Setelah rambut Kirana benar-benar kering, dia meraih ikat rambut di meja rias. Tangannya baru mau ngumpulin rambut panjangnya ketika Aksha tiba-tiba ngomong pelan. “Sini, aku bantu.” Kirana berhenti sejenak. Lalu, tanpa protes, dia nyerahin ikat rambut itu ke Aksha. Aksha berdiri di belakangnya, mengangkat rambut Kirana pelan. Jemarinya menyisir lembut, ngumpulin semuanya sebelum dia ikat dengan rapi. Gerakannya hati-hati banget, kayak dia takut nyakitin. Kirana ngerasa jantungnya nggak karuan. Tengkuknya merinding tiap jari Aksha nyenggol kulitnya. Dia gugup, tapi pura-pura tenang. “Udah. Cantik.” ucap Aksha santai, tapi suaranya hangat. “Makasih, Mas…” jawab Kirana pelan, hampir kayak bisikan. Kirana berdiri pelan dari kursi, tapi karena perutnya besar, gerakannya agak berat. Ak

