mirna hafal sama nomor plat mobilnya? Atau pas Mba lewat, kira-kira lihat Tyo ada di dalam mobil nggak? Kita nggak bisa main nuduh aja, Mba, hanya karena alasan mobil itu benar-benar mirip." Aaron tak ingin bertingkah gegabah dan terlalu terburu-buru menyimpulkan bahwa Tyo-lah pelaku sebenarnya. "Duh, saya ya nggak hafal sama platnya. Terus saya juga nggak memerhatikan kira-kira waktu itu Mas Tyo ada di dalam mobil atau enggak. La wong saya cuma lewat. Saya tadinya mikir itu mobil punyanya orang lain, Mas. Soalnya parkirnya kan bukan di depan rumah Mas Gavin. Kalau punya Mas Tyo, jelas parkirnya di depan rumah Mas Gavin. Tapi, waktu tau-tau dapat kabar Mas Gavin meninggal karena dibunuh orang, saya langsung kepikiran sama pembicaraan Mba Nana waktu itu. Pun saya juga jadi punya keyakinan kalau mobil itu punyanya Mas Tyo. Bisa aja kan sengaja parkir di depan rumah tetangga, supaya nggak ketahuan?" Kesimpulan Mirna terdengar cukup masuk akal. "Maaf, ya, Mba Mir. Di dapur adanya teh sama kopi. Karena pikir saya, perempuan biasanya nggak suka ngopi, jadi saya buatkan teh manis buat Mba Mir." Bagas pun datang membawa nampan yang berisi tiga cangkir. Satu cangkir isinya adalah teh manis hangat untuk Mirna. Sedangkan dua cangkir yang lain isinya adalah kopi hitam nan pekat untuk dirinya dan juga Aaron. Bagas lalu meletakkan nampan tersebut di atas meja, dan mulai menyajikan minuman tersebut di depan pemiliknya. "Nggak apa-apa, Mas Polisi. Mau teh atau kopi, dua-duanya saya doyan kok." Aaron lalu bercerita pada Bagas tentang hal yang tadi Mirna sampaikan padanya. "Jadi gimana? Kita langsung tangkap Tyo sekarang?" tanya Bagas. "Kita nunggu hasil pemeriksaan peluru sama sidik jarinya dulu, Gas, biar bukti makin kuat. Lagian sekarang Tyo lagi pergi keluar kota. Kata ibunya sih pulangnya kalau nggak besok ya lusa. Aku justru takutnya Tyo sedang berusaha kabur, Gas. Bisa aja kan Nana kasih tau Tyo tentang kecurigaan kita kemarin. Tapi aku punya rencana untuk membuat Tyo agar segera kembali sih." "Rencana apa, Ron?" tanya Bagas penasaran. "Kita manfaatkan ibunya," jawab Aaron sembari memamerkan senyum liciknya. Tbc ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN