Kirana sebenarnya sudah bangun dari subuh. Tubuhnya masih agak pegal, tapi dia tetap bangun, mandi sebentar, lalu shalat. Setelah itu… ngantuknya datang lagi. Wajar, semalam capek banget.
Sementara itu, Aksha udah bangun dari lama. Dia nggak ngomong apa-apa, cuma keluar kamar buat shalat subuh di masjid hotel. Biar sekalian cari udara segar juga.
Pas dia balik, Kirana udah tidur lagi.
Tidurnya miring, selimutnya cuma sampai pinggang. Gitu aja kelihatan capek banget.
Aksha cuma berdiri sebentar liatin Kirana, tapi ekspresinya datar aja. Nggak tau harus ngapain. Akhirnya dia jalan ke sofa panjang di pojok kamar, buka laptop, langsung tenggelam sama kerjaannya.
Suasana kamar tenang. Yang kedengeran cuma suara ketikan laptop Aksha.
Jam delapan lewat dikit, Kirana kebangun. Dia langsung bangkit setengah ngantuk, ngucek mata sambil liat sekilas ke arah sofa.
Aksha masih sibuk kerja. Fokus banget.
Kirana nggak mau ganggu. Jadi dia buru-buru masuk kamar mandi buat mandi, ganti baju, dan rapihin hijabnya. Setelah semuanya rapi dan dia merasa lebih “manusia”, barulah dia jalan pelan ke sofa.
Dia duduk di samping Aksha, tapi masih jaga jarak. Tangannya saling meremas sendiri karena gugup.
“Mas Aksha… kita perlu bicara,” ucap Kirana pelan.
Aksha nggak langsung nengok. Dia save dulu file di laptopnya, baru akhirnya jawab.
“Hm. Bicara lah.”
Kirana narik napas dalam. Dia harus ngomong ini. Kalau nggak, semuanya bakal makin kaku.
“Aku tahu pernikahan ini bukan kemauan Mas Aksha,” katanya jujur. “Tapi… kita udah terlanjur jadi suami istri. Mau nggak mau, kita harus sama-sama belajar bangun rumah tangga ini.”
Aksha berhenti mengetik.
Dia bersandar dan menarik napas panjang. Berat banget kelihatannya.
“Kirana… maaf,” suara Aksha terdengar lebih rendah dari tadi. “Untuk sekarang, mungkin aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu.”
Kirana menunduk. Ada rasa perih sedikit, tapi dia tetap mendengarkan.
“Soal nafkah, tanggung jawab, itu semua aku urus,” lanjut Aksha. “Tapi kalau soal cinta dan hati… maaf, Kirana. Aku… belum bisa.”
Kirana mengangguk pelan, mencoba tetap tegar.
“Aku tahu, Mas,” katanya lirih. “Mas Aksha… masih cinta sama Rania, kan?”
Aksha terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan.
Jujur itu hal paling berat.
Kirana tersenyum tipis. Tersenyum… meski hatinya rasanya nyungsep.
“Oke…” dia menarik napas lagi. “Kalau gitu, gini aja Mas. Kita bikin perjanjian.”
Aksha akhirnya menatap Kirana, sedikit penasaran.
“Kalo di depan keluarga, kita… ya kelihatan kayak pasangan beneran,” jelas Kirana. “Tapi kalo cuma berdua… kita biasa aja. Anggap aja kita teman.”
Aksha berpikir sebentar, lalu mengangguk.
“Ya, itu lebih masuk akal.”
Kalimatnya datar. Tapi paling nggak, dia setuju.
Kirana mengangguk pelan juga. Dia berusaha nampak kuat.
Padahal di dalam hatinya…
“Teman dulu nggak apa-apa, Mas…”
“Bener kata orang, cinta bisa tumbuh dari hal-hal kecil.”
“Aku bakal taklukin hati suamiku sendiri. Pelan-pelan. Sampai dia lihat aku, bukan cuma Rania.”
Dan dengan keyakinan itu, Kirana tersenyum.
Kecil. Tapi penuh tekad.
Pagi itu resto hotel lumayan rame. Musik lembut kedengeran, aroma kopi dan roti panggang juga kecium enak banget. Kirana dan Aksha jalan berdua ke arah meja sarapan yang udah dipesenin sama pihak hotel.
