Pagi itu, sinar matahari baru saja mengintip di sela-sela pohon halaman rumah Dokter Aditya. Suasana terasa sedikit melankolis. Azzam sudah rapi, kopernya sudah masuk ke bagasi, tapi langkahnya terasa berat untuk benar-benar masuk ke mobil. Di sampingnya, Sabrina berdiri dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Matanya yang indah nampak sedikit redup. "Mas benar-benar harus pergi sekarang?" tanya Sabrina pelan, suaranya terdengar manja dan berat. Azzam berbalik, menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. "Kalau boleh milih, aku mending di rumah aja sambil meluk kamu seharian, Sayang. Tapi tanggung jawab di kampus nggak bisa nunggu." Sabrina meraih tangan Azzam, mencium punggung tangannya dengan takzim dan lama. Azzam membalasnya dengan mengecup kening Sabrina, l

