Mala tengah asyik membaca sebuah buku novel sambil duduk di sofa dan sesekali menatap kedua anaknya yaitu Julliant dan Clara yang masih menonton film kartun di televisi.
Mala melihat Clara yang menguap karena mulai merasa mengantuk, "Memangnya ini udah jam berapa sih?" gumam Mala kemudian menyeret pandangannya ke arah smartphone miliknya yang tergeletak di atas meja kemudian menekan tombol pada smartphone itu untuk menghidupkan layar dan memeriksa jam pada smartphone yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Mala meletakkan buku novelnya di atas meja dan beranjak mendatangi Clara, "Clara sayang, udah larut malam... Tidur gih," ucap Mala sembari memusut rambut Clara dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Clara mendongakkan kepalanya menatap Mala ibunya dan kemudian mengangguk mengiyakan.
"Uuuuh... Anak mamah ini semakin hari semakin berat aja." Mala menggendong Clara dan membawanya masuk ke dalam kamar Clara.
Setelah menemani Clara sampai tertidur, Mala kembali ke ruang tengah untuk duduk pada sofa dan melanjutkan membaca novelnya.
Mala menatap Julliant yang juga sudah mengantuk, sesekali Julliant tertidur dengan posisi terduduk tepat di depan televisi.
"Julliant... Kamu tidur juga gih, nanti besok bangunnya kesiangan loh," ucap Mala.
"Iya, Mah." Julliant beranjak berdiri dan mendatangi Mala ibunya, "Mah, Julliant mau ke kamar kecil dulu ya, Mah," ucap Julliant.
"Iya..." sahut Mala dengan lembut. Julliant pun menuju ke kamar mandi yang tepat berada di dalam ruang dapur.
***
Julliant keluar dari kamar mandi dan melihat Mala ibunya sedang duduk di salah satu kursi meja makan dengan posisi membelakangi Julliant.
"Loh, kok Mamah di sini?!" gumam Julliant dalam hati, "Kayaknya Mamah makan bakso lagi nih. Huh enggak nawarin Julliant lagi!" gumam Julliant lagi kemudian terlintas di pikirannya untuk mengejutkan ibunya, "Aku kagetin aja ah...."
Dengan berjinjit Julliant melangkah mendekat ke arah ibunya. Julliant sudah berada sangat dekat dan bersiap hendak mengejutkan Mala.
"Kamu ngapain, Julliant? Kok jalannya kayak gitu sih?!" Tiba-tiba terdengar suara Mala dari arah depan ruang dapur.
Julliant pun terkejut dan langsung menoleh ke arah depan ruangan dapur dan melihat ibunya berdiri di sana, "Loh! Kok Mamah di sana?!" gumam Julliant bingung.
"Kamu kenapa?" tanya Mala heran melihat tingkah anak laki-lakinya itu.
Julliant tidak menjawab pertanyaan ibunya, tapi dia malah menoleh ke arah kursi di mana tadi dia melihat ibunya sedang duduk.
"Hah!" Julliant terkejut lagi setelah menoleh ke arah kursi dan tidak melihat ibunya duduk di kursi itu.
"Kamu kenapa sih, Sayang?" tanya Mala heran.
"E-enggak, Mah," jawab Julliant terbata-bata karena takut sambil mendatangi Mala ibunya yang berdiri di depan ruang dapur.
***
Di ruang tamu tampak Sisy yang sedang asyik merekam bagian dalam rumah kediaman Mala menggunakan smartphone-nya.
Sisy berjalan ke arah ruang tengah sambil terus merekam, "Hai guys... Ini rumah kakak Sisy, keren kan...." ucap Sisy sambil mengarahkan kamera depan smartphone-nya ke arahnya.
Dari ruang tengah, Sisy melihat Mala bersama Julliant sedang berdiri di depan ruangan dapur dan sambil menatap ke arahnya.
"Nah... Itu dia kakakku sama keponakanku yang cowok, guys!" ucap Sisy lagi sambil mengarahkan kamera smartphone-nya untuk merekam dan menunjukkan wajah Mala dan Julliant yang berdiri di depan ruangan dapur.
"Ini juga anak satu, ngapain coba!" ucap Mala heran melihat tingkah adiknya sambil berjalan dan menuntun Julliant menuju ke ruang tengah dan lewat di depan Sisy yang lanjut berjalan ke arah ruang dapur sambil terus merekam video menggunakan smartphone-nya.
Ketika tiba di ruang tengah, Julliant menghentikan langkahnya, "Mah, Julliant enggak jadi tidur deh ya, Mah," ucap Julliant.
"Loh kenapa?! Nanti besok telat loh pergi ke sekolahnya," sahut Mala mengingatkan.
"I-iya deh, Mah." Julliant pasrah dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Setibanya di dalam kamar, Julliant langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut karena takut dan masih teringat kejadian ketika di dapur tadi.
Sementara itu setelah selesai merekam bagian dalam ruang dapur, Sisy berbalik dari arah dapur menuju ke arah ruang tengah. Sisy menatap layar smartphone-nya yang tidak sengaja merekam sesosok orang yang wajahnya tidak jelas sedang mengintip tepat di belakang Mala kakaknya, salah satu tangan dari sosok itu terlihat panjang mengulur dan bersandar pada dinding tepat di belakang Mala, tapi ketika Sisy mencoba memperhatikan wajah dari sosok itu, sosok itu malah menghilang dengan cepat.
"Hah!" Sontak wajah Sisy berubah seketika menjadi pucat dan langsung berhenti merekam.
Mala heran menatap wajah Sisy yang terlihat memucat, "Kamu kenapa sih, Sy?" tanya Mala sambil menatap Sisy yang terdiam seribu bahasa.
Sisy pun bergegas menyusul Mala ke ruang tengah.
***
Di malam yang semakin larut. Tampak Mala sedang menonton televisi di ruang tengah, dan Sisy duduk di samping Mala sambil mengutak-atik smartphone-nya, sedangkan Clara dan Julliant sudah terlelap di kamar mereka masing-masing.
Mala menyeret pandangannya ke samping menatap Sisy yang terlihat asyik mengutak-atik smartphone-nya.
"Kamu main apaan sih, Sy?" tanya Mala penasaran dengan apa yang diutak-atik adiknya itu.
"Hah! Ooh... Ini Kak, permainan monopoli online. Mainannya seru loh, Kak," jawab Sisy memberitahu sambil mengarahkan layar smartphone-nya ke arah Mala menunjukkan permainan yang sedang dia mainkan.
"Beneran?! Gimana sih cara mainnya?" tanya Mala penasaran.
"Gini Kak... Kakak tuh harus download dulu permainannya," jawab Sisy, "Terus mendaftarnya pakai aplikasi chat yang ini, Kak." Sisy menunjukkan sebuah aplikasi chat berwarna hijau pada layar smartphone-nya kepada Mala.
"Bentar, Kakak ambil ponsel dulu." Mala meraih smartphone-nya yang tergeletak di atas meja di depannya dan mulai melakukan langkah demi langkah sesuai arahan dari Sisy adiknya untuk mengunduh permainan yang diberitahukan Sisy serta tidak lupa mengunduh sebuah aplikasi berwarna hijau yang nanti digunakan untuk mendaftar pada permainan itu.
"Nah, kita bisa main monopoli-nya barengan, Kak," ucap Sisy setelah Mala berhasil mengunduh permainan dan mendaftarkan dirinya pada permainan tersebut menggunakan sebuah aplikasi chat berwarna hijau.
"Wah! Kayaknya seru nih... Yuk main bareng," ajak Mala.
Kedua kakak beradik itupun memainkan permainan monopoli online bersama-sama. Terdengar deru tawa memecah keheningan pada malam yang cukup larut itu.
Beberapa saat kemudian, Sisy berhenti dan meletakkan smartphone-nya ke atas meja.
"Loh?! Mainnya udahan?!" tanya Mala heran.
"Eh, Kak. Rumah Kakak ada hantunya ya?" tanya Sisy pelan sambil menggeser duduknya mendekat ke arah Mala.
"Hus! Apaan sih kamu ini, jangan ngawur deh!" sahut Mala dengan senyum pahit.
"Iih... Aku tuh nanya beneran, di sini ada hantunya apa enggak?" tanya Sisy lagi masih berbisik pelan.
Mala terdiam dan raut wajahnya tampak masih ragu untuk menjawab pertanyaan dari Sisy adiknya.
"Nggak ada ya..." ucap Sisy, "Kalau menurut Sisy sih, kayaknya ada, Kak," sambung Sisy karena dari tadi Mala tidak juga menjawab pertanyaannya dan hanya menatap sengit ke arahnya.
Mala menunduk sebentar, kemudian kembali mengangkat wajahnya dan menatap Sisy yang ketika itu kembali mengutak-atik smartphone di tangannya, "Udah ah!" Mala meletakkan smartphone-nya di atas meja tepat di samping novelnya, "Kakak mau ke kamar mandi sebentar." Mala beranjak berdiri dari sofa.
"Mau ngapain, Kak?" tanya Sisy seketika ikut meletakkan smartphone-nya ke atas meja tepat di samping smartphone milik Mala kakaknya.
"Ya mau mandi lah, terus ngapain lagi kalau ke kamar mandi," jawab Mala.
"Yah... Sisy sendirian dong di sini..." keluh Sisy.
"Kalau kamu takut, mending temenin Clara atau Julliant aja gih tidur di kamar," ucap Mala.
"Sisy di sini aja deh!" sahut Sisy kembali duduk pada sofa kemudian meraih dan kembali mengutak-atik smartphone-nya,
Mala pun berjalan ke arah ruang dapur dan langsung masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Mala kembali mendatangi Sisy di ruang tengah dan duduk di samping Sisy yang masih mengutak-atik smartphone-nya.
"Kamu enggak ngantuk, Sy?" tanya Mala sembari meraih sebuah buku novelnya yang tergeletak di atas meja di depannya.
"Belum, Kak," jawab Sisy terus menatap layar smartphone-nya tanpa menoleh ke arah Mala.
"Ya sudah, Kakak mau tidur duluan, ya...." Mala beranjak berdiri.
"Eh! Aku ikut deh, Kak." Sisy ikut beranjak berdiri.
"Eh, kamu mau tidur di mana, Sy?" tanya Mala.
"Mmm.... Di kamar mana aja deh, Kak. Tapi, Kakak temenin Sisy ke kamar mandi dulu ya, please..." pinta Sisy.
"Oalah, udah gede masak ke kamar mandi aja masih minta ditemenin sih. Malu dong sama Julliant, dia aja ke kamar mandi sendirian berani loh," sahut Mala.
"Eee... Anu... Sisy takut sama kecoa, Kak," ucap Sisy.
"Mana ada kecoa di rumah Kakak. Lagian kamar mandinya juga bersih, jadi enggak mungkin kecoa bisa bikin sarang," sahut Mala.
"Temenin aja lah, Kak." Sisy menarik tangan Mala sampai ke ruang dapur dan berhenti tepat di depan pintu kamar mandi.
"Jangan lama," ucap Mala.
"Iya, iya. Enggak lama kok, Kak." Sisy langsung masuk ke dalam kamar mandi dan beberapa menit kemudian Sisy pun kembali keluar dari kamar mandi, "Loh! Kak Mala-nya ke mana?!" gumam Sisy panik ketika tidak melihat Mala berdiri menunggunya di depan kamar mandi.
Sisy pun bergegas berjalan keluar dari ruang dapur dan langsung mendatangi ke kamar Mala.
Setibanya Sisy di dalam kamar Mala kakaknya, Mala tertawa puas dan terlihat senang karena berhasil mengerjai Sisy.
"Kakak!" ucap Sisy ketus dan mendengus kesal.
"Lagian, kamu itu sudah gede juga pakai acara minta ditemenin ke kamar mandi, huu..." sahut Mala dengan nada meledek menatap Sisy.
Sisy pun terdiam dan menekuk wajahnya.
"Kamu pengen tidur di mana?" tanya Mala.
"Di sini aja ya, Kak," jawab Sisy memelas.
"Ya jangan lah," sahut Mala seketika, "Kamu tidur di kamar tamu aja ya, di sana ruangannya luas kok, udah dibersihin sama bik Minah juga kamarnya," sambung Mala.
"Tapi kan, kak Evant belum pulang juga, Kak," ucap Sisy.
"Gimana entar kalau Evant tiba-tiba datang?" tanya Mala.
"Iya deh, Kak," ucap Sisy pasrah kemudian berjalan ke luar dari kamar Mala dan langsung menuju ke kamar tamu yang sudah disiapkan Mala.
Setelah Sisy pergi ke kamar tamu, Mala pun melanjutkan membaca novel di dalam kamarnya sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sesekali ketika Mala merasa penat, ia menggulingkan tubuhnya ke kanan dan kiri untuk bertelentang dan bertengkurap sambil tetap membaca buku novel yang dipegangnya.