Sembari menunggu Julliant dan Sisy pulang, Mala sedang duduk pada sofa di ruang tengah sambil membaca sebuah buku novel kesukaannya dan sekaligus menemani Clara yang sedang menonton acara kartun di televisi. Sesekali Clara memainkan boneka kataknya ketika acara kartun di televisi diselingi oleh iklan.
Tiba-tiba terdengar suara dering pesan yang khas dari smartphone Mala yang tergeletak di atas meja.
"Mm, siapa sih yang ngirim pesan malam-malam begini?!" Mala melirik ke arah smartphone-nya yang berada di atas meja sambil mengerutkan kedua keningnya kesal ketika sedang asyiknya membaca buku novel malah terganggu.
Mala menutup buku novel dan meletakkannya di samping smartphone, kemudian meraih smartphone itu dan menatap pada layar smartphone.
"Pesan dari Evant?!" Mala kembali mengerutkan keningnya, "Tumben Evant ngirim pesan. Biasanya kan, dia langsung nelpon," gumam Mala kemudian membuka pesan dari Evant suaminya.
'Mah, papah malam ini kayaknya enggak pulang. Soalnya lagi ada urusan sama ayah di rumah. Kamu enggak apa-apa, kan?'
Kedua ibu jari Mala beradu dengan panel keyboard pada layar smartphone-nya untuk mengetik balasan pesan dan mengirimkannya kepada Evant.
"Iya, Pah. Aku enggak apa-apa, kok. Kebetulan ada Sisy juga nemenin. Dia nginep di sini malam ini, Pah," tulis Mala.
Beberapa detik kemudian, terdengar nada dering khas panggilan video telepon pada smartphone yang digenggam Mala.
"Loh, Evant kok video call?!" gumam Mala bingung.
Mala menggeser ikon telepon berwarna hijau pada layar smartphone di tangannya ke atas untuk menerima panggilan video dari Evant suaminya.
"Hai, Mah..." sapa Evant sembari melambaikan tangannya yang terlihat pada layar smartphone di tangan Mala.
"Hai, Pah...." Mala balas menyapa sambil melambaikan tangannya ke arah kamera depan smartphone-nya, "Terus kapan pulangnya, Pah?"
"Aku mungkin pulangnya subuh, Mah," jawab Evant, "Julliant sama Clara mana, Mah?"
"Clara ada nih, Pah." Mala mengarahkan layar depan smartphone-nya ke arah Clara yang sedang asyik menonton film kartun di televisi.
"Clara..." panggil Evant lembut terdengar pada speaker dari smartphone di tangan Mala. Tapi, Clara tidak berpaling dan tidak menyahut karena sedang tegang-tegangnya menonton televisi.
"Clara... Ini Papahnya manggil loh. Kok enggak dijawab sih?" tanya Mala kepada Clara. Tapi, Clara juga masih tidak menyahut.
Mala membalikkan layar depan smartphone-nya kembali ke arahnya, "Kayaknya Clara lagi tegang nonton tv, Pah," ucap Mala sambil menatap layar smartphone di tangannya dan mengarahkan kamera depan smartphone ke arahnya.
"Iya udah, enggak apa-apa. Terus, kalau Julliant mana, Mah?" tanya Evant.
"Julliant sama Sisy belum pulang, Pah," jawab Mala.
"Memangnya Julliant sama Sisy kemana, Mah?" tanya Evant lagi.
"Julliant nemenin Sisy beli bakso di depan komplek, Pah," jawab Mala memberitahu.
Tiba-tiba, Mala melihat Clara yang beranjak berdiri dan langsung berjalan ke arah dapur.
"Clara mau ke mana?" tanya Mala heran menatap Clara yang tidak menyahut dan terus saja melangkah ke arah dalam tepat menuju dapur.
"Kenapa, Mah?"
"Clara jalan sendirian ke arah dapur, Pah. Enggak tahu mau ngapain," jawab Mala memberitahu.
"Oh, mungkin Clara mau ke kamar mandi, Mah. Lagian dia juga sudah cukup besar, Mah," ucap Evant.
"Duh, enggak kerasa ya, Pah kalau anak-anak udah gede aja," ucap Mala tersenyum senang.
"Ya iya lah, masa gitu-gitu aja sih, Mah?!" sahut Evant dengan nada meledek.
Mala tersenyum senang menatap kamera depan smartphone di tangannya.
***
Sementara itu saat Mala dan Evant sedang asyik mengobrol melalui panggilan video, Clara terlihat berdiri di depan dapur menatap ke arah dalam dapur dan melihat seorang perempuan sedang berdiri di dekat lemari es di dalam ruang dapur.
"Itu mamah ya?!" gumam Clara menatap perempuan itu, "Mah..." panggil Clara sembari perlahan melangkahkan kedua kakinya mendekati perempuan yang masih berdiri di dekat lemari es, "Mah...?!" Clara semakin mendekati perempuan yang dia kira adalah Mala ibunya.
Sementara itu ketika masih mengobrol dengan Evant melalui panggilan telepon, Mala merasa khawatir kepada Clara yang belum juga kembali dari dapur.
"Pah, kok Clara lama banget ya?!" Mala mengerutkan kedua keningnya.
"Lagi, pup mungkin, Mah. Makanya lama," jawab Evant menerka.
"Sebentar ya, Pah." Mala langsung menekan ikon telepon berwarna merah pada layar smartphone-nya untuk menutup panggilan telepon dari Evant suaminya kemudian meletakkan smartphone-nya di atas meja tepat di samping buku novel lalu beranjak berdiri dan langsung berjalan mendatangi Clara ke dapur.
Sesampainya di dapur, Mala merasa bingung melihat Clara yang berdiri terdiam tepat di depan lemari es di dalam ruangan dapur.
"Sayang?! Kamu ngapain di sini?!" tanya Mala sembari mendekati Clara. Tapi, Clara tidak berpaling dan menjawab pertanyaan ibunya.
"Sayang?!" Mala menarik tangan Clara.
"Hah!" Clara tersentak tiba-tiba setelah tangannya ditarik ibunya. Clara menoleh menatap Mala dengan tatapan bingung, "Mamah?! Tadi bukannya Mamah ada di depan Clara? Kok sekarang Mamah bisa ada di belakang Clara sih?!" tanya Clara dengan perkataan polosnya yang terdengar masih cadel.
"Hmm!" Mala langsung mengerutkan kedua keningnya heran menatap Clara, "Mamah sejak tadi di ruang tengah loh, Sayang," jawab Mala.
Seketika hembusan angin begitu lembut menyentuh tubuh Mala ketika berada di dalam ruangan dapur, "Loh, kok aku jadi merinding sih?!" gumam Mala pelan sembari merasakan tubuhnya yang bergidik.
"Mamah kenapa?" tanya Clara.
"Enggak apa-apa, Sayang. Clara lanjut nonton televisi lagi yuk." Mala segera menggendong tubuh Clara dan langsung pergi membawa Clara kembali ke ruang tengah.
Ketika Mala dan Clara tiba di ruang tengah, tiba-tiba terdengar suara bel dengan diikuti salam dari Julliant dan Sisy dari arah pintu depan.
"Assalamu'alaikum!" seru Sisy dan Julliant bersamaan.
"Nah, itu kakaknya sama tante Sisy udah pulang." Mala menurunkan Clara dari gendongannya, "Wa'alaikumsalam!" sahut Mala membalas salam dari Julliant dan Sisy.
"Yeeey....!" Clara langsung berlari ke arah pintu depan dan membukakan pintu untuk Julliant dan Sisy, "Mana snack Clara?" Clara langsung menengadahkan tangannya setelah membukakan pintu.
"Ini ada kok, Sayang... Tenang saja," ucap Sisy tersenyum sambil menatingkan tangan kanannya menunjukkan sebuah kantong kresek berwarna putih yang isinya dipenuhi dengan makanan ringan kepada Clara.
Sisy dan Julliant masuk ke dalam rumah dan duduk pada sofa di ruang tamu.
"Sini, sini, Tante...." Clara berusaha merebut kantong kresek berwarna putih yang tadi ditunjukkan Sisy kepadanya.
"Sabar dulu ya Sayang... Nanti bakso di dalamnya tumpah," ucap Sisy.
"Iya Dek, sabar bisa enggak sih?! Kasihan Tante Sisy kecapekan baru datang," ucap Julliant menegur adiknya.
"Julliant, Tante minta tolong ambilin mangkuk ya," pinta Sisy.
"Siap, Tante." Julliant beranjak berdiri dan langsung berjalan ke arah dalam.
Ketika hampir sampai dapur, Julliant berpapasan dengan ibunya yang sudah mengambilkan beberapa mangkuk dari dapur.
"Ini, Mamah sudah bawakan mangkuk buat baksonya."
"Wah! Pas banget... Sini Mah, biar Julliant yang bawain mangkuknya," ucap Julliant.
"Ya sudah." Mala menyerahkan beberapa mangkuk kepada Julliant, "Hati-hati ya bawa mangkuknya, jangan lari," ucap Mala.
"Iya, Mah. Beres...." Julliant menyambut mangkok itu dan langsung membawanya menuju ruang tamu bersama Mala ibunya.
Setibanya di ruang tamu, Julliant langsung menyerahkan beberapa mangkuk kepada Sisy yang langsung menghidangkan bakso ke dalam mangkuk.
Mala, Julliant, dan Sisy pun langsung menyantap bakso itu di ruang tamu, sedangkan Clara asyik menyantap makanan ringan sambil menonton televisi di ruang tengah.
"Mah, Julliant mau ke ruang tengah ya, mau nonton tv sambil makan bakso," ucap Julliant.
"Iya, Sayang... Sekalian temenin juga adekmu," sahut Mala mengangguk mengiyakan.
Julliant pun pergi ke ruang tengah dengan membawa semangkuk bakso dan ikut menonton televisi bersama Clara adiknya.
"Kak Mala, malam ini kak Evant beneran nggak pulang kan, Kak?" tanya Sisy menatap Mala di sela-sela menyantap bakso.
Mala mengangguk, "Kata kak Evant sih dia pulangnya subuh," jawab Mala, "Emangnya kenapa, Sy?" Mala balik bertanya.
"Enggak, Kak... Aku enggak enak aja, Kak," jawab Sisy.
"Lagian, walau kak Evant datang kan, kamu bisa tidur di kamar lain. Kamarnya banyak ini kok," ucap Mala.
Sisy pun mengangguk kemudian lanjut kembali menyantap bakso bersama Mala di ruang tamu.
Setelah selesai menyantap bakso, Mala mendatangi Julliant dan Clara ke ruang tengah untuk melanjutkan kembali membaca buku novelnya yang tadi terhenti, sementara Sisy sedang asyik mengutak-atik smartphone-nya di ruang tamu.