Di meja paling pojok, Bunda Adelia dan Fabian udah duduk lebih dulu. Bunda lagi ngaduk teh, Fabian sibuk main HP sambil makan omelet.
Kirana langsung senyum hangat.
“Assalamualaikum, Bun… Mas Fabian,” sapa Kirana sopan.
“Waalaikumsalam, Nak,” jawab Bunda Adelia langsung berdiri buat nyambut. “Aduh, pengantin baru nih, mukanya seger banget.”
Fabian melongok dari balik HP-nya, senyum jail.
“Pagi, Mbak Kirana. Kakak aku nggak nyusahin semalam kan?” godanya.
Kirana cuma senyum malu-malu.
Sementara Aksha cuma ngelirik adiknya itu kayak stop ngomong sebelum gue lempar roti.
Aksha nempatkin tangan di punggung Kirana, seolah nuntun istrinya duduk. Sikapnya dibuat romantis banget, padahal jelas itu cuma “peran” buat depan keluarga.
“Sayang, duduk sini,” kata Aksha lembut—kebangetan lembut malah.
Bunda Adelia langsung senyum seneng banget liat mereka.
“Masya Allah… Aksha kamu makin dewasa ya sekarang.”
Fabian sampe hampir keselek jusnya.
“Dewasa apanya, Bun. Ini lebay banget dari biasanya.”
“Diam kau, Fabian,” tegur ibunya.
Fabian cuma ketawa.
Aksha pura-pura nggak peduli, terus berdiri buat ngambil makanan.
“Tunggu sini, aku ambilin sarapan ya,” katanya ke Kirana sambil ngusap lembut lengan istrinya.
Fabian bisik ke Bunda,
“Bun, Kak Aksha kenapa sih? Dia tuh biasanya dingin banget. Ini tiba-tiba jadi hot daddy vibes gini.”
Bunda nyengir bangga.
“Namanya juga udah punya istri.”
Lima menit kemudian, Aksha balik bawa satu piring besar dan satu gelas jus jeruk.
Kirana refleks bilang, “Lho, Mas… buat aku? Mas nggak ambil buat diri sendiri?”
Aksha duduk, wajahnya tenang seolah natural banget.
“Nanti aku ambil lagi. Kamu makan dulu biar nggak masuk angin.”
Fabian ngangkat alis tinggi-tinggi.
“Hah? Siapa ini? Kakak gue bukan??”
Kirana mau mulai makan sendiri, tapi Aksha nahan tangan Kirana pelan.
“Bentar.”
Dia ngambil sendok, terus… nyuapin Kirana.
“Coba ini, enak kok.”
Kirana kaget setengah hidup, tapi nurut.
Mulutnya otomatis terbuka.
Fabian langsung tepuk kening.
“Ya Allah… Kak, sumpah ini lebay banget.”
Bunda Adel ia cuma ketawa geli.
“Nggak apa-apa toh. Namanya juga pengantin baru…”
Aksha malah makin totalitas akting.
“Kamu jangan makan buru-buru, nanti keselek,” ucapnya sambil nyuapin lagi.
Kirana cuma bisa senyum kikuk. Pipinya merah banget. Tapi dia tetep terima suapan itu.
Dan anehnya… walau semua ini cuma pura-pura, hatinya sempat hangat sebentar.
Fabian langsung nyeletuk lagi.
“Kak, sumpah deh… kalau Rania liat ini, dia bisa-bisa—”
Tiba-tiba Aksha nyodorin roti ke mulut Fabian biar dia diem.
“Makan. Kebanyakan komentar.”
Fabian ngunyah sambil ketawa.
“Mampus, Kak, acting kamu keterlaluan sih.”
Kirana cuma tertawa kecil melihat kakak-beradik itu.
Dan pagi itu, walau semuanya cuma drama di depan keluarga, suasananya terasa anehnya… hangat.
***
Sudah dua tahun sejak hari pernikahan itu. Dua tahun Kirana bangun setiap pagi, lihat punggung lelaki yang sah jadi suaminya, tapi rasanya tetap kayak orang asing yang kebetulan tinggal serumah.
Setelah pernikahan, mereka pindah ke rumah baru—rumah yang dipilih Aksha. Rumah modern, besar, rapi, tapi dingin. Mirip banget sama pemiliknya.
Bunda Adelia awalnya nggak setuju mereka tinggal terpisah.
“Kalian tuh masih pengantin baru. Masa langsung pisah rumah? Bunda sepi dong,” begitu kata beliau waktu itu.
Tapi Kirana senyum halus, pura-pura santai.
“Bunda, nggak enak nanti. Kami juga mau belajar mandiri…”
Di balik itu, Kirana tahu banget kalau Aksha yang sebenarnya nggak mau serumah sama Bundanya, karena… Aksha mau bebas ketemu Rania kapan pun dia mau.
Akhirnya Bunda Adelia ngalah.
“Ya sudah. Tapi janji, tetap sering pulang ke rumah bunda.”
Dan mereka pun benar-benar pindah.
Pagi-pagi, jam enam kurang, Kirana sudah berdiri di dapur. Hijabnya belum dipakai, rambutnya diikat asal. Dia masak sarapan buat Aksha, nyiapin kopi, nyetrika kemeja, sama cek jadwal kerja suaminya.
Aksha turun tangga dengan wajah datar yang udah kayak template.
“Hm.”
Itu sapaan standar tiap pagi.
“Mas, ini kemeja birunya udah aku setrika. Coba dipakai, kayaknya cocok sama meeting pagi.”
“Hm. Taruh aja di kamar,” jawab Aksha sambil ambil kopi tanpa bilang makasih.
Kirana cuma senyum kecil.
Biasanya dia menghibur diri sendiri: Nggak apa-apa… yang penting dia minum kopi buatan aku.
Tapi ya… gitu-gitu aja.
Setelah sarapan, Aksha langsung pergi, kadang cuma bilang:
“Aku ada bisnis trip. Dua hari.”
Atau…
“Besok aku ke Surabaya.”
Kirana cuma jawab, “Iya, Mas,” sambil dalam hati mikir: Bisnis atau Rania?
Tapi dia nggak pernah nanya. Dia tahu itu sia-sia.
Asalkan Aksha tetap chat sekadar “Sampai” atau “Besok pulang,” udah cukup buat Kirana. Karena dia tahu, kalau dia nuntut lebih, mereka bakal berantem, dan Aksha bukan tipe yang suka diganggu.
Kirana menjalani hidup sebagai dosen. Mahasiswanya suka sama dia karena dia ramah dan nggak kaku. Teman-temannya pun sering nanya:
“Bu Kirana, suaminya mana? Kok jarang dijemput?”
Kirana cuma ketawa kecil sambil jawab, “Mas Aksha sibuk banget.”
Sibuk.
Kata yang sudah jadi tamengnya dua tahun terakhir.
Setiap malam, Kirana nunggu Aksha pulang. Biasanya jam sembilan. Kadang jam dua belas. Kadang malah nggak pulang sama sekali.
Setiap kali pintu kebuka, Kirana buru-buru bangun dari sofa.
“Mas, udah makan? Aku angetin ya?”
“Tadi udah makan,” jawab Aksha datar sambil lepas jas.
Dia langsung masuk kamar mandi tanpa lihat muka Kirana lebih dari dua detik.
Dan setiap kali begitu, Kirana cuma tarik napas panjang supaya air matanya nggak jatuh.
Yang paling lucu—atau paling sakit—adalah saat Bunda Adelia datang berkunjung.
Begitu tahu Bunda mau datang, Aksha berubah 180 derajat.
Tiba-tiba suaranya lembut.
Tiba-tiba nyolek pipi Kirana.
Tiba-tiba ngerangkul dari belakang sambil bilang, “Istriku ini sibuk banget, Bun.”
Kirana cuma ikut senyum, ikut main peran.
Karena tiap kali Bunda ada, rumah itu hangat.
Ada ketawa. Ada obrolan. Ada kehangatan yang Kirana rindukan.
Dan tiap kali Bunda pulang, kehangatan itu ikut pergi.
Aksha langsung kembali dingin kayak biasanya.
Setiap malam sebelum tidur, Kirana sering bisik ke dirinya sendiri:
“Aku pasti bisa bikin Mas Aksha cinta sama aku. Pasti.”
Tapi setelah dua tahun…
Hatinya mulai capek.
Namun Kirana tetap bertahan. Karena baginya, pernikahan itu bukan sekadar saling cinta—tapi usaha. Dan dia sudah berjuang habis-habisan.
Walaupun…
yang dia terima hanya punggung suaminya setiap malam.