bc

Istri Pilihan Ibuku yang kuabaikan

book_age18+
55
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
escape while being pregnant
friends to lovers
arranged marriage
arrogant
badboy
kickass heroine
boss
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
city
secrets
like
intro-logo
Uraian

Aku menikahi Kirana karena ibuku memintanya, bukan karena aku menginginkannya. Bagiku, ia hanya gadis baik yang tumbuh di rumah keluarga kami, bukan seseorang yang ingin kupanggil istri. Dua tahun pernikahan kami berlalu tanpa sentuhan, tanpa perhatian, dan tanpa sedikit pun ruang yang kuberikan untuknya di hidupku.Semua berubah ketika Kirana datang menemuiku dengan senyum penuh harap—hanya untuk menemukan kenyataan kejam bahwa aku diam-diam menikahi perempuan lain. Wajahnya yang hancur saat itu menusuk sesuatu yang bahkan tidak kusadari masih ada di dalam diriku. Dan ketika ia pergi, membawa kehamilannya, aku baru benar-benar merasakan arti kehilangan.Kini aku berdiri di antara dua kenyataan: wanita yang kupilih mengkhianatiku, dan wanita yang kuabaikan justru mengandung anakku. Untuk pertama kalinya, aku ingin memperbaiki semuanya. Tapi pertanyaannya sederhana dan menakutkan—apakah Kirana masih bisa mencintai pria yang selama ini hanya memberinya luka?

chap-preview
Pratinjau gratis
Istri diatas kertas
Suasana ballroom hotel malam itu mewah banget. Lampu gantung kristal yang gede-gede memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan. Musik instrumental pelan bikin suasana makin terasa sakral, tapi juga… agak dingin. Entah kenapa. Di pelaminan sederhana bergaya modern, seorang wanita paruh baya duduk dengan anggun. Bunda Adelia—makeup-nya flawless, bajunya elegan, dan senyumnya keliatan bangga… tapi sesekali matanya nyorot kayak dia lagi nyembunyiin sesuatu. Di sampingnya, berdiri sosok lelaki yang jadi pusat perhatian malam itu. Aksha Devano. Cowok tiga puluh tahun, CEO muda, tinggi, gagah, wajahnya tegas banget sampai bikin orang otomatis minggir kalau dia lewat. Malam itu dia pakai setelan pengantin khas desainer ternama, rapi, mahal, pokoknya “anak crazy rich” banget. Tapi ekspresinya? Datar. Kayak ini semua cuma rapat perusahaan yang harus dia jalani. Di sisi lain meja akad, aku, Kirana Maheswari, berusaha banget ngatur napas biar nggak terlihat grogi. Hari ini harusnya jadi hari yang bikin deg-degan bahagia. Tapi realitanya? Rasanya d**a aku penuh sesak. Aku duduk sendirian. Tanpa ayah. Tanpa ibu. Tanpa siapapun dari pihak keluargaku. Keduanya sudah meninggal dua tahun lalu, kecelakaan yang masih suka kebayang sampai sekarang. Aku menarik napas kecil, menatap buku nikah yang sudah disiapkan. “Ya Allah… kuatkan aku,” batinku. Seorang hakim duduk di depanku, siap menjadi wali adhal, karena aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi. Hakim itu menoleh ke Aksha. “Baik, kita mulai ya, Nak Aksha.” Aksha mengangguk singkat. “Iya, Pak.” Suara laki-laki itu berat, tegas, tapi… dingin. Kayak nggak ada emosi sama sekali. Bunda Adelia menepuk tangan Aksha pelan, memberi isyarat supaya anaknya fokus dan tidak menunjukkan ketidaksukaannya. “Ayo, Nak… selesaikan dengan baik,” bisik Bunda lembut. Aku melirik cepat ke arah Aksha. Dia tidak melihatku sama sekali. Semua tamu diam. Heningnya bikin telingaku berdenging. Aksha menarik napas dalam, dengan satu tarikan nafas, aksha mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang tapi sangat tegas. Suaranya stabil. Tidak gemetar. Tidak ragu. Tidak juga… bahagia. Semua saksi langsung mengangguk. “SAH!” Tamu-tamu mulai bertepuk tangan pelan. Bunda Adelia tersenyum lega, memeluk Aksha singkat. “Alhamdulillah… akhirnya,” ucapnya haru. Aku hanya tersenyum tipis. Tanganku dingin. Kaki lemas. Semuanya terasa cepat dan jauh dari imajinasi pernikahan impianku. Aksha akhirnya menoleh ke arahku untuk pertama kalinya. Tatapan itu hanya beberapa detik… dingin, datar, dan sulit ditebak. Lalu ia kembali menatap ke depan, seolah aku hanya formalitas dari keputusan besar yang sudah ia terima tanpa keinginan. Bunda Adelia menggenggam tanganku hangat. “Nak Kirana… mulai hari ini, kamu resmi jadi bagian keluarga kami. Ibu senang sekali.” Aku tersenyum, mencoba tegar. “Iya, Bunda… terima kasih.” Sementara itu Aksha sudah berdiri, sibuk menerima ucapan selamat dari kerabatnya. Tanpa satu pun menoleh ke arah istrinya sendiri. Aku hanya bisa melihat punggungnya—tegap, kokoh, tapi terasa jauh. Jauh sekali. Dan saat itu aku sadar… Pernikahan ini bukan akhir yang bahagia. Ini… baru permulaan dari perjalanan yang bahkan aku sendiri nggak tahu akan seperti apa. Malam hari, ballroom hotel berubah makin megah. Lampu-lampu diganti lebih warm, lantai dansa dipoles sampai kinclong, dan dekor bunga segar bikin ruangan harum. Musik live dari band akustik bikin suasana terasa romantis… meski rasanya nggak seromantis itu buatku. Aku berdiri di samping Aksha sambil nunggu aba-aba dari EO. Gaun pengantinku jatuh cantik, elegan, hijabku dirapikan dengan manik-manik kecil. Sebenarnya aku suka banget sama look-ku malam ini. Tapi jujur aja… d**a masih terasa sesak. EO mendekat, tersenyum, “Mas Aksa, Mbak Kirana, kita jalan ya.” Aksa mengangguk dan—untuk pertama kalinya hari ini—dia menggenggam tanganku. Genggamannya hangat… tapi terasa dipaksakan. Dia menoleh sebentar, bisik pelan banget, “Kita harus keliatan bahagia. Banyak tamu penting.” Aku cuma mengangguk kecil. “Iya.” Lalu kami berjalan masuk. Sorak-sorai tamu langsung terdengar. Flash kamera nyala beruntun. Semua orang berdiri, tepuk tangan, senyum lebar, kayak lagi nonton pasangan paling bahagia sedunia. Di sebelahku, Aksa memasang senyum tipis—senyum yang jelas bukan untukku, tapi untuk publik. “Mas, senyumnya nambah dikit dong,” celetuk salah satu fotografer sambil mundur-mundur ngambil angle. Aksa menarik ujung bibirnya sedikit lebih lebar, tapi matanya tetap datar. Aku juga ikut tersenyum. Walaupun canggung banget, aku berusaha keliatan natural. “Cantik banget pengantennya!” teriak salah satu tante-tante dari jauh. Aku cuma bisa membalas dengan anggukan pelan dan senyum sopan. Sampai kami tiba di pelaminan. Kursinya empuk tapi entah kenapa tetap nggak membuat nyaman. Aksa duduk jauh setengah jengkal dariku, tapi dari depan terlihat kami seperti pasangan yang lengket dan bahagia. Tamu pertama naik ke pelaminan, sepasang suami istri yang aku nggak kenal sama sekali. “Selamat ya, Mas Aksa, Mbak Kirana… semoga langgeng,” ucap si ibu, sambil memelukku erat. “Iya, Bu… makasih banyak,” jawabku ramah. Aksa cuma mengangguk. “Terima kasih, Bu.” Tamu selanjutnya datang lagi. Dan lagi. Dan lagi. Kebanyakan aku tidak mengenal mereka. Mereka menyalami kami berdua, menepuk bahu Aksa, memuji aku yang dianggap “cantik banget kayak putri”. Kami tersenyum… terus-menerus. Senyum capek. Senyum kaku. Senyum formalitas. Di sela-sela itu, Aksa sempat menunduk sedikit, berbisik tanpa menoleh. “Kakiku pegel.” Aku hampir ketawa tapi kutahan. “Sama.” Dia mendengus kecil, “Senyum jangan hilang.” “Iya, tenang aja.” Ada jeda beberapa detik sebelum tamu berikutnya naik. Kesempatan itu bikin kami duduk diam dengan ekspresi sama-sama canggung. Aku melirik Aksa sedikit. “Mas… banyak banget ya tamunya.” “Hmm.” Jawabannya pendek. Seperti biasa. “Mas kenal semua?” “Enggak.” Kami berdua langsung saling melirik sekilas. Entah kenapa itu sedikit lucu, dan kami kembali senyum—kali ini bukan buat foto, tapi karena situasinya absurd banget. Tamu selanjutnya naik lagi. Aku langsung kembali ke mode formal. “Senaaaang banget lihat kalian berdua! Duh, cocok banget!” “Tahun depan semoga dapat momongan ya!” Aku cuma bisa tersenyum tipis. “Amin…” Sementara Aksa mengangguk sopan, tetap dengan wajah CEO yang cool-cuek-tapi sopan versi paling ekstrem. Sampai puluhan menit kemudian, acara salaman itu kayak nggak ada habisnya. Aku dan Aksa masih duduk berdampingan, tangan tetap digenggam—bukan karena romantis, tapi karena kamera masih terus mengarah ke kami. Senyum kami sama-sama canggung. Senyum yang menutupi kenyataan bahwa di balik semua kemewahan ini… kami sebenarnya dua orang asing yang tiba-tiba dijadikan satu. Pesta resepsi akhirnya selesai juga. Musik berhenti, para tamu pulang, dan aku bisa bernapas lebih lega. Sumpah, senyum-senyum sepanjang malam bikin pipi keram. Aku dan Aksha masuk ke kamar pengantin yang super mewah, interiornya putih elegan, bunga mawar di mana-mana, dan wangi aromatherapy bikin suasana tenang. Tapi jujur, ketenangan itu cuma di ruangan… bukan di hatiku. MUA langsung bantu aku lepas gaun pengantin besar yang dari tadi rasanya kayak nyekik pinggang. Begitu selesai, aku ganti gamis lembut warna pastel dan kerudung simpel. Jauh lebih nyaman. “Kalau gitu aku pamit ya, Mbak Kirana,” kata MUA itu sambil beres alat-alatnya. “Iya, Makasih banyak,” jawabku sambil tersenyum. Begitu pintu tertutup, suasana kamar langsung sunyi. Aksha… sama sekali nggak ngomong apa-apa. Dari tadi dia duduk di balkon sambil telepon seseorang. Suaranya pelan, tapi cukup jelas terdengar beberapa patah. “Iya, aku udah selesai resepsi… Kamu jangan tidur dulu.” “Ya, nanti aku kabarin.” “Ssst, jangan manja dulu… aku lagi di luar.” Nada bicaranya… beda. Lembut. Hangat. Bukan nada yang dia pakai saat ngomong sama aku. Aku ambil nafas panjang. “Sudahlah, Kirana. Kamu cuma istrinya… di atas kertas,” batinku. Aku ke kamar mandi, nyalain shower, cuci muka lama-lama sampai dingin airnya bisa bikin pikiran agak jernih. Setelah selesai, aku kembali ke kamar, badan sudah lebih segar. Tapi hati tetap berat. Saat keluar, kulihat Aksha masih di balkon dengan HP di telinga. Anginnya masuk dan menerbangkan tirai tipis. Dia bersandar di kursi, postur santainya menunjukkan kalau dia lagi ngobrol sama seseorang yang sangat dia sayang. Aku nggak mau ribut. Nggak punya tenaga buat itu. Jadi aku cuma naik ke kasur, tarik selimut, dan memejamkan mata. Tapi baru sebentar, bayangan itu datang lagi. Ayah… Ibu… Dua wajah lembut itu muncul jelas di kepalaku. Dua orang yang paling aku sayangi, yang pergi terlalu cepat. Lamunan itu menarikku jauh ke belakang. Flashback menggulung cepat, tapi jelas.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
316.1K
bc

Too Late for Regret

read
331.2K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.7M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
146.0K
bc

The Lost Pack

read
447.4K
bc

Revenge, served in a black dress

read
155.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook