Sudah sembilan lagu yang sudah dinyanyikan Andrew bersama Mala. Setiap lagu usai dinyanyikan, Andrew selalu menengok menatap jam yang melekat di tangan kirinya, dan setelah di lagu yang kesepuluh ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Pstt! Mala!" Andrew memanggil Mala.
"Hmm?!" Mala menyimpul senyumnya menatap Andrew.
"Kamu nggak pulang?! Ini udah jam setengah sembilan loh." Andrew menunjuk jam di tangan kirinya.
"Masa sih?!" Mala tidak percaya dan mencoba melihat langsung jam yang melekat di tangan kiri Andrew.
"Ini, coba liat deh." Andrew menunjukkan jam tangannya kepada Mala yang badannya berada sangat dekat dengannya. Aroma wangi dari rambut Mala tercium jelas. Detak jantungnya mulai berdegup kencang ketika Mala berada pada posisi paling dekat. Bahu kanannya saling menempel dengan bahu kanan Mala, membuatnya semakin gugup sampai wajahnya tampak pucat.
"Iya, kamu bener." Mala kembali ke tempat duduknya.
Andrew menghela nafas lega, setelah terbebas dari ujian Tuhan melalui wanita di sampingnya.
"Kok muka kamu pucat gitu sih, Drew?! Kamu sakit?!" Mala mengerutkan kedua keningnya menatap Andrew. Kemudian kembali mendekatkan badannya ke arah Andrew sambil menempelkan punggung tangan kanannya ke dahi Andrew.
"Hah! E-e-enggak kok, aku nggak sakit." Andrew menarik kepalanya sedikit kebelakang menghindari sentuhan tangan Mala, "Ka-kamu sebaiknya pulang, nanti orang-tua kamu bisa marah," ucap Andrew semakin memucat dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Iya, deh." Mala menyunggingkan senyum sambil mengangguk menatap Andrew.
"Ya udah, kita nyamperin pak Nizam dulu." Andrew beranjak berdiri.
"Yuk." Mala mengangguk dan ikut beranjak berdiri.
Andrew berjalan lebih dulu dan Mala mengikuti dari belakang. Mereka berjalan menuju sebuah ruangan yang letaknya lurus berseberangan dengan pintu masuk kafe. Di depan pintu ruangan itu bertuliskan Manager Room.
Andrew mengetuk pintu, "Bos... Bos...."
"Iya, masuk." Terdengar samar suara Pak Nizam dari dalam ruangan itu.
Andrew menyentuh gagang pintu, menekannya, dan mendorong pintu sampai terbuka lebar. Ia masuk lebih dulu dan Mala mengikuti dari belakang.
Pak Nizam tengah duduk santai di belakang meja kerjanya.
"Ada apa, Drew?" tanya Pak Nizam tanpa menatap Andrew dan hanya menatap layar smartphone di tangannya.
"Anu, Bos... Mala mau izin pulang." Andrew berkata dengan hati-hati.
Pak Nizam meletakkan smartphone-nya ke atas meja di depannya, lalu mengangkat wajahnya dan menatap Andrew, "Emangnya sekarang udah jam setengah sembilan, ya?!"
"Bener, Bos." Andrew menganggukkan kepalanya.
Pak Nizam kembali menatap layar smartphone sejenak, lalu mengangguk pelan. Sepertinya dia juga memeriksa jam yang ada pada layar smartphone-nya dan tahu bahwa sekarang benar sudah pukul setengah sembilan seperti yang dikatakan Andrew.
"Sebentar, ya...." Pak Nizam menatap Mala kemudian membuka laci pada meja di depannya dan mengambil sebuah amplop warna putih dari dalam laci itu. "Ini honor kamu, Mala." Digesernya amplop itu di atas meja.
"Ah, nggak us.... mmm-mm-mm."
Andrew langsung menutup mulut Mala dengan telapak tangan kanannya agar ucapan Mala tidak jelas didengar Pak Nizam. Tangan kirinya meraih amplop yang diserahkan oleh Pak Nizam, "Terima kasih, Bos," ucap Andrew kemudian menarik tangan kanan Mala untuk ke luar dari ruangan khusus milik Pak Nizam.
Kedua mata Mala tampak melotot menatap Andrew, "Kamu ini ken...."
Andrew kembali menutup mulut Mala menggunakan telapak tangan kanannya, lalu kembali menarik tangan kanan Mala ke luar kafe sampai tiba di depan mobil berwarna merah maron agar menjauh dari depan ruangan manager.
Andrew dan Mala berdiri di depan mobil merah maron milik Mala.
"Ini punya kamu." Andrew menyerahkan amplop yang tadi diserahkan Pak Nizam ketika di dalam ruang manager kepada Mala, "Seharusnya tadi, kamu ambil aja amplop ini, karena jika tidak, Pak Nizam pasti bakal mikir buat manfaatin kamu. Pak Nizam itu orangnya agak maruk, juga sering ngambil untung yang sebenarnya bukan hak dia."
"Owh, kenapa kamu nggak bilang dari tadi, sih?!" Mala menekan bibir bawahnya ke atas sedikit sambil mengangguk pelan. Ia mengerti mengapa Andrew bersikap seperti tadi ketika di dalam ruangan pak Nizam. Wajahnya menunduk menatap amplop putih yang dipegangnya di tangan kanan, lalu menghela nafas. Diangkatnya wajahnya yang tersenyum tipis menatap lelaki di hadapannya. Tangan kirinya meraih tangan kanan Andrew sambil meletakkan amplop ke telapak tangan Andrew, "Ini buat kamu aja."
"Ah, enggak, enggak!" Andrew menolak. Ditariknya tangan kanannya.
"Udah! Kamu harus nerima! Kalau kamu nggak nerima amplop ini, aku nggak mau lagi temenan sama kamu!" Mala menarik tangan Andrew secara paksa, "Lagian, aku juga nggak terlalu perlu sama uang di dalam amplop itu."
Deg!
Jantung Andrew serasa diremas, "Oh iya ya, aku sama Mala kan, cuman sebatas temen," pikir Andrew. Ia menghela nafas dan pasrah menerima amplop yang diberikan Mala kepadanya, "Bentar deh, aku mau nanya maksud kamu tadi."
"Maksudku?!" Mala mengerutkan kedua keningnya, "Maksud yang mana?!" tanya Mala.
"Tadi... Pas kamu bilang sama pak Nizam kalau kamu itu pacar aku."
"Eh, i-it-tu..." Mala menggaruk tengkuk lehernya yang tidak terasa gatal. Disembunyikannya wajahnya sebentar menoleh ke samping kiri, dan menatap wajah Andrew lagi, "Iya... Ak-aku takut aja pas tadi pak Nizam bilang mau ngejodohin aku sama anaknya. Jadi, aku kepaksa bohong dengan mengaku kalau aku benar pacar kamu." Mala merona, perlahan rasa malu terukir di wajahnya.
"Hahaha...." Andrew tertawa puas menertawakan tingkah Mala.
"Loh, kok kamu malah ketawa sih?! Iiih!" Mala menghentakkan kaki kanannya ke atas tanah lalu mendengus kesal. Kepalanya menoleh ke kanan sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Kesal mendengar Andrew yang masih menertawakan dirinya.
"Haduuh... Kamu itu lucu," ucap Andrew setelah kembali mengatur nafasnya karena puas tertawa.
"Kok lucu sih!" Mala masih merangut.
"Iya lucu... Kamu tau nggak kalau pak Nizam itu belum punya anak. Ya gimana mau punya anak, nikah aja belum. Hahaha." Andrew kembali tertawa, "Haduh... Padahal pas di kafe tadi itu aku mau bilang kalau pak Nizam belum punya anak, eh kamunya malah ngomong gitu duluan," ucap Andrew sambil masih tertawa.
Mala semakin merasa malu. Wajahnya tampak semakin merona dengan jelas. Ia kembali menatap wajah Andrew sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak terasa gatal dan tersipu malu.
"Eh, gitu ya... Kok kamu nggak bilang sih kalau pak Nizam itu belum punya anak?" tanya Mala pelan dengan raut wajahnya yang masih saja memerah.
"Makanya, lain kali kalau mau ngomong itu jangan asal semprot. Jadi malu sendiri kan?!" Andrew mencubit kedua pipi Mala yang masih merona.
Mala terdiam. Wajahnya semakin memerah ketika memandang begitu dekat wajah Andrew yang juga menatapnya.
Kedua tatapan itu saling terpaut, bibir mereka sama-sama terkatup rapat, diam seribu bahasa.
Andrew perlahan lebih mendekatkan wajahnya sehingga membuat Mala semakin diam.
Mala begitu terbuai. Kedua matanya perlahan terpejam. Tapi, tiba-tiba tampak jelas gambaran wajah kedua anaknya sehingga membuatnya tersadar.
"Eh." Mala menggerakkan wajahnya mundur sedikit. Masih tersipu menatap lelaki di depannya.
"Ma-maaf...." Andrew ikut tersipu, dan mengurungkan niatnya.
"Emm... Aku... Aku pulang dulu ya." Mala tersenyum tipis menatap lelaki di depannya.
Andrew mengangguk pelan sambil membalas senyum Mala, "Dah...."
"Dah...." balas Andrew.
Mala berjalan pelan menuju pintu depan sebelah kanan mobilnya sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang masih merona. Ditatapnya lagi lelaki yang tak beranjak dari tempatnya berdiri dan terlihat masih menatap senyum ke arahnya. Mala tersenyum tipis menatap Andrew. "Dah..." Mala kembali melambaikan tangan ke arah Andrew, dan Andrew juga balas melambai ke arahnya. Tangan kirinya menarik gagang pintu mobil dan membuka pintu mobilnya. Kaki kirinya lebih dulu masuk ke dalam mobil dan disusul oleh kaki kanannya lalu tangan kanannya menarik dan menutup pintu mobilnya.
Andrew melangkah mendatangi Mala yang sudah masuk ke dalam mobil berwarna merah maron. Menatap kaca mobil depan sebelah kanan. Ia melihat kaca mobil itu perlahan turun terbuka sehingga kembali melihat wajah Mala yang masih tersipu malu menatapnya.
"Kamu hati-hati, ya," ucap Andrew tersenyum menatap Mala, "Makasih udah mau nemenin aku nyanyi di kafe tadi."
Mala semakin menunjukkan senyumnya sampai giginya sedikit terlihat. Lesung di kedua pipinya pun semakin jelas terlihat.
"Nggak perlu makasih sama aku, lagian aku suka kok sama kamu."
"Suka?"
"Ma-maksud aku... Aduh! Maksudnya, suka nyanyi sama kamu." Mala kembali tersipu.
"Iya, aku ngerti kok." Andrew semakin tersenyum senang sampai membuat kedua matanya kian menyipit, "Ya udah, kamu pulang gih, ntar kemaleman."
Mala mengangguk dan wajahnya masih saja tersenyum menatap Andrew, "I-iya...." Ditutupnya kembali kaca mobilnya, sementara Andrew masih berdiri di samping kanan depan mobil dan masih menatapnya melalui kaca mobil. Dilihatnya Andrew yang kembali melambaikan tangan bersama dengan gerakan bibir yang sepertinya mengatakan 'Dah... Hati-hati, ya', kemudian melihat tangan kanan Andrew yang mengisyaratkan untuk bertelponan, atau mungkin memintanya untuk memberi kabar jika sudah sampai rumah.
Andrew masih berdiri sambil terus memandangi mobil berwarna merah maron yang dikendarai Mala mulai jalan menjauh dari area kafe. Setelah mobil yang dikendarai Mala tak terlihat lagi, Andrew kembali masuk ke dalam kafe untuk kembali bernyanyi. Senyum bahagia terus terlihat di wajahnya ketika melangkah disepanjang jalan kembali ke dalam kafe.
***
Dari dalam mobil yang dikendarainya, Mala terus tersenyum. Ketika mobilnya masuk ke sebuah kawasan dan melintasi jalan yang sangat sepi, ia melihat melalui kaca di samping kanannya seorang wanita paruh baya yang tadi ditemuinya ketika di restoran sedang berdiri di tepi jalan sendirian.
Mala memelankan laju mobilnya lalu menepikannya dan berhenti tepat di dekat wanita paruh baya itu berdiri. Kaca mobil sebelah kanannya perlahan turun terbuka.
"Bu," panggil Mala.
"Eh, kamu yang tadi ketemu saya di restoran, bukan?" tanya Wanita paruh baya itu menatap wajah Mala.
"Iya, bener, Bu." Mala mengangguk, "Ibu lagi nungguin siapa? Kok sendirian?" tanya Mala sambil membuka pintu mobil dan turun mendatangi wanita paruh baya itu.
"Saya lagi nunggu jemputan anak saya, Nak..."
"Mala, Bu... Panggil aja saya Mala, Bu."
"Iya, Nak Mala." Wanita paruh baya itu mengangguk pelan.
Mala menoleh ke arah depan dan belakang jalan yang nampak begitu sunyi, kemudian kembali menatap wanita paruh baya di depannya, "Masih lama nggak orang yang mau jemput Ibu?" tanya Mala.
"Saya juga belum tau, Nak." Wanita paruh baya itu menggeleng.
"Udah coba telpon anak Ibu?"
"Hp saya jadul, Nak. Jadi nggak bisa nelpon nomer anak saya, soalnya anak saya itu sering banget gonta-ganti nomer telpon."
Mala mengangguk pelan, "Emangnya rumah ibu di mana?" tanyanya.
"Di perumahan Kenanga, Nak," jawab wanita paruh baya itu.
"Perumahan Kenanga?!" Mala mengerutkan kedua keningnya, merasa seperti pernah mendengar nama perumahan itu.
"Itu, yang perumahannya bersebelahan dengan perumahan Cempaka, Nak."
"Owh iya! Saya inget." Mala mengangguk pelan, "Yang di depannya ada warung nasi goreng kan, Bu?!"
"Iya, bener." Wanita paruh baya itu mengangguk.
"Kalau saya tinggal di perumahan Cempaka, Bu."
"Oalah, jadi tetanggaan dong." Wanita paruh baya itu tersenyum.
"Iya, Bu. Pas banget, kita kan, searah nih." Mala menyimpul senyum, "Ibu mau saya antarakan?" tanya Mala menawarkan tumpangan.
"Nggak usah, Nak. Nanti saya malah ngerepotin Nak Mala?"
"Nggak kok, Bu. Saya juga sekalian mau beli nasi goreng di depan perumahan itu. Lagian di sini sepi, Bu. Takutnya ada apa-apa," ucap Mala.
Wanita paruh baya itu memerhatikan keadaan sekitar jalan yang memang begitu sunyi. Wajahnya mulai berubah takut, "I-iya, deh," jawabnya mengangguk.
Wanita paruh baya itu melangkah ke arah pintu mobil belakang kanan, tangannya hendak membuka pintu mobil.
"Ibu duduk di depan aja, sama saya. Biar enak ngobrolnya," ucap Mala.
Wanita paruh baya itu mengangguk ke arah Mala, lalu melangkah menuju pintu depan sebelah kiri mobil setelah Mala lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Mala menekan sebuah tombol yang ada di bawah setir mobil untuk membukakan pintu mobil yang masih terkunci.
Wanita tua itupun masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah kiri Mala.
Mala kembali menjalankan mobil berwarna merah maron itu, mengantarkan seorang wanita paruh baya yang tadi bertemu ketika di restoran ke perumahan bernama Perumahan Kenanga yang letaknya bersebelahan Perumahan Cempaka di mana rumah tempat tinggal Mala berada.
"Nah, itu dia perumahannya, Nak." Wanita paruh baya itu menunjuk sebuah jalan besar sebelah kiri yang gerbang depannya dengan huruf-huruf besar yang berjejer dan bertuliskan 'Perumahan Kenanga' dengan warna kuning emas.
Mala memelankan laju mobilnya sambil menepi ke kiri jalan, lalu masuk melalui gerbang perumahan yang ditunjuk wanita paruh baya di sampingnya.
"Sampai sini aja deh, Nak," ucap Wanita paruh baya itu ketika mobil Mala hendak berjalan memasuki gerbang perumahan.
Mala perlahan menginjak pedal rem mobil dan pedal kopling mobil bersamaan, "Kenapa nggak saya anter nyampe rumah aja, Bu?!" tanya Mala mengerutkan kedua keningnya menatap wanita yang duduk di sampingnya.
"Masuknya nggak jauh kok, Nak. Lagian di dalam sulit buat nyari putar balik. Jadi, biar sampai depan sini aja."
"Ya udah, Bu." Mala mengangguk pelan sambil menyimpul senyum.
Wanita paruh baya itu membuka pintu mobil sebelah kiri lalu turun dan kembali menatap Mala, "Terima kasih, ya Nak, udah mau anterin saya. Semoga jasa Nak Mala dibalas oleh Tuhan."
"Sama-sama, Bu. Aamiin." Mala tersenyum senang menatap wanita paruh baya itu.
"Kapan-kapan, Nak Mala mampir ya. Rumah saya jaraknya empat buah rumah dari depan sini, sebelah kiri, nomer tiga lapan." Wanita paruh baya itu menunjuk ke arah dalam perumahan menunjuk sebuah rumah yang temboknya berwarna putih dengan atap merah.
"Iya, Bu." Mala mengangguk pelan.
"Ya udah, saya pamit, ya Nak. Sekali lagi terima kasih."
"Iya, Bu."
"Assalamu'alaikum," ucap wanita paruh baya itu berpamitan.
"Wa'alaikumsalam, Bu." Mala tersenyum sambil mengangguk pelan.
Ditutupnya pintu mobil sebelah kiri, lalu melangkah masuk melewati gerbang perumahan menjauh dari mobil merah maron di mana Mala berada.
Mala ikut turun dari mobil, lalu berjalan mendatangi sebuah warung yang menjual nasi goreng tepat di depan perumahan Kenanga. Mala membeli lima bungkus nasi goreng dan membawanya pulang ke rumah.