Hangat yang terancam

1407 Kata

Pagi yang sudah lewat tengah hari itu terasa begitu hangat dan tenang di dalam kamar hotel. Cahaya matahari Yogyakarta mengintip malu-malu dari balik celah gorden yang tidak tertutup sempurna. Setelah malam yang panjang dan penuh badai emosi, juga keintiman yang seolah tak ada habisnya, Aksha dan Kirana sempat terbangun untuk shalat subuh berjamaah dengan khusyuk. Namun, rasa lelah yang luar biasa akhirnya membawa mereka kembali terlelap dalam pelukan masing-masing hingga jarum jam menunjukkan pukul sebelas siang. Kirana menjadi yang pertama membuka mata. Ia mengerjap pelan, merasakan kehangatan lengan Aksha yang masih melingkar protektif di pinggangnya. Sebuah senyum tulus mengembang di bibirnya. Perlahan, dengan gerakan sangat hati-hati agar tidak membangunkan suaminya, Kirana melepask

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN