Rumah Azzam terasa sunyi, tetapi tegang. Di ruang kerja Pak Abdullah, udara seperti menekan d**a. Pak Abdullah berdiri di dekat meja, kedua tangannya bertumpu pada permukaan kayu, sementara Azzam berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan buat Ayah?” suara Pak Abdullah bergetar menahan amarah. “Bukan hanya karena kamu gagal menikah. Tapi karena kamu menyembunyikan dosa besar dan menghancurkan hidup perempuan lain.” Azzam tidak membalas. Ia justru menjatuhkan dirinya berlutut di kaki ayahnya. “Azzam salah, Yah,” ucapnya lirih. “Azzam minta maaf. Azzam pengecut. Azzam percaya fitnah tanpa mencari kebenaran.” Pak Abdullah memejamkan mata. Amarah bercampur kecewa membuat dadanya naik turun tak beraturan. “Kamu punya anak,” lanjutnya keras. “Dan a

