Bab 50: Melangkah Dalam Gelap

1131 Kata
Sebuah mobil berwarna merah maron tampak memasuki gerbang pagar dan berjalan ke arah garasi di samping kanan rumah. Mala belum juga keluar setelah mobil itu berhenti di dalam garasi. Dari dalam mobil, Ia menoleh ke arah depan rumahnya, melihat sinar yang menghujani depan teras yang sinarnya berasal dari lampu depan rumah. Mala menatap layar smartphone, menopang dengan kedua tangannya. Kedua ibujarinya beradu dengan keyboard virtual pada layar smartphone. "Drew, aku udah nyampe rumah." tulis Mala pada aplikasi hijau dan mengirim pesan ke kontak Andrew melalui aplikasi hijau di smartphone-nya. Mala menatap layar smartphone sebentar sambil menyunggingkan senyum dan menghela nafas, "Kayaknya Andrew masih sibuk di kafe deh," gumamnya. Mala memasukan smartphone ke dalam tas hitamnya lalu menggantung tas hitam itu di bahu kirinya. Detik berikutnya, tangan kanannya membuka pintu mobil di samping kanannya kemudian menurunkan kaki kanan dan diiringi kaki kirinya ke luar mobil. Ia berdiri menghadap ke arah dalam mobil, lalu tangan kanannya mengambil sebuah kantong plastik yang isinya beberapa bungkus nasi goreng. Kedua kakinya mundur selangkah kemudian mendorong pintu mobil dengan siku kirinya agar kembali tertutup. Mala ke luar garasi dan langsung berjalan ke arah depan rumahnya. Ketika kaki kanannya hendak menaiki teras depan rumah, tiba-tiba lampu depan rumahnya mati. "Loh?! Kok lampunya mati sih?! Bukannya tadi aku liat lampunya masih nyala, ya?!" Mala bergumam pelan, mengerutkan kedua keningnya sambil menoleh ke atas menatap sebuah lampu bulat tak bersinar yang tertanam dan terlihat menyatu di bawah kanopi depan rumahnya. Ia menunduk dan menatap lurus ke arah pintu depan rumah, kemudian melangkah dan berdiri di depan pintu. Kepalanya menoleh ke kanan menatap kaca jendela yang terlihat bersinar dan sinar itu berasal dari dalam rumah. Detik selanjutnya, ia terkejut melihat lampu di dalam rumahnya juga ikut padam. "Ini kenapa? Kok di dalam, lampunya juga mati?! Apa yang terjadi dengan Julliant, Clara, dan Sisy?!" Mala cemas dalam hati. Matanya menatap lurus, kemudian tangan kanannya dengan sangat pelan membuka pintu. Mala melihat suasana di dalam rumahnya begitu gelap. Hanya terlihat sedikit cahaya di depan pintu yang masih terbuka, tempatnya berdiri sampai ke sofa di ruang tamu. Itupun hanya didapat dari pancaran sinar bulan. Tak terdengar suara seorang pun di dalam rumahnya. Begitu hening sehingga membuatnya cemas dan dalam hatinya bertanya-tanya. "Di mana Sisy?! Di mana Julliant sama Clara?!" Mala begitu pelan masuk dan melangkahkan kedua kakinya ke dalam rumah. Berhenti dan berbalik badan, kemudian tangan kanannya perlahan kembali menutup pintu dengan bantuan tangan kirinya agar lebih hati-hati, lalu berbalik lagi dan melangkah pelan menuju sofa ruang tamu untuk meletakkan tas hitam dan kantong plastik berisi nasi goreng ke atas meja di depan sofa ruang tamu. Mala berjalan pelan ke samping kanan sofa. Perlahan tangan kirinya meraba menyentuh dinding kemudian melangkah pelan meniti jalan. Beberapa detik berjalan, langkah demi langkah dan Mala belum tahu langkahnya sudah sampai di ruangan mana. Tiba-tiba, sekelebat bayangan putih dengan sangat cepat bergerak dari arah dalam dan melintas di samping kanan badannya sampai ke arah pintu depan rumah. Hembusan angin begitu terasa ketika bayangan putih itu melesat di samping badannya, namun ia tak menghiraukan dan terus berjalan meniti dinding dalam rumah selangkah demi selangkah. Mala berhenti ketika kaki kirinya merasa seperti menabrak sesuatu. Tangan kanannya meraba ke arah depan untuk memastikan apa yang ditabrak oleh kakinya. Wajahnya menunduk ke arah sesuatu yang tadi ditabrak, kemudian telapak tangan kanannya menepuk pelan sebuah benda empuk dan langsung yakin bahwa benda yang disentuhnya itu ialah sofa dan membuatnya tahu kalau langkahnya sudah sampai di ruang tengah. "Di mana Julliant, Clara, sama Sisy?!" gumam Mala berbisik pelan. Dalam pikirannya, dia tahu jika membuat suara dalam kondisi seperti ini, maka sesuatu yang dicemaskannya akan terjadi. Prasangkanya, di dalam rumah sedang ada tamu tak diundang. Mala meraba sofa sambil melangkahkan kedua kakinya dengan sangat hati-hati mengitari sofa yang diyakininya ada di ruang tengah rumahnya. Setelah berhasil mengitari sofa dan melangkah sedikit jauh dari sofa, kedua matanya mendapati bagian dalam ruang dapur yang lampunya dalam keadaan menyala, tapi sedikit redup. "Di dapur kok nyala?!" gumam Mala dalam hati sambil mengerutkan kedua keningnya menatap ke arah ruang dapur yang bagian dalamnya terlihat sedikit terang, "Apa aku harus ke sana?!" Pikiran Mala mulai memunculkan keraguan, "Tidak! Aku tidak boleh takut!" Mala memantapkan hati, kemudian perlahan lanjut melangkah menuju ruang dapur. Mala memasuki ruang dapur, berhenti tepat di samping kanan kulkas dan langsung menyebarkan pandangannya ke seluruh sudut dalam ruang dapur. Hatinya mantap berniat untuk mencari kedua anaknya serta adik perempuannya yang sejak tadi belum dia temukan. Mala memulai langkah dengan kaki kanan dan tiba-tiba seluruh lampu di dalam rumahnya kembali menyala, sehingga membuat kedua matanya langsung menyipit. Karena sebelum lampu menyala, ia mulai terbiasa menerima sedikit pencahayaan, dan pencahayaan yang tiba-tiba terang benderang membuat kedua matanya seketika merasa silau. "Bha!" Mala mendengar suara teriakan yang tiba-tiba dan mengejutkannya dari arah belakang, dan suara itu berasal dari suara Clara yang teramat tak asing di kedua telinganya. Wajah Mala yang sebelumnya terlihat cemas, langsung berubah drastis menjadi tersenyum dan sedikit malu. Bibirnya terlihat menyungging membuat senyum tipis sambil berbalik badan ke belakang dan berseru, "Clara!" Terdengar deru tawa Clara. Di belakang Clara, Mala melihat Sisy dan Julliant yang juga nampak tertawa setelah melihat ekspresi Mala yang terkejut dan malu. Clara juga ikut tertawa. "Kalian, ya! Tunggu aja pembalasannya!" seru Mala kesal dengan wajahnya yang memerah karena menahan malu ketika adik dan kedua anaknya tengah berhasil mengerjainya. "Lagian, Mamah sih lama banget pulangnya," Julliant tersenyum dan berucap keluh. "Kan, Mamah beliin nasi goreng dulu, udah nyari warungnya lama, nunggu nasi gorengnya masak juga lama," ucap Mala menjelaskan. "Kan, biasanya kalau malam, di komplek sebelah ada warung yang jual nasi goreng, Kak. Emangnya, Kakak beli nasi goreng di mana?!" Sisy melangkah masuk ke dalam ruang dapur lalu menuangkan air dari dispenser ke dalam gelas di tangannya. Mala terdiam dan nampak bingung untuk menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Sisy adik perempuannya. "Mana nasi gorengnya, Mah?" Clara ikut menimpa sambil mengulurkan kedua tangannya ke arah Mala dengan posisi kedua telapak tangan menengadah. "Itu, nasi gorengnya Mamah taruh di depan... Kita makan sama-sama, yuk!" Mala segera melangkah ke luar ruang dapur. Tangan kirinya meraih tangan kanan Clara dan menuntunnya ke arah Julliant yang kemudian juga dituntunnya menggunakan tangan kanan. Mala menuntun kedua anaknya melintasi ruang tengah menuju ruang tamu meninggalkan Sisy sendirian di dalam ruang dapur. Sambil berjalan menuntun kedua anaknya, ia menghela nafas lega dan tersenyum menang karena berhasil menghindar dari pertanyaan yang ditujukan Sisy kepadanya. "Fyuh... Untung aku masih bisa ngehindar." "Loh! Kok Aku ditinggal sendirian sih?!" Sisy mengeluh takut sambil menoleh ke kanan dan kiri memerhatikan suasana dalam ruang dapur yang begitu sepi. Sesaat lampu di dalam ruang dapur tampak berkedip sehingga membuat Sisy bergidik takut. "Iiih!" Sisy bergegas melangkah ke luar ruang dapur dan melintasi ruang tengah menyusul Mala, Julliant, dan Clara yang sudah lebih dulu tiba di ruang tamu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN