Jebakan ibuku

1452 Kata
Bunda Adelia menatap mereka sambil terharu. “Gimana kalian ini, udah dua tahun nikah masih kayak pengantin baru. Tapi ya, kapan kalian ngasih cucu buat Bunda?” Pertanyaan yang sama, yang udah sering Kirana denger. Kirana cuma tersenyum, menahan perasaan yang menyesakkan. Sementara Aksha… tersenyumnya kaku. Lalu diam. Sebelum makan, bunda Adelia sempat nyelonong ke dapur dan meminta minum ke Kirana. Kirana buru-buru buat dua gelas minuman—untuk Bunda dan Aksha. Tapi bunda Adelia punya agenda lain. Saat Kirana sibuk di kompor, Bunda membuka laci kecil di tasnya. Ada bungkus obat kecil pemberian temannya Fabian—katanya aman, cuma “bikin suasana jadi mesra”. “Akhirnya cucuaa…” gumam Bunda sambil mencampurkan obat itu ke satu gelas minuman Aksha. Kirana nggak sadar apa-apa. Dia cuma fokus masak dan berharap malam itu Aksha nggak dingin-dingin amat. Makan malam berlangsung penuh tawa. Bunda cerita soal tetangga, Aksha sesekali ikut bercanda, Kirana cuma memerankan istri manis yang bahagia. Aksha, sambil pura-pura, menggenggam tangan Kirana di bawah meja. Kirana tersentak sedikit tapi mengikuti permainan itu, balas menggenggam. “Lihat tuh,” bunda Adelia senyum bangga, “kayak gini Bunda mau kalian. Mesraaa.” Kirana tersenyum. Aksha tersenyum. Dan keduanya tau: semua itu cuma sandiwara. Yang satu demi ibunya. Yang satu demi tetap bertahan. Sementara di tubuh Aksha, perlahan efek obat yang diracik Bunda mulai bekerja… Makan malam selesai, dan Bunda Adelia langsung pamit ke kamar tamu, katanya capek banget habis perjalanan. Dia senyum penuh arti ke Kirana, lalu mengedipkan mata sedikit sebelum menutup pintu. Kirana bengong sebentar, nggak ngeh sama kode itu. Dia balik ke meja makan buat beresin piring. Aksha masih duduk di kursinya, senderan, kelihatan agak linglung. “Mas, kenapa?” tanya Kirana, tangannya berhenti megang piring. “Kok kayak capek banget mukanya?” Aksha menggeleng pelan. Matanya kelihatan agak sayu. “Nggak tahu. Kayak... panas aja, Ran.” Aksha ngelepas tiga kancing teratas kemejanya. Kirana jadi khawatir. “Panas? Mau aku bikinin air hangat? Atau... Mas masuk angin kali ya, dari Bandung dingin banget.” Aksha nggak jawab. Dia berdiri, tapi gerakannya nggak biasa. Dia jalan sempoyongan sedikit, terus tiba-tiba tangannya megang meja. “Mas Aksha!” Kirana refleks maju, nyentuh lengan Aksha. Begitu kulit mereka bersentuhan, Aksha kayak kesetrum. Dia langsung noleh ke Kirana, tatapannya… beda. Nggak datar kayak biasanya. Ada kilatan aneh di sana, kayak orang lagi demam tinggi. "Ran..." Suaranya rendah, serak. "Iya, Mas?" Kirana menahan napas. Dia takut Aksha sakit serius. Aksha nggak ngomong apa-apa. Dia cuma narik tangan Kirana, kuat banget, bikin Kirana terhuyung ke d**a Aksha. Jantung Kirana langsung dag-dig-dug. Ini sentuhan paling intens yang dia rasakan dari suaminya setelah berbulan-bulan. “Kenapa, Mas? Mau aku panggilin dokter?” tanya Kirana panik. Aksha menggeleng lagi. Dia menunduk, wajahnya dekat banget sama wajah Kirana. Kirana bisa cium bau kopi yang samar, tapi juga bau keringat dingin. “Aku... nggak butuh dokter,” bisik Aksha, suaranya kayak bergetar. “Aku butuh kamu.” DEG! Kirana kaget bukan main. Ini bukan Aksha yang dia kenal. Aksha yang dingin, Aksha yang kaku, Aksha yang selalu ngindar. “Mas, kamu aneh banget. Kamu sakit?” Kirana coba ngedorong pelan tubuh Aksha. Tapi Aksha nggak mau lepas. Malah, pelukannya makin erat. “Aku nggak mau ke apartemen besok,” kata Aksha, napasnya hangat menerpa leher Kirana. “Aku maunya di sini. Sama kamu.” Mendengar kata ‘apartemen’, Kirana langsung down. Oh, jadi cuma karena ada Bunda di sini, Aksha baru mau di rumah? Atau karena dia nggak enak badan? “Iya, Mas. Kita di rumah aja,” jawab Kirana lembut, mencoba menenangkan. Aksha tiba-tiba mengangkat Kirana. Bruk! Kayak nggak mikir dua kali, dia ngebopong Kirana, persis kayak di adegan film. “Mas! Turunin! Kenapa sih?” Kirana kaget, refleks melingkarkan tangan di leher Aksha. “Nggak. Kita ke kamar sekarang,” Aksha berjalan cepat, menuju kamar mereka, matanya fokus, penuh tekad yang aneh. Kirana speechless. Dia cuma bisa pasrah, mukanya udah merah padam. Ini pertama kalinya Aksha segesit ini, se-desperate ini. Efek obat dari Bunda Adelia benar-benar nggak main-main. Aksha membuka pintu kamar dengan satu sentakan kaki, lalu merebahkan Kirana di kasur. Kirana langsung bangun, duduk di tepi ranjang. “Mas, kamu kenapa, sih? Jujur! Aku takut loh.” Aksha nggak peduli. Dia mendekat, nindih Kirana, tangannya menangkup wajah Kirana. “Aku kangen kamu, Ran. Kangen banget,” ucap Aksha, nadanya sungguh-sungguh, sangat tulus—tapi Kirana tahu, ini Aksha yang bukan Aksha. Air mata Kirana tiba-tiba menetes. Dia terharu, campur bingung, campur takut. Akhirnya suaminya ngomong kangen setelah sekian lama, tapi kenapa harus dalam kondisi aneh kayak gini? “Mas… aku…” Aksha nggak kasih kesempatan Kirana ngomong. Dia langsung nyosor, mencium Kirana dengan ganas, ciuman yang sama sekali berbeda dengan ciuman basa-basi mereka selama ini. Ciuman itu panas, menuntut, dan penuh emosi. Kirana awalnya kaget dan mencoba menolak, tapi kemudian dia menyerah. Sudah terlalu lama dia merindukan sentuhan ini, kehangatan ini. Air matanya terus mengalir. Dia nggak tahu apakah dia bahagia atau sedih, karena dia tahu semua ini mungkin cuma ilusi. Tapi Aksha nggak peduli. Dia terus mencium dan memeluk, bergerak cepat, seperti ada alarm yang menyuruhnya buru-buru. Dia merobek jarak di antara mereka, melepaskan semua yang menutupi kulit Kirana. “Damn… kamu cantik banget, Ran,” Aksha berbisik, napasnya nggak teratur. Kirana cuma bisa memejamkan mata, membiarkan tubuhnya merespons naluriah. Rasa sakit, rindu, dan hasrat bercampur jadi satu. Malam itu, di bawah pengaruh obat dan sandiwara yang mereka bangun, Aksha dan Kirana melewati malam yang panas. Aksha bergerak tanpa kendali, dipenuhi hasrat yang dipaksa. Di kamar yang remang-remang itu, Aksha benar-benar dikuasai gairah yang datang tiba-tiba. Dia nggak bisa mikir jernih. Semua yang ada di kepalanya cuma Kirana, dan dorongan kuat yang memaksa dia untuk mendekat. Dia nggak kasih Kirana waktu buat protes atau nanya-nanya lagi. Aksha langsung bergerak cepat, tangannya gesit membuka kemeja yang dikenakan Kirana. Kirana sempat menahan napas, matanya lebar karena kaget. Tapi Aksha nggak peduli, dia mencium bahu Kirana, dan rasa bingung Kirana perlahan berubah jadi kepasrahan. Aksha melepas semua pakaian Kirana, lalu melempar kemejanya sendiri ke lantai. Tubuhnya yang atletis dan six-pack itu terlihat jelas dalam cahaya minim. "Ran... kamu nggak tahu seberapa aku..." Aksha nggak sanggup ngelanjutin kata-katanya. Dia cuma bisa menatap Kirana, matanya berkobar. Kirana balik menatap. Ada rasa takut dan harapan yang bercampur di matanya. Setelah sekian lama, malam ini terasa real, meskipun dia tahu ada yang salah. Aksha nggak mau buang waktu. Dia menyentuh Kirana dengan lembut, mencoba menepis kekakuan di antara mereka yang sudah terjalin berbulan-bulan. Dan kemudian, dengan satu dorongan yang nggak bisa dia tahan lagi, Aksha menyatukan mereka. “Aduh… Mas!” Kirana meringis kesakitan, refleks mencengkeram lengan Aksha. Aksha tersadar sedikit. Dia menunduk, melihat wajah Kirana yang memerah. Dia tahu ini udah lama banget mereka nggak melakukannya, dan dia terlalu buru-buru. “Maaf, Sayang, maaf,” bisik Aksha, nadanya jadi lembut, kayak ada insting yang menyuruhnya hati-hati. Dia menarik napas, lalu mulai bergerak. Pelan. Sangat pelan. Kelembutan Aksha itu perlahan meredakan rasa sakit Kirana. Rasa sakit itu diganti dengan rasa hangat yang lama hilang. “Mmm…” Kirana mulai mendesah, tangannya yang tadinya menolak kini memeluk punggung Aksha. Gerakan Aksha makin lama makin cepat, makin teratur. Gairah yang tadi didorong paksa, kini terasa mengalir alami. “Mas Aksha… ahh! Ahh! Enak banget, Mas…” desah Kirana, suaranya parau. Dia menengadah, menikmati sensasi yang tiba-tiba hadir ini. Aksha memejamkan mata. Sensasinya nggak jauh beda kayak sama Rania, panas, intens, tapi ada feel yang beda. Rasa familiar, rasa 'pulang' yang dia hindari, tapi ternyata ngena banget di hatinya. “Sayang… ahh! Ahh… Ini nikmat banget,” Aksha balas mendesah, napasnya memburu. Dia menumpukan beban tubuhnya, mempercepat gerakannya, mencoba mengejar puncak yang sudah di depan mata. Desahan mereka bersahutan, mengisi kamar yang tadinya sunyi. Aksha menggeram, sementara Kirana menjerit tertahan, memanggil nama suaminya. Mereka bergerak, menyatu, sampai tiba-tiba tubuh Kirana menegang. “Mas! Akkkhhh!” Kirana sampai di puncak. Dan itu langsung memicu ledakan di tubuh Aksha. Aksha menggeram kuat, menjatuhkan kepalanya di bahu Kirana, seluruh tubuhnya ambruk, dipenuhi rasa lelah dan lega. Plong. Mereka berdua terbaring, kelelahan, jantung berdebar kencang. Aksha nggak langsung menjauh. Dia tetap memeluk Kirana erat-erat, menenggelamkan wajahnya di rambut Kirana yang acak-acakan. Malam itu, di bawah pengaruh obat dan pengawasan Bunda Adelia, Aksha dan Kirana akhirnya bersatu lagi. Sebuah keintiman yang dipaksa, tapi terasa sangat dibutuhkan oleh Kirana. “Mas…” Kirana memanggil pelan. “Sshh… Tidur, Sayang. Aku capek banget,” bisik Aksha, nadanya sangat lembut, sangat langka. Kirana menahan air mata haru. Dia nggak peduli alasannya apa, malam ini, suaminya ada di sini, memeluknya. Itu sudah cukup. Dan mereka pun tertidur lelap, berpelukan erat, nggak sadar kalau keintiman ini adalah bagian dari drama besar yang dirancang di kamar sebelah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN