Malam yang hampir merenggut segalanya

1390 Kata

Kirana pamit dengan senyum hangat saat mobil Aksha berhenti di depan rumah. Ia turun perlahan, lalu berbalik menatap suaminya. Dengan takzim, Kirana meraih tangan Aksha dan mencium punggungnya. Aksha membalas dengan kecupan lembut di kening, lalu—sebelum Kirana sempat mundur—bibir itu ikut menyentuh bibirnya singkat, penuh rindu. “Berat banget balik ke kantor,” gumam Aksha manja. Kirana terkekeh pelan. “Mas sudah ditunggu kantor. Aku tunggu nanti malam.” Aksha menyipitkan mata, senyumnya menggoda. “Beneran ya nanti malam?” “Iya, Mas.” “Mas nggak bakal bikin kamu tidur cepat,” bisiknya nakal. Kirana menggeleng sambil tersenyum. “Iya, iya… Mas.” Ia hendak membuka pintu mobil, tapi Aksha lebih dulu menariknya kembali ke pelukan. Hangat. Dekat. Seolah dunia berhenti sejenak. “Sekarang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN