Di atas meja ruang tamu, berserakan empat buah piring kaca berwarna putih bersama sendok dan garpu, serta beberapa gelas kaca yang isinya kosong melompong.
Mala, Sisy, Julliant, dan Clara tengah sama-sama menyandarkan tubuh di sandaran empuk sofa di ruang tamu. Mereka begitu tampak kekenyangan setelah selesai menyantap nasi goreng yang dibeli Mala di depan komplek sebelah dari komplek tempat tinggalnya.
"Aduh kenyangnya." Clara bersandar sambil memusut perutnya yang terlihat kembung karena kekenyangan.
"Kok, 'aduh', sih?!" Mala mengerutkan kedua keningnya menatap anak perempuannya, "Seharusnya, Dedek bilang 'Alhamdulillah', bukannya 'aduh'."
Clara memiringkan kepalanya kekanan, "Emangnya, 'Alhamdulillah' itu apa, Mah?" tanyanya dengan nada yang begitu polos menatap Mala.
Mala tersenyum tipis menatap Clara, "Itu adalah bentuk rasa bersyukur kita sama Tuhan, karena sudah memberi makanan yang enak, Sayang."
"Jadi, nasi goreng tadi bukan Mamah yang beliin, ya?" tanya Clara masih dengan kepolosannya sehingga membuat Sisy dan Julliant yang mendengar langsung tertawa pelan menertawakan kepolosannya.
Mala masih tersenyum menatap Clara. Dipusutnya puncak kepala Clara, "Nanti, kalau Dedek udah sekolah, Dedek pasti diajarin."
Clara mengangguk sambil mendorong bibir atas dengar bibir bawahnya, lalu berpaling menatap Julliant yang duduk di samping kanannya, "Kak, Kita nonton tv lagi yuk!" ajaknya.
"Ayo!" Julliant beranjak berdiri lebih dulu. Namun ia terhenti ketika tangan Clara meraih tangan kanannya kemudian berpaling ke arah Clara, "Kenapa, Dek?"
"Clara duluan!" seru Clara dengan cepat beranjak dan berlari ke ruang tengah lalu langsung menyalakan televisi di ruang tengah.
"Dedek!" Julliant kesal dengan tingkah adiknya.
"Clara, jangan lari, Sayang." Mala menegur dengan lembut anak perempuannya yang sudah duduk di depan televisi di ruang tengah.
Julliant menyusul Clara dengan berjalan. Melangkah dengan sangat pelan. Kedua kakinya terasa berat ketika digerakkan karena menahan perutnya yang masih terasa kaku karena kenyang.
***
Jam dinding berbentuk bundar dengan pernik mewah di setiap sisinya yang melekat pada salah satu sisi dinding di ruang tengah yang letaknya lebih tinggi di atas televisi sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
Setelah menatap jam dinding, Mala meletakkan smartphone-nya ke atas meja di depannya kemudian beranjak berdiri dan mendatangi Julliant dan Clara yang masih duduk menonton televisi.
"Julliant, Clara... Tidur gih, ini udah larut malam," ucap Mala dengan lembut sambil menggerakkan kedua tangannya memusut puncak kepala kedua anaknya.
Julliant dan Clara berpaling kebelakang serentak menatap Mala.
"Yaah! Bentar lagi, Mah," keluh Clara tidak setuju.
"Udah malam, Dek ... besok lagi aja Dedek nonton tv-nya. Kan, Dedek belum sekolah, jadi Dedek bisa sepuasnya nonton tv," Julliant beranjak berdiri sambil membantu Ibunya membujuk adik perempuannya.
"Iya, benar Kakak kamu bilang, Sayang. Apalagi kan, besok Kak Julliant sekolah, jadi nggak ada yang bisa ganggu Dedek nonton tv," ucap Mala dengan lembut.
"Emmm ..." Clara meletakkan telunjuk kanannya di bawah dagu dan mulai berpikir sejenak, "... Oh iya, ya. Besok kan, Clara bisa sepuasnya nonton tv dan Kak Julliant nggak bisa ganggu." Clara mengangguk kemudian perlahan beranjak berdiri.
"Nah gitu dong." Mala tersenyum senang menatap kedua anaknya.
Clara lebih dulu melangkah menuju ke kamarnya, tapi langkahnya terhenti ketika tangan kanannya di tarik ibunya. Clara menatap heran ibunya.
"Dedek pasti lupa sesuatu nih," ucap Mala lembut.
"Lupa apa, Mah?" tanya Clara bingung.
"Ya ampun, Dedek!" Julliant memegang tangan Clara yang satunya lalu menariknya dan berjalan ke arah ruang dapur, "Cuci tangan, kaki, sama pipis dulu. Ntar, Dedek ngompol." Julliant mengingatkan Clara sambil berjalan ke arah ruang dapur.
Mala tampak begitu senang dan bangga melihat sikap dewasa Julliant. Padahal ia tahu kalau Julliant itu masih menduduki bangku sekolah dasar, tapi Julliant sudah sangat bisa diandalkan.
Mala kembali duduk pada sofa bersebelahan dengan Sisy yang sejak tadi masih mengutak-atik smartphone di tangannya. Sesekali terdengar pelan suara tawa dari Sisy yang wajahnya terus saja terpaku pada layar smartphone.
"Wiih... Seru banget kamu, Sy." Mala mencoba mengintip layar smartphone di tangan Sisy.
"Apaan sih, Kak!" Sisy langsung menarik smartphone-nya dan menyembunyikan layar smartphone agar Kakaknya tak bisa melihat apa yang ada di layar smartphone-nya.
"Iih. Kakak liat dong." Mala mencoba merebut smartphone Sisy sambil terus memaksa untuk melihat layar smartphone Sisy.
"Nggak!" Sisy langsung menyelipkan smartphone di belakang badannya menghindar dari rebutan tangan Mala.
"Ya elah... Pelit banget punya Adek!" Mala mendengus kesal, tapi kedua matanya masih mencoba menatap ke arah smartphone yang ada di belakang badan Sisy, menatap penuh selidik.
"Kakak sih! Sisy kan, malu kalau mau nunjukkin sama Kakak," ucap Sisy pelan.
"Emangnya apaan sih?!" Mala masih menunjukkan rasa penasarannya, "Kamu chatting sama cowok, ya?" tanya Mala dengan tatapan selidik menatap adiknya.
"E-enggak. Enggak kok, Kak," jawab Sisy ragu sambil melirikkan kedua bola matanya ke arah kiri atas.
Namun, Mala tahu kalau adiknya tengah berbohong dan menyembunyikan sesuatu ketika melihat bahasa tubuh adiknya itu.
"Emmm." Mala mengangguk mengerti. Kemudian ia dan adiknya melihat Julliant bersama Clara yang dari arah ruang dapur melintas di hadapan mereka.
"Mah, Tante... Julliant tidur duluan ya." Julliant berjalan gontai sambil menuntun Clara yang juga gontai karena sama-sama sudah mengantuk.
"Iya, Sayang... Selamat malam, jangan lupa do'a, ya." Mala dengan lembut mengingatkan kedua anaknya.
Julliant mengangguk pelan. Dituntunnya Clara dan akhirnya ia tiba di depan kamar Clara lalu membukakan pintu kamar Clara.
Mala dan Sisy masih melihat Julliant yang berjalan dan masuk ke kamarnya sendiri setelah Clara adiknya berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Kak Mala," panggil Sisy pelan sambil menyenggol bahu kiri Mala.
"Mmm?!" Mala menatap Sisy sambil mengangkat kepalanya.
"Julliant itu padahal masih kecil, tapi udah pinter banget, ya Kak," ucap Sisy bangga melihat sikap keponakan laki-lakinya tadi.
Mala tersenyum tipis menatap Sisy kemudian mengangguk pelan, "Iya, padahal Kakak nggak pernah maksain dia buat mandiri, tapi kayaknya dia belajar sendiri."
"Mungkin Julliant meniru kebiasaan Kakak pas ngurus Clara, Kak," ucap Sisy menebak.
"Bisa jadi, sih." Mala mengangguk lagi.
Mala dan Sisy pun terdiam sejenak.
Mala menyeret tatapan ke arah smartphone yang dipegang Sisy. Mulai menemukan kesempatan ketika melihat Sisy yang lengah saat terdiam. Dengan sangat cepat tangan Mala bergerak merebut smartphone dari tangan Sisy.
"Aaaaa!" Sisy histeris mendapati kedua tangannya tak lagi memegang smartphone miliknya. Takut jika sesuatu yang dia sembunyikan diketahui Kakaknya. Sisy mencoba kembali merebut smartphone dari tangan Kakaknya, tapi dengan cepat kakaknya menarik tangan untuk menghindar dari rebutan tangan Sisy.
"Eit! Eit!" Mala terus mempertahankan smartphone milik adiknya di dalam genggaman kedua tangannya, sambil kedua tangannya mencoba mengutak-atik layar smartphone dan menatapnya. Mencoba mencari tahu apa yang sejak tadi dilihat dan Sisy begitu senang.
"Kakak! Kembaliin!" Sisy terus berusaha merebut smartphone miliknya dari tangan Mala, tapi selalu gagal karena pergerakan tangan Mala lebih cepat darinya.
"Emangnya apa sih yang buat kamu senyum-senyum sendiri?!" Mala menyerah dan mengembalikan smartphone ditangannya kepada Sisy, karena sejak tadi tak juga menemukan sesuatu yang membuat adiknya begitu senang.
Sisy menghela nafas, "Ini loh, Kak." Sisy mulai menunjukkan layar smartphone ke arah Mala, dan Mala pun menatapnya dengan seksama.
Mala dengan jelas melihat sebuah video yang ada pada beranda di aplikasi hijau yang juga ia gunakan, tapi video yang ditunjukkan Sisy berbeda dengan video yang ada pada beranda di aplikasi hijau dalam smartphone-nya.
Beberapa deretan video lucu yang ternyata Sisy lihat sejak tadi sehingga membuatnya tertawa pelan.
Mala pun menganggukkan kepalanya sebentar, "Yah... Kakak kirain kamu lagi chatting sama cowok," ucapnya kecewa sambil menghela nafas.
"Nggak lah, Kak. Emangnya, mana ada cowok yang mau *chatting* sama aku," keluh Sisy mulai pesimis.
"Loh, kok nggak ada?! Kamu itu kan, adik kakak yang cantik. Masa kamu kalah sih sama Kakak ... Eh!" Mala menyadari bahwa ucapannya sudah terlalu jauh dan tak sengaja mengatakan sesuatu yang seharusnya tetap menjadi rahasia.
"Emangnya, kakak chatting sama cowok berapa biji?" tanya Sisy langsung menatap Mala dengan penuh selidik.
"Eh! E-enggak, nggak! Ka-kakak nggak ada chatting sama satu cowokpun kok," jawab Mala gugup berusaha mengelak, tapi wajahnya tak mampu merahasiakan kebohongan.
"Masa sih?! Aku nggak percaya," sahut Sisy dengan nada sedikit mengejek dan mengesalkan, "Lagian, kenapa sih Kakak harus bohong sama Sisy... Sisy juga nggak bakalan ngasih tau sama siapapun, kok," sambung Sisy dengan pasti meyakinkan Mala.
Mala terdiam sejenak, wajahnya terlihat memucat, "Duh... Kok aku pake keceplosan sih! Gimana kalau ntar Sisy nggak sengaja bilang sama ibu?! Apalagi kalau sampai bilang ke Julliant sama Clara?! Astaga, aku ceroboh banget!" Mala mendengus kesal dengan kecerobohan dirinya sendiri.
"Kak Mala?! Kok Kakak diam sih?!" Sisy heran sambil mengerutkan kedua keningnya menatap Mala.
Mala menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kepalanya menunduk menatap smartphone miliknya yang masih tergeletak di atas meja di depannya. Tangan kanannya meraih dan mengangkat smartphone yang tadi tergeletak di atas meja di depannya. Layar smartphone mulai dinyalakan, kemudian kedua ibujarinya mulai bergerak mengusap dan sesekali mengetuk di atas layar smartphone.