Bab 22: Sikap Evant

1420 Kata
Di dalam kamar tepat di atas tempat tidur, Mala masih asyik membaca novel. Tiba-tiba secercah sinar matahari menyelinap masuk melalui celah tilai tersingkap yang menggantung di jendela kamar. Sinar itu membaluri buku novel yang sedang dibacanya. Mala tersadar. "Hah! Sudah pagi ternyata." Mala melipat ujung lembar kertas untuk memberi tanda halaman yang nantinya akan dia baca kembali dan menutup buku novelnya kemudian beranjak dari tempat tidur. Mala melangkah sambil menjinjing buku novel ke arah pintu kamar dan membukanya. Secara bersamaan terdengar bunyi mesin dari sebuah mobil yang memasuki parkiran depan rumahnya. Mala sangat mengenal bunyi mesin itu. "Suamiku sudah pulang..." gumam Mala sambil melangkah keluar kamar. Sisy tampak berjalan tergesa-gesa dan berlalu di hadapan Mala. "Kamu kenapa, Sy?" tanya Mala sambil mengerutkan kedua keningnya. "Ke kamar kecil," jawab Sisy terus melangkah menuju ruang dapur tanpa menoleh ke arah Mala. Sambil tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya, pandangan Mala mengikuti langkah Sisy sampai menuju ruang dapur, "Sisy, Sisy...." Mala kemudian berjalan ke arah depan dan membukakan pintu depan rumahnya untuk Evant suaminya. "Kok Evant belum keluar dari mobil?!" Mala berdiri di depan pintu sambil menengok ke arah mobil hitam milik suaminya, "Oh mungkin dia lagi beresin berkas," pikir Mala sambil mengangguk, kemudian ia menoleh ke belakang tepat ke arah dalam rumahnya, "Aku nyamperin Sisy ke dapur aja deh," gumam Mala kemudian berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam rumahnya menuju dapur mendatangi Sisy. Ketika Mala tiba di dapur, bersamaan dengan Sisy yang membuka pintu kamar kecil. "Kak Mala," sapa Sisy dengan wajahnya yang masih tampak basah karena sehabis mencuci mukanya. "Sarapan dulu, Sy," ucap Mala tersenyum menatap adik perempuannya itu. Sisy menyeret pandangannya ke arah meja makan di dalam ruang dapur melihat setengah bungkus roti tawar dan beberapa keju berlembar untuk isian roti tawar itu. "Waaah! Sisy doyan banget nih sarapan pakai roti isi keju." Sisy tersenyum semringah sambil melangkah dan duduk di salah satu kursi meja makan, kemudian tangan kanannya langsung meraih dua lembar roti tawar, lalu membaluri salah satu roti tawar itu dengan selembar keju dan menutupnya dengan roti tawar yang satunya lagi. Mala pun melangkah dan duduk di salah satu kursi tepat berseberangan dengan tempat Sisy duduk. Setelah gigitan pertama dan menelannya, Sisy menatap Mala dengan tatapan tajam sehingga membuat Mala menjadi heran. "Kak Mala," panggil Sisy pelan. "Ya?! Kenapa, Sy?" sahut Mala sambil meraih satu lembar roti tawar kemudian membalurinya dengan selembar keju lalu melipat roti tawar itu. "Kakak tau enggak tadi malam Sisy lihat apaan?" Sisy membuka pembicaraan. "Mmm?! Tadi malam?! Memangnya kamu lihat apa?!" tanya Mala dengan santai kemudian menggigit roti isi yang tadi dibuatnya. "Tadi malam, pas Sisy selesai ngerekam ruangan dapur, kamera handphone Sisy enggak sengaja ngerekam orang yang mukanya enggak jelas lagi ngintip di belakang Kakak, pas Kakak duduk di sofa ruang tengah loh, Kak," ucap Sisy memberitahu. Wajah Mala seketika menunjukkan ekspresi terkejut setelah mendengar perkataan Sisy adiknya, "Masa sih?!" tanya Mala setengah percaya. "Beneran, Kak," jawab Sisy dengan yakin, "Nih, bentar Sisy tunjukkin." Sisy meraih smartphone-nya yang tergeletak di atas meja makan di depannya dan langsung membuka file rekaman video tadi malam. Tapi, ketika Sisy hendak menunjukkannya kepada Mala, tiba-tiba Evant mendatangi Mala dan Sisy di dalam ruang dapur dan langsung berdiri tepat di samping Mala. Mala langsung memberi isyarat kepada Sisy agar mengurungkan niat untuk menunjukkan hasil rekaman video tadi malam itu dengan cara mengedipkan kedua matanya bersamaan kepada Sisy. Sisy langsung mengerti maksud dari Mala dan mengurungkan niatnya untuk menunjukkan rekaman video itu. Sisy kembali meletakkan smartphone-nya ke atas meja, lalu meraih selembar roti tawar dan membaluri roti tawar itu dengan selai coklat. "Kak Mala, Kak Evant... Sisy balik ke rumah ibu dulu ya," ucap Sisy meminta izin. "Oh, iya Sy... Makasih ya udah mau nemenin kakakmu tadi malam," ucap Evant mengangguk mengiyakan. "Hehe, iya Kak Evant, tenang saja," sahut Sisy tersenyum cengengesan sambil beranjak berdiri, "Ya sudah, Sisy pamit ya." Sisy mulai melangkah ke luar dari ruang dapur dan langsung menuju pintu depan rumah. Setelah melihat Sisy beranjak berdiri dan berjalan dari ruang dapur ke arah depan rumah, Mala menoleh ke arah Evant yang masih berdiri di sampingnya. "Papah, mandi dulu gih... Bau...." Mala mengipaskan tangan kanannya ke arah hidungnya berniat untuk mengajak suaminya bercanda. Tapi, ekspresi Evant terlihat biasa saja sehingga membuat Mala mengurungkan niatnya untuk bercanda. "Mungkin Evant kecapekan," lirih Mala dalam hati sambil menatap suaminya itu. "Iya, Mah... Capek banget nih," ucap Evant kemudian melangkah dan masuk ke kamar mandi. "Kalau Papah kecapekan, istirahat aja di kamar. Tapi, jangan lupa sarapan dulu ya, Pah!" ucap Mala sedikit mengencangkan volume suaranya. "Iya, Mah," sahut Evant terdengar samar dari dalam kamar mandi. Setelah menghabiskan roti isi yang tadi dibuatnya, Mala kembali membuat empat roti isi lagi kemudian beranjak berdiri dan berjalan menuju ke kamar Julliant. Perlahan Mala membuka pintu kamar anak laki-lakinya itu dan melihat Julliant yang seperti biasanya sudah mengenakan seragam untuk bersiap berangkat ke sekolah. "Julliant, sarapan dulu gih. Mamah udah siapin sarapan untuk Julliant," ucap Mala berdiri di pintu depan kamar Julliant yang tadi dibukanya. "Iya, Mah," sahut Julliant mengangguk tersenyum ke arah Mala kemudian langsung keluar dari kamar menuju ruang dapur untuk sarapan. Setelah melihat Julliant keluar dari kamarnya, Mala melangkah masuk ke dalam kamar anak laki-lakinya itu untuk merapikan tempat tidur. "Loh, ternyata tempat tidurnya udah dirapikan sendiri sama Julliant," ucap Mala terkejut setelah masuk dan melihat bagian dalam kamar anak laki-lakinya yang terlihat begitu rapi. Mala tersenyum senang sekaligus merasa bangga dengan sifat dan kebiasaan anak laki-lakinya itu. Mala menoleh ke arah jendela di dalam kamar anak laki-lakinya yang masih tertutup tilai, kemudian mengikat tilai yang menggantung pada jendela agar cahaya matahari dari luar dapat masuk ke dalam kamar anak laki-lakinya. Setelah itu, Mala melangkah keluar dari kamar Julliant dan berlanjut untuk mendatangi kamar Clara yang letaknya bersebelahan dengan kamar Julliant. "Mah, Aku istirahat dulu ya," ucap Evant ketika hendak membuka pintu kamar dan melihat Mala istrinya yang berdiri di depan pintu kamar Clara. "Iya, Pah." Mala mengangguk sambil tersenyum kepada Evant. Kemudian Evant pun langsung masuk ke dalam kamar kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan langsung memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Setelah suaminya masuk ke dalam kamar, Mala pun berlanjut untuk membuka pintu kamar Clara. Namun, Mala terkejut karena setelah membuka pintu kamar anak perempuannya itu dan tidak melihat Clara di dalam kamar. "Loh! Clara mana?!" gumam Mala heran kemudian menoleh ke arah ruang dapur, "Julliant..." panggil Mala sedikit berteriak. "Ya, Mah?!" sahut Julliant dari arah ruang dapur. "Adekmu ada di dapur enggak?" tanya Mala masih sedikit berteriak. "Iya, Mah...! Clara sarapan bareng Julliant di sini, Mah!" sahut Julliant. "Sejak kapan Clara keluar kamar?!" Mala bergumam sambil mengerutkan kedua keningnya kemudian melangkah masuk ke dalam kamar anak perempuannya itu dan merapikan tempat tidur di dalam kamar Clara. Setelah selesai merapikan tempat tidur di dalam kamar Clara, Mala pun melangkah keluar kamar dan melihat bik Minah yang sedang menyapu lantai dari arah dapur menuju ke ruang tengah. "Bik Minah kapan datangnya?" tanya Mala sambil mendatangi Bik Minah. "Loh! Bukannya tadi Non Mala yang membukakan pintu untuk saya, Non?" sahut Bik Minah balik bertanya. Mala terkejut heran, karena mengingat ketika membuka pintu depan, ia tidak bertemu dengan Bik Minah. "Mala enggak liat, Bik," jawab Mala, "Dikira yang datang tadi cuman Evant," sambung Mala. "Non... Non...." Bik Minah menggelengkan kepalanya karena merasa lucu dengan tingkah majikannya itu. Mala masih merasa bingung tentang dia yang tidak melihat kedatangan Bik Minah dengan Pak Sugeng. "Terus, Pak Sugeng-nya mana, Bik?" tanya Mala sembari menoleh ke arah depan rumahnya. "Ada Non, nungguin di depan," jawab Bik Minah sambil mengangguk sopan. "Pak Sugeng... Sarapan dulu, Pak!" panggil Mala sedikit berteriak ke arah pintu depan rumah yang terbuka. Pak Sugeng yang berdiri di depan rumah tepat di samping pintu depan, menengokkan kepalanya ke arah dalam rumah dan menatap Mala, "Saya sudah sarapan tadi di rumah, Non," sahut Pak Sugeng sambil mengangguk sopan. "Ya sudah, kalau begitu Mala panggilin Julliant dulu ya, Pak." Mala kemudian berjalan menuju ruang dapur dan melihat Julliant yang sedang memasukkan kotak bekal ke dalam tasnya. Setelah itu Julliant berjalan mendatangi Mala yang berdiri di depan ruang dapur. "Pak Sugeng udah nungguin tuh di depan." Mala mengulurkan tangan kanannya dan disambut oleh Julliant yang langsung mencium punggung tangan Mala ibunya. "Mah, Julliant berangkat sekolah dulu ya, Mah." "Iya... Yang rajin ya belajarnya." Mala memusut rambut Julliant. "Itu pasti, Mah." Julliant mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum menatap Mala. Kemudian Julliant langsung berjalan mendatangi Pak Sugeng yang sudah menunggunya di depan rumah. Sementara Mala mendatangi Clara yang terlihat sedang menyantap roti isi yang tadi sudah dibuat Mala.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN